icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu

Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu

Silla Defaline

5.0
Komentar
79.4K
Penayangan
62
Bab

Aku kaget ketika mengetahui jika Arza, suamiku memiliki hubungan khusus dengan Zorah. Padahal selama ini akulah yang menanggung biaya hidup Zorah, istri mendiang kakakku tersebut.Beginikah cara Zorah membalasku? Aku tak akan diam. Akan kupersembahkan kejutan demi kejutan untuk dua pengkhianat ini.

Bab 1

"Pa, hari ini kan hari libur, bagaimana kalau kita mengajak anak-anak untuk berwisata. Tempatnya terserah sama Papa, mau kemana. yang penting kita mengisi hari libur anak-anak dengan kegiatan yang menyenangkan."

Aku mencoba menawarkan kepada Arza. Kan kasihan juga melihat anak-anak selalu mengisi hari libur tanpa Papa mereka. Memang sih biasanya juga cuma saya yang menemani hari-hari libur mereka.

Ting......!

Sebuah bunyi notifikasi di layar ponselnya. Dengan cepat Arza membuka pesan itu. Sejenak dia tersenyum, lalu dengan cekatan dia mengambil jaket dan mamakai sepatunya.

"Mau kemana, Pa. Bagaimana tadi, bisa atau tidak kita menemani anak-anak liburan hari ini."

"Aduuh maaf, Ma. Ini ada yang minta pertolongan Papa."

Aku mengernyitkan dahi, siapa yang meminta pertolongannya hingga membuat pria ini melakukan gerak cepat.

"Siapa memangnya, Pa?"

"Debbie Ma. Katanya minta di anterin ke kampus, soalnya ada tugas mendadak dari dosennya."

"Tapi bisa kan Pa nanti pulang cepet. Soalnya kasihan anak-anak menunggu."

Sejenak Arza seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Begini saja, kalian berangkat saja duluan. Nanti kalau sempet Papa bakalan nyusul."

"Tapi kan, Pa. Debbie bisa saja naik taksi atau ojol."

"Mama ini bagaimana. Itukan keponakan Mama sendiri. Kok tega nyuruh dia pake taksi. Lagian siapa lagi yang akan peduli padanya Selain kita. Ya udah Papa berangkat dulu."

Memang Debbie adalah keponakanku. Ayahnya yang merupakan kakak kandungku, sudah meninggal setahun yang lalu, akibat kecelakaan. Oleh karena itu kamilah yang harus pembantu menjaganya.

Dari biaya kuliahnya, kami tidak segan-segan untuk menolong dan juga untuk biaya hidup sehari-hari Debby bersama Mbak Zorah, kami tidak segan-segan untuk membantu.

Tapi meskipun begitu tidak seharusnya Arza mengabaikan anak-anak. Walau bagaimanapun anak-anak membutuhkan sosok seorang Ayah.

"Ma, lihat si Hafis, dia liburan sama Papanya, si Ega juga. Kok kami berdua sama Mama terus ya?"

Davin, putra sulungku mengadu pagi tadi. Mukanya cemberut. Sedangkan Divan, cuma manggut-Manggut saja sambil mengunyah ayam bakar. Memang dia hobi makan. Makanya tubuhnya lebih gede bila di banding sama si kakak.

Mereka adalah putra kembarku. Memang sang Papa jarang punya waktu buat mereka.

"Nak, Papa sibuk mengurus pekerjaan. Supaya dapat uang untuk belanja Davin dan Divan."

Sebisa mungkin aku mencoba memberi mereka pengertian.

"Lhaa Mama juga kerja, tapi masih ada waktu kan buat nemenin kami. Kok Papa enggak sih, Ma?"

Davin yang baru memasuki kelas 3 SD itu sudah pintar mematahkan argumen.

"Kerjaan Mama sama Papa itu beda. Pekerjaan Papa lebih banyak di banding Mama."

"Eh Mama lihat tuh, Barca, Papanya juga bekerja di tempat yang sama dengan Papa. Tapi dia sering kok jalan sama Papanya. Pergi sekolah juga sering di anterin sama Papanya. Kok aku tidak ya"

Memang susah menghadapi anak yang kritis seperti Davin. Ada ada saja yang menjadi jawabannya.

"Iya iya nanti pasti Papa punya waktu untuk kalian oke?"

"Iya deh Kakak jangan terlalu mengharap banget sih. Yang penting kan ada Mama. Terus nanti kita bisa membeli makanan yang sedap dan enak. Perut kenyang hati pun senang. Iya kan Ma?"

Cerocos Divan anak bungsuku.

"Memang kalau kamu dalam otaknya hanya ada makanan, makanan dan makanan. Makanya badannya gendut tidak karuan. Biar nanti bisa gembung kayak balon."

Davin mencubit pipi adiknya gemas.

Aku sibuk membereskan pakaian sebelum pergi menemani anak-anak. Eiit... Mataku menangkap sesuatu yang sedikit tersembul keluar dari tas kerja yang di bawa lembur oleh Arza semalam.

Setelah ku keluarkan, wooow...! Ternyata kond*m. Sejak kapan kami memakai kontrasepsi jenis ini? Ini patut di jadikan alasan kecurigaan.

Sebenarnya hati ini bergemuruh hebat. Tapi aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan anak-anak. Ku keluarkan alat kontrasepsi tersebut dan menyimpannya kembali di tempat lain.

****

Walaupun Arza tidak bisa mendampingi, aku bisa mengajak anak-anak sendiri. Dengan menggunakan mobilku menuju ke pusat taman bermain untuk anak-anak yang ada di kota tempat tinggal kami. Karena anak-anak meminta untuk ke sini.

Kami telah biasa menghabiskan hari libur hanya bertiga. Bahkan terkadang libur panjang juga kami lalui bertiga. Arza jarang-jarang mau kuajak untuk ikut serta. Dan seperti biasa dia pasti memiliki alasan kesibukan.

Aku harap maklum karena pekerjaan kantor nya mungkin sedang sibuk. Tapi apa Iya tidak bisa menyisakan waktu sedikit saja untuk anak-anak.

Aku memotret anak-anak. Setelah itu kebuka media sosial, kupilih foto terbaik lalu mengunggahnya. Memang aku jarang membuka aplikasi seperti ini, karena kesibukan dalam bekerja. Sesekali boleh juga kan.

Ketika sedang membuka beranda tidak sengaja mata ini melihat sebuah akun keponakanku Debby. Dia memposting foto mereka bertiga Debby, Arza dan Mbak Zorah.

Mereka sedang makan di sebuah cafe mahal. Tentu saja aku mengenali tempat itu. Kemudian ada juga beberapa foto yang menggambarkan potret mereka di sebuah vila dan aku juga mengenali di mana villa tersebut.

Apa yang mereka lakukan? Katanya tadi mau mengantar Debbie ke kampus, ini kok malah ke villa. Makan-makan di cafe mahal lagi. Ku lihat postingan itu baru di pos 30 menit yang lalu. Berarti itu belum lama kan.

Dari satu postingan video, Arza kelihatan sangat menikmati kebersamaan mereka. Apakah memang arza lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka atau bagaimana?

Mataku menangkap tangan arza menggenggam jari-jemari Mbak Zorah. Ku kucek-kucek mata dengan punggung tangan, memastikan bahwa penglihatanku tidak salah.

Benar, walaupun durasi videonya hanya veberapa detik saja, aku mampu melihatnya dengan jelas. Langsung ku simpan video tersebut di ponsel.

Mengapa ada perasaan seperti menusuk di hati ini. Ada apa diantara mereka? Entah mengapa aku merasa tidak pantas bagi Arza menggenggam jemari kakak iparku seperti itu. Atau apakah ini hanya perasaanku saja. Kutelusuri postingan Debbie. Banyak juga Kulihat sebuah komentar di bawahnya.

"Semoga selalu bersama"

Dari sebuah akun bernama "Dua hati". Sebuah akun berfoto profil kan satu ikat bunga yang berisi 2 kembang merah dan putih. Serasa penasaran aku membuka profil tersebut.

Tidak kusangka ada beberapa foto yang berisikan foto-foto mbak Zorah dengan seorang pria. Tapi wajah si pria di tutupi dengan stiker love. Walaupun wajah itu tertutupi stiker, tapi aku bisa mengenali seseorang itu dengan baik. Dia adalah Arza.

Ada berbagai pose mesra mereka. Tangan pria itu melingkari leher mbak Zorah yang berpakaian sedikit terbuka. Huuup...! Dengan jelas di tangan itu melingkar sebuah jam tangan yang kuhadiahkan kepada Arza di hari ulang tahunnya yang ke 36 beberapa bulan yang lalu. Sudah sangat jelas, pria yang bersama mbak zorah adalah suamiku.

Kembali aku membuka akun Debbie tadi, eh sudah tidak ada lagi. Semua postingan tadi telah di hapus. Untung tadi aku cepat mendownload semuanya ke ponsel.

Otakku mulai berpikir ke mana-mana. Apa mungkin mbak Zorah setega itu, padahal selama ini kami telah banyak membantu mereka. Semenjak bang Ramond kakakku sekaligus suaminya mbak Zorah meninggal, maka aku dan Arza lah yang menjadi tulang punggung untuk mbak zorah dan Debbie. Kami bergantian memberi jatah bulanan buat mereka berdua selagi mbak zorah belum mendapatkan pekerjaan. Nyatanya sampai sekarangpun mbak Zorah belum juga bekerja.

Karena aku juga tidak mau kalau keponakanku putus sekolah. Syukurnya profesiku sebagai bendahara di sebuah perusahaan masih bisa membantu pemasukan rumah tangga.

Jabatan Arza juga bisa di bilang lebih dari cukup untuk kebutuhan kami. Dia bekerja sebagai manajer di perusahaan yang berbeda denganku.

Setiap bulan dia memberi nominal yang menurutku lumayan. Tapi entah beberapa bulan belakangan jumlah itu berkurang. Katanya dia banyak membantu anak-anak kurang mampu di panti aauhan, orang tua di panti jompo, sampai mengirimi bantuan kepada para korban bencana. Tentu saja semua alasan itu ku percaya.

Tapi melihat foto-fotonya yang seperti ini, terlebih lagi kepada kakak iparku sendiri, membuat tumbuhnya benih kecurigaan. Apa mungkin ada sesuatu hubungan khusus di antara mereka. Baik, akan kucoba untuk mencari tahu.

Lanjutkan Membaca
Buku serupa
Karya Lainnya oleh Penulis Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku