CINTA TAK MEMILIKI POLA

CINTA TAK MEMILIKI POLA

dhena_28

5.0
Komentar
1.7K
Penayangan
13
Bab

Kisah cinta yang ringan antara Dirgana, seorang janda beranak dua yang berprofesi sebagai tukang ojek on line, dengan seorang pria bernama Dimas, seorang anak pemilik toko emas yang sedang putus asa. Pernikahan mereka sudah diatur dengan sengaja oleh Mama Dimas, wanita yang pernah ditolong Dirgana. Mau tidak mau, Dimas dan Dirgana terpaksa menikah akibat pengaturan pernikahan yang tidak diketahui siapapun, kecuali sang Mama.

Bab 1 Rider Wanita

Aku melirik jam yang melingkar di tangan, memastikan sudah waktunya untuk kembali ke rumah dan beristirahat bersama 2 malaikatku. Jarum jam menunjukkan angka 10 tepat, aku merogoh saku jaket kebesaran dan mengambil HP, baru saja aku berniat mematikan aplikasi ojek online, ponsel ku mengeluarkan nada keras tanda orderan baru masuk. Melihat nama pemesan yang tertera, aku langsung merasa ragu untuk menerimanya, tapi melihat tempat yang dituju oleh si pemesan tidaklah jauh dari tempat tinggal ku, aku cepat menerimanya. Gegas kutekan beberapa angka yang tertera di aplikasi dan tersambung.

["Selamat malam, dengan pak Ardi?"] Tanyaku membuka percakapan.

["Benar,"] jawab seorang pria di seberang.

[" Maaf... Bapak barusan pesan ojek ya, Pak?"] tanyaku memastikan.

[" Iya, maaf... Kok suara perempuan ya? Apa memang perempuan?"] tanyanya balik. Seperti biasa, melihat namaku di aplikasi orang pasti menyangka kalau aku adalah seorang laki-laki, karena nama yang tertera pada aplikasi adalah Dirgana. P.

[" Iya pak, benar. Jadi, bagaimana pak? apa Bapak keberatan kalau yang mengantar perempuan?"] tanyaku lagi.

[" Oh, iya... tidak apa - apa. Jemput sesuai aplikasi ya,"] jawabnya langsung. Aku mematikan sambungan telepon setelah menutup pembicaraan dan langsung mengarahkan motorku ke tempat penjemputan yang juga tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri tadi. Bismillah, aku meminta perlindunganNya selalu, apalagi di jam-jam seperti sekarang dan dengan pemesan ojek laki-laki.

Tempat penjemputan sebenarnya sih di tengah kota, masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Tapi, tetap saja aku harus waspada. Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku bersamaan dengan tepukan, ku arahkan pandangan ke sebuah warung yang gelap, aku melihat beberapa laki-laki berdiri di sana. Dua orang laki-laki memintaku datang ke arah mereka lewat lambaian tangan. Kuarahkan stang motor ke tempat orang-orang yang memanggilku barusan, sambil terus melafalkan doa meminta penjagaan dari sang pemilik dunia.

"Saya pikir tadi laki-laki," kata salah seorang dari laki-laki yang tadi melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya merespon ucapannya lewat senyuman sopan saja, seraya menenangkan hati dan perasaanku.

"Saya minta tolong antar kan nenek ini, ya."

Aku menatap ke arah tangannya menunjuk, seorang perempuan tua keluar dari balik warung yang hanya diterangi cahaya lampu lima Watt berwarna oranye. Aku lekas mengucap hamdalah di dalam hati, lalu melebarkan senyuman.

"Nenek beruntung, tukang ojeknya perempuan. Jadi, nenek nggak perlu takut," ucap salah seorang dari belakang.

"Alhamdulillah, iya nak... Terima kasih banyak ya...." kata si nenek.

"Sama-sama nek... hati - hati," jawab para laki-laki itu berbarengan.

"Hati-hati bawa motornya buk, Uni." Pesan mereka padaku sebelum aku berlalu, aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan sopan, lalu membunyikan klakson dan berlalu.

Ku kendarai motor dengan hati - hati, bahkan cenderung pelan. Mengingat kalau wanita yang duduk di boncengan motorku adalah seorang nenek tua.

"Darimana Nek, kok malam - malam sendirian?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Baru sampai dari Bukittinggi, udah jam segini angkutan umum udah gak ada lagi," jawab si nenek ramah.

"Nenek sendirian saja ke Bukittinggi? Kenapa gak ajak anak atau cucu?" tanyaku lagi.

Mengalir lah cerita si nenek, kalau dia menemui anak dan cucunya di Bukittinggi. Anaknya hanya satu, tinggal bersama keluarganya di sana. Si nenek hanya tinggal sendirian di Padang. Karena lebaran pertama si anak dan cucu tidak pulang ke Padang, si nenek memberanikan diri datang mengunjungi sendiri di lebaran kedua ini, pengennya buat surprise ternyata si nenek yang dapat surprise karena si anak justru sudah sampai di Padang ketika dia berada di Bukittinggi. Menurut beliau, beliau masih cukup kuat berjalan-jalan sendirian, jadi tidak butuh ditemani. Cara bicara si nenek yang lucu mampu menghangatkan suasana, aku langsung teringat ibuku di rumah. Usianya belum setua si nenek, tapi kemana - mana masih aku temani. Tapi, itu juga karena aku yang memaksa. Aku tidak akan mungkin tega membiarkannya pergi ke sana kemari sendirian.

"Ini nak, terimakasih banyak, hati - hati... Semoga berkah untuk anak-anaknya, ya...." Ucap si nenek setelah aku mengantarkannya. Aku memang bercerita kepadanya tadi kalau aku memilih pekerjaan ini demi anak-anakku.

"Sama-sama, Nek... Mari, saya permisi dulu," ucapku berpamitan, setelah memasukkan upah mengantarkannya langsung ke saku celana. Rasanya tidak perlu dihitung, kalau pun kurang aku ikhlas. Aku kasihan melihatnya yang sudah tua, tinggal sendirian, dan sedang bahagia karena ternyata si anak dan keluarganya sudah berada di Padang untuk mengunjunginya.

Sebelum melajukan motor tadi, aku sudah mematikan aplikasi biker di ponsel, sudah waktunya pulang dan berkumpul bersama mama dan anak-anakku. Aku tahu sekali, kedua anakku belum akan tertidur sampai aku tiba di rumah. Buat kedua anakku, saat menjelang tidur adalah saatnya berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama seharian, bercanda, saling ejek dan berebut pelukan dariku. Aku sangat menikmati waktu-waktu seperti itu. Entah berapa lama lagi aku bisa bercanda bersama keduanya, mengingat semakin hari usia mereka semakin bertambah, waktu mereka buatku pastinya akan semakin berkurang nanti.

*

Namaku Dirgana Putri, aku seorang single parents yang harus membesarkan dua orang anakku sendirian. Mantan suamiku sudah lama tak membiayai kebutuhan kedua anakku, jadi aku lah yang harus banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak ku yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Aku hanya tamatan SMA, karena itulah aku memilih bekerja sebagai pengemudi ojek on line. Selain karena pekerjaan ini tidak membutuhkan ijazah sarjana, aku juga bisa mengatur waktu bekerja sendiri. Sehingga, aku masih bisa mengurusi anak-anak sementara aku bekerja mencari nafkah.

Aku tinggal bersama kedua anak dan Ibuku di rumah orang tuaku, rumah yang ditinggalkan almarhum Ayah untukku dan Ibu. Sejak kecil hingga saat ini, aku tak pernah hidup berpisah dengan Ibu. Bahkan setelah menikah dulu pun, aku dan suami tinggal bersama beliau. Sebagai anak tunggal, aku tentu tidak mungkin meninggalkan Ibu seorang diri. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga beliau sampai akhir hayat.

*

Nada pemberitahuan masuk dari ponselku berbunyi, pertanda orderan ojek memanggil. Ku perhatikan sebentar tujuan jemput dan tujuan antar yang tertera di aplikasi, lalu segera menekan tulisan OK yang ada pada layar.

["Selamat siang, dengan Ibu Ajeng?"]

["Ya, benar."]

["Saya dari Gojek, Bu... Titik jemputnya sesuai aplikasi ya, Bu?"]

["Iya, Dek."]

["Ok, ditunggu ya, Bu... Terima kasih, selamat siang,"] ucapku menutup percakapan. Lekas kukenakan jaket hijau kebesaran, lalu menyandang tas punggung dan segera keluar dari kamar menuju teras. Setelah berpamitan pada Ibu dan si bungsu, Fajri, aku segera menyalakan mesin motor dan berlalu meninggalkan rumah. Bismillah... Semoga perjalanan hari ini lancar, pintu rezeki dibukakan dan aku bisa pulang dengan selamat untuk beristirahat bersama anak-anak... Aamiin.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh dhena_28

Selebihnya

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku