Perceraian & Kesuksesan Amara

Perceraian & Kesuksesan Amara

Ratna Indri Asih

5.0
Komentar
486
Penayangan
31
Bab

Siska Amara Ramadhani, seorang wanita muda yang penuh ambisi dan mimpi besar, pernah mengorbankan dirinya demi sebuah pernikahan yang ternyata hanya membawa kehancuran. Tiga tahun yang terjal dalam hidupnya dihabiskan bersama Rafael Prabowo, suami yang tampak sempurna di mata dunia, namun penuh dengan rahasia dan kepalsuan. Siska meninggalkan segala yang ia cintai dan pilih melawan arus, meninggalkan keluarga dan pekerjaan impiannya demi pria yang ternyata tidak sepadan. Namun, ketika akhirnya ia mampu mengakhiri semua itu, keberuntungan justru datang menghampirinya. Kini, Siska bukan hanya seorang desainer terkenal yang memimpin perusahaan fashion yang diidamkan banyak orang, tetapi juga seorang pionir di dunia investasi yang menakjubkan. Namun, saat di sebuah pesta pembukaan koleksi terbarunya, Rafael tiba-tiba muncul, wajahnya memancarkan kepedihan yang dalam. "Siska, aku hanya ingin kembali. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu," kata Rafael, suaranya bergetar penuh penyesalan. Siska menatapnya sejenak, seolah mencoba mengenali pria yang pernah menjadi dunia baginya. Dia menarik napas dalam-dalam, jantungnya berdetak dengan hebat di balik dada, lalu menjawab dengan suara yang tenang, "Rafael, sudah lama aku berhenti mengenal siapa dirimu."

Perceraian & Kesuksesan Amara Bab 1 sebuah bangunan modern

Siska Ramadhani menatap pemandangan malam Jakarta dari lantai atas gedung perancangannya, sebuah bangunan modern yang menjulang tinggi, berkilau dengan lampu neon di sekelilingnya. Kota yang dulu terasa sesak dan penuh dengan kenangan buruk itu kini seperti dunia yang sama sekali berbeda baginya. Tapi, seberapa pun jauh langkahnya melangkah, bayang-bayang masa lalu tetap saja mengikuti. Seperti malam itu, ketika angin sepoi-sepoi membelai wajahnya dengan kehangatan yang aneh, seolah-olah mengingatkannya pada segala yang telah dia lewati.

Dia memutar tubuhnya, membelakangi jendela besar itu, dan berjalan kembali ke ruang kerja yang sekarang terasa seperti rumah sejati. Di dinding-dindingnya, terpasang berbagai penghargaan dan foto-foto koleksi yang memantulkan kesuksesan yang telah dia raih. Setiap helai kain yang dipilih, setiap jahitan yang diatur dengan teliti, dan setiap desain yang dicetak di atas kertas sketsa adalah bukti bahwa dia telah meninggalkan semua yang dulu mengikatnya, termasuk Rafael.

Siska duduk di kursi kulit hitam yang empuk, menggenggam secangkir kopi panas yang hampir tak terasa di tangannya. Aroma kopi itu, meskipun menenangkan, mengingatkannya pada malam-malam di rumah yang dulu mereka huni bersama, di mana dia duduk di sisi Rafael yang sedang membaca, tangannya dilingkarkan di pinggang Siska dengan lembut, seolah-olah ada yang bisa menghalangi mereka untuk tetap bersama.

Tapi hidup bukan hanya tentang kenangan yang indah. Hidup, katanya, adalah tentang bagaimana seseorang bertahan dalam badai dan menemukan jalan keluar di sisi lain. Siska tidak hanya bertahan, tetapi dia juga tumbuh. Kegigihannya menuntun pada pencapaian yang luar biasa, di mana kini dia berdiri di atas puncak dunia yang telah dia bangun. Terkadang, di tengah kesuksesan itu, dia ingin berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan memastikan bahwa setiap luka di hati telah sembuh, bahwa setiap rasa takut telah ditaklukkan.

Suara pintu yang terbuka dengan lembut membuatnya menoleh. Seorang asisten muda dengan rambut yang diikat rapi masuk ke ruangan, memegang setumpuk berkas. Wajahnya cerah, dan senyumnya mengisyaratkan energi yang tidak terputus. Siska tidak bisa tidak tersenyum kecil melihatnya.

"Semua sudah siap untuk peluncuran malam ini, Nona Siska," kata asisten itu, sebut saja Rina, dengan semangat yang memancar di setiap kata.

"Terima kasih, Rina. Aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna. Ini adalah malam yang penting," jawab Siska, suaranya menegaskan keyakinannya. Dia memindahkan pandangannya ke berkas-berkas di tangan Rina, lalu sejenak kembali berpikir tentang keputusan yang dia buat, tentang langkah-langkah yang membawanya ke titik ini.

Rina mengangguk, lalu berjalan menuju meja di sisi ruangan untuk menempatkan dokumen-dokumen tersebut. Siska berdiri, melangkah mendekat, dan memeriksa selembar undangan eksklusif yang didesain dengan tangan, dihiasi motif bunga dan aksen emas. Peluncuran koleksi terbarunya akan dihadiri oleh para tamu terhormat dari kalangan fashion, selebriti, hingga investor ternama. Malam itu, Siska akan sekali lagi menjadi sorotan, membuktikan bahwa dia mampu membangun dunia yang diimpikannya tanpa bantuan siapa pun.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali membuatnya terjaga. Rina melirik ke arah pintu, kemudian kembali menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ada tamu istimewa yang ingin bertemu denganmu, Nona Siska," katanya, dengan nada yang jauh lebih serius.

Siska mengerutkan kening. Siapa yang begitu penting hingga mengganggu persiapannya? "Tamu? Siapa?"

"Rafael Prabowo."

Siska merasa seolah-olah dinding di sekeliling ruangan itu mendekat, mengepungnya dengan kenyataan yang sama sekali tak terduga. Nama itu meluncur dari bibir Rina seperti sebuah petir yang membelah langit malam, meninggalkan jejak yang membekas di langit-langit pikirannya. Rafael. Pria itu, yang selama ini hanya ada di halaman-halaman kenangan, tiba-tiba muncul kembali di dunia yang telah ia ciptakan. Siska memalingkan pandangannya ke jendela besar, menatap langit malam yang pekat dengan lampu kota yang menyala. Tidak, ini tidak mungkin. Seharusnya Rafael hanya menjadi bayangan yang menghilang seiring waktu.

Rina melanjutkan, "Dia ingin berbicara denganmu. Aku sudah memberitahunya bahwa kau sedang sibuk, tetapi..."

Siska mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Rina sebelum melanjutkan. Matanya bertemu dengan mata asisten itu, yang tampak penuh dengan rasa ingin tahu. "Biarkan dia masuk," Siska berkata, suaranya tidak lebih dari bisikan.

Rina mengangguk, lalu berjalan ke pintu untuk membuka jalan bagi Rafael. Siska menekan gelas kopi di tangannya hingga hampir hancur. Dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Bagaimana mungkin dia begitu cemas hanya dengan nama itu? Rafael hanyalah bagian dari hidupnya yang sudah lama dia kubur. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia akan menghadapi pria itu dan membuatnya tahu bahwa tidak ada yang bisa menghancurkan hidupnya lagi.

Pintu itu terbuka, dan sosok tinggi dengan ekspresi yang sulit dibaca melangkah masuk. Rafael, dengan setelan jas hitam yang sempurna, seolah tak pernah berubah. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Mata pria itu tampak lelah, seolah membawa beban yang berat. Siska mengingat betul bagaimana matanya dulu selalu penuh semangat dan keberanian. Sekarang, di hadapannya, ada sesuatu yang lebih manusiawi, lebih rapuh.

"Rafael," Siska mengucapkan namanya, lebih seperti sebuah pertanyaan daripada sapaan. Suara itu keluar begitu saja, tidak terencana, tetapi cukup keras untuk mengisi keheningan di antara mereka.

Rafael mengangguk, matanya menatap ke arah Siska dengan rasa rindu yang hampir tak tertahankan. "Siska... aku tahu aku sudah lama menghilang, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku terus pergi begitu saja tanpa mencoba memperbaiki semuanya."

Siska menatapnya, menilai setiap kata yang diucapkan pria itu. Ada rasa sakit di suaranya, tapi itu bukan urusannya. Ia tahu, tak ada kata maaf yang cukup untuk menebus semua yang telah terjadi. "Rafael, sudah lama aku berhenti mengenal siapa dirimu."

Kata-kata itu adalah guncangan. Rafael mundur sejenak, seolah terhempas oleh angin kencang yang datang dari arah Siska. Suara itu, nada yang dingin dan tak mengampuni, membuatnya terdiam. Kenangan-kenangan buruk itu seperti menyatu di dalamnya, menciptakan gumpalan rasa sakit yang sulit diungkapkan.

"Kenapa kau kembali?" Siska bertanya, suara kerasnya seolah memecah keheningan. "Kau hanya ingin mengingatkan aku bahwa aku dulu pernah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku? Itu bukan sesuatu yang ingin aku ingat, Rafael. Aku tidak butuh kau di sini untuk mengingatkan aku tentang betapa buruknya aku."

Rafael menatapnya dengan mata yang penuh penyesalan. "Siska, aku tahu aku telah menyakitimu, tetapi aku juga tahu bahwa aku masih bisa menjadi bagian dari hidupmu, jika kau mengizinkannya. Aku ingin memperbaiki semuanya."

Siska menatap pria itu, air mata hampir meluncur di matanya. Kenapa rasanya begitu sulit untuk melawan rasa yang pernah ada? Kenapa dia merasa seperti angin malam itu membawa kembali semua yang dia coba kubur dalam-dalam? Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa takut yang merayap di tubuhnya.

"Rafael, aku sudah berubah. Aku telah menjadi wanita yang berbeda dari dulu. Dan aku tidak ingin kembali ke masa itu. Aku tidak ingin memulai dari awal, tidak denganmu."

Kata-kata itu seperti pisau yang membelah hati Rafael, membuatnya terdiam, mencari kekuatan dalam kesunyian yang menyiksa. Siska melihat sekeliling ruangan, menyadari bahwa ia harus membuat pria itu mengerti bahwa waktunya untuk hadir dalam hidupnya telah lama berlalu.

Tapi hati manusia sering kali keras kepala. Bahkan saat dunia berkata tidak, ia tetap mencari alasan untuk bertahan. Dan Siska tahu, apapun yang akan terjadi, dia harus tetap teguh. Karena kali ini, dia tidak hanya melawan Rafael, tetapi juga dirinya sendiri, dan kenangan-kenangan yang ingin dia lupakan selamanya.

Semoga bab ini mengandung emosi dan alur yang menarik untukmu!

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Ratna Indri Asih

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Perceraian & Kesuksesan Amara Perceraian & Kesuksesan Amara Ratna Indri Asih Romantis
“Siska Amara Ramadhani, seorang wanita muda yang penuh ambisi dan mimpi besar, pernah mengorbankan dirinya demi sebuah pernikahan yang ternyata hanya membawa kehancuran. Tiga tahun yang terjal dalam hidupnya dihabiskan bersama Rafael Prabowo, suami yang tampak sempurna di mata dunia, namun penuh dengan rahasia dan kepalsuan. Siska meninggalkan segala yang ia cintai dan pilih melawan arus, meninggalkan keluarga dan pekerjaan impiannya demi pria yang ternyata tidak sepadan. Namun, ketika akhirnya ia mampu mengakhiri semua itu, keberuntungan justru datang menghampirinya. Kini, Siska bukan hanya seorang desainer terkenal yang memimpin perusahaan fashion yang diidamkan banyak orang, tetapi juga seorang pionir di dunia investasi yang menakjubkan. Namun, saat di sebuah pesta pembukaan koleksi terbarunya, Rafael tiba-tiba muncul, wajahnya memancarkan kepedihan yang dalam. "Siska, aku hanya ingin kembali. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu," kata Rafael, suaranya bergetar penuh penyesalan. Siska menatapnya sejenak, seolah mencoba mengenali pria yang pernah menjadi dunia baginya. Dia menarik napas dalam-dalam, jantungnya berdetak dengan hebat di balik dada, lalu menjawab dengan suara yang tenang, "Rafael, sudah lama aku berhenti mengenal siapa dirimu."”
1

Bab 1 sebuah bangunan modern

10/12/2024

2

Bab 2 Ruangan itu seakan terhenti

10/12/2024

3

Bab 3 Rintihan dalam Senja

10/12/2024

4

Bab 4 Dua minggu berlalu

10/12/2024

5

Bab 5 Cinta yang Terlarang

10/12/2024

6

Bab 6 Matahari pagi memancarkan sinarnya

10/12/2024

7

Bab 7 masalah keuangan yang tiba-tiba muncul

10/12/2024

8

Bab 8 Kehidupan di perusahaan

10/12/2024

9

Bab 9 setiap hari membawa beban yang semakin berat

10/12/2024

10

Bab 10 nama Rafael muncul di layar

10/12/2024

11

Bab 11 Setiap sudut kantor ini masih terasa seperti miliknya

10/12/2024

12

Bab 12 mulai berperan dalam permainan berbahaya

10/12/2024

13

Bab 13 Sejak pertemuan dengan Arsenio

10/12/2024

14

Bab 14 Gelombang yang Mengguncang

10/12/2024

15

Bab 15 Tidak ada lagi ruang untuk ketakutan

10/12/2024

16

Bab 16 menampilkan data transaksi mencurigakan

10/12/2024

17

Bab 17 memutuskan untuk memanggil jurnalis

10/12/2024

18

Bab 18 membuat semua orang terbatuk dan terjatuh

10/12/2024

19

Bab 19 ancaman yang datang kali ini jauh lebih menakutkan

10/12/2024

20

Bab 20 kemenangan yang tidak bisa diukur dengan apapun

10/12/2024

21

Bab 21 menyambut Siska dengan pelukan hangat

10/12/2024

22

Bab 22 Dunia ini jauh lebih besar

10/12/2024

23

Bab 23 Kegaduhan itu seakan tidak pernah berhenti

10/12/2024

24

Bab 24 Suara sirene dan langkah kaki yang bergegas datang dari luar

10/12/2024

25

Bab 25 ruang yang sudah hampir tak bisa dihirup

10/12/2024

26

Bab 26 keraguan yang sulit diungkapkan

10/12/2024

27

Bab 27 menyiapkan dunia untuk sesuatu yang besar

10/12/2024

28

Bab 28 Jejak yang Ditorehkan di Atas Tanah Baru

10/12/2024

29

Bab 29 lebih hidup dan penuh janji

10/12/2024

30

Bab 30 mewarnai langit dengan semburat jingga

10/12/2024

31

Bab 31 meninggalkan sisa-sisa keceriaan

10/12/2024