Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat

Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat

Fafafe

3.5
Komentar
959
Penayangan
57
Bab

Rania harus bekerja keras mempertahankan rumah tangganya yang sudah diujung tanduk, saat tiba-tiba datang laki-laki di masa lalunya yang menjadi pengobat kegundahannya. Bisakah Rania mempertahankan rumah tangganya bersama Yoga yang sedari awal tidak benar-benar mencintainya? Ataukah berpaling pada Rendy, sosok penyayang yang tiba-tiba hadir kembali saat dirinya sudah terikat?

Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat Bab 1 Momen

Rania menatap bayangannya di cermin, memperhatikan setiap detail penampilannya yang kini terlihat berbeda dari biasanya. Gaun putih sederhana dengan sulaman halus membalut tubuhnya, tapi matanya memancarkan keraguan yang dalam. Hari ini adalah hari yang mengubah hidupnya, ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Hatinya bergejolak, antara menerima takdir dan ketidakpastian masa depan.

"Apa aku bisa melewati semua ini?" bisiknya dalam hati, sambil menyentuh ringan riasannya. Ini bukan pernikahan impiannya, tidak ada cinta, tidak ada persahabatan, hanya komitmen yang disusun oleh keluarga. Rania menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, dan melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang terasa semakin berat.

Sedetik kemudian, Mama Rania datang menghampiri dengan langkah pelan. Matanya berkaca-kaca, menahan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa bicara, beliau meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.

"Rania, Nak..." suara Mama Rania terdengar serak dan lembut. "Ibu tahu ini bukan mudah bagimu. Tapi percayalah, takdir Allah selalu yang terbaik, meskipun kadang sulit kita pahami. Terimalah dengan lapang dada, dan semoga nanti, seiring waktu, hatimu akan menemukan kebahagiaan."

Rania menatap ibunya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kehangatan tangan ibunya memberi kekuatan, meski hati masih bergemuruh. Ia mencoba tersenyum kecil, meski lemah, sebagai tanda ia mendengar dan memahami.

Mama Rania menghela napas panjang, berusaha menahan isak. "Nak, ada sesuatu yang belum sempat Ibu sampaikan ... Ini bukan hanya tentang perjodohan semata. Ini juga wasiat dari Papa sebelum beliau meninggal."

Mata Rania membesar, terkejut mendengar kata-kata itu. "Wasiat Papa?" tanyanya, suaranya bergetar.

Mama Rania mengangguk pelan, air mata mulai jatuh. "Papa ingin kamu menikah dengan seseorang yang menurutnya bisa menjaga dan melindungimu. Dia sudah memikirkan ini jauh sebelum kepergiannya. Papa percaya, meskipun kamu belum mengenalnya sekarang, suatu hari kamu akan mengerti alasan di balik keputusan ini."

Rania terdiam, dadanya sesak. Kenyataan bahwa ini adalah keinginan terakhir ayahnya membuatnya semakin sulit untuk menolak. "Papa selalu ingin yang terbaik untukmu, Rania," lanjut mamanya dengan suara penuh kelembutan. "Mama harap kamu bisa menjalani ini dengan ikhlas. Percayalah, takdir Allah pasti indah pada waktunya."

Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang berkecamuk dalam dadanya. Genggaman tangan Mama yang hangat memberinya sedikit kekuatan. Ketika kakinya menginjak area tempat akad, tatapannya langsung tertuju pada sosok Yoga. Ia berdiri tegap di sana, tampak tenang dengan wajah penuh keyakinan. Laki-laki yang akan menjadi suaminya sebentar lagi, dengan segala kelebihan dan kekayaannya, tampak siap menghadapi momen sakral ini.

Hati Rania masih diliputi keraguan. Bukan karena ia tidak mengenal Yoga, tetapi karena pernikahan ini terjadi begitu cepat. Segalanya terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, di hadapan penghulu dan keluarga besar yang hadir, ia tahu bahwa inilah saatnya mengambil langkah besar dalam hidupnya.

Sang penghulu mulai memimpin prosesi dengan suara yang tenang dan penuh hikmat. Yoga mempersiapkan diri untuk melantunkan ijab kabul. Suasana seketika hening, seluruh perhatian tertuju pada momen paling penting itu.

Di tengah keheningan yang khidmat, penghulu membuka prosesi dengan kalimat bismillah, diikuti dengan beberapa penjelasan singkat mengenai makna pernikahan. Setelah itu, ia mempersilakan Yoga untuk memulai ijab kabul.

Dengan napas dalam yang hampir tak terdengar, Yoga menatap lekat pada wali Rania. Suaranya tegas tapi penuh hormat saat ia mengucapkan:

"Saya terima nikahnya Rania binti Hendra dengan mas kawin tersebut, tunai."

Seketika, suara saksi dan hadirin yang hadir pun mengikuti, mengucapkan tanda persetujuan, "Sah."

Momen itu seakan berhenti sejenak. Yoga menundukkan kepala, menghela napas lega. Rania, yang mendengar kalimat itu, merasa dunia di sekitarnya mengabur. Hatinya bergetar, antara kebahagiaan dan ketidakpastian yang selama ini menyelimutinya perlahan mulai tersibak. Ia kini resmi menjadi istri Yoga, dan sebuah babak baru dalam hidupnya telah dimulai.

Setelah ucapan ijab kabul terlantun dan dinyatakan sah, Yoga hanya bisa menghela napas panjang, namun bukan napas lega seperti yang biasa dirasakan oleh pengantin pada umumnya. Alih-alih merasa bahagia, ada kekosongan yang sulit ia gambarkan. Senyum yang terukir di wajahnya hanya topeng, menutupi gelisah yang bersemayam di dalam hatinya.

Di benaknya, bayangan kekasihnya, seorang model ternama, terus muncul. Wanita yang ia cintai sepenuh hati, tapi tidak bisa ia nikahi karena desakan keras dari sang Kakek yang sangat berpengaruh dalam keluarganya. Kakek Yoga menginginkan Rania sebagai istri cucunya demi menjaga kehormatan keluarga dan memperkuat ikatan bisnis di antara kedua keluarga besar.

"Ini bukan kehidupan yang kuinginkan, tapi aku tidak punya pilihan." batin Yoga.

Rania, yang duduk di sampingnya dengan pandangan ragu dan penuh harap, mungkin tidak tahu apa yang berkecamuk di hati Yoga. Ia hanya melihat sosok pria yang baru saja menjadi suaminya, tanpa mengetahui bahwa cinta pria itu berada di tempat lain, bersama wanita lain.

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Yoga mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu, keputusannya untuk menikahi Rania adalah demi memenuhi kewajiban keluarganya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak bisa menipu dirinya sendiri bahwa pernikahan ini bukanlah apa yang ia inginkan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Fafafe

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat Fafafe Lainnya
“Rania harus bekerja keras mempertahankan rumah tangganya yang sudah diujung tanduk, saat tiba-tiba datang laki-laki di masa lalunya yang menjadi pengobat kegundahannya. Bisakah Rania mempertahankan rumah tangganya bersama Yoga yang sedari awal tidak benar-benar mencintainya? Ataukah berpaling pada Rendy, sosok penyayang yang tiba-tiba hadir kembali saat dirinya sudah terikat?”
1

Bab 1 Momen

04/11/2024

2

Bab 2 Sungkem

05/11/2024

3

Bab 3 Pesan Kakek

05/11/2024

4

Bab 4 Terpuruk

05/11/2024

5

Bab 5 Orang di Masa Lalu

05/11/2024

6

Bab 6 Curahan Hati

05/11/2024

7

Bab 7 Pulang

06/11/2024

8

Bab 8 Perintah Kakek

06/11/2024

9

Bab 9 Pesta

06/11/2024

10

Bab 10 Bertemu lagi

06/11/2024

11

Bab 11 Merasa dihargai

06/11/2024

12

Bab 12 Pertengkaran

07/11/2024

13

Bab 13 Pasrah

07/11/2024

14

Bab 14 Yoga Sakit

07/11/2024

15

Bab 15 Elena Datang

07/11/2024

16

Bab 16 Keputusan

07/11/2024

17

Bab 17 Pisah sementara

07/11/2024

18

Bab 18 Introspeksi Diri

08/11/2024

19

Bab 19 Salah Paham

08/11/2024

20

Bab 20 Mulai Oleng

08/11/2024

21

Bab 21 Mencari Solusi

09/11/2024

22

Bab 22 Konseling

09/11/2024

23

Bab 23 Mediasi Kedua

11/11/2024

24

Bab 24 Jebakan Elena

13/11/2024

25

Bab 25 Keputusan Sulit

14/11/2024

26

Bab 26 Luka Mendalam

15/11/2024

27

Bab 27 Rendy Datang Lagi

16/11/2024

28

Bab 28 Rania Mulai Ragu

16/11/2024

29

Bab 29 Titik Kritis

17/11/2024

30

Bab 30 Mulai Oleng

17/11/2024

31

Bab 31 Rania Terpuruk

18/11/2024

32

Bab 32 Bertemu Rendy

19/11/2024

33

Bab 33 Pertengkaran Besar

20/11/2024

34

Bab 34 Keputusan yang Sulit

21/11/2024

35

Bab 35 Waktu untuk Berpisah

22/11/2024

36

Bab 36 Kembali atau Akhiri Semua

23/11/2024

37

Bab 37 Perpisahan

24/11/2024

38

Bab 38 Pilihan

25/11/2024

39

Bab 39 Kehidupan Baru Bersama Anak Kembar

26/11/2024

40

Bab 40 Waktu yang Terbagi

27/11/2024