icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

icon

Bab 1 melamar posisi pengasuh

Jumlah Kata:392    |    Dirilis Pada: 31/07/2025

saat menekannya, tapi aku cepat-cepat mengatur napas dan memasang wajah tenang. Ini adala

puan paruh baya dengan seragam rapi berdiri di

sopan, menyorongkan map berisi lamaran kerja. "Sa

r mengilap, lampu gantung kristal, dan aroma bunga segar di udara. Aku pernah membayangkan

u, akhirnya seseorang muncul. Langkah kaki t

di

yang kulihat di internet. Dingin dan tegas, tapi ada gur

?" tanyan

itya. Saya tertarik dengan posisi sebagai

ca pikiranku. Tapi aku sudah melatih eksp

saya. Kirana sedan

pe yang suka basa-basi, rupanya. Tapi aku tidak keb

gadis kecil berambut ikal sedang duduk di atas ayuna

nanti dia yang akan jagain kamu

seperti kaca. Ia tersenyum malu-malu. "Hai, K

r dengannya. "Kakak suka bange

n gambarnya-rumah dengan taman dan

katanya pelan. "

k juga punya kucing imaj

eras. "Bola? Ken

bulat sepe

iam. Tapi aku bisa merasakan sorot matanya. Mungkin

berjalan se

a terlalu tulus. Dan untuk sesaat, aku lupa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
“Calon suamiku, Devan, direbut oleh kakakku, Siska. Hatiku hancur berkeping-keping, namun kesedihan itu perlahan berubah menjadi bara api dendam. Aku bersumpah akan membalas perbuatan mereka. Targetku? Raditya, bos Devan yang juga seorang duda kaya raya. Kudengar ia memiliki seorang putri kecil dan sedang mencari pengasuh. Sempurna. Aku menyusun rencana matang. Dengan menyamar sebagai babysitter bernama Anya, aku berhasil diterima bekerja di rumah megah Raditya. Awalnya, semua berjalan sesuai rencana. Aku berpura-pura menjadi pengasuh yang sempurna untuk putri Raditya, **Kirana**, sambil diam-diam mencari celah untuk mendekati Raditya dan menjalankan rencanaku. Namun, setelah beberapa minggu bekerja, hatiku mulai goyah. Kirana adalah anak yang manis dan ceria. Kedekatanku dengannya tumbuh secara alami, melampaui sekadar peran profesional. Raditya sendiri, meskipun awalnya terkesan kaku dan dingin, ternyata adalah sosok ayah yang penuh kasih sayang dan pria yang sangat bertanggung jawab. Aku melihat sisi lain dirinya yang tak pernah kubayangkan. Perlahan, rencana balas dendamku terasa semakin tidak penting. Senyum Kirana dan perhatian kecil dari Raditya mulai mengisi kekosongan di hatiku yang ditinggalkan oleh Devan. Kebencianku mulai memudar, digantikan oleh perasaan yang tidak kuduga...”