Ketika Hati Mulai Mendua
Ibu dengan pasangan masing-masing. Terlihat Leni memegang tangan mas Fandi. Hatiku terasa nyeri sekali melihatnya, seharusnya aku yang ada di samping Mas Fandi. Sepert
an kami. Mas Fandi berusaha melepas tangan Leni yang memegang tangannya. Tapi Leni tet
berjalan m
h lagi, makanya kamu sengaja membongkar semuanya di depan Ibu. Puas kamu
kata Mbak Sisi. Kalau dila
bude dan pakde mereka. Mel
i mendekati aku. Leni sama sekali tidak ditoleh oleh anak-anak, mungkin anak-anak tahu, kalau dari tadi Leni m
okter keluarga dan dokter menyarankan Ibu dirawat karena tekanan darahnya ter
ak menyalami Ib
sembuh ya?"
engan
sekarang?" tanyaku sam
Tapi setelah minum obat tadi
i dan Leni. Mbak Yuni sangat telaten mendampingi
u, nyuekin kita dari tadi. Nggak punya sopan santun. Aku ka
ulat bulu gatal. Anggi menoleh
kami. Walaupun Tante mengaku istri Papa, kami tidak akan
iapa yang ngajarin, nggak sopan
ini. Eyang sakit, Papa malah enak-enakan sama pelakor, nggak mi
k kurang ajar sama papa
menambah pusing Ibu. Fandi ajak perempuan itu keluar sekarang juga. Jangan pern
apa Bu?"
dibuka, Mas Hendra m
a?" tanya
h saja," ucap Ibu dengan tersengal-sengal. Aku bingung
ar saja!" seru Mas
engusiran yang dilakukan Mas Hendra. Mas Fan
u dipikirin mereka
ulang. Aku m
u Ibu. Ibu akan selalu mendukungmu. Angga, Anggi, nuru
menga
dukungan Ibu membuatku men
luar ada Mas Fandi, Leni, Mas Ikhsan dan
ok ada disini? Siapa dia, Pa?" Kata
askan ya, Nak?"
! Istri papamu?" Kata Mbak
menjelaskan dengan merek
ma. Kami tidak akan pernah menerima Tant
anak-anak. Kamu pengaruhi mer
, Angga sudah tahu duluan. Papa yang dulu Angga banggakan, ternyata kelakuanny
ndra keluar d
mah sakit. Bagaimanapun juga ia tetap papamu,"
ang," kata Angga dengan menggandeng tangank
harga diri, nggak seharusnya kamu ada disini. Kamu lihat kan tadi, Ibu tampak emosi melihatmu. Jangan pernah menampakkan batang hidungm
anakku yang marah dan kecewa dengan ke
ra dengan anak-ana
ng, Ma!"
Papa bicarakan. Mama pulang duluan. Nanti biar kali
sama Mama ya
an? Kalian tidak menghargai keber
bisa berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Kalau mau bicara dengan anak-anak, bujuk mereka dengan baik. Jangan malah menuduh
bicara di rumah saja. Sekarang urus
n Mas Fandi yang menatap
*
s Fandi pula
," kata Mas Fandi ketika kam
pegang tangannya dan memberi
lau ada yang mengganjal di hati, silahkan kalian ungka
h mereka berbicara dari hati ke hati. Entahlah apa has