icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

FAMILIAR PLACES

Bab 8 Suatu Hari Pada Empat Tahun Lalu.

Jumlah Kata:1204    |    Dirilis Pada: 04/10/2022

rlihat asyik menautkan tubuh mereka. Hanya beralaskan tikar, di tema

a saling bertatapan. "Jangan pernah meninggalka

Gemi, "Sampai mati aku tidak akan

epat Byan menarik tubuh Gemi ke dalam pelukannya. Dan dala

ihnya itu. Sedang di belakangnya adalah pemandangan ombak yang menyisir. Cahaya

dua tangannya, lalu di ciumnya bibir itu dengan

li lagi,"

membelai-belai wajahnya. "Oh! Wanita ini... Harus kuapakan dia?" keluhnya,

iaskan hasrat mereka. Bersamaan dengan itu sua

i rumahnya. Di hadapan keduanya, ada seorang perem

daraan kita. Bagaimana pun sebentar lagi

raya menggenggam putrinya. April tersenyum ramah pada Mama dan Papa B

isan itu dengan canggung. Putranya itu ternyata

ril. Bagaimana kabarmu?"

Ia duduk miring dengan sikap anggun. "Kabarku baik,

melihat pemandangan itu, ia lekas mera

di rumah kita. Sepertinya mereka akan membicarakan tentang keseriusan hubu

elah sampai ke ponsel Byan. Namun, pri

sini," ucap Gemi susah payah. Sedang di belakang

kan, Gem. Termasuk pulau ini, jika kamu memint

an Byan, ia menghindar saat kek

kamu semakin pi

an gaya seksi nan menggoda, "Aku tidak menggombal. Suatu hari aku akan mewujudka

*

t sedang membaca pesan singkat yang di kirimkan Dirga. Waj

terjawab, Byan bersikap gug

Dirga akhirnya men

lam? Apa yang di katakan

saja mereka berpihak padamu! Apa kamu pikir mereka akan mengatakan kalau kamu sudah memiliki kekas

n tak bisa melanj

jangan membuat masalah semakin besar

menarik rambutnya dengan kasar. "Apr

pa

annya pada tembok. Ia tak yakin kalau dirinya sudah mengataka

h siapa?" s

ku

nya mengatakan semuanya pada Dirga. I

gkannya! Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia bersikeras ingin tet

kuan Byan, suaranya tak terdengar dari sa

ril tidak akan pernah bisa s

sebaiknya kamu temui dia, dan je

gguk, lalu menu

eritakan pada Dirga, termasuk mengapa

an selama empat tahun, Byan melihat alat test kehamilan di kam

April untuk memi

Entertaiment baru saja menawariku kerja sama, kamu tahu... Fotok

ku, ia tidak percaya A

kalau sekarang kita mencari W.O untuk pernikahan kita?" Byan ber

aku sangat menunggu kerja sama ini. Aku

angat bahagia mendengar kabar kehamilanmu, aku bahagia bukan main. Bahkan aku merinding saat menyentuh alat

nnya dari genggaman Byan. Dengan kejam April me

e rumah sakit, temani a

tu. "Jika kamu merasa tidak nyaman tinggal di

ak mau kehilangan mimpi besarku! Aku belum mau mengingink

gejar mimpinya, mengapa kekasihnya itu mau ia ajak tidur bersama? Mengapa ia selalu mau melakukan hal itu dengannya? Byan merasa terhiana

, aku memasak sesuatu untukmu,

ah tangan menyentuh pipinya dengan hangat. Seorang peremp

H

idak seperti biasanya kam

sap tangan Gemi,

ja. Kamu tidak lihat jam berapa sekarang?" Gemi

tidak bereaksi ceria seperti biasanya. Ia

bangun!" teriak Ge

melan kekasihnya itu. Byan bergegas menyibakan selimutnya, lalu terlihatl

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
FAMILIAR PLACES
FAMILIAR PLACES
“Kisah cinta Byan dan Gemi yang mengharukan. Setelah lima belas tahun berlalu, takdir mempertemukan lagi keduanya. "Aku merindukanmu, Gem," ucap Byan saat dirinya dan Gemi kini sudah berada di atas ranjang. Memandangi Gemi yang tengah terbaring di bawahnya, sambil memperhatikan raut wajah Gemi yang kesakitan. Gemi meremas lembut rambut Byan, saat menyadari lelaki itu kini telah mencukur tipis rambutnya. "Tak ada lagi yang bisa aku tarik." Maksudnya adalah rambut Byan. Karena setiap kali dirinya bercumbu dengan Byan, Gemi selalu menjambak rambut kekasihnya itu untuk sekedar meringankan rasa sakitnya. "Mulai sekarang aku akan menumbuhkan rambutku untukmu," bisik Byan dengan sedikit napas yang tersisa. Menggauli Gemi untuk pertama kalinya lagi, tanpa menyadari jika perempuan itu kini sudah bersuami. "Apakah ini yang aku lewati selama ini? Aku selalu merindukan setiap malam yang kita habiskan bersama," lanjut Byan sembari memeluk Gemi, menyatukan tubuh keduanya yang tak tertutupi sehelai benang pun. "Cium aku," pinta Gemi seraya menyentuh bibir Byan. Bibir yang selama ini ia rindukan. Dalam redupnya cahaya, dan derasnya hujan yang tak berhenti turun, Byan dan Gemi saling mencurahkan rasa rindu mereka. Rindu yang telah lima belas tahun lamanya mereka pendam. Cover By Pexel Telah di edit melalui Canva.”