icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Lebih Baik Kita Berpisah

Bab 3 Pagi Yang Dramatis

Jumlah Kata:1434    |    Dirilis Pada: 16/12/2021

yang menutupi tubuhnya sampai ke arah leher. Ding

lan Bayu sambil menggoyang-goyangkan ujung kakinya. So

a, Bang. Tulangku r

g menutupi tubuhnya seraya meluruskan kedua

salat, tidu

ju koko dan sarungnya. Air wudhu

a Ranti seraya bangun dari tempat tidur. Mendudukka

ranya dingin banget. Dari tadi Abang bangunkan. Adek tidurnya pulas

bakkan anak rambut yang menutup sebagian waj

Bang. Abang mau jadi suami solehah? Udah ...

stri ca

elangkahkan kaki keluar kamar.

wajibnya. Menghadap Allah sebagai bentuk kepatuhan umat-Nya. Salam mengakhir

asih mengantuk. Abang mau jalan-jalan

alaupun kerja?" tanya Ranti seraya

ga kebugaran tubuh. Paling juga setengah ja

lipat kembali sajadah yang telah mereka gunak

ikut, Bang?"

t mendengar perta

k capek. Kalau memang masi

ntinya dengan setelan celana pendek d

l daerah sini, Bang. Lagi pula sambi

mereka akan melakukan langsung melakukan cek rumah kontrakan. Jika ada yang cocok, mereka akan langsung p

an saja, Dek. Abang tunggu di depan," uja

erwarna biru Dongker sebagai setelan olahraganya. Tak lupa,

ur yang bersebelahan dengan kamar mandi yang menyala. Tamp

r rumah. Tampak sang suami sedan

lan, Bang? Tak pa

habis salat Subuh juga emang tiduran lagi.

an saklar lampu penghubung aliran list

irup udara yang bersih. Aroma tanah yang belum tersentuh debu. Wangi melati yang kebetulan ditanam

i terasa damai. Sesekali Bayu menyapa orang-orang yang berpapasan den

terhenti saat melewati warung yang sepe

Baru data

diri. Tak lupa, senyum manis tersungging di bibirnya. Lesung pipit yang memb

Pintar kau me

melemparkan senyu

Kami lanjut jalan ya Bik! Semoga

Bik Yani saat Bayu dan Rant

sa di warung Bik Yani, Dek. Kamu belan

nya menganggukkan kepa

arung Mang Yadi. Banyak menu di sana. Adek bis

itu langit dijunjung. Paling tidak Ranti dimudahkan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di daerah suaminya. Kebiasaan, cara bertutur sa

cahaya matahari mulai menampakkan pendarnya, walau terlihat masih malu. Orang yang berlalu-lalang pun mulai ramai. Kendaraan

jalan. Sepeda motor tampak

g Yudi, Dek. Ki

Ranti, menyebrangi jalan

ka sukai. Ranti hanya mengenal beberapa jenis jajanan yang memang juga ada di daera

dah plastik ini. Nanti kalau sudah selesai, baru dik

aminya. Berbeda dengan kebiasaan belanja di kampungnya. Cukup menyeb

jarang sekali sarapan dengan nasi. Cukup dengan kue dan goren

encoba," ujar Bayu seraya menunjukkan sebuah wadah plastik berisi tumpu

, Bang. Aku

sempat terhenti. Memilih kue-kue unik

tergolong lambat karena keduanya mencoba menikmati pagi dengan suasana yang berbeda hari in

ka melangkah kembali ke rumah. Hanya ada Bapak yang sedang

ak," sap

belikan kue u

anan yang mereka bawa di meja keci

piring s

nti segera bergegas masuk ke r

k membersihkan rumah, mencuci piring eh anggota keluarga b

engar ucapan Nina, sang ipar. Jelas sek

Kakak jalan pagi. Sekalian lihat suasana kampung di

ti Ranti. Tadi pagi saat meninggalkan r

mu di rumah ini. Tamu kan tidak

h ini, Ranti akan menjawab perkataan iparnya itu. Tapi demi r

menyelesaikan pekerjaan rumah. Kita tetap seperti biasanya, dengan pekerjaan rutin kita. Tak perlu kita mengharap Ranti membantu pekerjaan r

henti menyuplai kebutuhan untuk paru-parunya. Tubuhnya gemetar, menahan emosi yan

aki di rumah ini cukup menjelaskan segalanya. Pagi yang tadinya dirasa indah oleh Ranti mendadak terasa ba

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Lebih Baik Kita Berpisah
Lebih Baik Kita Berpisah
“Ranti memilih melepaskan orang yang dicintainya. Bukan karena sosok wanita lain yang hadir dalam rumah tangganya. Namun lebih pada kenyataan, kehadirannya tak akan pernah bisa diterima oleh keluarga suaminya itu. Semua pengorbanan yang telah dilakukannya untuk keluarga itu seolah tak pernah ada. Padahal, semua yang diperolehnya merupakan hasil perjuangan dan kerja kerasnya. Bahkan yang lebih menyakitkan, dia dituduh telah mengguna-gunai suaminya. Padahal selama ini, keluarga sang suami tak pernah ada saat mereka sedang terpuruk dalam luka. Bagaimana lika-liku kehidupan yang harus dijalani Ranti selama ini? Apakah melepaskan laki-laki yang telah memberinya enam orang anak itu merupakan keputusan yang tepat dalam hidupnya?”
1 Bab 1 Keputusan2 Bab 2 Rumah Mertua3 Bab 3 Pagi Yang Dramatis4 Bab 4 Fitnah5 Bab 5 Dari Titik Nol6 Bab 6 Selamanya Dia Tetap Anakmu7 Bab 7 Pertemuan Tak Terduga8 Bab 8 Kakak Ipar9 Bab 9 Tetangga Depan Rumah10 Bab 10 Status WA11 Bab 11 Perang Status12 Bab 12 Mencoba Melangkah13 Bab 13 Roti Perkenalan14 Bab 14 Kunjungan Pertama15 Bab 15 Pengakuan Nina16 Bab 16 Gajian17 Bab 17 Praduga Yang Salah18 Bab 18 Tanda Bakti19 Bab 19 Ipar Nyinyir20 Bab 20 Positif21 Bab 21 Tamu Jauh22 Bab 22 Besan Oh Besan23 Bab 23 Mertua Tak Ada Akhlak24 Bab 24 Pengunjung Kios25 Bab 25 Niat Yang Salah26 Bab 26 Melahirkan Anak Pertama27 Bab 27 Tamu di Pagi Hari28 Bab 28 Mertua Oh Mertua29 Bab 29 Amanah Baru30 Bab 30 Rumah Baru31 Bab 31 Jangan Hitung Uangku32 Bab 32 Hamil Lagi 33 Bab 33 Berita Duka34 Bab 34 Lamaran35 Bab 35 Rencana Pernikahan