Marriage Express

Marriage Express

JasAlice

5.0
Komentar
1.1K
Penayangan
36
Bab

Indira Aubrey harus banyak-banyak bersabar ketika dirinya dipaksa menikah, lalu harus tinggal bersama Om Mesum; Liam Ogawa. Pria keturunan Jepang - Indonesia itu tidak pantang menyerah mengusik kehidupannya. Seharusnya, ia bisa menerima ketika orang-orang disekitarnya mengatakan perempuan itu beruntung dipilih untuk menjadi bagian Keluarga Ogawa. Nyatanya, ia pusing tujuh keliling, harus tinggal satu atap dan beradaptasi diusia mudanya untuk menikah dan menjadikan Liam sebagai suaminya. Ia tidak akan pernah mengakui pria itu di hadapan temannya dan akan selalu membencinya. Tapi, bukankah terkadang cinta datang di saat yang tidak tepat? Lalu, bagaimana ketika Liam menyerah, tidak peduli lagi dengan kehadiran Indira di hidupnya? Bagaimana juga ketika Indira menyesali semuanya?

Marriage Express Bab 1 Dasar Om Mesum!

"Berengsek! Berani-beraninya lo sentuh gue!"

Satu tamparan dilayangkan Indira pada Gio. Playboy di sekolah Indira yang sudah mengambil kesempatan untuk meremas salah satu bagian tubuhnya yang menggoda di bawah pinggul.

Dirinya terlalu larut dalam hentakan musik di klub. Bahkan, ingar bingar tadi yang sempat mememakakan telinga, kini berhenti dan dirinya bersama pria berengsek itu mulai menjadi objek pandangan mereka semua.

Tidak sedikit dari para pria di sekitar mereka mulai mengolok Gio yang masih memegang pipi kanannya setelah mendapatkan tamparan keras dari perempuan bertubuh semampai dengan rambut sedikit ikalnya. Bola mata dengan manik hitam itu terlalu menggoda pria lain untuk menatapnya lebih lama dan berfantasi liar saat pandangan mereka semakin turun menuju bibir ranum seksi itu.

Usianya masih terbilang muda, tapi sudah mampu menarik perhatian pria sepertinya. Tubuh indah dengan tinggi 168 senti. Cukup ideal bagi perempuan Asia.

"Aduh, bro ... sakit, ya?" ejek salah satu suara yang sudah membuat Indira dan Gio berada dalam satu lingkaran. Menjadi tontonan gratis untuk mereka.

Gio mengetatkan rahangnya saat semakin banyak para pria mengejek dirinya dan merangkum dalam satu suara jika dirinya terlalu mudah dipermalukan oleh seorang perempuan.

"Dia udah apain lo, Ra?!" panik Naomi, perempuan mungil itu mendekati sahabatnya yang masih menatap tajam Gio yang memandangnya lekat, masih memegang pipi.

Indira menunjuk dengan tatapan tajam pada Gio, mengarah pada wajah pria playboy itu dan mengatakan, "Dia sudah berani sentuh tubuh gue. Mengambil kesempatan dalam kesempitan saat kita terlalu asik mengikuti suara musik dari dj," ungkapnya.

Kemudian, tanpa diduga, Indira melayangkan tamparan di pipi lainnya yang langsung membuat mereka semua terperangah.

"Itu karena lo menganggap mudah perempuan lain bisa terangsang sama lo! Tapi nggak akan pernah berlaku buat gue, berengsek!"

Penutupnya, Indira sudah menginjak kaki Gio membuat pria itu semakin merintih sakit dan tidak bisa berbuat apa pun. Ia mengepalkan tangannya melihat Indira berlalu, izin pada sahabatnya ke arah toilet.

'Lo pikir diri lo siapa sampai bisa mempermalukan gue, ha? Mari kita lihat apa yang bisa lo lakukan saat nggak ada satupun orang yang bisa menonton aksi gue untuk bersikap tidak senonoh pada lo, Indira Aubrey.'

Senyum licik terpatri di wajah Gio Daniel. Pria bertubuh tinggi, pemain basket dan menjabat sebagai Kapten tapi memiliki sikap bad boy dan sangat sering berganti kekasih. Sayangnya, Indira belum bisa ia taklukan. Perempuan itu sepertinya tidak pernah menargetkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Karena Indira pun terkenal sebagai playgirl.

Ia suka bergonta ganti kekasih.

Perempuan itu membasuh dengan perasaan kesal wajahnya. Menatap lamat-lamat cermin wastafel di toilet perempuan dan mengetatkan rahang saat bayangan dan sentuhan tangan nakal Gio bermain di sana.

Untung ia segera sadar. Dirinya memang sangat sensitif dengan sentuhan pria. Ia masih harus melindungi diri meskipun Indira sadar ia sering melanggar perintah orangtuanya yang terlalu memaksa dirinya untuk tinggal di rumah tanpa menjadi seorang perempuan pembangkang.

Ia meringis pelan. Menyesali dalam hati saat inilah perlakuan yang harus dirinya terima. Terutama pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya.

"Sebaiknya gue pulang lebih cepat atau orangtua gue bakal sadar anak gadisnya nggak ada di rumah," cetusnya sudah bergidik ngeri jika Mama tersayangkan akan 'meledak-ledak'.

"Dicubit aja sakit, apalagi dimaki," lanjutnya tidak sanggup mendapatkan rentetan nasehat sepanjang jalan tol.

Namun, saat ia sudah berjalan keluar toilet, ia menjerit dan tubuhnya di dorong kasar ke dinding. Ia meringis sakit dan nyaris merasa remuk. Tapi, saat matanya terbuka, ia membeliak, mendapati Gio sudah mengungkung tubuhnya.

"Halo, Cantik ..."

"Sudah puas mempermalukan gue yang terlihat nggak berkutik tadi? Puas menginjak harga diri gue?" seringainya pun semakin puas mendapati Indira berontak, melepaskan diri tapi ia sudah menekan tubuh bagian depan, menahan Indira agar tidak kabur.

Ia menahan kedua tangan Indira di sisi tubuh perempuan itu.

"Lepaskan tangan gue, berengsek! Seharusnya sudah cukup gue mempermalukan lo! Nggak usah diulang lagi atau lo bakal malu!" sungutnya menatap tajam Gio yang kini tersenyum penuh arti padanya.

"Lupa jika ingar bingar itu terlalu berisik di area depan? Sedangkan kita berada di koridor toilet yang sepi." Ia semakin suka melihat wajah pucat Indira.

"Gue mau membalaskan semua perlakuan lo pada gue, Sayang ... gue mau menuntut hak gue karena lo udah menampar kedua pipi gue hanya untuk hal sepele," jelasnya dan Indira menjerit saat wajah Gio sudah membenam di perpotongan leher jenjangnya.

"Menyingkir dari tubuh gue, bodoh! Gue nggak sudi disentuh sama lo!" pekik Indira meronta.

Ia berusaha menggerakkan tubuhnya agar bibir itu tidak terus menerus mengendus dan sialnya sudah mencium leher jenjang Indira. Ia ketakutan. Tangannya gemetar saat tidak bisa berkutik saat ada pria melakukan hal gila yang seperti Gio perbuat padanya.

Terutama kedua lututnya ditahan. Ia tidak bisa melakukan perlawanan.

"Akh!"

Tubuh Indira segera dibalik cepat dan kedua tangannya di piting, jadi satu di belakang punggung Indira.

Indira menangis. Kedua bawah pinggulnya kembali diremas, lebih kuat dan salah satu dadanya ikut menjadi pelampiasan pria itu dari belakang.

"Tolong ... siapa pun tolongin gue ..." tangisnya pecah.

Ia dilecehkan dan ini sudah sangat keterlaluan. Tubuhnya bergetar hebat mendengar tawa sumbang Gio. Ini sia-sia saja, sampai Indira tidak henti berteriak-mencoba menyamai suara dengan ingar bingar-yang nyatanya tidak berhasil.

"Cukup dengan kegilaanmu, Anak muda," cetus suara dan sebelum Gio terkesiap, begitupun dengan Indira yang masih menangis.

Indera pendengaran perempuan itu sudah diisi dengan suara pukulan bertubi-tubi. Gio mengerang kesakitan dan Indira berbalik ketakutan, mendapati Gio tersungkur, tidak bisa melawan tubuh yang lebih tinggi darinya, mencoba menjadi penyelamat bagi Indira Aubrey.

Pria berkulit putih dengan persentase tiga puluh persen menuruni keturunan Jepang itu menegakkan tubuhnya. Ia membersihkan kedua tangan dan menatap dengan senyum remeh pada anak muda yang tidak bisa menyamai kekutannya.

"Jika kamu berani, hadapi pria seusiamu atau pria yang memiliki kekuatan sama, bukan untuk menyakiti perempuan lemah," ungkapnya sambil melepaskan jas hitamnya.

Indira terkesiap. Pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh proporsional, tidak berotot besar, tapi sangat tampan itu sudah menyampirkan jas miliknya di gaun pendek Indira.

Gaun yang menampilkan bahu putihnya dengan lengan panjang. Malam ini perempuan itu tampil cantik dengan gaun berwarna maroon.

"Ayo. Aku akan mengantar kamu sampai depan lobi," ucapnya tersenyum lembut, menuntun dengan meraih kedua bahu Indira.

Seperti terhipnotis dengan senyum dan bagaimana perlakuan lembut pria berambut hitam dengan tatanan rapi itu, Indira hanya diam dan menurut untuk pergi keluar klub lewat pintu belakang.

Embusan angin malam memainkan rambut panjangnya yang sedikit ikal. Ia mengeratkan hangatnya jas yang dipakai Indira dan aroma maskulin itu semakin membuatnya nyaman.

"Ingin singgah ke apartemenku? Mungkin lebih menarik bersama pria dewasa sepertiku dibandingkan bersama pria muda di dalam sana," ungkap pria itu membuat tubuh Indira membeku.

Manik hitamnya membeliak, mendengar pernyataan yang terkesan santai. Bahkan, pria itu seperti mengejeknya lewat senyum manisnya.

"BERENGSEK! LO PIKIR GUE PEREMPUAN MURAHAN YANG NGGAK BISA MEMENTINGKAN LOGIKA DIBANDINGKAN RISIKO NANTINYA DI MASA DEPAN, HA?!"

Pria dewasa itu terkesiap. Ia mendapatkan tamparan keras dari Indira.

"DASAR PRIA TUA! SEENAK JIDAT LO NGOMONG SANTAI KAYAK TADI! NGGAK SUDI GUE BILANG TERIMA KASIH SAMA LO!" teriaknya sekaligus mengumpati pria bertubuh tinggi yang masih terpaku di hadapannya.

Dengan kesal, Indira melempar jas tersebut ke aspal di bawah dan menginjaknya. "Nih! Sebagai ucapan terima kasih gue sama Om mesum kayak lo!"

**

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh JasAlice

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Marriage Express Marriage Express JasAlice Romantis
“Indira Aubrey harus banyak-banyak bersabar ketika dirinya dipaksa menikah, lalu harus tinggal bersama Om Mesum; Liam Ogawa. Pria keturunan Jepang - Indonesia itu tidak pantang menyerah mengusik kehidupannya. Seharusnya, ia bisa menerima ketika orang-orang disekitarnya mengatakan perempuan itu beruntung dipilih untuk menjadi bagian Keluarga Ogawa. Nyatanya, ia pusing tujuh keliling, harus tinggal satu atap dan beradaptasi diusia mudanya untuk menikah dan menjadikan Liam sebagai suaminya. Ia tidak akan pernah mengakui pria itu di hadapan temannya dan akan selalu membencinya. Tapi, bukankah terkadang cinta datang di saat yang tidak tepat? Lalu, bagaimana ketika Liam menyerah, tidak peduli lagi dengan kehadiran Indira di hidupnya? Bagaimana juga ketika Indira menyesali semuanya?”
1

Bab 1 Dasar Om Mesum!

06/07/2022

2

Bab 2 Tanggal Pernikahan

06/07/2022

3

Bab 3 Lebih Berpengalaman

06/07/2022

4

Bab 4 Identitas Calon Suami

06/07/2022

5

Bab 5 Hidup Mewah di depan Mata

06/07/2022

6

Bab 6 Tawaran Praktik Kawin

06/07/2022

7

Bab 7 Bingung, Kelebihan Perempuan yang Masih Sekolah

06/07/2022

8

Bab 8 Kesan Manis dari Calon Suami

06/07/2022

9

Bab 9 Digombalin Om Mesum

06/07/2022

10

Bab 10 Menghargai Calon Istri

06/07/2022

11

Bab 11 Saling Dekat

06/07/2022

12

Bab 12 Pria Memesona

06/07/2022

13

Bab 13 Godaan Iman

06/07/2022

14

Bab 14 Idaman Kaum Hawa

06/07/2022

15

Bab 15 Keberuntungan Liam

06/07/2022

16

Bab 16 Tidak Ingin Mengakui

06/07/2022

17

Bab 17 Resmi Menikah

06/07/2022

18

Bab 18 Atmosfer Baru

06/07/2022

19

Bab 19 Kalau Kamu udah Sayang ...

15/07/2022

20

Bab 20 Istri Perhatian

15/07/2022

21

Bab 21 Pengganti Guling, Lebih Nyaman

15/07/2022

22

Bab 22 Tertipu Om Mesum

15/07/2022

23

Bab 23 Siapa yang Paling Diuntungkan

16/07/2022

24

Bab 24 Hanya Sebatas Kenyamanan

16/07/2022

25

Bab 25 Merasakan Ketenangan

16/07/2022

26

Bab 26 Julukan Andalan

17/07/2022

27

Bab 27 Adiknya ya, Mas

17/07/2022

28

Bab 28 Udah Main Kelon-kelonan

17/07/2022

29

Bab 29 Nomor Tidak Dikenal

17/07/2022

30

Bab 30 Lara Masa Lalu

17/07/2022

31

Bab 31 Bahagia Bersama yang Lain

29/07/2022

32

Bab 32 Kamu Cemburu

29/07/2022

33

Bab 33 Jangan Ikut Kilat

29/07/2022

34

Bab 34 Tips dan Trik

29/07/2022

35

Bab 35 Istri dan Mantan Kekasih

29/07/2022

36

Bab 36 Kesempatan Besar

29/07/2022