Jadi Istri Duda

Jadi Istri Duda

Lily Arriva

5.0
Komentar
2.9K
Penayangan
36
Bab

Karena terus disuruh kencan buta oleh sang ibu, Juwita Anggari Hidayat akhirnya memilih untuk menikah dengan duda anak satu, Jamal Antonio Ruhan, yang telah menolongnya dari para lelaki nakal di jalanan. Hal itu mau tidak mau membawanya pada kehidupan baru sebagai istri dan ibu tiri. Terlebih lagi dia juga belum mengenal Jamal dan anaknya. Dia kira, akan semakin sulit untuk membagi waktu untuk keluarganya di rumah dan pekerjaannya di butik. Apalagi dia harus mengurus remaja umur lima belas tahun itu. Susah senang dia rasakan apalagi anak tirinya ini sedikit pendiam dan agak jual mahal. Anehnya, dia menyukai dan menikmati kehidupan barunya itu. Ya, baru. Sangat baru hingga dia hampir melupakan bahwasanya dialah yang sebenarnya masuk ke dalam kehidupan keluarga kecil Jamal tersebut. Banyak hal baru yang dia ketahui dari masa lalu. Akankah dia tetap bertahan dengan semua hal baru yang dia dapatkan?

Jadi Istri Duda Bab 1 PRIA PENYELAMAT

Sudah dua hari ini Juwita kelabakan harus mencari kain, bahan untuk proyek eksperimen rancangan gaun barunya. Ini adalah proyek terbarunya bersama para karyawan di butiknya. Juga, yang perlu dicatat ini adalah proyek dadakan yang tidak sengaja disetujui oleh salah satu asistennya dalam rangka kolaborasi brand. Ya, tidak sengaja karena saat itu asistennya sedang basa-basi bersama manager desainer lainnya yang malah berujung kesepakatan.

Masalahnya adalah waktu perilisan dan acara akan digelar tiga minggu lagi. Sedangkan ia perlu menemukan bahan yang layak, ekonomis dan tepat dalam waktu sesingkat itu sebelum tanggal perilisan. Lebih lagi target utama acara kolaborasi kali ini adalah kalangan tengah. Kalangan tengah biasanya lebih selektif dan juga mempertimbangkan antara kualitas dan harga yang pantas dengan isi dompet. Syukur kalau bisa dijangkau oleh yang agak di bawah. Ide rancangan gaun yang dirumuskannya bersama tim pengerjaan ini memiliki konsep elegan dengan harga yang bersahabat. Perilisan juga akan diadakan secara terbuka, di salah satu mall Sidoarjo. Jadi, sebisa mungkin dia dan para karyawannya bekerja dengan baik dan cepat.

Oke, mungkin itu bisa dikondisikan nanti saat dia sudah menemukan semua bahan. Akan tetapi, hari ini cukup mengenaskan baginya. Dia harus mencari bahan tersebut sendirian karena berbagi tempat tujuan dengan asisten dan satu karyawan lainnya. Dia pergi ke pusat pertokoan di Sidoarjo. Salah satu temannya pernah mengabarkan bahwa bahan kain di sana banyak yang berkualitas dan dijual dengan harga di bawah pemasar semestinya. Sedangkan asistennya dan satu karyawan menuju ke pusat kain yang ada di Surabaya. Sebenarnya tadi ada salah satu karyawannya yang menawarkan diri untuk menemaninya mencari bahan, namun karena ada jadwal lain sebelum meluncur ke tempat, dia tidak jadi ditemani. Bagaimana pun, dia juga yakin bisa mengatasinya sendiri. Toh, sebelum menjadi desainer yang ternama, dia juga pernah mengalami hal seperti ini.

Apakah Juwita tidak mempunyai manager? Jawabannya, dia punya. Hanya saja hari ini managernya sedang berlibur dengan keluarganya, anaknya libur sekolah. Jadi, dia tidak berani untuk mengganggu keluarga itu.

Waktu setempat telah menunjukkan pukul lima sore dan Juwita baru saja selesai mencari bahan kain yang dia inginkan. Sejak tadi siang, dia harus berpindah dari satu toko ke toko yang lain. Untung dia memakai sepatu biasa, bukan yang berhak tinggi. Tumitnya terselamatkan. Hingga tiba di toko terakhir, dia meminta izin terlebih dahulu ke pemilik toko sebelum duduk di kursi yang ada di emper toko untuk meminum air mineral, demi melegakan dahaganya. Dengan senang hati, pemilik toko itu mempersilakan.

Juwita melepaskan lelahnya sejenak. Kendaraan bermotor berlalu lalang di Jalan Gajah Mada itu, salah satu jalan yang sibuk di Sidoarjo. Pandangannya tertuju pada mobil box yang membawa muatan di seberang jalan. Para pekerja angkut menurunkan muatannya. Dia berpikir sejenak tentang bagaimana lelahnya menjadi tukang angkut. Dia yang berjalan ke sana kemari dan hanya membawa diri dan tasnya saja sudah cukup lelah. Apalagi mereka yang harus mengangkat barang. Satu alasan untuk tetap bersyukur dan tidak gampang mengeluh.

Pemilik toko menghampiri Juwita dan mengabarkan bahwa dia selesai menotal semua pesanan wanita itu. Setelah menyelesaikan transaksi, dia hendak menuju ke mall terdekat untuk mampir ke restoran yang pernah dia kunjungi bersama asistennya. Tak jauh, hanya butuh jalan kaki sekitar dua ratus meter dia sudah bisa sampai ke sana. Sudah tidak ada becak yang bisa dia pakai jasanya untuk mengantarkannya sampai ke mall tersebut. Sejenak, Juwita merutuki keputusannya sendiri yang memarkir mobilnya di parkiran mall agar aman.

Dengan langkah santai dan tubuh yang cukup lemas karena belum makan siang dari tadi, Juwita berjalan menelusuri jalan lurus di tengah pusat pertokoan itu. Langit sudah mulai menggelap. Keadaan sekitar juga mulai sunyi. Jalan yang dia lewati juga semakin minim orang. Mungkin penduduk setempat hendak bergegas ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.

Adzan berkumandang ketika wanita berparas cantik dengan rambut setengah lengan atas itu mencapai setengah jalan. Di ujung sana, dia bisa melihat jalan protokol yang sibuk dan padat oleh kendaraan bermotor, lebih padat dari jalan di ujung satunya. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, dia mempercepat langkah untuk segera mencapai ujung jalan. Perutnya perlu segera diisi. Dia bisa pingsan kalau tidak mengembalikan energinya yang terkuras seharian. Pun, tekadnya itu didukung oleh perasaannya yang tiba-tiba saja menjadi gelisah. Sepertinya dia salah memilih jalan.

"Hai, Mbak. Mau ke mana? Ditemenin boleh, nih." Suara asing lelaki pinggir jalan itu membuat Juwita melirik sejenak dan segera mempercepat langkahnya. Sial. Tidak hanya ada satu orang di sana. Firasat buruknya yang baru saja terlintas terbukti dengan secepat itu.

Berkali-kali dia mendengar siulan yang dia yakini ditujukan kepadanya. Siapa lagi? Di jalan itu hanya ada dirinya seorang. Dalam hati, Juwita merapal berbagai doa agar tetap dijaga oleh Yang Maha Kuasa meskipun di sisi lain hatinya dia juga merutuki jalan pilihannya yang sepi.

"Ke mana, sih, Mbak? Buru-buru amat." Dia dihadang. Ada tiga lelaki di sekelilingnya. Tampak sekali dari wajah mereka bahwa mereka bukan orang yang baik-baik.

"Maaf, saya harus segera pergi. Mas-Mas ini tolong beri saja jalan." Genggaman tangan Juwita mengerat pada tali tasnya yang tersampir di bahu. Kalau bukan tasnya yang diinginkan oleh para lelaki ini pasti, ya, dirinya. Pikirannya sangat buruk. Bahkan dia rela kalau harus memberikan sisa uang yang ada di dompetnya sekarang dari pada harus menjadi korban pelecehan. Bagaimana pun kehormatannya harus tetap dia jaga dan lindungi.

"Enggak bisa gitu, dong." Sial, sungguh sial. Dia semakin terpepet hingga tidak bisa bergerak leluasa lagi. Mereka memang belum menyentuhnya, tapi dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia tidak segera menyelamatkan diri. Maka dengan mengincar celah yang ada, dia berusaha kabur dari para lelaki nakal itu.

Nahas, tangannya berhasil dicekal dan tubuh semampainya itu harus terjatuh ke aspal. Sakit sekali rasanya. Bahkan dia yakin ada luka lecet di sebagian kulitnya.

"Tolong!" Teriakan itu terasa sia-sia saat dia sudah berkali-kali mengeraskan suaranya namun tidak ada satu pun orang yang datang untuk menolongnya.

Air matanya mulai berjatuhan. Dia masih berusaha agar bisa terlepas dari cekalan salah satu pria nakal tersebut. Dia terus memberontak dan berteriak meskipun mulai merasa sangat putus asa. Suaranya terdengar sangat pilu tanpa ada tenaga yang cukup untuk melawan, untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tubuhnya sudah diseret ke trotoar. Kaki mulus terawatnya bergesek langsung dengan aspal. Terasa sangat kasar dan perih. Dia dibawa hampir masuk ke gang sempit antara dua bangunan di sana ketika dia mendengar ada suara pukulan di belakang.

"Lepaskan dia!" Teriakan itu membuat pria yang mencekalnya semakin erat memeganginya dan semakin kuat menariknya. Namun sedetik kemudian pria itu terpental. Dia pun ikut terjatuh ke tanah.

"Anda tidak apa-apa?" tanya orang asing yang berteriak tadi kemudian membantu Juwita bangkit, sebisa mungkin menjauh dari sana. Dia memakai setelan jas rapi, seperti baru pulang dari kerja.

Juwita tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis.

"Saya sudah telepon polisi," kabar orang itu lagi. Dia memapah Juwita berjalan menjauh dari tiga pria berandal itu, memastikannya ada di jarak aman.

Pukulan keras di punggung penolong Juwita terdengar sangat menyakitkan. Dengan segera, dia berbalik dan meladeni perkelahian tiga banding satu itu. Terlihat pria penyelamat itu bisa mengimbangi perkelahian tersebut. Hingga suara sirine mobil polisi terdengar. Tiga pria berandal itu hendak kabur namun segera terkejar oleh para petugas.

"Maaf, Anda jadi ketakutan." Pria penyelamat itu mendekati Juwita. Wajahnya sudah penuh dengan lebam dan setelannya sudah terlihat lusuh karena perkelahian barusan.

Juwita terlihat masih terpukul dengan kejadian barusan dan hanya bisa sesenggukan di tempatnya sambil menenggelamkan wajah di lututnya. Dia mengintip dari balik tangannya yang terlipat dan menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia menyambut tangan tersebut setelah menenangkan diri. Dia dibantu berdiri. Lalu Pria itu memberikan jasnya kepada Juwita untuk menutupi bahu gadis itu yang terekspos karena pakaiannya robek.

Pria itu hanya diam dan berdiri di sebelah Juwita yang masih tergugu dalam tangisannya. Juwita berusaha menghentikan tangisannya namun dia masih terlalu syok dengan apa yang barusan terjadi. Pikirannya masih tidak bisa jernih.

"Terima kasih," cicitnya.

"Sama-sama. Tenangkan diri Anda terlebih dahulu. Saya akan menjaga Anda," kata pria itu. Terdengar sangat tulus.

Salah satu petugas mendatangi mereka. "Anda berdua bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."

"Baik, Pak." Pria itu menjawab dengan tegas. Kemudian dia berjalan di samping Juwita, menuju mobil petugas.

Setelah memberikan keterangan dan kronologi kejadian untuk laporan kepada polisi yang bertugas, Juwita dan lelaki yang menolongnya tadi keluar secara bersamaan. Juwita yang masih syok dengan kejadian tadi belum sepenuhnya bisa mengontrol diri.

"Terima kasih banyak." Juwita berterima kasih sekali lagi dengan tatapan yang masih setengah kosong itu. Dengan canggung, dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan.

Pria itu tersenyum dan mengangguk ringan. "Iya. Sama-sama." Melihat wanita di depannya yang masih labil, dia pun berinisiatif untuk menawarkan bantuan lebih. "Mau diantarkan ke rumah sakit? Mungkin ada yang terluka."

Juwita menggeleng dan agak heran dengan pria di depannya ini. Bukannya lelaki itu yang perlu perawatan, ya? Kenapa dirinya yang ditawari ke rumah sakit? Apalagi wajah lelaki itu terlihat semakin pucat meskipun masih memasang senyuman yang memperlihatkan dua lesung pipinya. Sedetik kemudian, dia langsung sadar. Seharusnya itu yang dia lakukan sedari tadi. Astaga, bodohnya. "Maaf. Tapi, mungkin saya bisa mengantarkan Anda ke sana. Maafkan saya. Saya masih agak ...."

"Kak Juuuu!!!!!" teriak seseorang dari tempat parkir. Dia berlarian ke arah Juwita.

"Hellen!" Juwita melangkah beberapa hitungan untuk segera bisa memeluk gadis itu. Dia sudah tidak tahan. Dia ingin melepaskan ketakutannya.

"Maaf, aku terlambat banget, ya? Tadi ada kendala di rumah sakit. Astaga, Kak Ju. Kamu kenapa bisa jadi kayak gini? Ya ampun kakakku sayang. Mana pucet banget lagi." Hellen memeluk erat Juwita. Gadis yang lebih tua darinya itu menangis kuat dia balik pelukan tersebut.

Pria penyelamat tersebut membiarkan kedua wanita di depannya melepas keresahan mereka. Dia menahan diri untuk berpamitan hingga kedua wanita tersebut selesai dengan kehebohan pilu yang mereka buat. Sekaligus dia harus menahan rasa sakit dan lelah yang menggelayuti seluruh tubuhnya.

"Eh," sadar Hellen lalu berbalik ke belakang, ke arah Pria itu. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak sudah menolong Kak Juwita." Gadis itu sangat bersyukur.

Pria itu tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya yang baru saja Juwita sadari bahwa itu sungguh menawan. "Bukan apa-apa." Dia berucap tulus dan sopan dengan suara beratnya. "Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Anak saya pasti sudah menunggu di rumah. Permisi." Setelah itu, lelaki tersebut melangkah pergi dari hadapan mereka berdua.

"Lo udah punya nomor teleponnya belum, Kak? Biar bisa bales kebaikan dia." Hellen merasa ada yang tidak beres dengan kesadaran Juwita. Biasanya gadis yang dia kenal itu jika berterima kasih selalu menampakkan wajah segan dan bersyukurnya dengan sangat ekspresif. Akan tetapi, saat ini yang dia lihat adalah Juwita yang linglung. Semakin menguatkan dugaannya jika katingnya di kampus dulu ini belum memberikan apa-apa sebagai balasan bagi kebaikan pria tadi.

"Hah? Nomor telepon? Astaga gue lupa. Gimana ini?" Kaki Juwita mengentak-entak kecil. Tangannya secara random meraba-raba lengan Hellen, mencari genggaman. Dia panik.

"Ya ampun, Kak. Tunggu sini." Hellen segera mengejar langkah lelaki tadi. Namun, baru saja dia akan berbelok ke samping bangunan kantor polisi tersebut ....

"KAKAAAAKKK!!! TOLOOONG!!!!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Jadi Istri Duda Jadi Istri Duda Lily Arriva Miliarder
“Karena terus disuruh kencan buta oleh sang ibu, Juwita Anggari Hidayat akhirnya memilih untuk menikah dengan duda anak satu, Jamal Antonio Ruhan, yang telah menolongnya dari para lelaki nakal di jalanan. Hal itu mau tidak mau membawanya pada kehidupan baru sebagai istri dan ibu tiri. Terlebih lagi dia juga belum mengenal Jamal dan anaknya. Dia kira, akan semakin sulit untuk membagi waktu untuk keluarganya di rumah dan pekerjaannya di butik. Apalagi dia harus mengurus remaja umur lima belas tahun itu. Susah senang dia rasakan apalagi anak tirinya ini sedikit pendiam dan agak jual mahal. Anehnya, dia menyukai dan menikmati kehidupan barunya itu. Ya, baru. Sangat baru hingga dia hampir melupakan bahwasanya dialah yang sebenarnya masuk ke dalam kehidupan keluarga kecil Jamal tersebut. Banyak hal baru yang dia ketahui dari masa lalu. Akankah dia tetap bertahan dengan semua hal baru yang dia dapatkan?”
1

Bab 1 PRIA PENYELAMAT

05/07/2023

2

Bab 2 RUMAH SAKIT DAN PERMINTAAN MAMA

05/07/2023

3

Bab 3 BUKA MATA BUKA HATI

05/07/2023

4

Bab 4 MEMBALAS LEBIH

05/07/2023

5

Bab 5 MENIKAHLAH DENGAN SAYA

05/07/2023

6

Bab 6 MENIKAH DENGAN DUDA ANAK SATU

05/07/2023

7

Bab 7 TANPA RASA

05/07/2023

8

Bab 8 PAKET LENGKAP

05/07/2023

9

Bab 9 BERSAMA KELUARGA KECIL

05/07/2023

10

Bab 10 AWAL PENDEKATAN

05/07/2023

11

Bab 11 RENCANA JALAN

05/07/2023

12

Bab 12 PAKUWON MALL DAN STAY COOL

07/07/2023

13

Bab 13 NOMINAL YANG GILA

07/07/2023

14

Bab 14 KEBUTUHAN

07/07/2023

15

Bab 15 MAU MELAMBAI KE KAMERA

07/07/2023

16

Bab 16 PASANGAN BUCIN DAN JEVANO JOMLO

07/07/2023

17

Bab 17 RUMAH BARU

07/07/2023

18

Bab 18 TELAT

07/07/2023

19

Bab 19 HARI PERTAMA

07/07/2023

20

Bab 20 KAWAN BARU

07/07/2023

21

Bab 21 AWAL YANG MEMBAGONGKAN

07/07/2023

22

Bab 22 MAKAN MALAM

07/07/2023

23

Bab 23 BELAJAR MASAK

07/07/2023

24

Bab 24 FULL TANK

07/07/2023

25

Bab 25 PERJUANGAN MASAK JUWITA

07/07/2023

26

Bab 26 MASAK BERSAMA

07/07/2023

27

Bab 27 PERCAKAPAN KENYAMANAN

07/07/2023

28

Bab 28 CAPJAY

07/07/2023

29

Bab 29 MENGABAIKAN JEVANO

07/07/2023

30

Bab 30 PERCAKAPAN MALAM

07/07/2023

31

Bab 31 Siap-Siap Jalan

17/07/2023

32

Bab 32 Pulang Malam

17/07/2023

33

Bab 33 KEPIKIRAN JUWITA

17/07/2023

34

Bab 34 BEKAL DAN KESAL

17/07/2023

35

Bab 35 TEMAN ATAU BUKAN

17/07/2023

36

Bab 36 KERJA DAN JADWAL

17/07/2023