Gelora Berbahaya Sang Pengacara

Gelora Berbahaya Sang Pengacara

Devils Love

5.0
Komentar
2.4K
Penayangan
37
Bab

"Ternyata perempuan malam sepertimu masih saja nikmat." Madona seorang perempuan malam, tega menjebak Ardan, sang pengacara, hanya demi mendapatkan uang 500 juta untuk menebus utang orang tuanya pada sang mucikari. Namun, bukannya mendapatkan uang. Madona malah mendapatkan malapetaka atas video skandalnya bersama Ardan. Dan tak hanya itu, Madona harus mendekam di dalam rumah Ardan. Lantas, bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Akankah ada cinta yang hadir, atau malah kebencian yang akan menghampiri mereka? Cover free Comersial use from Canva

Bab 1 Menceramahi Perempuan Nakal

"Kau masih muda, dan bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dari ini, kenapa kau malah lebih memilih bekerja di rumah bordil mengerikan ini?"

Dona terkejut mendengar perkataan Ardan.

Pasalnya, baru pertama kali ada klien yang mengatakan hal seperti ini padanya. Kebanyakan klien yang ditemuinya pun tidak berkata apa-apa dan langsung menidurinya. Dan Dona agak sedikit bingung menjawab pertanyaan Ardan.

"Berapa umurmu?" tanya Ardan kembali.

"20 tahun." Dona lalu menunduk.

Ya, Dona memang masih muda. Lantaran, ibunya, Almaira memiliki utang ratusan juta pada Mami Sandra, mucikari di rumah bordil itu, Dona harus membayarnya dengan tubuhnya.

Awalnya, Dona memang tidak mau bekerja seperti ini. Tetapi Sandra mencoba memanfaatkannya.

Tentunya, tidak pernah terbesit di dalam benaknya untuk menjadi seorang penghibur. Hanya saja, malam ini datang seorang pengacara, dan asistennya ke rumah bordil, berbicara dengan Shandra dan bermaksud ingin mengadakan rapat bersama kliennya. Mereka meminta Shandra untuk menyuguhkan perempuan paling cantik dan akhirnya Shandra meminta Almaira agar mau menyerahkan dirinya untuk menjadi perempuan malam.

Yang menyesakkan, ibunya mengizinkannya. Dan Dona hanya tahu ia harus menghibur pengacara bernama Ardan Argantara Pramuria.

Hampir saja airmata melesak keluar, tetapi saat mendengar Ardan melangkah kakinya, mendekat padanya, Dona segera menengadah.

"Kenapa kau menjual tubuhmu?" tanyanya.

Tetapi kali ini Dona tidak menjawabnya.

"Apa kau tidak punya kepintaran apa-apa selain memanjakan para laki-laki?"

Dona merasa tersinggung. Ia menatap Ardan dengan tatapan mengerikan. "Apa kau tidak menyukai perempuan?"

Menurutnya, Ardan bisa mendapatkan perempuan mana pun yang ia mau dengan serius. Tetapi kenapa laki-laki ini malah mencari perempuan malam? Pasti, ada sesuatu, bukan?

Dan pertanyaan itu sukses membuat Ardan merengut kesal dengan wajah terlihat semakin memerah. Lantaran, dia mencoba menasihati Dona dengan serius, tetapi wanita itu malah melawannya.

"Kau jangan asal bicara, aku normal. Bahkan 1000%! Apa perlu aku buktikan, Madona?" Ardan menyentak dagu Dona.

Madona hanya diam dengan pasrah, terlebih saat Ardan langsung mendorong tubuhnya ke ranjang. Pria itu lalu membuka seluruh pakaiannya, hingga memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. "Buka bajumu," perintahnya tegas.

Dona pun melakukannya. Ini bukanlah kali pertama Dona melakukannya. Dona tentunya sudah pernah melihat tubuh para pria lain. Tetapi... tubuh Ardan sangat atletis.

Saat semua pakaian lepas, Ardan memperhatikan Dona. Tubuh wanita itu sangat sintal dan wajahnya juga cantik, sesaat Ardan mengangguminya. Tetapi terlintas di pikirannya, bahwa perempuan ini murahan dan pastinya sudah sering melakukan bersama laki-laki lain.

Ardan mengeraskan rahangnya, lalu akhirnya naik ke ranjang dan menghirup tubuh Dona yang wangi.

Dan tanpa berlama-lama, Ardan melakukan penyatuannya bersama Dona.

"Ternyata perempuan malam sepertimu masih saja nikmat," ujarnya setelah selesai. Napas mereka saling memburu.

Ardan tapi menatap bercak merah di seprai. Seingatnya, Ardan tidak melihat ada darah yang keluar saat mereka melakukan itu. Dan Dona juga tidak meringis kesakitan.

"Apa kau masih perawan? Tidak mungkin bukan perempuan sepertimu masih perawan?"

Ardan lantas bangkit dari tempat tidurnya, ia sempat memperhatikan Dona yang menatapnya dengan bingung. Karena Dona tidak menjawab, dia lantas berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar Dona.

"Apa dia tidak pernah melakukan hubungan dengan pacarnya?" tanya Dona setelah pria itu menghilang ke kamar mandi.

Jelas-jelas, ini adalah motif seprai yang memang terlihat seperti bercak.

Dona lantas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menyelimuti tubuh polosnya. Dia masih menanti Ardan kembali dari kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Ardan keluar dari kamar mandi dengan tubuh terekspos dan handuk dililitkan ke pinggangnya, menutupi daerah spesial itu.

"Apa kau akan langsung pergi dari sini?"

Ardan menatapnya dengan meremehkan. "Kenapa? Kau tidak rela aku pergi?"

"Masih ada waktu sekitar 15 menit lagi. Tapi jika--"

"Dasar wanita murahan!"

Dona terkesiap mendengarnya. Ia hanya menyampaikannya saja, karena biasanya para tamu keluar setelah waktu benar-benar habis. Kadang ada yang sengaja berlama-lama hingga meminta tambahan waktu.

Baru kali ini ada tamu yang keluar lebih cepat. Dona takut jika pria itu melaporkan pada mucikarinya bahwa ia melakukan kesalahan.

Ardan menyunggingkan senyuman sinis. "Dasar Perempuan tak bermoral, sudah bagus aku membayarmu, bagaimana kalau kau tidak ada satu pun yang menyewamu malam ini?!" remeh Ardan dengan seringaiannya.

Madona lantas bangkit dari ranjangnya, dia tak menyangka akan ada pria yang berani merendahkannya dengan menyebutnya perempuan tak bermoral.

"Berani sekali kau mengataiku serendah itu? Hei, pria kaya! Kau memang bisa membeli semuanya dengan uangmu, termasuk tubuhku. Tapi, satu hal yang tak pernah akan kau dapatkan adalah--"

"Apa yang tak akan pernah aku dapatkan, ha? Kau ini ngomong kayak orang benar saja, sudah bagus aku membayarmu. Kau kan yang memilih seperti ini?" tukas Ardan memotong ucapan Madona.

Dona mengepalkan kedua tangannya. "Pria seperti kau tidak akan pernah memiliki cinta, jangankan mendapatkan merasakannya pun kau tak akan pernah!" Madona berkata dengan bibir bergetar sambil menatap Ardan.

"CIH!" Ardan mendecih dengan sinis. "Perempuan sepertimu tidak pantas berbicara soal cinta. Sadar kau ini adalah perempuan tak bermoral. Di kepalamu ini hanya ada uang, uang, dan uang bukan?"

Ardan berjalan menuju laci di meja, lalu melemparkan segepok uang hingga jatuh berserakan di lantai.

Ardan lantas pergi meninggalkan kamar itu, dan segera menghampiri Abdi, asisten pribadinya yang menunggu di bar, dan terlihat ditemani oleh perempuan malam lainnya.

Tetapi panggilan seseorang menghentikan Ardan.

"Tuan Ardan," panggil Shandra.

Ardan lantas menoleh, "Apa lagi?" tanyanya dengan tangan memijat keningnya.

"Apa Anda terpuaskan oleh Primadona di tempat saya ini, Tuan?" Shandra sangat berharap kalau Ardan sangat puas oleh pelayanan yang diberikan oleh Madona.

Tetapi Ardan tidak menjawab, ia malah pergi begitu saja dari rumah bordil itu.

Shandra meradang ketika pertanyaannya sama sekali tidak di jawab oleh Ardan.

Shandra kembali berlari, membuka pintu mobil. Sebelum menutupnya, ia berkata, "Jika berkenan, silakan mampir kemari lagi."

Ardan lagi-lagi tidak menjawab, ia menatapnya lalu menutup pintu mobil dengan keras. Setelah itu, mobil melaju pergi, meninggalkan Sandra sendirian.

"Kenapa dengan raut wajah, Tuan Ardan? Mengapa dia sangat sinis sekali? Apa Madona tidak melayaninya dengan baik? Atau mungkin, dia tidak mendapatkan pelepasannya?" Shandra segera berbalik memasuki rumah bordil lagi.

Sedangkan di kamar.

Madona menatap uang yang jatuh itu dengan sedih. Ia lalu ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sambil memangis. Ia tidak mau bekerja seperti ini, tetapi bagaimana caranya bisa melunasi utang-utang ibunya?

Pria itu bahkan memperlakukannya dengan sampah. Jejak-jejak pria itu bahkan masih terlihat jelas di tubuhnya.

Setelah membersihkan diri, Dona memakai bajunya kembali lalu keluar dari dalam kamarnya. Tidak lupa sebelumnya ia memungut uang yang berserakan itu.

Dona berjalan pulang untuk menemui ibunya, Almaira.

Tetapi, tangannya ditarik oleh Shandra.

"Ikut denganku! Ada yang perlu dibicarakan!"

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Devils Love

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

kodav
5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Gelora Berbahaya Sang Pengacara
1

Bab 1 Menceramahi Perempuan Nakal

14/03/2024

2

Bab 2 Rencana Madona

14/03/2024

3

Bab 3 Hukuman Mengerikan

15/03/2024

4

Bab 4 Terjebak Birahi Sendiri

15/03/2024

5

Bab 5 Malam Panjang

15/03/2024

6

Bab 6 Kebodohan Madona

15/03/2024

7

Bab 7 Kejamnya Shandra

15/03/2024

8

Bab 8 Menghukum Pelaku Penyebar Video

15/03/2024

9

Bab 9 Menemui Madona untuk Menghukumnya

15/03/2024

10

Bab 10 Kau dan Ibumu Akan Tinggal Bersamaku

15/03/2024

11

Bab 11 Penolakan Keluarga Ardan

17/03/2024

12

Bab 12 Meninggalkan Rumah

17/03/2024

13

Bab 13 Kau Hanya Budak Nafsu

17/03/2024

14

Bab 14 Memperjelas Status Madona

17/03/2024

15

Bab 15 Abdi Musuh Sesungguhnya

17/03/2024

16

Bab 16 Permainan Takdir

17/03/2024

17

Bab 17 Tamu Tak di Undang

17/03/2024

18

Bab 18 Merasa Tersinggung

17/03/2024

19

Bab 19 Siapa Sebenarnya Argantara

17/03/2024

20

Bab 20 Kegusaran Almaira

17/03/2024

21

Bab 21 Ancaman Kehidupan Madona

12/04/2024

22

Bab 22 Madona di Bawa ke Kantor Polisi

12/04/2024

23

Bab 23 Penyesalan Madona

12/04/2024

24

Bab 24 Menyelidiki Kasus Asusila

15/04/2024

25

Bab 25 Mengusir Almaira

15/04/2024

26

Bab 26 Rencana Terselubung

15/04/2024

27

Bab 27 Informasi Penting

22/04/2024

28

Bab 28 Keberanian Madona

22/04/2024

29

Bab 29 Menolak Penindasan

22/04/2024

30

Bab 30 Mengadu Domba

22/04/2024

31

Bab 31 Menjadi Tahanan Kota

26/04/2024

32

Bab 32 Ancaman Dari Abdi

26/04/2024

33

Bab 33 Dikekang Mucikari

26/04/2024

34

Bab 34 Jalang Teriak Jalang

26/04/2024

35

Bab 35 Meloloskan Diri

26/04/2024

36

Bab 36 Perasaan Aneh Wirawan

30/04/2024

37

Bab 37 Terjebak Permainan Satu Malam

30/04/2024