Remember When
5.0
Komentar
191
Penayangan
37
Bab

"Give me one more chances, Via," kata Dante sembari menatap manik mata Olivia. "Nggak bisa, Dante. Aku nggak bisa ...." "Kenapa? Kasih aku alasannya," desak Dante lagi. Olivia menggeleng-merasa tidak ada titik terang jika ia menjelaskannya sekalipun. "Kalau begitu akan kucari sendiri jawabannya." Manis. Bibir yang mengecup Olivia masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Manis dan akan selalu manis. Seperti kenangannya bersama laki-laki itu. Tapi perpisahannya dengan laki-laki itu bukanlah tanpa sebab. Satu rahasia yang Olivia sembunyikan dari Dante. Alasan dibalik kepergiannya.

Remember When Bab 1 Prolog

Olivia mematikan layar notebook miliknya. Semua berkas pekerjaannya hari ini buru-buru ia simpan ke dalam map holder besar, menatanya berdasarkan tanggal masuknya berkas, dan menaruhnya di sisi kanan meja atasannya. Tidak seperti biasanya Olivia akan meninggalkan kantor ketika hari masih terang benderang seperti ini. Biasanya bisa pulang tepat waktu saja sudah terbilang bagus.

Olivia menyambar kunci mobil di atas meja lalu terburu-buru menekan tombol lift menuju lantai basement di mana ia biasa memarkirkan mobilnya. Ada segudang janji yang harus Olivia lakukan khusus hari ini. Bahkan ponsel yang sedari tadi bergetar di dalam tasnya pun tidak serta merta langsung Olivia angkat-karena tahu siapa yang meneleponnya membabi buta seperti itu.

Palingan sebentar lagi juga telepon, batin Olivia.

Dugaan Olivia ternyata benar. Tidak sampai lima menit, ponsel Olivia kembali bergetar.

"Via, apa kamu sudah pulang?" sapa laki-laki di seberang.

"Sudah di parkiran basement sih, Pak. Ada yang Bapak perlukan?" Olivia balas bertanya.

"Tidak. Tidak ada. Kamu hati-hati di jalan."

Dahi Olivia berkerut. Bukan kali ini saja atasannya itu bersikap seperti ini. Sejujurnya tidak semua orang seberuntung Olivia. Atasan Olivia adalah tipe atasan santai dan berwibawa yang memberikan kebebasan pada semua stafnya untuk berani mengemukakan pendapat-apapun. Selagi tidak memberi dampak buruk dan merugikan untuk perusahaan, segala saran dan ide pasti akan dipertimbangkan dengan matang oleh atasannya itu. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting sekarang ia bisa pulang cepat dan bertemu keponakan-keponakannya.

"Tumben banget kamu sudah pulang jam segini?" sapa Elok heran ketika melihatnya menampakkan diri dari balik pintu belakang. Rumah Elok adalah rumah kedua bagi Olivia untuk ia kunjungi.

Setelah bercipika-cipiki dengan Elok, Olivia mencomot bakwan jagung yang baru matang di atas meja dan melahapnya sekaligus. "Tante Elok gimana kabarnya? Sehat-sehat saja, kan?" kata Olivia dengan mulut penuh bakwan jagung.

Elok adalah Mama dari teman semasa kecilnya Reihan yang telah Olivia anggap layaknya Mama kandungnya sendiri. Mama yang tidak pernah ada dalam setiap helaan napasnya. Bahkan wajahnya pun Olivia tidak tahu. Hanya sekedar nama yang Olivia tahu.

"Aduuh anak ini. Kelakuannya masih saja kayak anak kecil. Cuci tangan dulu sana," tegur Elok pelan masih dengan celemek berwarna biru yang melekat di tubuhnya yang sudah tidak muda lagi itu.

"Jawab dulu. Tante sehat, kan?"

"Iya Tante sehat, Sayang."

Olivia meringis menahan malu lalu beralih mencuci tangan serta mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan tertahan beberapa waktu di sana.

"Kamu ke mana saja enam bulan ini? Tante khawatir sekali. Kamu makan teratur juga, kan?" tanya Elok masih dengan kesibukannya menggoreng tanpa berniat meninggalkannya.

"Olivia sehat kok, Tante," timpal Olivia sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. "Yah, lumayan agak sibuk sih akhir-akhir ini. Maklumin ya, Tante namanya juga sekretaris."

"Kamu perlu ingat kalau tifus bisa kambuh kapan saja. Sibuk sih boleh, tapi tetap harus bisa jaga kesehatan. Tante nggak mau kamu harus masuk rumah sakit lagi karena kecapekan."

Olivia mengangguk lalu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya dalam diam sembari sesekali mengecek pesan Whatsapp dari ponsel miliknya.

From : Pak Bos

Sorry mengganggu waktunya.

Bisa tolong kirimkan draft dan materi untuk presentasi besok?

To : Pak Bos

Saya kirim sekarang, Pak.

From : Pak Bos

Ok. I'm waiting.

Olivia menyalakan notebooknya sejenak kemudian memindahkan semua file dalam bentuk winrar dan mengirimkan secepat kilat. Pesan Whatsapp pun kembali hadir di ponsel Olivia.

From : Pak Bos

Sudah kuterima.

Besok tolong dibantu seperti biasanya ya.

To : Pak Bos

Tentu saja, Pak.

Dengan senang hati akan saya bantu.

Kembali Olivia tersenyum puas dengan hasil kerjanya sambil menutup layar notebook tanpa mematikannya terlebih dulu. Ah ... sungguh beruntung dirinya mendapatkan atasan seperti atasannya sekarang. Selang beberapa menit kemudian pesan Whatsapp kembali datang.

From : Pak Bos

Untuk seterusnya aku tidak keberatan kita bicara menggunakan bahasa non-formal.

Olivia mematung sejenak, lalu kembali memainkan jari-jarinya.

To : Pak Bos

Saya tidak mengerti maksud Bapak.

From : Pak Bos

Mulai sekarang kamu bisa memanggil saya Yusa atau Mas Yusa seperti lainnya.

Memang benar kebanyakan staf-staf lain di kantor lebih memilih memanggil atasannya itu dengan sebutan Mas Yusa dan itu sah-sah saja menurut Olivia. Salah satu alasannya karena Yusa ingin lebih mengakrabkan diri satu sama lain dengan para staf. Tapi apakah salah kalau Olivia tidak ikut-ikutan melakukannya? Olivia hanya ingin melindungi dirinya dari gunjingan para fans fanatik Yusa-mengingat posisi Olivia saat ini adalah sebagai seorang sekretaris pribadi.

Tidak berhenti hanya disitu saja. Apalagi dengan status masih lajang yang melekat pada diri Yusa seakan-akan memberikan pertanda bahwa posisi sekretaris adalah posisi teratas yang paling diinginkan dan berpeluang besar dilirik oleh Yusa yang notabene memang terbilang masih sendiri. Bahkan tidak jarang pula ada yang membuat rumor jika posisi yang ditempati Olivia saat ini hanya karena dirinya yang berparaskan cantik dan berpostur tubuh semampai layaknya seorang model papan atas. See? Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh posisi seorang sekretaris dimata para staf perempuan di kantor ini, kan? Dan sekarang Yusa malah memicu perlakuan seolah anggapan orang selama ini terhadap Olivia adalah benar.

Tanpa berniat menanggapi pesan atasannya lagi, Olivia langsung memasukkan ponselnya itu ke dalam tas dan menghabiskan sisa makanannya yang sempat tertunda. Namun sepertinya Olivia harus kembali menundanya karena ponselnya yang tiba-tiba saja berdering.

"Halo ...." Olivia menyapa sopan ketika tahu siapa yang menelpon. "Halo, Pak," ulang Olivia lagi.

"Aku menunggu balasanmu, Via," potong Yusa cepat.

"Bapak keberatan ya kalau saya panggil seperti biasanya? Jujur saja kalau saya lebih nyaman bicara seperti ini dengan Bapak."

"Kenapa?" Yusa balas bertanya. "Pasti ada alasannya, kan?"

Olivia tidak menjawab. Sejujurnya ia takut salah bicara.

"Baiklah kita kesampingkan masalah itu dulu. Lusa apa kamu bisa memberikanku tumpangan ke kantor?"

"Tentu saja, Pak. Di mana saya harus menjemput, Bapak? Di apartemen seperti biasanya?"

"Apartemenku sedang direnovasi sementara waktu. Akan kuberitahu nanti aku menginap di mana."

Panggilan telepon pun berakhir begitu saja dengan meninggalkan Olivia yang masih bingung akan maksud dari apa yang mereka berdua perdebatkan beberapa menit yang lalu. Sungguh aneh, kan? Apa sih yang diinginkan atasannya itu darinya?

Tepukan pelan dipundaknya membuat Olivia memalingkan wajah. Elok menatapnya dengan tatapan sedikit berbeda dari tatapannya tadi siang. Ibu dari teman kecilnya itu tiba-tiba saja mengusap pelan pucuk kepalanya lembut. Membuat Olivia terhanyut untuk sesaat.

"Malam ini menginap saja ya daripada di apartemen sendirian. Si Kembar pasti senang ada kamu. Sudah lama juga kamu nggak ketemu sama Si Kembar, kan?"

Sejak diterima bekerja di perusahaan tempat Yusa, Olivia memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen yang disewanya. Dan terakhir kali Olivia bertemu dengan putra kembar Lussi dan Reihan itu adalah tahun lalu saat ia dinas ke Malang. Selebihnya bahkan ketika mereka berempat berkunjung kemari pun Olivia tidak bisa ikut menemani karena bertepatan acara syukuran kantor.

"Nggak merepotkan, Tante?" tanya Olivia sebagai jawaban. "Via mau-mau saja sih sekalian temu kangen sama Reihan dan Lussi juga."

"Nggak dong, Sayang. Sampai kapan pun kamu tetap anak Tante. Jadi kapan saja kamu mau tidur di sini, Tante selalu sedia satu kamar kosong untukmu."

Olivia tertawa kemudian mengangguk. "Terima kasih, Tante."

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Remember When Remember When Gitapuccino Romantis
“"Give me one more chances, Via," kata Dante sembari menatap manik mata Olivia. "Nggak bisa, Dante. Aku nggak bisa ...." "Kenapa? Kasih aku alasannya," desak Dante lagi. Olivia menggeleng-merasa tidak ada titik terang jika ia menjelaskannya sekalipun. "Kalau begitu akan kucari sendiri jawabannya." Manis. Bibir yang mengecup Olivia masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Manis dan akan selalu manis. Seperti kenangannya bersama laki-laki itu. Tapi perpisahannya dengan laki-laki itu bukanlah tanpa sebab. Satu rahasia yang Olivia sembunyikan dari Dante. Alasan dibalik kepergiannya.”
1

Bab 1 Prolog

07/04/2022

2

Bab 2 Bertemu Si Kembar

07/04/2022

3

Bab 3 Pak Bos Ganteng

07/04/2022

4

Bab 4 Lamaran Yusa

07/04/2022

5

Bab 5 It will Happen Soon

07/04/2022

6

Bab 6 Bukan Pelarian, Kan

07/04/2022

7

Bab 7 Direct Message

07/04/2022

8

Bab 8 Sebuah Titik Terang

07/04/2022

9

Bab 9 Berita Baik atau Buruk

07/04/2022

10

Bab 10 Kepulangan Dante

07/04/2022

11

Bab 11 Yusa Cemburu

11/04/2022

12

Bab 12 Tertekan

11/04/2022

13

Bab 13 Pengumuman Penting

11/04/2022

14

Bab 14 Kamu Itu Milikku

11/04/2022

15

Bab 15 Berbaikan

11/04/2022

16

Bab 16 Keputusan Olivia

11/04/2022

17

Bab 17 Kita Harus Berhenti

11/04/2022

18

Bab 18 Satu-Satunya Jalan

11/04/2022

19

Bab 19 Aku Kotor, Dante

11/04/2022

20

Bab 20 Rahasia Terkuak

11/04/2022

21

Bab 21 Flashback Satu

11/04/2022

22

Bab 22 Flashback Dua

11/04/2022

23

Bab 23 Mona

11/04/2022

24

Bab 24 Beri Aku Waktu

11/04/2022

25

Bab 25 Bertemu Camer

11/04/2022

26

Bab 26 Keuwuan

12/04/2022

27

Bab 27 Pertemuan Dua Keluarga

12/04/2022

28

Bab 28 Mimisan

12/04/2022

29

Bab 29 Kepergok Lagi

15/04/2022

30

Bab 30 Sah!

15/04/2022

31

Bab 31 Pelan-Pelan Saja

15/04/2022

32

Bab 32 Malam Pertama

15/04/2022

33

Bab 33 Pengganggu Datang

15/04/2022

34

Bab 34 Hadiah Terindah

15/04/2022

35

Bab 35 Sedang Ingin Manja

15/04/2022

36

Bab 36 Pria Dari Masa Lalu

15/04/2022

37

Bab 37 Ancaman

15/04/2022