Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
Penulis:ASHLEY AMARI
GenreRomantis
Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
Saat Lana sedang mengganti pakaiannya di kamar mandi, Jehan menerima panggilan dari Wisnu Bimantara. Sambil mendengar apa yang dia ucapkan di telepon, Jehan menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu dengan sorot mata yang berubah beberapa kali.
"Bos, Saras Rahayu telah berkencan dengan Raffi Lingga, putra sulung Keluarga Lingga, untuk beberapa waktu. Meskipun demikian, dia tetap menyetujui pernikahan. Ada sesuatu yang mencurigakan di sini. Sebaiknya Anda berhati-hati."
Wisnu adalah tangan kanan Jehan yang paling kompeten. Jika dia berkata demikian, Jehan yakin pasti ada yang tidak beres dengan Saras.
Hal terburuknya adalah wanita itu telah menyentuh bagian pribadinya pada saat pertemuan pertama mereka. Dan dia bahkan dengan sengaja keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk mandinya.
Memikirkan hal itu, rahang Jehan menegang. Dia memutar kursi rodanya dan pergi ke ruang kerja.
Saat Lana keluar dari kamar mandi, perhatiannya seketika tertarik pada sebuah dokumen yang terletak di atas meja. Jehan sedang duduk di kursi rodanya, mengenakan jubah mandi. Sebuah selimut berada di atas pangkuannya. "Tanda tangani ini," ucap Jehan dengan angkuh.
"Apa ini?" Lana mengambil dokumen itu dengan kening berkerut.
Melihat ekspresinya, Jehan berkata, "Aku tidak peduli mengapa kamu setuju untuk menikah denganku. Tanda tangani perjanjian ini untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan di masa depan."
Lana membaca isi perjanjian pranikah itu dari awal sampai akhir, tidak melewatkan sepatah kata pun. Di dalam perjanjian itu, tercantum serangkaian syarat dan ketentuan, seperti distribusi properti antara kedua pihak dan bagaimana mereka akan menjalani kehidupan pernikahan mereka.
Pertama, harta milik kedua belah pihak yang dimiliki sebelum menikah akan tetap menjadi milik masing-masing.
Kedua, kedua belah pihak harus terlihat seperti pasangan suami istri yang penuh kasih di depan semua orang. Kedua belah pihak harus menahan diri dari melakukan apa pun yang dapat memicu munculnya rumor tentang hubungan mereka yang tidak akur, juga tidak boleh mengganggu kehidupan pribadi masing-masing.
Terakhir, saat salah satu pihak mengajukan cerai, pihak yang satunya harus setuju tanpa protes.
Di akhir dokumen itu tertulis syarat tambahan yang berbunyi, "Istri dilarang keras merayu suaminya dengan cara apa pun."
Lana menganga dengan kaget ketika dia membaca itu. Bagaimana Jehan bisa begitu tidak tahu malu? Wajahnya memerah karena marah.
Dari mana pria itu mendapatkan kepercayaan diri untuk menambahkan syarat seperti itu? Dompet kosongnya? Untuk apa seseorang merayunya atau menginginkan asetnya ketika dia bahkan berada di ambang kebangkrutan dan tidak punya uang?
"Apa ini? Ini tidak adil!" Lana menggerutu dengan tidak senang. "Kondisi terakhir menyatakan bahwa aku tidak bisa merayumu. Demikian juga, kamu tidak bisa memaksaku untuk tidur denganmu dalam keadaan apa pun."
"Berhentilah bermimpi," ejek Jehan, "Aku tidak tertarik dengan orang udik sepertimu."
"Kalau begitu, aku akan menambahkan syarat lain ke dalam perjanjian ini. Kamu tidak dapat mengajukan perceraian selama dua tahun setelah pernikahan kita. Selama kamu berjanji bahwa pernikahan ini akan bertahan setidaknya selama dua tahun, aku akan menandatangani perjanjian ini."
Perawatan lanjutan neneknya akan memakan waktu sekitar dua tahun. Jika Lana berhasil mempertahankan pernikahan ini sampai saat itu, Keluarga Rahayu akan terus menanggung biaya pengobatannya.
"Kamu menyukaiku, ya? Apakah kamu akan menggunakan waktu dua tahun itu untuk membuatku jatuh cinta padamu?"
Merasa kesal dengan hinaannya, Lana mendengus, "Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Aku juga menyarankan supaya kamu juga tidak jatuh cinta padaku."
"Kamu?" Jehan tertawa terbahak-bahak, memandangnya dari atas ke bawah seolah-olah dia baru saja mendengar sebuah lelucon besar.
Meskipun demikian, dia meminta sang kepala pelayan untuk menambahkan syarat itu ke dalam perjanjian mereka.
Tidak lama kemudian, sang kepala pelayan datang kembali membawa perjanjian baru. Setelah membaca setiap syarat, Lana menandatangani perjanjian itu. "Oke. Kita akan berpura-pura menjadi pasangan mulai sekarang."
Jehan juga menandatangani perjanjian itu dan kemudian meminta sang kepala pelayan untuk membawa perjanjian itu ke pengadilan untuk diaktakan. Begitu kepala pelayan pergi, dia mengulurkan tangannya pada Lana. "Bantu aku mengganti pakaianku."
Hari sudah gelap, jadi dia ingin berganti ke piamanya dan pergi tidur.
Akan tetapi, Lana menolak.
"Kita hanya pasangan kontrak. Aku tidak perlu membantumu dengan ini." Sambil menghela napas, dia berbalik untuk melihat sofa di sampingnya. Dia memutuskan untuk tidur di sofa itu malam ini.
"Tapi aku tidak percaya bahwa kamu bisa berpura-pura menjadi istri yang baik di depan orang lain."
"Mengapa? Apa sulitnya berpura-pura menjadi istri yang baik di depan orang lain?"
Lana berjalan ke lemari dan mengambil satu set piama sutra dari sana. Kemudian, dia menghampiri Jehan dan dengan cepat membuka kerah jubah mandinya. Sambil mencengkeram bagian bawah jubah mandinya, dia dengan paksa menariknya ke bawah untuk melepaskannya.
"Sialan! Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Jehan dengan gigi terkatup. Dia tidak menyangka bahwa Lana akan bersikap sekasar ini.
"Ssst … diam!" Lana terus mencoba untuk menarik jubah mandinya. Dia mencoba untuk melepaskan jubah mandi itu, tetapi usahanya gagal. Lana mengerutkan kening lalu meletakkan satu tangan di bahu Jehan dan tangan lainnya di bawah lututnya. Kemudian, dia membungkuk dan menggendong Jehan dari kursi roda, berniat untuk meletakkannya di tempat tidur.
Mata Jehan membelalak ketika dia secara refleks melingkarkan tangannya di leher Lana. "Kamu …."
Akan tetapi, kaki Lana tidak sanggup menahan bebannya. Pergelangan kakinya yang terkilir terasa sakit. Sebagai akibatnya, Lana kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan Jehan di atas tempat tidur. Khawatir dia akan jatuh ke belakang, Jehan secara naluriah menarik kerah baju Lana.
Namun, tindakannya itu secara tidak sengaja menyeret tubuh Lana bersamanya.
Sebelum Lana bisa menyadari apa yang terjadi, dia telah jatuh di atas tubuh Jehan dan bibir mereka saling menempel.