icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku

Bab 2 Curiga

Jumlah Kata:1485    |    Dirilis Pada: 23/12/2021

TEH

A

pa aku tidur seperti orang yang tak sadarkan diri,

nakas yang berada di samping tempat tidurku. Aku menca

ebih suka tidur dan beristirahat tanpa dikejar waktu, mungkin sifat

bergegas melihat barisan empat a

dengan alam bawah sadar hingga bangun kesiangan

aku tak sadar sama sekali, bahkan kepulangan Mas Frengk

tidurku, duduk di tepi r

rih, sudah mendingan lah

kuran king size ber sprei motif abs

pintu membuatku mengernyitkan kening. Sebuah memo singkat dari M

embangunkan. Oh, ya, tadi aku udah minta tolong ke Rosa untuk buatkan kamu sayur bening, pepes ikan kutuk, tak lupa 5 biji putih telur ayam rebus. Dimakan semua, y

da-ada saja. Seharusnya lewat pesan di ponsel saja bisa, tak perlu lagi rep

kemarin aku berencana akan memantau

ah di bibirku berga

u, lalu membuangnya ke tempat sampah yan

ya kering, aku butuh air putih dan sedikit buah untuk menyeg

emang aku akui, sebagai seorang wanita yang normal terkadang terbersit rasa isi muncul dari dalam diriku. Melihat Rosa yang mempunyai tubuh langsing, tinggi sema

a disulam seperti selebgram kekinian, bulu matanya pun dieyelash. Semakin

n sayur ke dalam air yang mendidih. Ia masih belum

aian yang ia ke

t dengan panjang hanya sekitar lima senti dari pangkal paha. Bahkan saat ia jon

arinya sekarang? Bukankah dulu awal-awal datang pakaiannya tak jauh dari kaus gombrong kebesaran de

bentar lagi makanannya mateng. Rosa siapin, ya!" per

menanggapinya, ia

makan, sengaja aku ingin memp

a kok makin glowing?" tanyaku sem

ersih dan mulus, bahkan jika ada lalat yang tak sengaja hingg

g ada di instagram itu, loh, Mbak. Cuma c

reknya?" tanya

h aku lihat, Mbak. Pokoknya murah ko

akai yang abal-abal. Sayang 'kan kalau kulit wajah jadi rusak gara-gara pakai cream muraha

ingin tahu re

k," sahut

usi asisten yang satu ini. Lebih baik aku fokus untuk pembukaan butikku nantin

ngalihkan perhatian, aku tahu dia mungkin ta

are ayam. Lahap banget makannya, nasi sepirin

Ros. Jangan beri Cahaya makanan instan terlalu sering. Coba unt

n harga yang cukup merogoh kocek untuk pertumbuhan putriku satu-satunya saat in

biarkan dia menentukan seleranya, Mbak. Yang penting

ia berani membantah dan berbicara deng

lau suatu hari nanti ada hal yang tidak diinginkan gara-gara ulahmu ini yang sering memberikannya makanan instan, apa kamu mau tanggung jaw

ku, aku sudah cukup trauma akan kehilangan Pelangi beberapa waktu lalu, dan aku

diinginkan itu yang bagaimana? Mbak trauma akan Pelangi? Aku belum pernah denger tuh, Mbak, anak kecil mati gara-gara

ara Rosa hari ini. Tak biasanya wanita yang selama i

jak?" tanyaku de

ta maaf banget, deh, udah ngerusak mood Mbak Nayla," ujarnya dengan seny

" ujarku seraya beranjak dari kursi, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk members

, loh, buat Mbak Nayla, seriusan!" kata Rosa yang tak la

kulot berwarna putih, tak lupa memakai wedges dengan tinggi lima sentimeter. Kusapu wajahku dengan polesan makeu

cermin, ingin memastikan

unkannya untuk sekedar pamitan. Setelah mengecup dahi dan membelai rambutnya sekilas, aku beranjak pergi memacu honda jazz berwarna kun

ah payah, mengorbankan keringat dan tenaga sepenuh hati

paku sambil tersenyum. Aku bergegas naik k

caya, aku berniat bersantai sejenak. Menikmati secangk

anku saat ini. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri bisa menikmati semuanya di usiaku saat ini. Memiliki karir ya

a tidak, munafik jik

*

e

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
“"Cahaya tahu di kamar Ayah sama Tante ngapain?" cecarku menanti kepastian. "Nggak tahu, Bunda. Cuma Cahaya pernah lihat Tante Rosa nggak pake baju, terus Ayah naik ke atas Tante. Pas Aya masuk dan tanya, Ayah cuma bilang mau ngobatin Tante. Aya nggak boleh masuk kata Ayah, terus dikunci deh pintunya dari dalem," kata Cahaya dengan polosnya. * Hidup Nayla terlalu sempurna, hingga suatu ketika celotehan putrinya, Cahaya, mampu meruntuhkan kesempurnaan hidupnya. Sanggupkah Nayla menghadapi semuanya dengan ikhlas dan tegar?”