Ketika Hati Mulai Mendua
tahankan egonya masing-masing. Mas Fandi tetap membenarkan kelakuannya.
s Fandi menikah lagi," katak
Aku tidak tahu apa-apa," kat
bela Mas Fandi terus, pada
h mengelak juga. Awas ya Mbak, siap-s
Mas Fandi? Bukannya Mbak Sisi hadir di per
dan menata
n Anis, Ma?" tanya Mas I
u berbicara. Fitnah itu," kata Mbak Sisi sete
ngan bilang kalau ini rekaya
ali wajah Mbak Sisi, duduk di belakang Mas Fandi. Sepertinya wakil keluarga pihak laki-laki. Foto itu aku dapat d
perti ketakutan. Sukurin kamu, Mbak. Aku
u Fandi menikah lagi
iam takut deng
ta sama-sama perempuan. Mentang-mentang Mas Fandi itu adiknya Mbak Sisi, terus se
andi. Kamu tahu kalau dulu mere
a. Aku heran, kok mau-maunya Mas Fandi menjalin hubungan dengan orang yang
a, karena itu aku mendukung merek
entakku pad
nis?" tanya Mbak
dan Leni yang membayar h
di juga kelihatan terkejut karena kesepakatan mere
ia bisa mendapatkan informasi ini. Yang aku tahu, Mbak Sisi berteman dengan Keyla sosialita
n orang-orang kaya dan berusaha mengikuti gaya mereka. Bergaya b
amu tega memfitnah
ku sama saja dengan membohongiku. Menusukku dari belakang. Coba kalau Mbak Sisi berada di posisiku,
semuanya, aku jadi pusin
emua t
lau Sisi seperti yang kamu
anyak b
kai barang-barang mewah dan branded. Sudah seperti orang kaya saja. Wajah Mas
seperti itu, Nak?" ka
. Tidak ada sisa yang bisa aku gunakan untuk bersenang-senang. Aku kan
kasihan melihat suamimu bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Kamu malah enak-e
di rumah, Ma?" kata Mas Ikhs
emikirkannya, nanti aku yang mengambil keputusan itu," kataku dengan setengah meng
kati ibu, memelukn
nak-anak belum tahu kelakuan papanya. Anis bingung, bagaimana memberitahu mereka? Sekali lagi maafkan Anis Bu. Anis pulang dulu, kasihan Angga
uni men
kamu harus tegar di depan anak-anak. Kalau ada apa-apa hubungi Mbak. Mbak akan sel
ulu. Kasihan anak-anak di ru
n mengangguk. Kulihat Mbak Sisi
ak
iba-tiba Mbak Sisi
" bent
n buat perhitungan deng
, Mbak Sisi hutang demi bisa kumpul dengan mereka. Sangat m
as Ikhsan. Mbak Sisi m
hartanya tidak habis dimakan tujuh turunan. Aku juga punya nomor tele
r kamu siapa? Nggak mungkin Keyla kenal s
nya meladeni Mbak Sisi. Mas Ikhsan, kal
s Ikhsan m
ang penting aku sudah lega. Aku pulang dengan perasaan tak menentu. Hanya anak-anak yang aku pikirkan