“Sindi tak mampu lagi menggunakan logika berpikirnya yang sehat, seolah tidak peduli dengan status Pak Ronald yang telah beristri, Sindi terhanyut dalam perasaannya sendiri terhadap Pak Ronald. Sindi dan Pak Ronald pun selalu bersama menikmati hari-hari indah yang mereka jalani selama tiga tahun lamanya. Sampai suatu ketika Sindi mengandung anak hasil hubungan terlarangnya dengan Pak Ronald. Nasi telah menjadi bubur, tak ada yang bisa disalahkan atas semua yang telah terjadi diantara keduanya. Masih sanggupkah Sindi seorang diri melewati hari-hari terberatnya dalam hidup setelah berkali-kali dirinya mengalami kehilangan akan orang-orang yang begitu berarti dalam hidupnya?”