icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pupus

Bab 5 Lima

Jumlah Kata:1120    |    Dirilis Pada: 01/04/2022

sana, berkelap-kelip bagai perempuan mengerlingkan mata. Serupa perempuan yang ia lihat di pekan siang tadi, sungguh seri wajahnya setanding dengan kejora. Siapakah gerangan dia? Ri

Untuk perempuan tak tahu nama siapa. Biarlah, ditulisnya saja untuk perempuan berkebaya encim cokelat muda. Sampai berlembar-lembar sajak ditulis, tapi hatinya bukan tenteram malah bertambah gundah-gulana. Hafiz t

idur tak tentu, makan apalagi. Lebih sering ia menghabiskan bercangkir-cangkir kopi dan beberapa jumput tembakau. Kenyang? Sindir ibunya selalu. Hafiz cuma tersengih, ketawa kuda, tapi bila ia sudah kelaparan, nasi sepiring tak cukup baginya. Tak tahulah ibunya mengatakan betapa aneh perangai anaknya itu. Hidup bagai tak punya cita-cita, tak ada

k tahu ia kegundahan hati orangtua, tapi memang ia teringin jadi penyair. Hidup tak berlaku aturan yang patut. Berjalan sesuka hati, pulang ke rumah kalau ada perlunya. Pernah ia tak pulang seminggu. Tidur di emperan toko, duduk merenung, memandang lalu-lalang orang tiada jemu. Agaknya apa yang terlihat, ingin ia pinda

erempuan berkebaya encim cokelat muda masih menari-nari di dalam kepala. Sudah berpuluh sajak ia tuliskan tadi malam, untuk perempuan itu yang ia sendiri tak tahu entah siapa. Res

fii

Hafiz menggerutu dalam hati. Kalau tak berpikir tembakau sudah habis tentulah ia tak akan menyahuti

, I

ilihkan yang sudah tua,

at kela

kan kau cabut pula?"

tarlah

mkan matanya kembali lalu terbayang wajah si perempuan berkebaya encim cokelat muda. Paras gemila

fiiiz!" suara

m sendiri di d

apa kel

kau bilang? Ibu mau

kan kira-kiranya. Oh, alangkah nikmatnya mengisap tembakau setelah makan siang dengan gulai ikan kakap, pikir hatinya sambil jalan keluar kamar. Sampai

etapi,

meninggi suara ibunya m

," Hafiz menggaruk ke

kau jadikan tembaka

jatuhkan lima atau en

ng tua," sahut ibunya kem

tuk gulai ikan satu bu

tuhkan sampai lima-enam biji k

nggulai ikan, sisanya itu dijual

eng-geleng ke

u Abu Nawas,

di pekan. Alahai! Kalau sudah sampai pada tahap semacam itu, alangkah mudahnya menuliskan syair-syair sajak! Hafiz akan sangat merasa kaya, hatinya dipenuhi oleh bahagia tak terhingga bila berhasil menuliskan bait-bait sajak yang mengena di hatinya. Lalu untuk apa? Ya, seringkali ibunya bertanya hal seperti itu-untuk apalah syair-syair tak tentu makna itu?-menyoal waktu yang terbuang percuma, hasil pun tak ada. Ibu Hafiz selalu berkata geram pada anaknya y

ik buah kelapa itu?" teria

i baru mau H

mbat bergerak seperti itu, sudah matilah

ujar Hafiz sambil memacakkan kakinya pada batang kelapa yang sud

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pupus
Pupus
“Hafiz dan Aina, sepasang kekasih yang saling mencintai. Sayangnya, cinta mereka kandas karena perjodohan yang dilakukan orang tua. Keduanya menolak perjodohan tersebut. Setelah takdir memisahkan, siapa sangka nasib seakan masih ingin mempermainkan kisah mereka lagi. Tiga puluh tahun berlalu, anak-anak mereka bertemu dan jatuh cinta. Gwen dan Arsakha saling jatuh hati dan menjalin hubungan, tapi ketika Arsakha bertemu dengan orangtua Gwen, barulah masa lalu terbongkar. Dulu mama Gwen berpacaran dengan ayah Arsakha dan hubungan itu pupus di tengah jalan. Mengetahui bahwa Arsakha adalah anak lelaki mantan pacarnya dulu, mama Gwen langsung mengusir Arsakha dan tak merestui hubungan Gwen dengan Arsakha. Bagaimanakah kisah cinta Gwen dan Arsakha selanjutnya? Akankah cinta mereka mengikuti jejak orang tuanya atau justru dapat bersatu? Setiap hati yang jatuh cinta, tak ingin kisahnya pupus dan menjadi kenangan belaka ....”
1 Bab 1 Satu2 Bab 2 Dua3 Bab 3 Tiga4 Bab 4 Empat5 Bab 5 Lima6 Bab 6 Enam7 Bab 7 Tujuh8 Bab 8 Delapan9 Bab 9 Sembilan10 Bab 10 Sepuluh11 Bab 11 Sebelas12 Bab 12 Dua Belas13 Bab 13 Tiga Belas14 Bab 14 Empat Belas15 Bab 15 Lima Belas16 Bab 16 Enam Belas17 Bab 17 Tujuh Belas18 Bab 18 Delapan Belas19 Bab 19 Sembilan Belas20 Bab 20 Dua Puluh21 Bab 21 Dua Puluh Satu22 Bab 22 Dua Puluh Dua23 Bab 23 Dua Puluh Tiga24 Bab 24 Dua Puluh Empat25 Bab 25 Dua Puluh Lima26 Bab 26 Dua Puluh Enam27 Bab 27 Dua Puluh Tujuh28 Bab 28 Dua Puluh Delapan29 Bab 29 Dua Puluh Sembilan30 Bab 30 Tiga Puluh31 Bab 31 Tiga Puluh Satu32 Bab 32 Tiga Puluh Dua 33 Bab 33 Tiga Puluh Tiga34 Bab 34 Tiga Puluh Empat35 Bab 35 Tiga Puluh Lima36 Bab 36 Tiga Puluh Enam37 Bab 37 Tiga Puluh Tujuh38 Bab 38 Tiga Puluh Delapan39 Bab 39 Tiga Puluh Sembilan40 Bab 40 Empat Puluh41 Bab 41 Empat Puluh Satu42 Bab 42 Empat Puluh Dua43 Bab 43 Empat Puluh Tiga44 Bab 44 Empat Puluh Empat45 Bab 45 Empat Puluh Lima46 Bab 46 Empat Puluh Enam47 Bab 47 Empat Puluh Tujuh48 Bab 48 Empat Puluh Delapan49 Bab 49 Empat Puluh Sembilan50 Bab 50 Lima Puluh51 Bab 51 Lima Puluh Satu