icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dicintai Adik Ketemu Gede

Bab 10 Norak!

Jumlah Kata:1232    |    Dirilis Pada: 23/03/2022

nkan amanah dari Nyak Marni dan Fadlan un

magrib nanti. Berbagai hiburan pentas seni tradisional dan modern juga akan dil

an acara penting lainnya, yaitu melaksanakan permintaan F

jam lima kurang, akhirnya kami memutuskan pulang lebih awal agar bi

kaca spion?" tanya

mang, aku curi-curi pandang di kaca spion. Bukan apa, sebenarnya dari

hutku sambil

tinya. Dia menatap nyalang

cewek can

rnya tawa lepasku terjadi, dan itu membuat Vivi semakin kesal. Mun

ahnya seraya mencub

, Vi!" sambungku mengingatkan. Kini, tawa telah b

onyongka

kesel! Ketawain apaan,

k bisa bohong. Inginny

u? Nanti kamu

mencubit pinggangku. Kali ini lumaya

enuntut agar aku segera bicara. Aih

bari tertawa. Di sudut mata, air bening muncul sedik

a berhenti, dia malah semakin menjadi. Alh

ingati. Bodohnya aku, si motor ini malah terus

ai Abang ngomong!" Vivi ku

a motor semakin tak terkendali. Entah mengapa pula aku mala

i cukup keras. Kali ini ia bisa menghen

Tak kira-kira, aku dan Vivi mendarat tepat di atas genangan air comberan samping pen

Vivi me

ku dan Vivi basah plus kotor. Beruntung kami t

Kok, nggak hati-hati! Kan, jadi jatuh! Basa

egap, dia sudah menggoyang-goyan

mungkin jadi oleng! Untung cuma jatuh ke comberan dan nggak nabrak banguna

ata, kami babalas pasti menubruk bangunan

. Jam segini pasti sudah pulang ke tempat masing-masing

hin Vivi?! Siapa yang

elek segede biji padi gitu, ha ha h

segera mengambil sesuatu da

ku masih tergelak. Seketika, waj

adi, sih?!" Vivi langsung menyingkirkan ko

ir kotor. Pun dengan Vivi, dia tak peduli lagi dengan pakaiannya yang ikut koto

akan nyebur begini!" sergahnya seray

berlari menghi

cahayanya mulai menggelap, kami berdua malah saling kejar-kej

mu gede-ku yang sifatnya masih saja macam

*

udah pulang ke kosan. Dan, aku b

capek bener." Aku mengeluh seraya

Tok

buatku bangun dari posisi rebahan

iv

Vivi. Sampai aku kini mengucek mata. Dan

ng menyegarkan, tapi tidak menusuk hidung. Memakai mini dress warna krem selutut,

an pesan. Ayo buruan! Nanti keburu malem," ucapnya dengan nada suara cuk

aja, pangling melihat Vivi yang memoles diri pakai make up tipi

" kataku seraya mencengkram pelan bahu

an kembali. Ck, dasar Vivi. Itu

m siap-siap. Dasar Bang Agam payah!" serunya. Kemud

tku. Tanpa menunggu dirinya menjawab, segera kututup pintu kamar. Yah, wal

ergi. Semua kulakukan untuk menepati janjiku pada Fadla

, letaknya ada di lantai enam hotel Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta Selatan. Fadlan sudah memboo

n aku memakannya. Jangankan makan, lihat pun baru sekarang. Lalu, buk

akan beginian," kata Vivi

gangguk

makan satu persatu menu yang ada di hadapan kami itu. Tentunya setelah aku berselancar terle

ue tampilannya begitu-begitu saja, makanya aku dan Vivi tak sampai mencari lagi di internet. Kami menikmati menu penutup dengan santai, suas

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dicintai Adik Ketemu Gede
Dicintai Adik Ketemu Gede
“Bagaimana jadinya jika seorang remaja berusia tujuh belas tahun mencintai pria dewasa berusia dua puluh enam? Remaja itu terus mengejarnya, bahkan memaksa untuk menikahinya seusai lulus SMA. Sebut saja namanya Vivi, gadis belia yang mendadak menyimpan rasa pada Pria bernama Agam Permana-seseorang yang sudah hidup di lingkungannya selama sepuluh tahun lamanya. Vivi terus saja memupuk rasa, hingga cinta yang dipendam pun dinyatakan juga. Agam yang selama sepuluh tahun menganggap bagai saudara pun bingung dan berusaha menghindar, terlebih sahabatnya-Fadlan-mengaku telah mencintai sosok Vivi. Sayangnya perasaan tak dapat dibohongi. Lambat laun Agam jatuh hati. Akankah keduanya bersatu? Bagaimana dengan Fadlan sahabatnya? Ini adalah cerita romansa. Menghadirkan kisah rumit antara remaja dengan orang dewasa. Membuat sosok Agam dilema antara harus memilih cinta atau persahabatan. Berisi tentang isi hati yang sulit terungkap, juga tiga hati yang kian hari kian terkoyak. Bisakah ketiganya melalui semua masalah tanpa adanya permusuhan?”