I Hate Birthday Party

I Hate Birthday Party

Kuki Kukies

5.0
Komentar
1.1K
Penayangan
25
Bab

"Aku ingin mencoba seperti apa layanan dari pelacur yang sudah kubayar 3 kali lipat," ujar pemuda tampan itu dengan ekspresi datar tanpa emosi. Gadis yang menjadi sasaran pembicara hanya berjalan mendekatinya mengelus kejantanan pemuda itu dari luar celana dan menciumi bagian bawah perutnya. Dia berusaha untuk membuat kejantanan pemuda itu mengeras dengan mempermainkan bagian kepalanya. Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Tidak ada tanda-tanda benda itu akan bangkit. "Hah! Seperti inikah sentuhan pelacur mahal itu? Aku bahkan tidak bergairah sama sekali!" maki pemuda itu. Tatapannya tajam menatap gadis di hadapannya. Umur mereka hampir sama hanya berbeda beberapa bulan saja. Mereka bahkan berada di sekolah yang sama. "Hentikan permainanmu! Aku muak berada disini!" Dia mendorong tubuh kecil gadis itu dan keluar dari kamar hotel yang sudah di bayar mahal. "Kalau kamu tidak mau tidur denganku, kenapa kamu harus membayarku sebanyak itu?" gumam gadis itu dengan suara pelan. Ekspresinya menampakkan kesedihan yang mendalam. Rasa hancur dari kehidupannya jelas terlihat dari sana. Dia bahkan seperti boneka yang tidak layak hidup lagi. *** "Aku akan mengeluarkanmu dari sana! Tunggu dan lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Tiara!"

Bab 1 Gadis Pelacur

"Ahhhhh ... Sebentar lagi ..." Desahan dari seorang pria berumur akhir 30-an terdengar di kamar hotel mewah itu.

Tubuhnya bergerak maju mundur dengan cepat di atas seorang gadis muda yang sedang membuka kedua kakinya lebar-lebar. Hanya desahan pelan yang bisa dia keluarkan. Tanda merah sudah memenuhi tubuh bagian atasnya terutama leher dan di dekat buah dadanya.

"Ahh, mendesahlah lagi Baby!!!" perintah pria tua itu.

"Akhhh ... Lebih kerashh Dadhh ..." Gadis itu menurut. Tangannya meremas seprei di bawahnya erat-erat.

Tidak lama, desahan panjang terdengar. Rasa hangat terasa di bagian dalam gadis itu. Semuanya selesai dan mereka sudah menghabiskan 3 putaran malam ini.

Pria itu membuang bekas kondom ke tempat sampah dan segera memakai bajunya lagi.

"Kau selalu hebat seperti biasanya, bocah!" ucapnya sambil menyeringai senang.

Sedangkan gadis yang sudah digempur habis-habisan hanya bisa tergeletak lemas dengan tubuh telanjang yang tidak ditutup sekalipun dengan selimut.

"Ini bayaranmu malam ini! Kalau kau butuh bantuan, kau boleh menelponku kapan saja," ujarnya sebelum memberi kecupan ringan di dahi gadis itu dan pergi meninggalkannya dengan uang cash berjuta-juta di samping tubuhnya.

Gadis itu menyeringai tipis sebelum terdengar kekehan pelan tapi kedengarannya seperti tangisan tak terdengar dari gadis itu. Dia sedang meratapi nasibnya yang semakin buruk saja rasanya. Badannya sakit semua tapi dia tetap berusaha untuk duduk, mengambil uang bayarannya dan mulai membersihkan dirinya sendiri.

Di pagi hari, dia harus pergi ke sekolah. Seragam sekolahnya dia kancingkan sampai menutupi lehernya yang berbercak-bercak merah. Hari ini dia memakai stoking hitam dibalik rok pendek sekolahnya.

Tiara Kehl. Nama yang cantik, bukan? Sayangnya kehidupannya tidak secantik namanya. Dia seorang pelacur di usianya yang masih begitu belia. Dan semua orang di sekolahnya sudah tahu itu. Tiara tidak bisa tidak menerimanya, karena itu semua memang fakta. Kenapa dia harus repot-repot mengurusi mereka yang berbicara tentang kebenaran dari kehidupannya. Dan anehnya, pihak sekolah tidak menendang keluar Tiara seolah mereka akan tetap menutup mata kalau tidak ada foto tidak senonoh yang tersebar.

Dan Tiara tidak akan keluar dari sekolah kalau ia tidak ditendang duluan. Alasannya karena dia sudah berjanji untuk lulus SMA pada adik tercintanya. Padahal, adiknya tidak tahu seberapa banyak hal yang sudah dikorbankan kakaknya.

Rasa sakit saat membayangkan adiknya tahu apa pekerjaan yang diambil Tiara untuk membiayai hidup mereka. Tiara mungkin akan memutuskan bunuh diri kalau keluarganya sampai tahu dia menjadi pelacur. Dia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya adiknya saat itu terbongkar.

Tapi tidak ada pilihan lagi yang bisa diambil Tiara sampai akhirnya dia mengambil jalan ini. Memangnya siapa yang mau mempekerjakan seorang anak SMA dengan gaji UMR? Ahh, bahkan dengan gaji UMR saja dia tidak bisa membiayai keluarganya. Semuanya akan habis dalams atu hari saja. Belum lagi biaya sekolah swasta adiknya yang mengharuskan dia masuk asrama. Lalu membayar hutang ayahnya dan membayar biaya rumah sakit. Semua tidak cukup dengan uang 3 juta.

Kaki ramping itu mulai memasuki kawasan sekolahnya. Ejekan dan makian dia dengar bahkan jauh sebelum dia memasuki kawasan sekolah.

"Ihh jijik banget harus satu sekolah sama pelacur!" gumaman datang dari sepenjuru sekolah yang melihat kedatangan Tiara.

"Kenapa sih sekolah tidak menendang cewek menjijikkan ini?"

"Gak tau, sampah masyarakat ini membuatku mau muntah!"

"Gak tau malu banget sih! Tubuhnya sudah kotor kayak gitu masih mau sekolah! Menjijikan!"

Tiara menghela nafas panjang. Dia menulikan telinganya dan terus berjalan menuju kelasnya. Dia sudah terbiasa dengan ini.

"Tiara cantik!!!!" Suara heboh datang saat Tiara baru saja mendudukkan pantatnya di bankunya paling ujung. Seorang pemuda tampan hiperaktif datang memasuki kelas Tiara dan segera menduduki tempat duduk kosong di samping Tiara. Bibirnya tersenyum lebar dengan mata berbinar cerah menatap Tiara. Namun mata itu berubah sendi saat melihat bercak merah yang sedikit terlihat dari leher Tiara.

Tiara tidak memperdulikan pemuda itu dan memilih menatap keluar kelas. Dia heran kenapa pemuda itu selalu mengganggunya seperti ini padahal pemuda lain hanya akan mengejek dan menghina tubuhnya. Tapi pemuda ini? Berapa kalipun Tiara mengusirnya, dia tetap mengikutinya.

"Menjauhlah!" gumam Tiara tanpa mau menatap pemuda iu, tapi dia cukup yakin banyak dari mereka yang menatap Tiara tajam penuh dendam. Karena siapa dia sampai pemuda paling tampan di sekolah mengejar-ngejar pelacur sepertinya?

Pemuda itu mengerucutkan bibirnya sebelum melirik meja yang penuh dengan kata-kata kasar membuat pemuda itu mendongak menatap penghuni kelas.

"Siapa yang mencoret-coret bangku, Tiara? Ini sudah termasuk merusak properti sekolah! Siapa yang coret-coret?!" Dia berteriak memarahi penghuni kelas Tiara. Dan mereka hanya bisa diam sambil berbisik-bisik pelan.

"Aku akan mengganti mejanya," putus pemuda itu.

"Jangan pedulikan aku dan pergilah dari hadapanku," ucap Tiara lagi bersamaan dengan suara bel masuk yang berdentang kencang.

"Baiklah, aku akan kembali lagi nanti, sampai jumpa Cantik!" Pemuda itu melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas.

Detik selanjutnya, para gadis yang mengagumi pemuda itu mendatanginya dengan wajah garang.

"Jadi sekarang kamu menggoda Daniel?!" bentak gadis bernama Lisa yang berada satu kelas dengannya.

"Aku tidak menggoda siapapun," jawab Tiara dengan datar tanpa emosi.

"Hah! Sejak kapan pelacur mengaku tidak menggoda siapa-siapa?! Kita semua tahu kalau kamu mengincar pria beruang banyak. Dan Daniel adalah anak dari pengusaha terkaya!"

Tiara mengepalkan tangannya. Dihina seperti ini rasanya sakit sekali. Tapi karena sudah terbiasa mendengarnya, Tiara bisa mengendalikan emosinya.

"Aku tidak menggodanya. Dan kalau perlu, tolong suruh dia untuk menjauh dariku. Itu akan membuat kalian tenang, bukan?" balas Tiara lagi.

"Brengsek! Pelacur ini tidak tau diri!" umpat Lisa.

Saat gadis itu hendak mengangkat tangan dan menampar Tiara, dia segera berkata, "Jangan repot-repot memukulku atau tangan kalian mungkin akan ikut kotor." Suara yang keluar benar-benar dingin dan tajam. Ekspresinya bahkan tidak berubah sejak awal dia masuk ke kelas.

"Ihh, menjijikkan," balas temannya yang lain.

"Seharusnya aku menyuruh pembunuh bayaran saja untuk membunuhnya!" umpat Lisa sebelum berbalik dan kembali ke tempat duduknya.

'Itu mungkin lebih baik untukku,' balas Tiara di dalam hati.

***

"Darimana saja kamu?" Seorang pemuda tampan keturunan Eropa bertanya saat temannya datang dengan wajah tertekuk.

Daniel yang baru datang menatap teman-temannya lesa. Kakinya melangkah memasuki ruangan khusus yang mereka ciptakan untuk nongkrong bersama. Letak tempat itu berada di belakang sekolah dekat gudang. Ini tempat untuk anak-anak kaya seperti mereka. Ada tiga pemuda dan dua gadis. Mereka berpasangan satu sama lain, kecuali Daniel yang masih sendiri.

"Mungkin dia habis mengganggu pelacur itu lagi," balas pemuda lain yang duduk dengan buku di hadapannya.

"Jaga mulutmu, Damian!" Daniel segera menungkas perkataan kasar temannya. Dia menatap tidak suka temannya.

"Apa yang salah, Daniel? Bukankah itu memang fakta?" heran pemuda yang pertama kali menyapa.

"Dia bukan wanita yang seperti itu, Kevin!" bantah Daniel lagi.

"Kenapa kau begitu yakin, Daniel?" Teman-temannya mengerutkan kening melihat sikap Daniel yang seperti terobsesi pada gadis itu.

"Karena–" Daniel menghentikan perkataannya. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

"Kau berubah, Daniel. Kenapa dia begitu penting bagimu?" Seorang gadis yang sedang dirangkul Kevin bertanya.

"Dia penting bagiku, kalian hanya tidak mengerti posisinya saat ini," ujar Daniel sebelum dia memutuskan untuk keluar ruangan meninggalkan teman-temannya.

"Kenapa dia harus menyukai gadis sialan itu?" umpat Kevin.

"Dia jadi jarang nongkrong sama kita," balas Damian.

"Aku harus memberi gadis itu pelajaran! Lihat saja!"

~2 Be Con~

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Kuki Kukies

Selebihnya

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku