icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dear Ex and Mistakes

Bab 2 Sita

Jumlah Kata:1580    |    Dirilis Pada: 02/03/2022

dua puluh empat tahun, perkiraanku, tersenyum dan mengangguk sopan. Pukul tujuh lew

sapaku dengan

senyum hangat. Sepertinya, perempuan ini cukup menyenangkan diajak kerja sama. Bukan tipikal peremp

sopan dengan tangan yang terulur menunjuk

ke sini untuk pesan baju, bukan minum." Dia ter

li menuju sofa tamu dan meletakkan botol air mineral itu di atas meja. "Sebelumnya, saya mewakili Bu Rahma memohon maaf karena beliau tidak bisa menyambut Mbak mala

saya terlihat cantik. Acaranya malam dan hanya makan malam dan bincang saja." Perempuan ini mengambil botol air mineral yang kusuguhkan, lalu meneguk pelan seakan ia butuh hal yang bisa membuatnya memiliki tenaga untuk membica

empuan ini sedikit tidak nyaman dengan apa yang ia bicarakan. Entah mengapa. Perempuan ini memandang ke arah pintu utama buti

ya mencatat dan menggambar sketsa kasar konsep busana yang ingin ia pesan. Mencari tahu apa isi hati dan pikiran perempuan ini bukanlah tugasku

ti apa agar keengganan saya menjalani perjodohan ini bisa tertutupi dengan rapi. Mereka bilang saya harus tampil lebih cantik. Padahal, saya

, aku memang tak bisa merasakan apa yang perempuan ini pendam. Aku belum pernah mengalami

?" tawarku seraya membuka buku sketsaku. "Mbak Sita

ikut memperhatikan buku yang mul

gus mengenakan warna apapun sekalipun warna-warna pucat. Rambutnya lurus dan panjang.

n sekarang, aku bisa menyimpulkan jika ia tipikal perempuan bebas dan ceria. Saat ini saja, ia hanya mengenakan jins dan kaus

ide lain?" tanyaku seraya menyodorkan skets

perempuan itu sambil menunjuk s

akan terlihat timbul. Saya merekomendasikan warna put

gguk. "Bagus. Bisa terlihat formal tapi juga santai," nilain

u pilih, lalu mengukur postur tubuhnya. Tak terasa waktu sudah me

i sebelum acara per

tik, aku mempersilakan perempuan ini pamit pergi. "Kami pa

lagi, lalu berjalan menuju mobi

ke butik pada jam delapan pagi dan kembali ke kontrakan pada saat waktu hampir mendekati tengah malam. Dengan begitu, aku tak memiliki

a kosong. Bahkan ada yang berkata bahwa bangunan itu berhantu saking lamanya tak berpen

hwa meski barisan rumah kami berada di lokasi paling pojok komplek ini, hanya berdempetan dua rumah dan si

a di rumah. Aku bahkan tak tahu kapan keluarga baru yang suka tertaw

san rancangan gaun anak yang ingin kubuat saat libur nanti. Aku tak pernah libur di akhir minggu. Hari liburku adalah dua hari di hari kerja dan bergantian dengan jadwal Mona. Satu hal yang membuatku bersyukur bekerja di butik yang sela

dengan sepi dan hening saat bekerja atau istirahat. Hanya suara mesin jahit dan radio dari ponsel saja yang biasa menema

nangan untuk istirahat. Mereka boleh saja berteman dengan makhluk astral yang memang kebanyakan hidup pada waktu-wakt

dengan tawa yang menggelegar. Tak berselang lama, seorang wanita berambut panjang datang menghampiriku dengan langkah ragu. M

agar jangan berisik pada tengah malam seperti ini. Saya tergangg

a, minta maaf pun tidak. Dasar setan kurang ajar! Sebelum emosiku makin menjadi, aku mengembuskan napas dan berbali

untuk kembali menuju rumah, aku mendengar sua

rumah? Saya baru datang pagi tadi

aat ini. Namun, semua materi tentang tata krama bertetangga seketika membeku di kepalaku karena mataku seperti

kaget. Apalagi aku yang berharap

. Aku butuh ketenangan untuk beristirahat." Hanya itu kalimat yang mampu kuutarakan, sebelum berlari menuju

i menghindari semua dan dia tiba-tiba ada

ku yang hanya setinggi dada orang dewasa. "Aku

n dari rumah kalian." Tanpa menunggu, aku membanting pintu dan menguncinya hingga dua kali putaran. Sebaiknya aku membuka ponsel dan me

**

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dear Ex and Mistakes
Dear Ex and Mistakes
“Bagiku, lebih baik seperti ini. Hidup dalam kesendirian dan rasa hampa yang kuharap mampu mengobati kecewa dan luka dalam hati. enam tahun pergi dan sendiri, hatiku masih terasa nyeri. Tak apa, kuyakin waktu kan mengobati sakit ini seiring kesendirian yang kupertahankan. Kami menikah, dengan cinta, dengan rasa percaya. Namun, ia menghianati semua saat kami harus terpisah jarak. Aku pergi tanpa sudi bertemu dengannya setelah kupergoki ia mendua. Rasanya sakit, saat pengorbanan yang kulakukan ternyata tak sedikitpun berharga di matanya. Enam tahun berlalu. Aku masih terseok dengan hati yang selalu perih setiap mengingat bagaimana ia mencium wanita itu. Saat hidupku sudah mulai tenang dengan sepi dan hampa yang kubuat, takdir mengujiku dengan pertemuan kami. IA datang dan tinggal dekat denganku, lalu menawarkan masa depan yang dulu pernah ia janjikan kepadaku lagi.”
1 Bab 1 Kesendirian2 Bab 2 Sita3 Bab 3 Frustrasi4 Bab 4 Perhatian Dimas5 Bab 5 Pertanyaan Dimas6 Bab 6 Tentang Jodoh7 Bab 7 Rumah Tangga Dimas dan Ratih8 Bab 8 Tentang Dimas9 Bab 9 Sakit10 Bab 10 Bertengkar11 Bab 11 Keraguan12 Bab 12 Minta Rujuk13 Bab 13 Kesibukan Ratih14 Bab 14 Jalan Terpisah15 Bab 15 Semakin Jauh16 Bab 16 Terkuak17 Bab 17 Perasaan Dimas18 Bab 18 Pendekatan19 Bab 19 Bicara20 Bab 20 Pulang21 Bab 21 Ratih dan Seno22 Bab 22 Jalan Takdir23 Bab 23 Sikap Dimas24 Bab 24 Project25 Bab 25 Mantan Suami dan Calon Suami26 Bab 26 Tegang27 Bab 27 Bertengkar28 Bab 28 Melarikan Diri29 Bab 29 Penyesalan30 Bab 30 Melepaskan31 Bab 31 Merelakan32 Bab 32 Rekonsiliasi33 Bab 33 Masih Cinta34 Bab 34 Kondangan35 Bab 35 Melepas Rindu36 Bab 36 Rujuk37 Bab 37 Menikah38 Bab 38 Ungkapan Cinta39 Bab 39 Bulan Madu40 Bab 40 Perjalanan Baru41 Bab 41 Ratih di Mata Dimas42 Bab 42 Romansa Rumah Tangga43 Bab 43 Sikap Ratih44 Bab 44 Memutuskan Sendiri45 Bab 45 Undangan Seno46 Bab 46 Kejutan Untuk Keluarga47 Bab 47 Perhatian Dimas48 Bab 48 Khawatir49 Bab 49 Kehamilan Ratih50 Bab 50 Perjuangan Ratih51 Bab 51 Rengkuhan52 Bab 52 Bahagia