Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

Candra Kirana

5.0
Komentar
166
Penayangan
48
Bab

Calon suamiku, Devan, direbut oleh kakakku, Siska. Hatiku hancur berkeping-keping, namun kesedihan itu perlahan berubah menjadi bara api dendam. Aku bersumpah akan membalas perbuatan mereka. Targetku? Raditya, bos Devan yang juga seorang duda kaya raya. Kudengar ia memiliki seorang putri kecil dan sedang mencari pengasuh. Sempurna. Aku menyusun rencana matang. Dengan menyamar sebagai babysitter bernama Anya, aku berhasil diterima bekerja di rumah megah Raditya. Awalnya, semua berjalan sesuai rencana. Aku berpura-pura menjadi pengasuh yang sempurna untuk putri Raditya, **Kirana**, sambil diam-diam mencari celah untuk mendekati Raditya dan menjalankan rencanaku. Namun, setelah beberapa minggu bekerja, hatiku mulai goyah. Kirana adalah anak yang manis dan ceria. Kedekatanku dengannya tumbuh secara alami, melampaui sekadar peran profesional. Raditya sendiri, meskipun awalnya terkesan kaku dan dingin, ternyata adalah sosok ayah yang penuh kasih sayang dan pria yang sangat bertanggung jawab. Aku melihat sisi lain dirinya yang tak pernah kubayangkan. Perlahan, rencana balas dendamku terasa semakin tidak penting. Senyum Kirana dan perhatian kecil dari Raditya mulai mengisi kekosongan di hatiku yang ditinggalkan oleh Devan. Kebencianku mulai memudar, digantikan oleh perasaan yang tidak kuduga...

Bab 1 melamar posisi pengasuh

Suara bel pintu rumah mewah itu masih terngiang dalam telingaku. Tanganku sempat gemetar saat menekannya, tapi aku cepat-cepat mengatur napas dan memasang wajah tenang. Ini adalah langkah pertamaku. Langkah pertama untuk membalaskan apa yang telah mereka rampas dariku.

Pintu besar itu terbuka perlahan. Seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi berdiri di ambang, menatapku dari ujung kaki sampai kepala.

"Selamat pagi. Saya Anya," ujarku sambil tersenyum sopan, menyorongkan map berisi lamaran kerja. "Saya melamar posisi pengasuh untuk putri Pak Raditya."

Perempuan itu mengangguk, lalu mempersilakanku masuk. Interior rumah ini begitu mewah-marmer mengilap, lampu gantung kristal, dan aroma bunga segar di udara. Aku pernah membayangkan tinggal di tempat seperti ini... bersamanya. Tapi kenyataannya, aku ditinggalkan. Dikhianati.

Setelah beberapa menit menunggu di ruang tamu, akhirnya seseorang muncul. Langkah kaki tegas terdengar dari tangga atas. Aku menoleh.

Raditya.

Tinggi, tegap, dan wajahnya lebih tampan dari foto-foto yang kulihat di internet. Dingin dan tegas, tapi ada gurat letih di matanya. Duda kaya dengan satu anak. Targetku.

"Anya, ya?" tanyanya singkat.

Aku bangkit dan mengangguk. "Iya, Pak Raditya. Saya tertarik dengan posisi sebagai pengasuh. Saya sangat menyukai anak-anak."

Dia menatapku tajam, seakan mencoba membaca pikiranku. Tapi aku sudah melatih ekspresi ini di cermin selama berminggu-minggu.

"Kalau begitu, ikut saya. Kirana sedang di taman belakang."

Kami berjalan tanpa banyak bicara. Raditya bukan tipe yang suka basa-basi, rupanya. Tapi aku tidak keberatan. Justru itu membuatnya lebih mudah dipelajari.

Saat mencapai taman, aku melihatnya-Kirana. Seorang gadis kecil berambut ikal sedang duduk di atas ayunan, tertawa sendiri sambil menggambar di buku sketsa.

"Kirana, ini Kak Anya. Mungkin nanti dia yang akan jagain kamu kalau kamu cocok," kata Raditya.

Kirana memandangku. Matanya bulat dan jernih seperti kaca. Ia tersenyum malu-malu. "Hai, Kak Anya... kamu cantik. Kamu suka gambar juga?"

Aku tersenyum, berlutut sejajar dengannya. "Kakak suka banget. Boleh Kakak lihat gambarmu?"

Kirana mengangguk, lalu menunjukkan gambarnya-rumah dengan taman dan seekor kucing besar berwarna ungu.

"Namanya Mimi," katanya pelan. "Kucing imajinasi."

Aku tertawa kecil. "Kakak juga punya kucing imajinasi dulu. Namanya Bola."

Kirana tertawa keras. "Bola? Kenapa namanya itu?"

"Karena dia bulat seperti donat."

Tawa Kirana pecah. Di belakang kami, Raditya hanya diam. Tapi aku bisa merasakan sorot matanya. Mungkin ia sedang menilai. Mungkin juga... sedikit terkesan.

Bagus. Semua berjalan sesuai rencana.

Tapi entah kenapa, senyum Kirana tadi terasa terlalu tulus. Dan untuk sesaat, aku lupa bahwa semua ini hanya bagian dari sandiwara.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Candra Kirana

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
1

Bab 1 melamar posisi pengasuh

31/07/2025

2

Bab 2 Malam pertama di rumah Raditya

31/07/2025

3

Bab 3 Hati yang Mulai Berkhianat

31/07/2025

4

Bab 4 kekecewaan

31/07/2025

5

Bab 5 ruang makan

31/07/2025

6

Bab 6 Siang harinya

31/07/2025

7

Bab 7 Wajahku dirias tipis

31/07/2025

8

Bab 8 melihat tingkah Raditya yang mencoba membuat wajah lucu

31/07/2025

9

Bab 9 tubuhku mulai menunjukkan gejala yang tidak biasa

31/07/2025

10

Bab 10 membangunkan Raditya yang masih tertidur

31/07/2025

11

Bab 11 Raditya yang baru pulang dari kantor langsung menghampiri

31/07/2025

12

Bab 12 awalnya mencoba menahan diri

31/07/2025

13

Bab 13 Mama bangga banget sama kamu

31/07/2025

14

Bab 14 membuatku waspada

31/07/2025

15

Bab 15 menunggu sarapan

31/07/2025

16

Bab 16 sedang asyik menyantap pancake

31/07/2025

17

Bab 17 menenangkan Anya

31/07/2025

18

Bab 18 hanya karena satu orang

31/07/2025

19

Bab 19 Apa benar ini akhir dari semuanya

31/07/2025

20

Bab 20 sesekali mencuri pandang

31/07/2025

21

Bab 21 pulang sekolah

31/07/2025

22

Bab 22 mengenakan sweater abu-abu

31/07/2025

23

Bab 23 Surat undangan

31/07/2025

24

Bab 24 Suasana bandara

31/07/2025

25

Bab 25 New York

31/07/2025

26

Bab 26 Setelah acara

31/07/2025

27

Bab 27 suasana di kantor

31/07/2025

28

Bab 28 Pesan dari Siska

31/07/2025

29

Bab 29 membuatnya terjaga

31/07/2025

30

Bab 30 ruang kerja

31/07/2025

31

Bab 31 pandangannya menerawang

31/07/2025

32

Bab 32 Raditya belum kembali sejak pagi

31/07/2025

33

Bab 33 teman lama

31/07/2025

34

Bab 34 mempersiapkan diri

31/07/2025

35

Bab 35 kenyataan tak pernah seindah harapan

31/07/2025

36

Bab 36 Sayang

31/07/2025

37

Bab 37 perusahaan tempat Devan

31/07/2025

38

Bab 38 Borgol di pergelangan tangannya

31/07/2025

39

Bab 39 Pintu kamar diketuk pelan

31/07/2025

40

Bab 40 Anya berhenti di ambang pintu

31/07/2025