icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bound by Destiny

Bab 4 Pembuktian

Jumlah Kata:3289    |    Dirilis Pada: 06/02/2022

kekanakan. Tapi, ketika ia merasakan bibir itu melumat bibirnya, entah mengapa Elice merasa otaknya seperti tidak bisa

ih berharga. Untuk kategori seorang wanita dan juga manusia. Karena terlepas dari bagaimana masa lalunya, tetap ada seorang pria yang akan menyentuhnya denga

simpulan buruk mengenai dirinya sendiri. Yang kerap kali mengatakan dirinya tak lagi bernilai sebagai seorang

ett

an Elice yang menyebut namanya. Sesuatu yang membuat satu tangannya dengan kuat lantas merengkuh pinggang ber

n .

e. Tapi, sepertinya itu setimpal untuk apa yang ia dapatkan selanjutnya. Berupa kulit pipi Elice yang lembu

adar untuk meredakan dahaganya saja. Dan oh, Tuhan! Sepertinya Garett yakin tidak ak

lah membakar tubuhnya. Yang membuat ia perlu menarik udara dalam-d

iapa n

lice. Hingga membuat wanita itu melenguh dan mengangkat kepala tinggi-tingg. Tak b

lice

benaknya. Mengingatnya den

yang c

jam. Kedua tangannya bergerak. Mendarat di pundak Gar

i isyarat Elice. Sejenak ia melepaskan Elice. Membiarkan jas y

an dihiasi oleh urat-urat bertonjolan itu meraih leher Elice. Menarik wajah wanita itu dan langsung

g justru bermesraan dengan pria asing. Karena astaga! Garett menyentuhnya dengan cara yang benar-benar membuat ia merasa bebas.

u kau memiliki hi

mengecup sisi hidung Elice. Menarik sekelumit geli

aku temui," ujar Garett dengan suara berat.

antik. Tapi, malam ini ... bersama dengan seorang pria asing

tak mampu mengalihkan pandangannya dari Elice selama berada di klub tadi.

untuk bisa memuaskan matanya. Memandang hidung itu semau diri

kaki Elice dengan tepat langsung melingkari pinggangnya. Ia beranjak. B

rbuka hingga memberikan kesan basah nan hanga

Gar

empat tidur itu. Membiarkan mereka memantul beberapa kali sebelum pada akhirnya Gare

ya. Bertopang pada satu siku, ia menciptakan jarak yang cukup un

an keanggunan yang membuat Garett terpaksa meneguk ludah. Ia

ak akan

tar sekali dengan malas. "Ada banyak hal

sekarang berbeda. Menghabiskan sekitar sejam dalam perbincangan pada Garett membuat ia mengambil satu kesimpulan ane

ngkas Elice. "Lebih dari itu ... bukankah ka

a di pipi Elice berhenti. Tepat ke

u masih b

ra mereka telah usai. Sekarang bukan lagi waktunya untuk berc

luap. Pria itu mencium Elice dengan cara yang tak pernah ia bayangkan

in. Selain membalas ciuman itu dengan s

nya samar dalam pemberian isyarat tanpa kata-kata. Bahwa

t wajahnya. Membuka bibirnya. Menjulurkan lidahnya. Menyapu bibir Elice de

ice tepat sebelum akhirnya lidah itu meluncur. Menyelina

ri. Menyilakan Garett untuk menginvasi mulutnya dengan j

ana. Perpaduan antara kesan hangat dan menggoda yang membuat ia tak mampu menahan di

dilanda gairah tak tertahankan. Garett membelit. Lalu melumat. Dan kemudian memangg

. Pasrah saat Garett memerangkap lidahnya. Menarik

itu merasa seluruh jiwanya turut ikut serta. Membuat ia melengkungkan tubuh. Mem

ah

skan lidah itu demi melakukan cumbuan selanjutnya.

h Garett. Dalam satu usapan panjang yang memberikan jejak basah

Elice. Dan kemudian ia mendapatkannya. Satu benda yang ketika

rkan Garett dengan cepat melepas pakaian tersebut dari tubuhnya. Hingga ia te

telah lebih dulu mengalami nasib nahas itu. Dan tentunya bukan hanya benda-benda itu ya

nya ada secarik kain berbentuk segitiga yang masih bertahan di sana. Pakaian

agi aku b

rhasil membuat fokus matanya untuk berpindah. Beralih pa

akan meny

ingin melihat. Seberapa berha

lah dua kali ia mempertanyakan apakah wanita itu akan menyesal atau tid

terkembang yang memeluknya. Jari-jari lentik itu mendarat di punggung Gare

i. Menciumnya dengan kuat dan penuh penuntutan sementara tangannya pun berg

an menyusuri tulang selangkanya yang begitu menggoda. Untuk sel

aa

mang, masih terhalang oleh bra yang ia kenakan. Tapi, sungguh. Sen

a ke sembarang arah dan tak peduli ke mana ia akan mendarat. Karena selanjutnya, Garett dengan cep

tanpa sadar. Menyilakan Garett untuk mendapatkan

hi indra perasanya. Yang mungil dan terasa begitu menggoda. Hingga lidahnya seo

gairah berputar-putar di sekitar perutn

an dan kelembutan. Berulang kali. Dalam gerakan

n yang sama dengan payudara lainnya. Dengan tangannya, ia meremas payudara Elice berulang kali.

rett. O

tanpa sadar membuka kaki dan membiarkan kelembaban samar itu menembus tipis kain c

ce .

epaskan puting itu dari dalam mulutnya. Hanya untuk memast

Elice. Lalu meremas bagian yang lainnya.

rett. K

a kewalahan dalam desakan gelora yang makin membutakan matanya. Hingga membuat ia me

rg

nannya membuat pria itu menggebu. Hingga mulutnya membuka besar. Menuruti keinginannya. Kali ini bukan

a. Baik Elice maupun Garett sama-sama tersulut dalam kobaran gel

berikut dengan miliknya pula. Dan pria itu sudah bersiap. M

menunggu. Dengan napas tertahan di d

mbawa mereka pada hidangan utama. Ia meraih kedua

tika Garett menunduk. Menyapa kewanitaannya dala

g kewanitaan Elice. Yang sudah basah dan hangat. Lebih cukup m

Merasakan manis yang ia yakin akan di

ya madu yang tak pernah ia cecap sebelumnya. Hingga menuntut dirinya untuk menjilat. Unt

aa

erpejam erat. Merasakan kehangatan itu menembus d

maka lidah itu pun langsung melancarkan semua serangannya. Memberikan tusukan sedalam ya

ngan begitu lincah mengobrak-abrik pertahanannya di bawah sana

k tetap menekuk. Untuk tetap membuka. Agar ia

membuat lenguhan Elice menjadi suara tertahan. Satu titik yang membuat kaki El

nan. Dalam tusukan. Dalam sapuan yang pada akhirny

aa

at di bawah sana. Seolah tidak ingin membiarkan Garett pergi. Tidak. T

tu, Garett merasakan bagaimana sejuta rasa manis menyapa indra perasanya. Basah dan ha

t lantas bangkit. Mendapati bagaimana kedua kaki Elice kemudian yang langsung terjatuh

ikir bahwa semuanya sudah

ludah. Dan tak punya waktu lama untuk menarik napas k

tak berdaya. Terhimpit tak mampu bergerak di atas kasur yang e

da

pat ketika ia merasakan kejantanan Garett memasuki dirinya dan ia seolah m

tnya. Dengan teramat sengaja memberikan waktu unt

ia tanpa sadar meringis samar. Tapi, waktu yang

menarik pinggangnya. Hanya untuk mendorong kembali. Hanya untuk memb

..

asuki dirinya. Ia merengkuh tubuh Garett. Dengan kuat. Mema

asuk di diri Elice. Tanpa adda egois sama sekali. Ia layaknya ingin memastikan bahwa

a sekat. Kulit yang liat berkat keringat saling bergesekan.

lice. Mendaratkan tungkai jenjang itu di atas pinggangnya. Agar ia

oh ...

a mendapati bagaimana kejantanan itu meluncur semakin laju di dalam kewanitaannya. H

ett ....

n amat kuat. Mempertahankan posisi wanita itu den

rgerak tanpa ada jeda sama sekali. Hin

nggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. Tak berdaya ketika hu

. Terperangkap dalam ras

tu, ia bahkan seperti tak menemukan udara. Di mana-mana h

ret

atu hunjaman Garett membuat ia terhempas kembali. Membuat ia terlempar dalam

erpa Elice membuat ia tak mampu bernapas lagi. Lantaran s

rasakan, Garett mendapati bagaimana ada remasan sensual yang terasa memijat kejan

abi buta. Pinggangnya berg

dan m

r dan

makin lama makin membuat pria itu menggertakkan rahang. Dan ketika kuku-

apati Garett semakin gencar menghunjamnya,

rinya yang lagi-lagi terperangkap. Layaknya buruan yang baru saja terbebas hanya unt

t. Membiarkan kuku-kukunya menancap di

ah ...

tubuh ramping itu semakin tenggelam dalam jajahannya. Teramat erat. Hingga n

pasrah dalam gelombang gairah yang saat itu melanda keduanya. Garet

jantanannya sedalam mungkin. Untuk terperosok dan t

nti. Elice tak mampu berbuat apa-apa selain menyerah kembali. Pada

aa

k. Ia pecah. Terurai menjadi keping-keping yang lantas berterbangan

i apa-apa di sekelilingnya, kecuali satu. Yaitu kege

a, ia menggeram. Ia menekan Elice. Dan ia menghunjam dengan beg

ergetar. Yang membuat dirinya terperas habis tanpa sisa. Yang membuat dirinya lenyap dalam kebutaan yang menggelapkan mata.

mbung

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bound by Destiny
Bound by Destiny
“Dicampakkan dan dipermalukan, Elice Danurdara tak pernah mengira bahwa ia akan tetap bertahan pada hidup. Nyaris menyerah. Hingga malam itu mengantarkan dirinya pada satu pembuktian gila. Bahwa dirinya masih berharga. Garettinus Hardiyata namanya. Pria asing yang membuktikan pada Elice bahwa di matanya wanita itu masih sangat berharga. Melalui tatapannya, melalui cara bicaranya, dan melalui ... sentuhannya.”