icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cinta di Daun Semanggi

Bab 9 Kepergian Ayah

Jumlah Kata:1120    |    Dirilis Pada: 16/06/2023

iri. Beliau tergeletak di depan pintu kamarnya, di samping kursi rodanya yang masih berdiri kokoh. Sindi memeluk tubuh ayahnya dan beru

s Sindi semakin menjadi-jadi dan histeris ketika dia menyentuh urat nadi ayahnya yang sudah tidak berdenyut lagi. Tangisannya tentu mengundang keha

aat ini. Mereka tampak selalu berada di samping Sindi selama pengurusan jenazah ayah Sindi. Sindi benar-benar tinggal seorang diri sekarang. Dulu almarhumah Ibunya merupakan anak tunggal

skan untuk menghubungi Bu Rina. Tanpa menunggu jawaban te

ndi, ad

h Saya baru s

nna ilaihi rojiuu

udah ngga sadar Bu. Saya j

ngga bisa datang ke rumah kamu sekarang, saat ini Saya dan Pak Alex dalam perjalanan

makasih

enyampaikan rasa bela sungkawanya. Namun setelah mencoba menghubungi beberapa kali, ponsel Pak Ronald ternyata tidak aktif. Bu Rina tidak mungkin menghubun

ke rumah Sindi. Setiba mereka disana, mereka langsung menemui Sindi dan bersalaman satu per satu dengan Sindi. Sindi tidak kuasa menahan air matanya, dia kembali menang

i sudah terlalu larut maka jenazah ayah Sindi baru akan dimakamkan keesokan paginya. Lantas semalaman ini Sindi ditemani

rlalu jauh dari rumah mereka. Proses pemakaman telah berjalan dengan sangat lancar hingga selesai berkat bantuan s

anya lagi. Sindi yakin akan baik-baik saja, dia hanya perlu belajar agar terbiasa sendirian tinggal di rumah. Rumah yang telah ditempatinya sejak lahir, yang

semalaman. Kepalanya juga terasa sangat berat karena dia terus menangis sepanja

erihal yang terjadi pada Sindi melalui Silvi

a mati. Pagi tadi Saya baru baca pesann

Setahu Saya yang berangkat kesana si Dita, Mimi, Aris

angguk seraya beranjak perg

iri Dita untuk memin

buk

kegiatan mengetiknya sejenak untuk menan

minta nomor

ja kerjanya sebelah kiri. Dita langsung menuju ke daftar kontak dalam ponselnya.

. Makasi

ikir macam-macam tentang Pak Ronald yang baru saja meminta nomor ponsel Sindi darinya.

ngat di tangannya. Dia menjatuhkan diri di kursi kerjanya, serta gelas kopi itu diletakkannya di atas meja kerja sebelah kanannya. Dia terdiam se

menghubungi Sindi. Beberapa saat dia berpikir, akan langsung menelpon atau h

s kepergian ayah kamu. Semoga kamu selalu diber

isi ponselnya. Masih dalam posisi memeluk guling di atas ranjang, dia membaca pesan dari Pak Ronald. Entah kena

asih ya Pak.",

sudah dapat bertukar pesan dengan Sindi. Dia menganggap pesan tadi sebagai awal baginya untuk dapat terus menghub

ai office girl di kantor itu. Sindi tetap gigih dan selalu bersemangat dalam menjalani segala aktivitasnya sehari-hari. Mes

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta di Daun Semanggi
Cinta di Daun Semanggi
“Sindi tak mampu lagi menggunakan logika berpikirnya yang sehat, seolah tidak peduli dengan status Pak Ronald yang telah beristri, Sindi terhanyut dalam perasaannya sendiri terhadap Pak Ronald. Sindi dan Pak Ronald pun selalu bersama menikmati hari-hari indah yang mereka jalani selama tiga tahun lamanya. Sampai suatu ketika Sindi mengandung anak hasil hubungan terlarangnya dengan Pak Ronald. Nasi telah menjadi bubur, tak ada yang bisa disalahkan atas semua yang telah terjadi diantara keduanya. Masih sanggupkah Sindi seorang diri melewati hari-hari terberatnya dalam hidup setelah berkali-kali dirinya mengalami kehilangan akan orang-orang yang begitu berarti dalam hidupnya?”
1 Bab 1 Tentang Sindi2 Bab 2 Pekerjaan Baru3 Bab 3 Perkenalan4 Bab 4 Makan Siang Hari Pertama5 Bab 5 Semangat Baru6 Bab 6 Pak Ronald7 Bab 7 Rasa yang Berbeda8 Bab 8 Kekhawatiran Bu Rina9 Bab 9 Kepergian Ayah10 Bab 10 Hujan Siang Itu11 Bab 11 Untuk Pertama Kalinya12 Bab 12 Berkenalan dengan Rita13 Bab 13 Terbayang Dirinya Selalu14 Bab 14 Makan Siang dengan Vera15 Bab 15 Sindi di Mata Ronald16 Bab 16 Kehadiran Sofi17 Bab 17 Cerita Silvi18 Bab 18 Terasa Abu-abu19 Bab 19 Kado Ulang Tahun20 Bab 20 Hari Berganti21 Bab 21 Ulang Tahun Janis22 Bab 22 Mengobrol dengan Dita23 Bab 23 Makan Malam Bersama24 Bab 24 Sabtu di Taman Kota25 Bab 25 Tiga Tahun Sudah26 Bab 26 Hamil27 Bab 27 Semua Telah Berubah28 Bab 28 Mengundurkan Diri29 Bab 29 Tempat Tinggal Baru30 Bab 30 Bekerja Lagi31 Bab 31 Bertemu Rita32 Bab 32 Paman dan Bibi Sindi33 Bab 33 Penyesalan Ronald 34 Bab 34 Melahirkan35 Bab 35 Abi Sudah Besar36 Bab 36 Ronald Kecelakaan37 Bab 37 Kedatangan Sindi38 Bab 38 Selamanya Cinta