back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Ambil Nafasku Pergi

Ambil Nafasku Pergi

ANIKA NAYAK

4.7
Ulasan
16M
Penayangan
859
Bab

“Usir wanita ini keluar!” "Lempar wanita ini ke laut!” Saat dia tidak mengetahui identitas Dewi Nayaka yang sebenarnya, Kusuma Hadi mengabaikan wanita tersebut. Sekretaris Kusuma mengingatkan“Tuan Hadi, wanita itu adalah istri Anda,". Mendengar hal itu, Kusuma memberinya tatapan dingin dan mengeluh, “Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?” Sejak saat itu, Kusuma sangat memanjakannya. Semua orang tidak menyangka bahwa mereka akan bercerai.

Bab 1
Mengakhiri Sebuah Pernikahan

"Ini surat cerainya, Panji. Aku sudah menandatanganinya. Tolong kau serahkan surat ini kepada Kusuma Hadi."

Tak mudah bagi Dewi Nayaka mengumpulkan keberanian untuk menyerahkan surat cerai yang akan mengakhiri pernikahannya dengan Kusuma kepada Panji, pelayan keluarga Hadi.

Menghela napas dengan pasrah, Panji membaca dokumen itu dan memeriksa klausa di dalamnya, keningnya pun berkerut. Ia menatap gadis di depannya dengan tajam dan kemudian sedikit berteriak, "Dewi!" Dengan rasa tak percaya atas apa yang telah dibacanya, ia pun bertanya, "Apa kamu menyadari betapa bodoh isinya? Aku dapat memahami tentang keinginanmu menceraikan Tuan Hadi. Lagi pula, kamu belum pernah bertemu dengan suamimu itu selama tiga tahun terakhir. Tapi kenapa kamu tidak meminta uang sama sekali dalam surat ini?"

Pada usianya yang 20 tahun saat ini, Dewi adalah seorang mahasiswi pada sebuah universitas. Ayahnya telah meninggal dunia, dan ia sama sekali tidak pernah mengenal siapa ibunya. Berdasarkan pertimbangan Panji, tak seharusnya ia mengajukan perceraian, apalagi memutuskan tali pernikahan itu tanpa mendapatkan uang.

Dewi menggaruk bagian belakang kepalanya dalam rasa malu. Ia sadar bahwa Panji selalu memperlakukannya seakan ia adalah putrinya, jadi ia berniat menceritakan semua rencananya kepada Panji. "Aku... Aku akan berhenti kuliah," Dewi mengatakannya dengan terbata-bata.

"Apa? Kenapa kamu dengan tiba-tiba ingin berhenti kuliah? Apa yang sudah terjadi? Apakah seseorang telah mengganggumu di kampus?" Mata Panji melebar karena rasa terkejut dan juga penasaran.

"Tidak tidak Tidak! Reaksimu terlalu berlebihan, Panji. Seperti yang kamu sudah tahu, aku tidak suka belajar. Jadi, aku pikir akan lebih baik jika aku tidak membuang waktuku di universitas, melakukan apa yang tidak kusukai," jelasnya.

Alasan untuk berhenti kuliah yang diutarakannya memang lemah, namun itulah alasan satu-satunya yang terlintas di kepalanya yang terdengar masuk akal dan dapat menghentikan Panji dengan reaksinya. Dan sebenarnya ia pun masih menyimpan alasan sesungguhnya dari perceraian itu hanya untuk dirinya sendiri.

Ia terdiam beberapa saat setelah mengutarakan alasannya untuk berhenti kuliah, karena beberapa pemikiran melintas di benaknya. 'Besok adalah ulang tahunku yang ke-21 dan ulang tahun pernikahanku dengan Kusuma yang ketiga.

Aku masih sangat muda. Aku tak ingin pernikahan yang hampa ini menghalangi pencarianku akan cinta sejati dalam hidupku.

Sejak menikah, aku bahkan belum pernah bertemu dengan Kusuma, suamiku secara langsung. Semua pernikahan ini diatur oleh ayahku. Bagaimana bisa aku menjalani hidup seperti ini?' pikirnya putus asa.

Menyimpulkan bahwa Dewi tidak akan menceritakan apa pun lagi kepada dirinya, Panji berkata, "Karena sepertinya kamu telah memutuskan segala sesuatu, maka aku akan..." Panji memberi jeda, menunggu jika Dewi akan mengatakan sesuatu. "Aku akan menyerahkan surat cerai ini kepada Tuan Hadi besok," kata Panji sambil menghela napas panjang, ketika ternyata Dewi tetap dalam diamnya.

"Terima kasih banyak, Panji!" Dewi menghela napas lega dan mengakhirinya dengan sebuah senyum manis kepada Panji.

Menatap Dewi, Panji tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu kepada gadis muda itu. "Dewi, Tuan Hadi adalah seorang pria yang baik. Aku yakin kalian berdua adalah pasangan yang sempurna, jadi, aku berharap kamu dapat memikirkan segala sesuatunya dengan hati-hati dan bersedia mempertimbangkan kembali semua keputusan yang telah kamu buat. Jika keputusanmu berubah, kamu dapat menghubungiku kapan saja, "kata Panji dengan tulus.

Dari semua yang Panji katakan, ada dua hal yang membuat Dewi merasa sangat heran. 'Kami berdua adalah pasangan yang sempurna? Pria itu bahkan tak muncul di hari pernikahannya! Pria itu beralasan dirinya sedang menghadiri jamuan makan malam dari seorang presiden di luar negeri. Sehingga foto yang ada di surat nikah kami pun adalah hasil editan Photoshop.

Yang lebih parah lagi, dalam tiga tahun pernikahan kami, tak sekalipun aku pernah melihat pria itu dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, dari sisi mana Panji dapat menyimpulkan bahwa kami adalah pasangan yang sempurna?' Dewi tak dapat mengendalikan pikiran sarkastis yang timbul di kepalanya sebab perkataan Panji.

Tersadar dari pergulatan pikiran di benaknya, Dewi menarik napas dalam-dalam sebelum ia mulai berbicara. Ia hendak mengatakan, "Aku telah mengambil keputusan," namun alih-alih mengatakannya, ia akhirnya berkata, "Baiklah." demi menghormati Panji yang selama ini benar-benar peduli terhadap dirinya.

Berharap bahwa Dewi pada akhirnya akan mengubah keputusannya, Panji menunggu hingga sore keesokan harinya sebelum ia memberitahu Kusuma tentang surat cerai itu. Namun ia harus menelan kekecewaannya menghadapi fakta bahwa Dewi tidak meneleponnya untuk mengubah keputusannya. Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak seseorang yang hendak ia hubungi. "Tuan Hadi, saya memiliki sebuah dokumen yang perlu Anda tanda tangani," katanya dengan hormat.

"Dokumen apa itu?" Kusuma bertanya dengan nada suara yang dingin. Panji memperhatikan ada sedikit nada ketidaksabaran dalam suara Kusuma.

Merasa ragu sesaat, Panji pun menjawab, "Sebuah surat perceraian."

Pena di tangan Kusuma membeku seketika, ia berusaha memahami dengan baik kata-kata yang baru saja didengarnya. Sambil berpikir, ia menutup matanya dan menggosok alisnya.

Ia pun tersadar dengan cepat dan berpikir, 'Oh, aku punya seorang istri. Andai saja Panji tidak menghubungi dan mengatakannya saat ini, aku mungkin tak akan pernah ingat bahwa diriku sudah menikah dan memiliki seorang istri.'

"Letakkan saja dokumen itu di atas meja di ruang kerjaku. Aku akan kembali ke Kota Yoya dalam beberapa hari," kata Kusuma dengan nada datar.

"Baiklah Tuan Hadi," Panji menjawab dan mengakhiri panggilan telepon itu.

Sementara itu, di Bar Malam Biru di Kota Yoya, sebuah bar dengan pencahayaan yang remang-remang, namun penuh sesak dengan penikmat hiburan malam.

Banyak pria dan wanita yang mendatanginya, karena memang bar ini cukup populer di antara tempat hiburan di Kota Yoya.

Di dalam Kamar 501, terlihat sebuah meja yang dipenuhi dengan bir, anggur, sampanye, dan berbagai makanan ringan.

Ruangan itu merupakan tempat dirayakannya sebuah pesta ulang tahun seseorang. Yang merayakannya adalah Dewi, yang pada hari i

tu genap berusia 21 tahun.

Mendapat julukan "Tomboi" dari teman-teman sekelasnya, saat ini Dewi kini mengenakan gaun renda berwarna merah muda. Perayaan ini merupakan satu dari sedikit acara di mana ia memilih untuk mengenakan pakaian yang feminin, daripada pakaian kemeja dan jeans yang ia biasa kenakan. Beberapa teman wanita yang menjadi tamunya mengeluarkan ponsel untuk berfoto selfie dengan Dewi, salah satunya karena saat ini Dewi tampil sangat berbeda dari biasanya

Puas berfoto, para peserta pesta pun mulai bersenang-senang dengan minum dan ngobrol satu sama lain. Di salah satu sudut ruangan itu terlihat tumpukan hadiah yang diterima Dewi dari teman-temannya.

Jaya Handaru, salah seorang teman pria Dewi yang tengah mabuk, menyanyikan sebuah lagu dengan salah satu lengannya merangkul seorang teman prianya. "Aku tahu kamu adalah masalah ketika kamu muncul..." Ia mengoceh dalam mabuknya.

Suaranya begitu nyaring hingga banyak wanita yang hadir di situ menutup telinganya dan mendengus kesal.

"Hei, Jaya! Berhentilah bernyanyi. Lebih baik kita mainkan game yang tidak akan merusak gendang telinga siapa pun di ruangan ini." usul Kirani Jenar, salah seorang teman sekamar Dewi.

Ia adalah seorang wanita yang bersikap ceria, penuh percaya diri, dan menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.

Usulnya membuat ruangan itu hening seketika. Para pria dan wanita di dalam ruangan itu memandangnya seakan menunggu instruksi lebih lanjut darinya.

Kirani adalah seorang wanita pencinta pesta, ia terkenal dan populer di mata teman-teman kuliahnya.

Memandang teman-temannya dengan tatapan nakalnya, Kirani berkata, "Kita bermain Benar atau Berani!" Senyum licik mengembang di bibirnya saat teman-temannya menunjukkan keengganan akan usulan itu.

Beberapa teman wanitanya bahkan melemparkan pandangan dengan ekspresi tidak senang terhadap Kirani atas usulannya. "Kirani, itu permainan yang menyebalkan!" Jaya, generasi kedua keluarga kaya, yang sebelumnya mendapatkan kritik dari Kirani atas nyanyiannya, kali ini berkomentar terhadap usulan itu. Ia memainkan matanya dengan ekspresi jijik di wajahnya, karena menurutnya permainan itu adalah permainan yang membosankan.

"Karena hari ini adalah hari ulang tahun Dewi yang ke-21, kita akan membuat permainan itu jadi lebih seru!", ucap Kirani menatap Jaya dengan tatapan menantang. Kirani menyunggingkan senyum jahat di bibirnya yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.

Sebagian besar yang hadir dalam pesta itu masih berstatus mahasiswa, sehingga masih banyak pria dan wanita polos dan lugu di antara mereka. Mereka sebenarnya sudah biasa dengan permainan itu; di mana hukuman yang diterima bagi yang memilih "Berani" umumnya adalah menyanyikan nada tinggi dalam lagu Maria Cali 'Mencintaimu', menggendong pria terberat di sekitar ruangan, atau bernyanyi duet dengan lawan jenis.

Tapi Kirani saat ini punya rencana lain untuk Dewi. Pipi Dewi saat itu sudah bersemu merah akibat terlalu banyak minum sampanye dan anggur. Pada putaran pertama, Kirani telah mengatur semuanya, ia mengedipkan mata pada peserta lainnya, yang dengan cepat dapat menangkap apa yang direncanakannya.

"Yang kalah pada babak ini harus keluar dari ruangan ini, berbelok ke kanan, dan mencium bibir lawan jenis yang pertama kali mereka temui di sana. Jika ia menolak untuk melakukannya, ada alternatif hukuman lain baginya. Dia harus minum sepuluh gelas anggur," ucap Kirani menjelaskan aturan permainan sesuai yang telah direncanakannya

Mendengar penjelasan Kirani, semua orang menjadi bersemangat dengan permainan ini. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi korban pertama dalam permainan ini. Jaya mendengus jijik mendengar perkataan Kirani, namun ia tak berkomentar apa pun. Ia sudah paham bahwa semua ini sudah diatur oleh Kirani.

Memainkan Gunting-Batu-Kertas sebagai awal, semua orang menoleh dan melihat Dewi, yang terkejut dengan hasil permainan.

Dewi menatap tangannya yang membentuk simbol gunting, kemudian melirik tangan peserta lainnya yang semuanya membentuk simbol batu. Ia ternganga, matanya melebar dan rahangnya mengendur lemas.

"Aku membencimu, Kirani!" teriaknya. Membayangkan konsekuensi yang harus ia lakukan, Dewi merasa ingin menangis. Ia sudah mabuk dan tak akan sanggup lagi jika harus minum 10 gelas anggur lagi.

Ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan menarik napas dalam-dalam, sebelum kemudian membuka pintu keluar dari ruangan itu.

Mengikuti instruksi permainan yang telah dijelaskan Kirani sebelumnya, ia pun berbelok ke kanan.

Berdiri di lorong tak jauh dari Dewi, terlihat seorang pria yang sedang berdiri dengan mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam dan sepatu kulitnya.

Pria itu terlihat berusia di pertengahan 20-an dan tinggi badannya kira-kira 180cm. Mata yang gelap, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung dan bibir yang seksi, wajahnya sangat menarik untuk dilihat. Sebuah penampilan yang akan terlihat menonjol di tengah sebuah kerumunan.

Namun, matanya terlihat sangat dingin, sehingga Dewi langsung menggigil ketika pria itu menatapnya.

"Wow, itu pria yang tampan! Tomboi, cepatlah! Kami mengawasimu dari sini," kata Kirani yang berbisik dari jauh. Dewi berdiri membeku, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Benaknya dipenuhi oleh berbagai pemikiran, 'Dia terlihat tak asing. Di mana aku pernah bertemu atau melihatnya?'

Namun bisikan Kirani memecah semua lamunan itu, hingga ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan lebih banyak keberanian untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.

Sebuah pemikiran kembali menyelip di benaknya, 'Sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Lupakan! Aku sebaiknya melakukan semuanya dengan cepat.'

Setelah keberaniannya terkumpul, Dewi pun berjalan menghampiri pria itu, ia kemudian tersenyum dengan manis dan berjinjit. Wangi parfum pria itu mengalir ke dalam hidungnya.

Kusuma sedang mencari tempat yang lebih tenang untuk menelepon, ketika bertemu dengan seorang wanita di lorong.

Ia mengerutkan keningnya karena merasa terganggu ketika kemudian wanita itu menghampirinya.

Sebuah pemikiran muncul di benaknya. 'Kenapa wanita ini terlihat sangat tak asing baginya? Matanya... ' pikir Kusuma, berusaha keras menggali sebuah wajah dari ingatannya.

Saat ia sedang sibuk dengan ingatannya, wanita itu menanamkan ciuman lembut di bibirnya ketika ia sedang lengah.

Buku serupa
Ulasan
Unduh Buku