icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

FAMILIAR PLACES

Bab 7 Cetakan Kaki Di Atas Pasir.

Jumlah Kata:1313    |    Dirilis Pada: 04/10/2022

tuk menerima telepon. Sepertinya ada sesuatu yang p

hal

mana kabarmu?" sa

baik-baik saja, di sini ada

ikut senang, jika Byan ada y

. Semalam, aku

ngarkan. Ia menoleh untuk mem

udah selesai. Namun, dia meminta kembali, te

likan? Pasalnya, dia mengatakan kalau kamu tidak p

yang menentukan. Karena kami sama-sama tidak mau terluka, jadi aku bilang padanya unt

etap mengambil keputusan. Jangan sampai pada akhirnya nanti,

pun April. Sebelum pindah ke pulau ini, Byan memang sedang bersama April, namun hubungan mereka tidak terlalu kuat. Terlalu banyak

buah kalung yang April berikan sebelum Byan pindah ke pulau itu. Kalung dengan inisial huruf A, sengaja April berik

n kalung emas putih itu. Rasanya ia

ngan cepat Byan langsung menyembunyikan kalung itu

ini," kata Gemi bingung, ia melihat barang-barang itu

luar untuk mengangkatnya," jelas Byan

elah di wajah Byan, sepertinya ada se

raya menarik tubuh Gemi ke atas pangkuannya.

," balas Gemi seraya mengalu

Ekspresimu berubah san

, "Tidak, semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingi

Byan!" balas Gemi, seraya

yang melilit tubuh Gemi, dan memandanginya mesra. Bercak-bercak merah nampak

it?" tan

mengg

k merah itu, mengira kalau rasa perih

on Byan yang katanya sedang membuat jam ayun untuk di pajang di rumahnya. Bibir Gemi mengerucut, ia menyan

t ekspresi murung Gemi. Apa ia perlu menghiburnya? Tapi ia sedang

ke pantai!" ajak

main di pantai? Bag

a, hanya bibirnya y

bekerja!"

lesaikan pekerjaan ini dulu," ba

Ia tersenyum lebar, seraya berpose

ku sudah bosan! Aku ingin

*

rjalan sejajar dengan Gemi, seraya tangan keduanya saling berpe

adaku tentang pekerjaanmu itu?

ia, tangannya semakin era

Aku melihat di acara-acara televisi, sepertinya aku bi

cantik. Angin laut meniupkan rambut panjangnya yang t

pekerjaanmu?" ta

hanya ada sediki

hawatir. Ia bahkan me

nggu... Apa aku pernah mengajakmu ke tempat kontru

Gemi menggeleng

tempat kerjaku? Ada sebuah tempat di sana yang

alu penasaran setiap kali Byan i

tu sebuah ruangan?" tebak

uh Gemi. Laki-laki berbahu lebar itu berlari samb

h jahil Byan di dalam air. Keduanya saling m

bahagia tawa

asa di perhatikan, Gemi perlahan menghampiri Byan, menatap

ta selalu mengambil kesempatan itu untuk saling memuaskan. Bibir ini, dada ini

kin serius. Mereka bahkan sudah tinggal bersama. Byan mengusap kepala Gemi dengan mesra, lal

unyikan sesuatu apapun dariku. Termas

ar-debar, betapa be

u terluka, tapi bagaimana pun

i kamu serius se

buh Gemi sampai sepundak, dan dengan mudah Byan mengangkatnya

lau. Sebuah pulau kecil yang pernah mereka kunjungi. Dengan pakaian basah

sesuatu, Byan

t kekasihnya itu bahagia. Tak ingin melihat kekasihnya b

temanmu karena telah meminjamk

m!" seru Byan menggerakan tangannya. Dan den

ang pertama yang melaku

ambut Gemi seray

unset di tempat yang cantik ini, berlayar berduaan, dan

uci saat pertama kali tid

a tidak tahu betapa malunya ia setiap ka

u... Lebih baik ciu

, ia tidak ingin Byan memergoki

t Gemi, ia berbisik di telinga kekasihnya itu. "K

rusaha menghindar. Sedang Byan

menindihnya dari atas. Lelaki itu membelai lembut wajah kekas

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
FAMILIAR PLACES
FAMILIAR PLACES
“Kisah cinta Byan dan Gemi yang mengharukan. Setelah lima belas tahun berlalu, takdir mempertemukan lagi keduanya. "Aku merindukanmu, Gem," ucap Byan saat dirinya dan Gemi kini sudah berada di atas ranjang. Memandangi Gemi yang tengah terbaring di bawahnya, sambil memperhatikan raut wajah Gemi yang kesakitan. Gemi meremas lembut rambut Byan, saat menyadari lelaki itu kini telah mencukur tipis rambutnya. "Tak ada lagi yang bisa aku tarik." Maksudnya adalah rambut Byan. Karena setiap kali dirinya bercumbu dengan Byan, Gemi selalu menjambak rambut kekasihnya itu untuk sekedar meringankan rasa sakitnya. "Mulai sekarang aku akan menumbuhkan rambutku untukmu," bisik Byan dengan sedikit napas yang tersisa. Menggauli Gemi untuk pertama kalinya lagi, tanpa menyadari jika perempuan itu kini sudah bersuami. "Apakah ini yang aku lewati selama ini? Aku selalu merindukan setiap malam yang kita habiskan bersama," lanjut Byan sembari memeluk Gemi, menyatukan tubuh keduanya yang tak tertutupi sehelai benang pun. "Cium aku," pinta Gemi seraya menyentuh bibir Byan. Bibir yang selama ini ia rindukan. Dalam redupnya cahaya, dan derasnya hujan yang tak berhenti turun, Byan dan Gemi saling mencurahkan rasa rindu mereka. Rindu yang telah lima belas tahun lamanya mereka pendam. Cover By Pexel Telah di edit melalui Canva.”