Unexpected Feeling

Unexpected Feeling

nura0484

5.0
Komentar
5K
Penayangan
117
Bab

Dihukum jadi pacar? Indira benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan hukuman aneh dari senior yang menurut informasi suka gonta ganti pasangan. Tidak tahu alasan jelas tentang hukuman, tidak berani menolak membuat Indira terjebak dengan hukuman ini bersama seniornya, Fajar. Memberikan hukuman aneh pada mahasiswi baru membuat Fajar menganggap sebagai obat traumanya. Menjalin hubungan dengan beberapa perempuan tidak membuat Fajar sembuh, tapi berbeda saat bersama dengan Indira. Tidak mengetahui masalah masing-masing membuat Fajar dan Indira menjalin hubungan sesuai dengan jalannya, selayaknya hubungan pada umumnya mampu membuat mereka dewasa. Apakah Fajar memang serius dengan perasaannya atau menganggap Indira sebagai obat traumanya? Akankah mereka berdua terbuka dengan semuanya?

Unexpected Feeling Bab 1 Orientasi

"Dik, nanti istirahat ketemu saya di ruang kesehatan."

Indira menatap bingung dengan apa yang dilakukan pria itu, pria yang tidak lain seniornya. Mengalihkan kembali pandangan ke depan dan mencoba fokus tapi tetap saja memikirkan perkataan senior tadi, menatap Mita yang berada disampingnya dengan tatapan bingung.

"Tadi siapa?" bisik Indira.

"Kayaknya senior deh, kamu nanti jangan lupa kesana." Mita mengatakan tanpa menatap Indira.

Materi yang disampaikan berjalan cukup lama, Indira mulai mencatat apa saja yang penting. Mendengarkan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, menjelang istirahat tugas diberikan dengan membentuk kelompok berdasarkan absen.

"Jangan lupa ke ruang kesehatan," ucap Mita mengingatkan.

"Hampir aja lupa," ucap Indira sambil memukul keningnya pelan.

"Kalian ke kantin?" tanya Lia, salah satu mahasiswi baru sama seperti Indira dan Mira.

"Aku yang ke kantin," jawab Mita.

"Kamu?" Lia menatap Indira.

"Dipanggil sama senior, kalian ke kantin aja. Aku nitip minum sama roti ya." Indira memberikan uang pada Mita.

Mereka bertiga keluar dari ruangan, langkah Indira berhenti di salah satu pintu sedangkan kedua temannya melanjutkan langkahnya menuju kantin. Indira menatap pintu bingung, tidak tahu siapa nama senior yang memanggilnya tadi.

"Cari siapa?" tanya salah satu senior wanita.

"Gue panggil dia," sahut senior pria yang tadi memanggil Indira sebelum membuka mulut "Ayo ikut."

Indira memilih mengikuti langkah senior yang memanggilnya, memasuki ruangan yang tampak sepi. Menutup pintu dengan pikirannya masih bertanya-tanya tentang apa kesalahan yang baru saja dirinya lakukan sampai-sampai harus dipanggil oleh senior, tidak berani menatap senior pria yang bersandar di meja dengan Indira dihadapannya.

"Indira Pradipta, kamu tahu letak kesalahan kamu kenapa saya panggil?" Indira langsung menggelengkan kepalanya "Kamu tidak menghargai senior yang berbicara di depan sampai-sampai melamun?"

Indira menatap senior pria dihadapannya dengan tatapan terkejut, seketika dirinya ingat berada dimana sekarang. Fakultas psikologi, orang-orang yang berada disini pastinya belajar membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah jadi tahu apa yang ada didalam isi kepala atau dipikirkan oleh orang tersebut.

"Kenapa diam? Benar kata-kata saya? Apa senior kamu terlalu membosankan sampai-sampai kamu tidak mau mendengarkan?"

"Bukan begitu, kak." Indira langsung membantahnya.

"Lalu?"

"Tiba-tiba aja blank." Indira memberikan alasan yang sangat masuk akal.

Senior dihadapannya hanya menggelengkan kepalanya "Kamu beruntung karena saya yang tahu coba kalau senior lain pasti habis."

"Maaf, kak." Indira menundukkan kepalanya merasa tidak enak dan bersalah.

"Kamu tahu siapa saya?" Indira langsung menggelengkan kepalanya "Fajar Putra Mardani panggilannya Fajar, ingat nama ini baik-baik."

"Baik, kak." Indira menganggukkan kepalanya masih tidak berani menatap seniornya, Fajar.

"Saya mau kasih hukuman buat kamu."

Indira mengangkat kepalanya terkejut dengan kata-kata Fajar, tidak menyangka akan mendapatkan hukuman di hari pertamanya masuk perguruan tinggi. Menatap Fajar dengan harapan yang di dengarnya tidak benar, bisa dikatakan salah mendengar apa yang dikatakan Fajar.

"Kamu mau tahu hukumannya?" tanya Fajar.

Indira menganggukkan kepalanya ragu tanpa melepaskan tatapan pada Fajar, senyum kecil terlihat di bibir Fajar membuat Indira menatap terkejut. Menggelengkan kepalanya cepat, tidak boleh terpesona dengan senior yang baru dikenalnya ini.

"Bagaimana mau tahu hukumannya?" Fajar bertanya lagi yang diangguki Indira "Saya nggak tahu kamu mau tahu atau tidak, memang kamu mau dihukum?"

"Nggak mau dihukum, kak." Indira menjawab cepat.

Indira melihat Fajar memberikan kantong plastik yang tadi dibawanya, menatap bingung atas kantong plastik yang diberikan Fajar. Tatapan mereka bertemu, Fajar seakan memberitahukan Indira untuk mengambil kantong plastik, sedikit ragu Indira mengambilnya dengan tatapan bingung.

"Kamu makan dulu," ucap Fajar dengan menunjukkan kantong plastik yang ada di tangan Indira "Saya nggak tahu kamu suka atau tidak."

"Terima kasih, kak. Pasti aku makan setelah ini." Indira langsung menjawabnya.

Fajar menganggukkan kepalanya "Lebih baik kamu istirahat dulu masalah hukuman saya pikirkan terlebih dahulu."

"Baik, kak." Indira menanggapi dengan sopan.

Keluar dari ruangan dengan bertanya-tanya, seharusnya bukan hanya dirinya saja yang tidak memperhatikan orang berbicara didepan tapi kenapa hanya dirinya saja yang dipanggil. Menggelengkan kepalanya untuk tidak berpikir aneh-aneh, bisa saja memang dirinya yang sedang apes.

Melangkahkan kakinya menuju musholla untuk melakukan ibadah, langkah Indira terhenti saat melihat Fajar berada didepan dan mereka akan melakukan jamaah. Melihat itu membuat Indira langsung menggunakan mukena dan bergabung bersama, setelah selesai Indira kembali ke ruangan dan teringat kantong plastik yang diberikan Fajar dengan segera dibuka dan dimakannya.

"Ini pesanan kamu," ucap Lia yang mengambil tempat duduk disamping Indira "Kamu satu kelompok sama siapa?"

"Makasih, aku belum ketemu anak-anaknya yang mana. Mita kemana?"

"Mita di musholla, memang siapa saja anak-anaknya?" Indira langsung mengambil catatan dan memperlihatkan pada Lia "Shinta, tadi duduk disampingku kalau yang lain nggak tahu aku."

"Nanti aku cari," ucap Indira langsung menerima bukunya.

Memilih tidak banyak bicara dengan menikmati pesananannya, Indira sudah makan dua bungkus roti. Lia sendiri masih setia duduk disamping Indira dengan memainkan ponselnya, mencoba untuk tidak peduli dengan menikmati makanannya.

"Aku tadi lihat ada senior cakep banget." Lia membuka suara membuat Indira menatap kearahnya "Tadi memang kamu kemana? Habis melakukan kesalahan apa?"

"Dipanggil ke ruang kesehatan, nggak tahu salahnya apa mungkin lagi apes aja." Indira mengangkat bahunya saat menjawab.

Indira juga tidak bertanya tentang senior yang dimaksud, bagi dirinya senior semua sama. Tampan atau tidak bukan utama dirinya mencari pasangan, Indira lebih menyukai pria dewasa dengan ibadahnya yang bagus.

"Indira ya?" suara seseorang membuat Indira menatap kearahnya "Tio, kita satu kelompok. Nanti selesai acara ngerjain tugasnya ya."

"Ok, yang lain udah tahu siapa saja?" Indira langsung menanggapi Tio.

"Sudah, tapi ada beberapa yang belum. Kita ketemu di gazebo ya nanti." Tio menjawab yang diangguki Indira.

Menatap Tio yang berjalan menjauh dari mereka, tampaknya memang Indira harus mengenal banyak anak disini. Menatap sekitar dan ruangan terisi penuh, tampaknya yang keterima di tahunnya sangat banyak dan tidak mungkin mengenal mereka satu per satu dengan cepat.

"Mas Wahyu tadi bilang kalau angkatan kita paling banyak dibanding tahun sebelumnya," ucap Lia seakan paham dengan yang dilakukan Indira dan membuat Indira menatap kearahnya.

"Gimana bisa kenal sama mereka cepat?"

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh nura0484

Selebihnya

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Unexpected Feeling Unexpected Feeling nura0484 Romantis
“Dihukum jadi pacar? Indira benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan hukuman aneh dari senior yang menurut informasi suka gonta ganti pasangan. Tidak tahu alasan jelas tentang hukuman, tidak berani menolak membuat Indira terjebak dengan hukuman ini bersama seniornya, Fajar. Memberikan hukuman aneh pada mahasiswi baru membuat Fajar menganggap sebagai obat traumanya. Menjalin hubungan dengan beberapa perempuan tidak membuat Fajar sembuh, tapi berbeda saat bersama dengan Indira. Tidak mengetahui masalah masing-masing membuat Fajar dan Indira menjalin hubungan sesuai dengan jalannya, selayaknya hubungan pada umumnya mampu membuat mereka dewasa. Apakah Fajar memang serius dengan perasaannya atau menganggap Indira sebagai obat traumanya? Akankah mereka berdua terbuka dengan semuanya?”
1

Bab 1 Orientasi

05/03/2023

2

Bab 2 Ditemani

05/03/2023

3

Bab 3 Game

05/03/2023

4

Bab 4 Hukuman Aneh

05/03/2023

5

Bab 5 Diantar Pulang

05/03/2023

6

Bab 6 Makan Malam

05/03/2023

7

Bab 7 Bebas dari Acara

05/03/2023

8

Bab 8 Kencan

05/03/2023

9

Bab 9 Kakak Kelas

05/03/2023

10

Bab 10 Mak Comblang

05/03/2023

11

Bab 11 Curhat

11/03/2023

12

Bab 12 Official

12/03/2023

13

Bab 13 Memutarbalikkan Kata

13/03/2023

14

Bab 14 Putus Pertemanan

14/03/2023

15

Bab 15 Jebakan Dio

15/03/2023

16

Bab 16 Sahabat Fajar

16/03/2023

17

Bab 17 Pelatihan Maba

17/03/2023

18

Bab 18 Baju Wisuda

18/03/2023

19

Bab 19 Orang Tua Fajar

19/03/2023

20

Bab 20 Semester Baru

20/03/2023

21

Bab 21 Menghindar

21/03/2023

22

Bab 22 Kedekatan Salah Arti

22/03/2023

23

Bab 23 Diterima Kerja

23/03/2023

24

Bab 24 Panggilan Dosen

24/03/2023

25

Bab 25 Keputusan Berat

25/03/2023

26

Bab 26 Tempat Rahasia

26/03/2023

27

Bab 27 Sahabat Indira

27/03/2023

28

Bab 28 Pertengkaran Pertama

28/03/2023

29

Bab 29 Main ke Rumah Fajar

29/03/2023

30

Bab 30 LDR

30/03/2023

31

Bab 31 Tekanan Dosen

01/04/2023

32

Bab 32 Tertekan

02/04/2023

33

Bab 33 Orang di Masa Lalu

03/04/2023

34

Bab 34 Gangguan Masa Lalu

04/04/2023

35

Bab 35 Membahas Masa Lalu

05/04/2023

36

Bab 36 Kedatangan Tiba-Tiba

06/04/2023

37

Bab 37 Dipanggil Dosen Lagi

07/04/2023

38

Bab 38 Sakit

08/04/2023

39

Bab 39 Gosip Baru

09/04/2023

40

Bab 40 Orientasi Anak Baru

10/04/2023