icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
Apa Kamu Mau Mandi Dulu
Jumlah Kata:682    |    Dirilis Pada:13/05/2022

Melihat kerutan di wajah Julita, Erwin mengikuti arah pandangnya dan melihat ke jam tangannya. Beberapa saat kemudian, dia menyadari apa yang dia pikirkan. "Ini barang tiruan yang aku pinjam dari temanku," bisiknya di telinganya. "Aku biasanya memakainya agar terlihat keren tapi tidak menyangka kamu akan segera menyadari barang ini."

Erwin melepas jam tangan itu dan memasukkannya ke dalam sakunya.

"Itu terlihat cukup asli." Julita tersenyum dan melangkah mundur, menutupi telinganya yang memerah panas.

Erwin mencondongkan tubuh lebih dekat, dan dia bisa merasakan napas pria itu bertiup di samping telinganya saat dia berbicara.

Saat Julita memikirkannya, dia menyadari bahwa normal bagi pria seperti Erwin untuk memiliki teman jalanan yang menjual barang-barang palsu.

Dia menghela napas lega. Untuk sesaat, Julita sempat merasa ketakutan, mengira Erwin telah melakukan sesuatu yang ilegal untuk bisa menghasilkan banyak uang.

Erwin mengerutkan alisnya. Dia telah mendengar bahwa putri keluarga Lisna memiliki beberapa pacar dan selalu menghabiskan waktu dengan pria yang berbeda. Sikap malu-malu yang ditunjukkan oleh gadis itu tampaknya mengejutkannya.

"Pengantin pria sudah ada di sini. Kenapa pernikahannya masih belum dimulai?" tanya suara manis dari seorang wanita.

Jeslyn menyeringai dan berjalan ke depan, memegang lengan pacarnya. "Karena pengantin pria sudah ada di sini, izinkan aku untuk memperkenalkan pacarku kepadamu," ucapnya sambil dengan sengaja menaikkan suaranya satu desibel lebih tinggi. "Ini Sanji Karta, putra tertua dari keluarga Karta. Kita sekarang adalah keluarga. Aku dan Sanji dapat membantumu di masa depan."

Sanji menundukkan kepalanya dengan terburu-buru. Sepertinya dia terlalu malu untuk menatap mata Julita.

Ketika Julita melihat Sanji yang datang bersama Jeslyn, dia tidak merasakan apa-apa. Jadi dia berpura-pura bahwa ini adalah pertama kalinya mereka berdua bertemu dan berkomentar ringan, "Perkenalan yang bagus, Jeslyn. Tapi pacarmu saat ini berbeda dari yang sempat kulihat minggu lalu. Aku jadi ingin tahu apakah kamu akan bersamanya atau tidak minggu depan."

Senyum palsu yang ada di wajah Sanji langsung menjadi kaku.

Sambil tersenyum malu, Jeslyn kemudian menatap Julita dengan tatapan membunuh dan dengan cepat mengubah topik pembicaraan. "Omong-omong, jika kamu mau, aku bisa merujuk Erwin untuk bekerja di perusahaan keluarga Karta. Aku yakin mereka akan bersedia menerimanya bahkan jika dia tidak tahu keterampilan teknis apa pun. Mungkin dia bisa melakukan tugas-tugas ringan seperti mengepel lantai dan membersihkan toilet, hal-hal semacam itulah. Lagi pula, lebih baik memiliki pekerjaan nyata daripada berkeliaran di jalanan setelah menikah."

Julita mencuri pandang gugup pada Erwin. Tanpa diduga, pria itu sepertinya tidak keberatan dengan kata-kata menghina yang dilontarkan oleh adiknya. Dia hanya tersenyum hangat dan melambaikan tangannya dengan cuek. "Tidak, terima kasih tawarannya. Aku lebih suka berkeliaran di luar."

Tidak mendapatkan reaksi yang dia harapkan, wajah Jeslyn berubah suram dan dia kembali duduk ke kursinya dengan cemberut, menyeret Sanji bersamanya.

Segera, sang pendeta tiba dan buru-buru menyelesaikan prosesi pernikahan.

Erwin membawa Julita kembali ke sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota.

Tempat itu kecil, tua, dan kumuh, tapi setidaknya mereka berdua punya sebuah rumah untuk pulang. Rumah itu tampak kosong dan hanya ada banyak kebutuhan pokok. Dia merasa barang-barang itu adalah tambahan baru-baru ini hanya untuk pernikahan mereka berdua. Erwin adalah pria yang tinggi dan berotot, ruang sempit itu entah bagaimana terlihat lebih kecil setelah dia masuk ke dalamnya.

Tampak jelas bahwa dia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ini rumahku. Semoga kamu bisa menerimanya." Erwin mengangkat bahu dengan santai. Dia sama sekali tidak tampak malu walau hanya sedikit saja.

"Ya, ini adalah sebuah rumah kecil, namun terlihat rapi. Rumah ini cukup untuk menampung kita berdua."

Julita berkomentar jujur. Meski rumahnya terlihat kumuh, Erwin telah berusaha untuk merawatnya dengan baik. Halaman tampak rapi, dan rumah itu tampak bersih. Namun, itu tidak terasa seperti rumah -- terlalu kosong, mungkin karena Erwin sendiri jarang tinggal di sana.

Julita melihat sekeliling rumah. Dia melihat bahwa Erwin sudah melepas jasnya dan meletakkannya di sebuah kursi kayu. Pria itu mulai membuka kancing kemeja putihnya. Dia melayangkan pandangannya ke seluruh tubuhnya dan melihat otot-otot kencang di bawah kemejanya. Sepertinya Erwin telah berolahraga secara teratur.

Merasakan tatapannya, Erwin menoleh dan bertemu dengan mata gugup milik Julita. Dia berhenti dan berjalan ke arah Julita. "Kamu sudah sibuk seharian ini. Kamu mau mandi dulu?" tanyanya pada Julita dengan penuh perhatian.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Dia Hanya Seorang Pria2 Bab 2 Hari Pernikahan3 Bab 3 Jam Tangan Bernilai Miliaran4 Bab 4 Apa Kamu Mau Mandi Dulu 5 Bab 5 Kamu Bukan Jeslyn6 Bab 6 Hanya Ada Satu Tempat Tidur7 Bab 7 Sarapan Pagi8 Bab 8 Meminta Uang9 Bab 9 Penyesalan10 Bab 10 Jauh Lebih Baik11 Bab 11 Wawancara Kerja12 Bab 12 Wawancara yang Gagal13 Bab 13 Dia Tidak Terlalu Buruk14 Bab 14 Rumah15 Bab 15 Sebuah Keributan16 Bab 16 Kamu Dipecat17 Bab 17 Apakah Kamu Akan Membenciku 18 Bab 18 Kristianto Gunawan19 Bab 19 Seseorang Akan Tidak Senang20 Bab 20 Naik Bus Umum21 Bab 21 Lamborghini22 Bab 22 Mencari Rumah23 Bab 23 Apartemen Angker 24 Bab 24 Bagaimana Dia Bisa Begitu Manis 25 Bab 25 Uji Klinis26 Bab 26 Kekhawatiran yang Tak Terduga27 Bab 27 Seorang Klien yang Murah Hati28 Bab 28 Makan Besar29 Bab 29 Konflik Di Restoran Mewah30 Bab 30 Bos Restoran Ada Di Sini31 Bab 31 Ciuman Mabuk32 Bab 32 Kontrol Diri33 Bab 33 Mengambil Inisiatif Pertama34 Bab 34 Gosip35 Bab 35 Klarifikasi dari Gosip36 Bab 36 Pergi Keluar Untuk Makan Malam37 Bab 37 Bahaya38 Bab 38 Aku Adalah Suaminya39 Bab 39 Menyelinap ke Kamarnya40 Bab 40 Seharusnya Kamu Tidak Berpakaian Seperti Ini41 Bab 41 Bukti Video Kejadian42 Bab 42 Sebuah Ciuman 43 Bab 43 Terlalu Berbahaya44 Bab 44 Penolakan45 Bab 45 Penghinaan46 Bab 46 Ini Suamiku47 Bab 47 Makan Malam yang Canggung48 Bab 48 Menjarah Semua yang Ada49 Bab 49 Apa yang Sebenarnya Terjadi 50 Bab 50 Cincin Kawin51 Bab 51 Apakah Kamu Menjual Cincin yang Aku Berikan Padamu 52 Bab 52 Barang Imitasi53 Bab 53 Tidak Ada Bukti54 Bab 54 Permintaan Maaf Sepenuh Hati55 Bab 55 Bagaimana Cara Membujuknya 56 Bab 56 Dia Menolak Uangku57 Bab 57 Mengapa Kamu Adalah Orang Yang Begitu Boros 58 Bab 58 Buku Petunjuk Mengenai Cinta59 Bab 59 Mencakar Wajahnya60 Bab 60 Dicakar oleh Kucing di Rumah61 Bab 61 Permintaan Maaf62 Bab 62 Babak 62 Cincin Berlian Biru63 Bab 63 Desain yang Ditolak64 Bab 64 Kutukan65 Bab 65 Penghinaan Secara Publik66 Bab 66 Ketua Dewan Mengetahuinya67 Bab 67 Diusir68 Bab 68 Apakah Anda Naksir pada Saya 69 Bab 69 Kesalahpahaman70 Bab 70 Permintaan Dadakan Dari Bagas71 Bab 71 Memberinya Kenaikan Gaji72 Bab 72 Merasa Cemburu Pada Dirinya Sendiri73 Bab 73 Sentuh Otot Perutku74 Bab 74 Bertemu Erna Lagi75 Bab 75 Menjadi Pencuri 76 Bab 76 Panggil Polisi77 Bab 77 Untuk Membuktikan bahwa Dia Tidak Bersalah78 Bab 78 Ditangkap Polisi79 Bab 79 Acara Pesta Makan Malam80 Bab 80 Teman Kencan Pria81 Bab 81 Bertemu Jeslyn Lagi82 Bab 82 Undangan83 Bab 83 Akhirnya Masuk ke Dalam84 Bab 84 Anggur Merah85 Bab 85 Mempermalukan86 Bab 86 Gaun87 Bab 87 Wanita Tercantik yang Ada Di Pesta88 Bab 88 Mengusirnya89 Bab 89 Ambil Semuanya90 Bab 90 Apa yang Bagas Inginkan Darinya 91 Bab 91 Kekecewaan92 Bab 92 Dia Peduli Terhadapmu93 Bab 93 Sinyal Cinta94 Bab 94 Sebuah Pekerjaan Paruh Waktu95 Bab 95 Suami yang Peduli96 Bab 96 Mencari Kesalahan97 Bab 97 Juga Urusanku98 Bab 98 Rahasia yang Terungkap99 Bab 99 Bersungguh-sungguh100 Bab 100 Godaan Iblis