Dear Ex and Mistakes

Dear Ex and Mistakes

Hapsari Rias Diati

5.0
Komentar
13.2K
Penayangan
52
Bab

Bagiku, lebih baik seperti ini. Hidup dalam kesendirian dan rasa hampa yang kuharap mampu mengobati kecewa dan luka dalam hati. enam tahun pergi dan sendiri, hatiku masih terasa nyeri. Tak apa, kuyakin waktu kan mengobati sakit ini seiring kesendirian yang kupertahankan. Kami menikah, dengan cinta, dengan rasa percaya. Namun, ia menghianati semua saat kami harus terpisah jarak. Aku pergi tanpa sudi bertemu dengannya setelah kupergoki ia mendua. Rasanya sakit, saat pengorbanan yang kulakukan ternyata tak sedikitpun berharga di matanya. Enam tahun berlalu. Aku masih terseok dengan hati yang selalu perih setiap mengingat bagaimana ia mencium wanita itu. Saat hidupku sudah mulai tenang dengan sepi dan hampa yang kubuat, takdir mengujiku dengan pertemuan kami. IA datang dan tinggal dekat denganku, lalu menawarkan masa depan yang dulu pernah ia janjikan kepadaku lagi.

Dear Ex and Mistakes Bab 1 Kesendirian

"Happy anniversary ke enam bulan, pangeran aku!"

Aku melirik pada sosok gadis berpakaian putih abu-abu yang berteriak riang dari meja kasir resto cepat saji ini menuju salah satu meja. Langkahnya ringan sekali meski membawa banyak burger dan soda dalam baki yang gadis itu pegang. Wajahnya ceria dengan senyum tak tak juga hilang dari wajahnya.

Aku menyeringai dengan decih remeh dalam hati. Anak jaman sekarang. Enam bulan dan perayaan masa kebersamaan, terlalu lebay. Aku memusatkan lagi perhatianku pada sketsa-sketsa gaun anak-anak yang tengah kukerjakan. Meski ini bukan pekerjaan utama yang memberiku gaj bulanan untuk hidup di kota ini, tetap saja aku harus menyelesaikan beberapa sketsa agar bisa segera kueksekusi menjadi gaun indah dan kujual.

Untuk beberapa hal termasuk menggambar, kadang aku memang butuh tempat seperti restauran cepat saji ini hanya untuk mencari suasana baru. Di hari kerja seperti saat ini, restauran cepat saji tak seramai saat akhir minggu. Apalagi, saat ini jam tiga sore dan para pekerja kantoran pasti tak ada yang berniat mampir untuk makan siang.

"Aku gak sangka banget, Sayang, kita sudah bersama selama ini. Aku makin sayang sama kamu."

Demi Tuhan, runguku sedikit muak dengan kalimat yang gadis itu ucapkan. Suaranya lantang dengan nada ceria. Jika sudah begini, fokusku jadi sedikit goyah dan bola mataku mau tak mau melirik lagi pada sepasang bocah ingusan yang kuyakin, laki-lakinya saja paling baru mengalami mimpi basah satu dua kali.

Gadis itu menyodorkan gelas minuman pada pacarnya, lalu melanjutkan minum satu sedotan berdua. Iyuh, menjijikkan. Kalau uang jajannya kurang, lebih baik makan bakso kaki lima saja alih-alih resto tetapi segalanya dibagi dua. Jika belum bermodal, lebih baik banyak belajar saja.

Aku menggeleng sekilas seraya mengangkat bahu tak acuh dan samar. Buat apa aku jadi pusing memerhatikan bocah ingusan? Aku masih harus kembali ke butik dan menyelesaikan bebera desain gaun formal yang Bu Rahma tugaskan padaku. Tiga bulan lagi butik tempatku bekerja akan mengikuti acara tahunan dan Bu Rahma sedang ingin mengeluarkan koleksi baju formal yang bisa dipakai untuk pesta atau bekerja. Pangsa pasar busana formal sedang bagus saat ini. Kate Middleton membuat beberapa wanita menyukai gaun formal karena dirasa berkelas tanpa harus tampil berlebihan.

Ponselku berdenting. Aku melirik sekilas pada layar dan kudapati pesan dari Mona.

Ratih, Bu Rahma minta tolong jam tujuh ketemu tamu beliau ya. Ada yang mau pesan gaun katanya. Bu Rahma gak bisa hadir karena ada urusan mendadak.

Aku menaikkan satu alisku dan mengangguk. Aku tahu, Mona tak mungkin bisa melihat responsku. Aku tak perlu menjawab pesannya, karena setelah ini aku pasti kembali ke butik dan menghabiskan malam di sana, seperti biasa.

Yah, apa lagi yang bisa kuperbuat untuk mengisi kekosongan hari? Hanya butik tempatku menghabiskan waktu dan menggali banyak penghasilan. Hidupku tak pernah mudah. Sungguh, urusan lembur setiap hari dan terus menggambar hanyalah satu dari sekian hal kecil yang kunikmati. Masih banyak berat dan menyedihkan yang terasa memberatkan pundakku setiap kali melangkah. Beban tak kasat mata ini, bahkan mampu membuatku sulit bernapas.

"I love you, sayang!"

Ya, nikmatilah masa indah ini, anak kecil. Hamburkan saja kata cinta itu sesuka hatimu hingga mulut dan telingamu lelah sendiri. Aku hanya berharap, kelak kamu tak akan menyesali dan menangisi apa yang terjadi sore ini bersama pria yang hanya fokus menghabiskan sisa burger yang tak mampu perutmu tampung.

Mengambil kembali drawing pen, aku melanjutkan sketsa gaun anak beserta tuksedo yang bisa dipasangkan. Menjahit membuatku memiliki kepuasan batin tersendiri. Aku seperti mampu mengubah imaginasiku menjadi nyata. Hidupku tak semudah dan seindah harapan juga bayanganku. Jadi, ketika aku berimajinasi dan menuangkan semua itu di atas kertas, lalu bekerja keras hingga aku bisa menyentuh bentuk nyatanya dalam genggaman, aku merasa bahwa masih ada dalah hidup ini yang bisa kita perjuangkan. Meski hanya beberapa potong baju dari hasil ide dan kreatifku.

Berbeda dengan hidupku sendiri yang tak lagi bisa kuperjuangkan apalagi dijadikan indah seperti gaun toska berenda yang kurancang untuk anak usia tujuh tahun ini. Soal hidup, baiknya semua kulupakan saja dan kembali melangkah meski terkadang bayang beban itu terasa sulit kulepas pergi.

Gerak tanganku berhenti saat kusadari jika gelas sodaku tak lagi berisi. Kosong, bahkan tak ada lagi sisa es batu karena sudah mencair dan kusedot hingga habis. Sepasang anak ingusan itu pun sudah tak ada lagi. Mungkin orangtuanya menghubungi dan meneriaki mereka untuk lekas berada di rumah. Kasihan, anak ingusan itu belum tahu pentingnya aturan dan norma ketat. Orang tua bersikap keras bukan berarti mereka jahat. Orangtua mereka, kuyakin tahu yang terbaik dan merayakan hari jadi ke berapa hari tadi? Enam jam? Ah, berapapun pendeknya masa itu, bukanlah hal yang akan mereka banggakan atau syukuri kelak.

Percaya padaku!

Aku membereskan buku sketsa dan beberapa kertas juga pen gambar ke dalam tasku. Sudah waktunya kembali ke butik karena Mona harus pergi sebelum jam lima sore. Teman kerjaku itu sedang menjalani kuliah kelas karyawan yang membuatnya harus ada di kelas setiap malam. Berbeda dengan aku yang tak memiliki keinginan untuk mengenyam bangku kuliah. Memiliki kemampuan menjahit dan menggambar desain baju sudah cukup bagiku. Bu Rahma mengarahkanku hingga kemampuan yang enam tahun lalu hanya sekadar menggambar pola, jadi bisa merancang dengan baik dan benar. Ini saja sudah cukup. Aku tak mau merepotkan banyak orang dan mengambil banyak hal dari hidup mereka.

Aku melajukan motor matikku kembali menuju butik. Saat sampai sana, Bu Rahma tengah bersiap di ruangannya. Beliau memintaku untuk bertemu dengan pelanggan baru yang ingin membuat baju.

"Cukup gambarkan aja sketsa kasar model yang dia mau. Berikan katalog contoh bahan dan keterangan kelebihan juga kekurangan bahan itu serta cara perawatannya. Nanti, setelah dia memutuskan, baru saya lanjutkan rancangan itu dan membuatkan untuk dia." Bu Rahma memberiku banyak pesan hingga langkah wanita itu sudah berada di samping sedan mewahnya. "Bisa, ya, Tih?"

Tentu. Aku mengangguk tegas dan antusias. "Saya rencana di sini sampai jam sepuluh malam, Bu. Mau potong pola untuk furing baju yang harus saya jahit besok."

Bu Rahma tersenyum manis dan simpul kepadaku. Wajahnya menyiratkan aliran semangat yang tinggi, meski matanya menatapku dengan binar sendu. Aku tahu arti tatapan itu kepadaku. Selalu begitu, sejak enam tahun lalu, saat pertama kali aku diberi belas kasihan berupa kesempatan untuk menjahit dan berkembang di sini hingga saat ini.

"Jangan terlalu lelah, Ratih. Kamu juga harus memikirkan kebutuhan dan hidupmu." Wanita itu berkata lirih sebelum masuk ke dalam mobil bersama supir yang mengantarnya ke mana pun ia pergi.

Dari area parkir ini, aku hanya tersenyum getir memindai kepergian sedan itu hingga menghilang di persimpangan. Bu Rahma bilang apa tadi? Kebutuhan? Hidupku? Aku tak lagi butuh apapun di hidupku yang sudah runyam enam tahun lalu. Bagiku, menjalani hari sendiri dalam sepi seperti ini jauh lebih baik dan menentramkan, daripada harus berteriak marah dan menangis hingga tertekan batin sendiri. Menghabiskan energi dan waktu untuk meranjang baju dan menjahit bagus untuk batinku yang terguncang sejak enam tahun lalu. Jadi, aku tak butuh apapun lagi, selain tugas merancang busana dan pesanan gaun pesta anak yang kukerjakan di kontrakanku sendiri.

*******

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Dear Ex and Mistakes Dear Ex and Mistakes Hapsari Rias Diati Romantis
“Bagiku, lebih baik seperti ini. Hidup dalam kesendirian dan rasa hampa yang kuharap mampu mengobati kecewa dan luka dalam hati. enam tahun pergi dan sendiri, hatiku masih terasa nyeri. Tak apa, kuyakin waktu kan mengobati sakit ini seiring kesendirian yang kupertahankan. Kami menikah, dengan cinta, dengan rasa percaya. Namun, ia menghianati semua saat kami harus terpisah jarak. Aku pergi tanpa sudi bertemu dengannya setelah kupergoki ia mendua. Rasanya sakit, saat pengorbanan yang kulakukan ternyata tak sedikitpun berharga di matanya. Enam tahun berlalu. Aku masih terseok dengan hati yang selalu perih setiap mengingat bagaimana ia mencium wanita itu. Saat hidupku sudah mulai tenang dengan sepi dan hampa yang kubuat, takdir mengujiku dengan pertemuan kami. IA datang dan tinggal dekat denganku, lalu menawarkan masa depan yang dulu pernah ia janjikan kepadaku lagi.”
1

Bab 1 Kesendirian

01/03/2022

2

Bab 2 Sita

02/03/2022

3

Bab 3 Frustrasi

02/03/2022

4

Bab 4 Perhatian Dimas

02/03/2022

5

Bab 5 Pertanyaan Dimas

02/03/2022

6

Bab 6 Tentang Jodoh

02/03/2022

7

Bab 7 Rumah Tangga Dimas dan Ratih

02/03/2022

8

Bab 8 Tentang Dimas

02/03/2022

9

Bab 9 Sakit

02/03/2022

10

Bab 10 Bertengkar

02/03/2022

11

Bab 11 Keraguan

04/03/2022

12

Bab 12 Minta Rujuk

04/03/2022

13

Bab 13 Kesibukan Ratih

04/03/2022

14

Bab 14 Jalan Terpisah

04/03/2022

15

Bab 15 Semakin Jauh

04/03/2022

16

Bab 16 Terkuak

05/03/2022

17

Bab 17 Perasaan Dimas

05/03/2022

18

Bab 18 Pendekatan

07/03/2022

19

Bab 19 Bicara

07/03/2022

20

Bab 20 Pulang

07/03/2022

21

Bab 21 Ratih dan Seno

07/03/2022

22

Bab 22 Jalan Takdir

07/03/2022

23

Bab 23 Sikap Dimas

08/03/2022

24

Bab 24 Project

08/03/2022

25

Bab 25 Mantan Suami dan Calon Suami

08/03/2022

26

Bab 26 Tegang

08/03/2022

27

Bab 27 Bertengkar

08/03/2022

28

Bab 28 Melarikan Diri

08/03/2022

29

Bab 29 Penyesalan

08/03/2022

30

Bab 30 Melepaskan

08/03/2022

31

Bab 31 Merelakan

08/03/2022

32

Bab 32 Rekonsiliasi

08/03/2022

33

Bab 33 Masih Cinta

08/03/2022

34

Bab 34 Kondangan

08/03/2022

35

Bab 35 Melepas Rindu

08/03/2022

36

Bab 36 Rujuk

08/03/2022

37

Bab 37 Menikah

08/03/2022

38

Bab 38 Ungkapan Cinta

08/03/2022

39

Bab 39 Bulan Madu

08/03/2022

40

Bab 40 Perjalanan Baru

08/03/2022