icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cinta Bukan Sepenggal Dusta

Bab 4 Ritual Makan Bersama

Jumlah Kata:713    |    Dirilis Pada: 28/11/2022

Amar Mea Malawi menajamkan telinga in

kepada Nyonya Muda. Banyak sekali wanita cantik datang ke rumah ini mencari

senjata tajam majikanmu yang besar, panjang, dan keras itu m

ting cinta tuan muda sanga

enangis tersedu-sed

h terasa ngilu dan ka

g apakah senjata tajam ku?" Amar Mea Mal

akit, seiring berjalannya waktu tentu akan terbias

ikanmu? Pria itu sangat berat d

nikmati anggurnya sambil memandang gemerlap

p untuk makan malam," terde

asih," Amar Mea Malawi t

ary Aram duduk di atas pembaringan sambil menunduk. G

dapat menjaga diri sendiri," isak tan

irimu adalah diriku," Amar Mea Malawi mengangkat dagu Mary

ram ke permadani di sudut kamar, di sana sudah tertata

gur yang tersisa di mulutnya ke dalam mulut Mary Aram sebagai ta

ncintaimu seumur hidupku. Dari mulutku aku melimpahkan kasih

ru bersamaku?" Amar Mea Malawi menatap

mar Mea Malawi mengulangi meneguk anggur da

samaku?" Amar Mea Malawi mendekatkan m

ghindari tatapan Amar Mea Malawi

u memindahkan anggur dari m

Aram. Apakah Mary Aram bersedia menjala

awa panas anggur mulai menguasai dirinya. Dengan kes

Aram, "Aku berjanji mencurahkan kasih sayang padamu dan anak

tnya ke dalam mulut Mary Aram, sebagai bentuk

akan bersama sangatlah penting untuk menja

belahan jiwanya, yang mulai membala

mengesankan. Amar Mea Malawi mengakhiri ritual

angat menyakitkan?" Amar Mea Malawi ber

," Mary Aram menjaw

gkan Mary Aram di permadani, kemudian menyingkap kain dan mul

uasai diri Mary Aram menciptakan ge

. Dalam gerak selaras dengan detak jantung,

Mea Malawi berbisik sangat lembut. Dalam suasana lampu yan

ngesankan bagi Amar Mea Malawi. Belahan jiwan

terikat dalam penyatuan. Benih-benih cinta tercurah bertaburan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Bukan Sepenggal Dusta
Cinta Bukan Sepenggal Dusta
“Kecantikan adalah suatu anugerah. Namun tidak selamanya kecantikan membawa kepada kebahagiaan. Mary Aram wanita cantik dari muara Mua justru terbelenggu dan terpenjara oleh kecantikannya sendiri. Kelicikan, keculasan, keserakahan berkuasa atas dirinya menjadikan dirinya hanya sebagai boneka hidup. Namun cinta itu bukan cuma sepenggal dusta, yang memampukan dia untuk tetap bertahan memperjuangkan hidupnya sendiri.”