icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)

Bab 3 Kemarahan Revan Pada Adhyatsa

Jumlah Kata:1060    |    Dirilis Pada: 24/11/2023

a oleh Anda dengan sesuka hati. Urusan kita sampai di sini. Terima kasih atas kedatangan Anda,"

semacamnya. Ia sudah bisa menebak ketika perusahaan ini menolak kerja sama dengan Cak

pribadi. Tak jarang menekan perusahaan kecil agar tunduk di bawahnya.

wakan kopi untuk bos-nya yang kini sangat terte

ilakan keluar," jawab Revan tanpa

n pada ponselnya. Salah satunya dari Mayang. Hatinya belum sanggup untuk kemb

anya luar biasa besar untuk sosok gadis cantik itu. Mayang segalanya bagi Revan.

cananya akhir tahun ini akan melamar Mayang pada keluarganya. Simpel dan bukan r

ita. Tentu saat ini kita masih bahagia dan bisa b

gan pekerjaannya. Berkutat dengan semua lembaran kertas yang harus diteliti dan ditandatangi.

lang duluan," pamit

cara saat ini. Banyak masalah yang harus secepatnya disele

dari ruangan dan masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai satu, setelah sebelumnya mengunci lemari berankas beri

angan sang cucu. "Kamu berani menolak tawaran kerja sam

kebangrutan. Rupanya begitulah bodohnya karen mau diperdaya dan dimanfaatkan oleh or

k berguna! Sama seperti Bundamu itu!" Ucapan Adhyatsa rupanya membuat Revan sangat ma

odoh, jangan pernah mengatakan Bundaku tidak berguna!" Revan mencekal ker

kamar karena mendengar suara anaknya. Sudah bisa dipastikan anak semata wayangnya sedang marah saat ini.

tahu apa yang membuat Revan sangat marah malam ini. Murni berusaha mendekat dan melera

a masalahnya. Jangan gunakan kekerasan yang menuruti ha

atsa hampir saja kehabisan napas karena ulah Revan. Laki-laki tujuh puluh tahunan

ka isi kepalanya hanya emosi dan kekerasan. Babu otaknya kosong,

dari semua masalah yang tercipta. Awas saja jika suatu saat Revan menemukan tentang kebenaran siapa dalang dibali

k kakek tua yang sombong itu. Tidak hanya itu, setelah ini Revan akan mengajak sang Bunda pindah dari rumah terkutuk ini. T

mendengar ucapan Bunda. Jika beliau tidak menasihatiku, aku akan

Kilat mata itu sama persis dengan mendiang Panji saat marah. Wajah Revan sama persis dengan put

hari-hari. Akhir pekan ini rencananya akan menemui Mayang. Mengakhi

mat malam. Jam di dinding menunjuk angka sembilan tepat. Ingin langsung ke Bandung,

tara perusahaan dan cintanya; harus memilih salah satu. Bunda Revan bukan belum mengenal sosok Mayang, beli

lu," pamit Hardi yang merasa peke

n menjawab deng

sakan dari Perusahaan Cakra Buana luar biasa besar. Mereka mengancam akan membuat perus

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)
Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)
“Tubuh Ara gemetar sangat hebat saat kata talak keluar begitu saja dari mulut Revan, suaminya. Mata laki-laki itu memerah sempurna saat ini. Menandakan amarahnya belum kunjung reda. Pertengkaran mereka dipicu kesalahpahaman dan Revan tidak mau mendengar penjelasan Ara terlebih dahulu. "Kamu! Meskipun kaya dan cantik, aku tidak akan sudi menyentuh wanita hina sepertimu. Talak adalah cara terbaik agar aku dijauhkan dari manusia jahat sepertimu! Kamu pasti iri dengan kehamilan Mayang 'kan? Kamu juga iri karena aku belum pernah menyentuhmu sama sekali selama kita menikah!" Revan sangat marah saat ini. "Ma-mas ... itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Dengarkanlah penjelasan aku. Aku sama sekali tidak tahu tentang obat itu!" Ara menjerit penuh kesakitan saat mengatakan pada Revan. Semua terjadi begitu saja. Mayang kini terbaring di rumah sakit karena pendarahan hebat. Ara sama sekali tidak tahu dengan obat yang ditemukan di kamar miliknya oleh Revan. Ia bahkan sama sekali belum pernah melihatnya. Botol obat itu sangat asing baginya. "Aku akan mengurus perceraian ini. Aku tidak lagi peduli jika keluargamu mengambil saham dan menarik semua kerja sama itu. Yang pasti kamu akan berurusan dengan polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Rasa iri dan dengki kamu membuat kamu lupa diri. Aku semakin tidak bisa menerima kehadiranmu saat ini. Kamu tahu, Mayang lebih baik dari kamu. Dia yang selalu8 memintaku untuk bersama kamu. Aku jijik saat bersamamu, hanya demi melihat senyum di wajahnya aku terpaksa setuju. Jangan dulu besar kepala saat aku berusaha bersama denganmu!" Revan menyakiti hati Ara dengan kejam. Ara terhuyung ke belakang. Tubuhnya hampir saja roboh jika Bik Ijah tidak membantunya berdiri. Air mata itu terus mengalir deras pada pipi mulusnya. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika Revan mengatakan hal sangat menyakiti hatinya saat ini. Pengorbanannya hanyalah sia-sia saat ini. Lalu, siapakah dalang dibalik keguguran yang dialami oleh Mayang? Akankah Ara kembali memaafkan Revan setelah tahu fakta yang sebenarnya terjadi? Bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka bertiga setelah fakta dan kebenaran itu mendadak muncul?”