Benih Sang Kakak Ipar

Benih Sang Kakak Ipar

Reno Badini

5.0
Komentar
304
Penayangan
25
Bab

Aura tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk menikahi Gavin akan membawanya ke dalam pusaran obsesi yang berbahaya. Gavin adalah pria lembut yang sangat memuja kakaknya, Adrian Mahendra, seorang pengusaha dingin yang memegang kendali penuh atas keluarga Mahendra. Karena alasan ekonomi dan wasiat mendiang ayah mereka, Gavin bersikeras memboyong Aura untuk tinggal di kediaman mewah milik Adrian. Keputusan itu menjadi awal dari mimpi buruk sekaligus godaan yang membingungkan bagi Aura. Di balik sikap formal dan ketegasannya, Adrian menyimpan ketertarikan gelap pada istri adiknya sendiri. Setiap sudut rumah megah itu seolah menjadi perangkap. Adrian menggunakan kekuasaan dan karismanya yang mengintimidasi untuk perlahan-lahan menjerat Aura, memanipulasi keadaan agar Aura merasa berhutang budi dan bergantung padanya. Di antara rasa setianya pada Gavin dan pesona maskulin Adrian yang memabukkan, Aura terjepit dalam situasi yang mengancam akal sehatnya.

Benih Sang Kakak Ipar Bab 1 Perasaannya tidak keruan

Hujan menderu di luar kaca jendela mobil, menyamarkan pemandangan Jakarta yang mulai lampu-lampunya mulai menyala. Aura menggenggam erat tali tas tangannya di pangkuan. Perasaannya tidak keruan. Di sampingnya, Gavin menyetir dengan senyum lebar yang tak kunjung hilang sejak mereka meninggalkan kontrakan kecil mereka tadi siang.

"Kamu bakal suka rumahnya, Ra. Aku janji. Mas Adrian itu orangnya memang kelihatan kaku, tapi dia baik banget. Dia nggak mau kita kesusahan di awal pernikahan kayak gini," suara Gavin terdengar begitu ringan, seolah beban hidup mereka baru saja diangkat ke langit.

Aura hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan agar suaminya tidak bertanya macam-macam. "Tapi, Vin... apa nggak sebaiknya kita mandiri dulu? Aku nggak enak kalau harus numpang di rumah kakak kamu. Apalagi kita baru nikah dua bulan."

Gavin tertawa kecil, tangan kirinya meraih jemari Aura dan mengecupnya singkat. "Ini bukan numpang, Sayang. Mas Adrian sendiri yang minta. Lagian, rumah sebesar itu cuma diisi dia sama pelayan, apa nggak sepi? Dia itu kakak kandungku, satu-satunya keluarga yang aku punya setelah Papa meninggal. Dia cuma mau jagain kita."

Jagain kita. Kata-kata itu terdengar seperti janji manis di telinga Gavin, tapi entah kenapa terasa seperti peringatan di telinga Aura. Aura teringat pertemuan singkatnya dengan Adrian Mahendra di hari pernikahan mereka. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas mahal yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya. Matanya tajam, hitam pekat, dan saat mereka bersalaman, Adrian tidak melepaskan genggamannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya waktu itu bukan tatapan seorang kakak ipar yang menyambut anggota keluarga baru, melainkan tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik.

Mobil mewah Gavin-yang sebenarnya juga hadiah dari Adrian-berhenti di depan gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis. Sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis berdiri angkuh di hadapan mereka. Dinding-dinding kaca setinggi plafon memperlihatkan pencahayaan kuning hangat di dalamnya, tapi bagi Aura, rumah itu tampak seperti sangkar emas yang dingin.

Begitu mereka turun, beberapa pelayan berseragam rapi langsung menyambut, mengambil alih koper-koper mereka dengan cekatan. Di tengah lobi yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap, sosok itu sudah menunggu.

Adrian Mahendra berdiri dengan tangan terbenam di saku celana kainnya. Ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di tangannya yang kuat.

"Selamat datang di rumah," suara Adrian berat dan berwibawa, menggema di ruangan yang luas itu.

Gavin langsung menghampiri kakaknya dan memeluknya singkat. "Mas! Makasih banyak ya, maaf kalau kita ngerepotin."

"Nggak pernah repot buat adik sendiri, Vin," jawab Adrian, tapi matanya tidak menatap Gavin. Matanya tertuju lurus pada Aura yang masih berdiri mematung di dekat pintu. "Aura, kenapa masih di sana? Sini."

Aura melangkah mendekat, merasa kakinya sedikit lemas. "Halo, Mas Adrian. Terima kasih sudah mengizinkan kami tinggal di sini."

Adrian maju selangkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Aura bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam dan mahal-campuran antara kayu cendana dan tembakau. Adrian mengulurkan tangan, menyentuh bahu Aura pelan, lalu turun ke lengannya. Sentuhannya terasa panas di kulit Aura yang dingin.

"Mulai sekarang, ini rumah kamu juga. Apapun yang kamu butuhin, bilang sama saya. Jangan sungkan," ucap Adrian dengan nada yang rendah, hampir seperti bisikan yang hanya ditujukan untuknya.

Malam itu, setelah makan malam yang terasa kaku bagi Aura namun sangat akrab bagi kedua kakak beradik itu, Gavin langsung tertidur pulas karena kelelahan pindahan. Namun Aura tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa asing dengan tempat tidur yang terlalu empuk dan bantal bulu angsa yang terlalu mewah.

Aura memutuskan untuk turun ke dapur, berharap segelas air putih bisa menenangkan sarafnya yang tegang. Ia berjalan berjinjit, tidak ingin membangunkan siapapun. Rumah itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang megah.

Saat ia sampai di area dapur bersih, ia terlonjak kaget. Seseorang sedang duduk di sana, di balik meja bar yang gelap, hanya diterangi oleh lampu kecil di sudut ruangan.

Itu Adrian. Ia sedang menyesap sesuatu dari gelas kristal.

"Nggak bisa tidur?" tanya Adrian tanpa menoleh, seolah dia sudah tahu Aura akan datang.

"Iya, Mas. Masih... adaptasi," jawab Aura gugup. Ia berjalan menuju dispenser, mengisi gelasnya dengan air. Saat ia hendak berbalik untuk kembali ke atas, langkahnya terhenti karena Adrian sudah berdiri tepat di belakangnya.

Aura hampir saja menabrak dada bidang pria itu. Bau alkohol samar tercium dari napas Adrian.

"Gavin orangnya gampang tidur. Dia nggak sadar kalau istrinya lagi gelisah, ya?" Adrian menunduk, wajahnya begitu dekat hingga Aura bisa merasakan deru napasnya di keningnya.

"Gavin cuma capek, Mas," bela Aura, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba melangkah ke samping, tapi Adrian meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja bar, mengunci tubuh Aura di antaranya.

Aura mendongak, matanya bertemu dengan mata Adrian yang gelap dan intens. Tidak ada keramahan di sana. Yang ada hanyalah ambisi yang telanjang.

"Kamu terlalu cantik untuk diabaikan, Aura. Gavin mungkin nggak tahu cara memperlakukan permata, tapi saya tahu."

Jantung Aura berdegup kencang, antara takut dan sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan Adrian terangkat, jemarinya yang kasar membelai pipi Aura dengan sangat lembut, sebelum turun ke lehernya.

"Mas... jangan. Aku istri adik kamu," bisik Aura, suaranya nyaris hilang.

Adrian terkekeh pelan, suara yang terdengar berbahaya di tengah kegelapan malam. "Justru karena kamu istri adik saya, kamu jadi tanggung jawab saya sekarang. Segalanya tentang kamu... adalah urusan saya."

Adrian melepaskan kunciannya dan kembali mengambil gelasnya, seolah interaksi barusan tidak pernah terjadi. "Tidur lah. Besok hari yang panjang. Dan satu lagi, Aura... jangan pernah berpikir untuk mengadu pada Gavin. Dia nggak akan percaya kakaknya yang 'baik' ini punya pikiran kotor tentang istrinya."

Aura lari kembali ke kamar dengan napas tersengal. Ia masuk ke bawah selimut, memeluk Gavin yang masih terlelap. Namun, bayangan tatapan Adrian dan sentuhan tangannya di leher Aura seolah menempel permanen. Aura sadar, kepindahan ini bukan awal dari hidup baru yang bahagia, melainkan awal dari permainan kucing dan tikus yang sangat berbahaya. Di rumah ini, Adrian adalah rajanya, dan Aura baru saja menyerahkan diri masuk ke dalam kandangnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Reno Badini

Selebihnya

Buku serupa

Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

kodav
5.0

Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku. Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini. Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku. Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis. Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Benih Sang Kakak Ipar Benih Sang Kakak Ipar Reno Badini Romantis
“Aura tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk menikahi Gavin akan membawanya ke dalam pusaran obsesi yang berbahaya. Gavin adalah pria lembut yang sangat memuja kakaknya, Adrian Mahendra, seorang pengusaha dingin yang memegang kendali penuh atas keluarga Mahendra. Karena alasan ekonomi dan wasiat mendiang ayah mereka, Gavin bersikeras memboyong Aura untuk tinggal di kediaman mewah milik Adrian. Keputusan itu menjadi awal dari mimpi buruk sekaligus godaan yang membingungkan bagi Aura. Di balik sikap formal dan ketegasannya, Adrian menyimpan ketertarikan gelap pada istri adiknya sendiri. Setiap sudut rumah megah itu seolah menjadi perangkap. Adrian menggunakan kekuasaan dan karismanya yang mengintimidasi untuk perlahan-lahan menjerat Aura, memanipulasi keadaan agar Aura merasa berhutang budi dan bergantung padanya. Di antara rasa setianya pada Gavin dan pesona maskulin Adrian yang memabukkan, Aura terjepit dalam situasi yang mengancam akal sehatnya.”
1

Bab 1 Perasaannya tidak keruan

18/12/2025

2

Bab 2 menandakan Gavin sudah bangun

18/12/2025

3

Bab 3 Merasa terganggu

18/12/2025

4

Bab 4 sejak awal pernikahan

18/12/2025

5

Bab 5 Gavin semakin jarang pulang

18/12/2025

6

Bab 6 memberikan kabar

18/12/2025

7

Bab 7 obsesi gila kakak iparnya sendiri

18/12/2025

8

Bab 8 memotong roti panggangnya

18/12/2025

9

Bab 9 menghilang entah ke mana

18/12/2025

10

Bab 10 selingkuhannya

18/12/2025

11

Bab 11 Kamarnya kerasa dingin

18/12/2025

12

Bab 12 Pria itu tidak lagi memakai topeng

18/12/2025

13

Bab 13 Tubuh Aura terasa seolah-olah akan remuk

18/12/2025

14

Bab 14 terbaring lemas

18/12/2025

15

Bab 15 Sesuai perintah Adrian

18/12/2025

16

Bab 16 Malam itu seolah tidak punya ujung

18/12/2025

17

Bab 17 menemui Bayu

18/12/2025

18

Bab 18 suasananya terasa sedingin es

18/12/2025

19

Bab 19 suasana di kamar utama

18/12/2025

20

Bab 20 kehamilan

18/12/2025

21

Bab 21 pengkhianatan yang akan terjadi

18/12/2025

22

Bab 22 Aura terbaring menyamping

18/12/2025

23

Bab 23 suasana kamar terasa seperti ruang isolasi yang menyesakkan

18/12/2025

24

Bab 24 Kedua tangannya kini diborgol

18/12/2025

25

Bab 25 mengandung anakku

18/12/2025