icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku

Bab 9 Lampu Merah

Jumlah Kata:1408    |    Dirilis Pada: 23/12/2021

TEH

A

n yang tersimpan rapi dalam laci. De

et

mar, tampak remang dan minim cahay

r, kupencet saklar lampu yang berhasil kutemukan deng

ng bersembunyi d

ata Rosa sedang merin

heran, kuhampiri dia

" tanyaku sembari

pucat, ia menatapk

?" tanyaku

menggele

k di samping ranjang, kupegang

ku setelah memastikan k

minta tolong belikan obat sakit k

a sendirian di dalam kamar. Pikiranku sudah kacau, aku kira merek

kamar. Sebentar aku ambilkan

-tib

ku, matanya yang say

minta tolong belikan paramex aja di warung

unggu dulu,

dan berkata lirih, "te

un dia sudah menyakitiku, tetap saja aku tak tega. Aku m

m tentu bisa bangkit dari ke

u meninggalkan Rosa di kamar un

ambil segelas air

mintanya untuk segera beristirahat. Rosa hany

ngan air karena dari tadi selepas dari kantor aku belum sem

akiku menyandung sesuatu yang

melihat alat kontrasepsi yang masih terbung

, perasaan saat aku mondar-mandir sedari tadi, aku tak mer

dan kuhitung dengan cepat benda elastis berbentuk s

empat ... kenap

ah digunakan. Berarti mereka

ulang? Hanya demi menikmati se

rusaha kuat dan tegar. Boleh saja semua orang menganggapku bodoh, naif dan polos, mereka bebas kok

k berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi? Begitu kah caramu bermain, Mas? Oke, kamu lah yang mengajakku bermain. Akan aku ikuti alur

ihat saja di akhir permainan nanti, si

telah mandi, melepas sedikit lelah yang akhi

bergegas pergi ke rumah Bu

u dari kalangan atas terlihat

reka, tentu saja untuk promosi

bahwa mobil Mas Frengky mulai memasuki peka

tikan Mas Frengky yang turun dari mobil.

du kasih. Mengingat aku sedang menghadiri acara dan Ca

ian melepas hasrat denga

akan kuker

ggalkan Cahaya lama-lama, toh juga asal sudah terlihat di

cadangan yang sudah kusiapkan. Benar saja dugaanku, pintu pasti dikunci

dengan pelan, tanp

aya sedang bermain ponsel.

a bukan di dalam k

da suara guyuran air di kamar ma

kakiku menuju

n mereka a

aku bergegas mengge

ar da

n shower dimatikan

kl

ri dalam, Mas Frengky menyembulka

sampo dan s

anya sembari melilitkan han

aku sembari menyilangka

tku berdiri di depannya, wajahnya p

etin aja!" katan

a?" tanyaku sem

. Nggak sabar nunggu Ayah mandi,"

ahutku

kin Mas Frengky mengira, R

Frengky sambil memelukku, melangk

ngennya lama-lama sama kamu aja,"

gky hany

kl

ri dalam, membuatku dan Ma

luar da

saat melihatku sudah berada

kulihat di de

anpa lengan berbahan tipis dan terawa

ng tepat. Untung saja aku tidak terl

itu apa nggak masuk ang

ini aku mau ke dapur ambil minum. Pe

ak mena

enti-hentinya memandang tubuh

s Frengky menelan saliv

enak-enak, eh belum apa-apa u

e kamar, Mas Frengky pun men

haknya. Karena hasrat yang sudah di ubun-ubun, setelah melihat Rosa be

ia meminta haknya malam in

anti dia berhubungan denganku tapi m

amit-a

mah

ku, turun ke telinga dan m

sti dia me

bagian sensitif ku, dengan

ang wajahn

ulu, ya!" tolakku halus s

ersikap lembut seperti ini

ingga tujuanku tercapai. Yakni

aja, sih, Bun. Terus selesainya kapan?"

nya sudah ber

n Cahaya dulu, kasihan dia sendirian," pamit

, wajahnya kusut. Mas Frengky men

wajahnya d

a yang sedang asyik m

m saat melihatku d

ain!" ajaknya s

anyaku sembari memainkan p

Mas Frengky. Bahkan Rosa juga bak ditelan bumi, sejak kejadia

ng cemen, beran

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
“"Cahaya tahu di kamar Ayah sama Tante ngapain?" cecarku menanti kepastian. "Nggak tahu, Bunda. Cuma Cahaya pernah lihat Tante Rosa nggak pake baju, terus Ayah naik ke atas Tante. Pas Aya masuk dan tanya, Ayah cuma bilang mau ngobatin Tante. Aya nggak boleh masuk kata Ayah, terus dikunci deh pintunya dari dalem," kata Cahaya dengan polosnya. * Hidup Nayla terlalu sempurna, hingga suatu ketika celotehan putrinya, Cahaya, mampu meruntuhkan kesempurnaan hidupnya. Sanggupkah Nayla menghadapi semuanya dengan ikhlas dan tegar?”