authorWelfare

Manfaat untuk Penulis

icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
closeIcon

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka

Fiksi Terlaris

Selebihnya

Novel CEO Terbaik

Selebihnya

baru saja diperbarui

Selebihnya
Tunangan yang Dicampakkan: Obsesi Sang Miliarder Kejam

Tunangan yang Dicampakkan: Obsesi Sang Miliarder Kejam

Willow Chase
5.0

Keluarga Adiwangsa selalu memamerkan tunanganku, Devan, seolah dia adalah malaikat tanpa celah di depan seluruh elite Boston. Namun, tepat setelah aku mendarat dari penerbangan lintas Atlantik yang melelahkan, sahabatku menyodorkan sebuah foto. Di layar itu, tunanganku sedang terjerat dalam seprai putih bersama wanita lain, Zara. Selama ini, Keluarga Adiwangsa terus merendahkanku. Ibunya menyebutku pengemis dari Keluarga Kusuma yang sudah bangkrut, mengklaim bahwa pertunangan ini murni belas kasihan mereka. Di belakangku, Devan ternyata berencana membuangku seperti sampah begitu pembayaran terakhir dari Dana Perwalian keluargaku masuk ke rekeningnya. Mereka memanipulasi narasi, memanfaatkan duka atas kematian kakekku, dan menindasku seolah aku tidak punya harga diri. Air mataku sudah mengering. Menangis sama sekali tidak ada gunanya untuk menghadapi parasit munafik seperti mereka. Aku tidak butuh penjelasan atau permintaan maaf. Aku hanya butuh pisau yang paling tajam untuk menghancurkan mereka. Malam itu, berbalut gaun beludru merah darah, aku menerobos masuk ke pesta amal eksklusif Keluarga Adiwangsa. Di depan ratusan tamu VIP, aku memutar video perselingkuhan Devan di layar raksasa dan melemparkan cincin pertunangan ke wajahnya. Saat Devan yang murka memerintahkan penjaga keamanannya untuk menyeretku, suara ketukan tongkat perak yang keras menghentikan seisi ruangan. Seorang pria berjas hitam pekat yang ditakuti seluruh Wall Street melangkah maju, menggunakan tubuh besarnya sebagai perisai untuk melindungiku. "Mulai malam ini, dia adalah tunanganku." Adrian Baskara Wiratama menatap tajam semua orang di ruangan itu, dan aku tahu, perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Gairah Pelarian Cinta

Gairah Pelarian Cinta

Juliana
5.0

Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun. "Oooohhhh.... Cinta Stop...! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh.....", lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya. Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun. Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary. Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata. "Pelan-pelan, ya!". Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar. "Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!". Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku. Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku. "Aawww....", pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh. "Sakit, Rob!", keluh ku. Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku. Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya. "Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu". Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku. Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku. Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali. "Aaaaaawwwww..... Aduh.....! Aaaaaahhhhkkkk....".