Menantu Menjadi Madu

Menantu Menjadi Madu

Muzdalifah Muthohar

4.9
Komentar
28.8K
Penayangan
42
Bab

Chika berharap pernikahannya akan bertahan seumur hidup, nyatanya Irsan tega menceraikan Chika, atas permintaan ibunya. Sakit hati dan terluka, berniat balas dendam justru Chika kecantol ayah tiri mantan suaminya. Bagaimana perjalanan cinta mereka?

Menantu Menjadi Madu Bab 1 Mertua Zolim

Menantu Menjadi Madu 1

"Ceraikan dia Irsan!" teriak mertuaku lantang, meluapkan amarahnya padaku.

Rasanya seperti disambar petir disiang hari, meski ini bukan pertama kalinya Ibu mertuaku mengucapkannya, tapi kali ini rasanya sangat melukai hatiku.

Aku hanya bisa menatap nanar mertuaku, tajam sekali lidahnya, seolah kata-kata yang keluar dari bibirnya, adalah hal biasa.

"Lihat apa yang dia lakukan, Irsan! Menumpahkan sup di pangkuanku! Pakaianku jadi kotor begini, dasar bo doh! Tidak becus melakukan apa pun, percuma kamu peristri perempuan go-blok dan mandul ini!" Netra wanita itu menatapku nyalang, seolah aku mangsa yang harus segera diterkam.

Ibu mertuaku semakin berapi-api memakiku, seolah aku ini hanya seonggok daging tanpa perasaan, yang tak bisa merasakan sakit hati, dan tidak pantas dihargai.

Mudah sekali mulutnya memaki, harusnya dia introspeksi diri. Bagaimana aku bisa hamil, kalau setiap hari dibebani pekerjaan yang tak ada habisnya. Belum lagi sikap ketusnya yang membuatku senewen.

Dan parahnya lagi Mas Irsan, suamiku. Tak pernah berusaha, atau melakukan sesuatu untuk membelaku. dia hanya bisa menurut saja perintah Ibunya.

Kalau bukan statusnya sebagai mertua, sudah aku remas mulut jahatnya. Tidak bisa kah dia bersikap baik padaku? Dia sudah seperti Wewe Gombel saja, bisanya marah-marah.

"Iya Bu...iya...sekarang Ibu istirahat saja dulu ya? Biar Chika, yang beresin semuanya," ucap Mas Irsan lesu, dia membersihkan sup yang menempel di pangkuan Ibu tercintanya itu.

"Kamu itu terlalu lunak sama istrimu, lihat! berbulan-bulan tinggal di sini sikapnya tidak berubah sama sekali, suka seenaknya sendiri." Sekali lagi, Ibu mencelaku.

Ibu, tak henti-hentinya menyalahkanku, padahal kalau saja dia tidak berulah, pasti kekacauan ini tidak akan terjadi.

Tuhan...rasanya ingin kutampar mulut perempuan setengah baya itu, kalau saja tidak takut dosa.

Sudah setahun aku menikah dengan Mas Irsan, selama itu pula dia memusuhiku, dan mencari-cari kesalahanku, entah apa salah dan dosaku padanya, hingga dia begitu membenciku.

Tadi dia minta dibuatkan sup ayam, dia minta mericanya dibanyakin, karena merasa kurang enak badan, dan aku buatkan. Meski pekerjaan yang lain belum kuselesaikan.

Dia memintaku mengantar sup kekamar, pun aku antarkan. Bahkan dengan suka rela aku menyuapinya, tapi apa balasannya untuk ku?

"Sup macam apa ini! rasanya membakar mulut! kamu kasih racun ya! biar aku cepat mati!" ucapnya saat mencicipi, lalu sup yang sudah masuk mulutnya itu pun disemburkan kemukaku.

"Brrtt..." Sup di mulut Bu, berpindah ke wajahku.

"Kan Ibu yang pesen, mau sup yang banyak ladanya, mau disajikan hangat-hangat," ucapku lembut, sambil mengelap mukaku dengan punggung tangan, mencoba menurunkan emosinya, meski sebenarnya amarah sedang menguasai hatiku.

Tiba-tiba mangkuk sup yang kupegang dia tepis, hingga jatuh kepangkuannya, kemudian menggelinding ke lantai dan pecah. Jadilah keadaan lantai kamar Ibu mertuaku penuh tumpahan sup, dan pecahan mangkuk.

Lalu tiba-tiba Mas Irsan masuk, mungkin karena mendengar kegaduhan. Dan seperti biasa, Ibu membuat drama, seolah aku yang salah, dan Mas Irsan percaya begitu saja.

"Chika cepat kamu bersihkan, kamu itu selalu saja begitu, kerja nggak pernah beres," hardik Mas Irsan, dia menatapku tidak suka.

"Mas, ini bukan salahku. Ibu sengaja menepis mangkuk sup yang kupegang. Lihat! Ibu sengaja menyemburkan sup yang sudah dia makan kemukaku," ucapku membela diri.

Jari ini menunjuk wajahku sendiri, agar dia tahu, apa yang sudah dilakukan ibunya.

"Heh! kamu bilang apa? kamu memang menantu kurang ajar, berani memfitnah mertua." Bukannya merasa bersalah, amarah Ibu mertuaku justru makin menjadi-jadi.

"Sudah! Chika, cepat kamu bersihkan kamar Ibu! Pusing kepalaku! tiap hari mendengar kamu ribut terus sama Ibu!" bentak Mas Irsan.

Ini yang kubenci dari Mas Irsan, dia selalu membela Ibu dan tak pernah menghargai perasaanku, sebagai istrinya. Aku jadi merasa seperti babu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku pergi meninggalkan kamar itu, menuju kamarku sendiri. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, menangis sejadinya. Meluapkan segala sesak di dada.

"Chika, kamu harusnya lebih sabar menghadapi Ibu, bukan malah membalas semua ucapannya," ucap Mas Irsan lembut, rupanya dia langsung menyusulku ke kamar. Mas Irsan duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus pelan punggungku.

"Kurang sabar apa Mas? Aku sudah mengalah terus, meski semua yang ku lakukan tidak ada yang benar," ucapku sesenggukan.

"Sabarlah Chika...."

"Sabar! Sabar! Sabar terus! Aku capek Mas! Percuma aku bersabar, kalau ibumu selalu saja mencari-cari kesalahanku!" raungku.

Aku keluarkan semua unek-unek yang lama kusimpan di dada ini, memang tidak merubah apapun, tapi setidaknya aku merasa sedikit lega.

"Lalu aku harus bagaimana? Dia Ibuku, tidak mungkin aku memarahinya, dosa," ucapnya sendu.

"Ya, kalau menyakiti hatiku itu tidak dosa, memang hanya aku yang pantas dimarahi Mas," aku bangkit dari ranjang, berjalan menuju lemari pakaian, dan mengemasi seluruh pakaianku.

"Chika, apa yang kamu lakukan?" Mas Irsan menahan lenganku.

"Sudahlah Mas, aku capek, aku nggak sanggup lagi tinggal di rumah yang sudah seperti neraka ini." Aku melepaskan tangan Mas Irsan.

"Kamu mau pulang kerumah Papa?" tanya Mas Irsan, dan kujawab dengan anggukkan.

"Kalau Papa tanya bagaimana? Apa Papa nggak sedih melihat kamu pulang sendiri? Papa pasti mengira kita sedang bertengkar," tanya Mas Irsan lagi.

"Lebih baik begitu Mas. Biar Papa tahu, kalian sudah berlaku tidak adil padaku," sindiran.

"Hhh..." Mas Irsan menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

"Aku tidak bisa meninggalkan Ibu, hanya aku yang dia punya," ucap Mas Irsan frustasi.

"Masih ada Ayah, kan?" selaku.

"Kamu tahu sendiri bagaimana sikap, Ayah. Dingin, dia hidup di duniannya sendiri," Mas Irsan menundukan kepala, aku tahu berat untuknya, jika harus memilih antara istri atau ibunya.

"Lalu aku yang harus berkorban, begitu?" tanyaku tajam.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya lesu.

"Tidak bisakah kamu bersikap tegas, Mas? Kamu sudah punya istri, punya tanggung jawab sendiri," tukasku.

"Aku tahu, tapi aku tidak tega meninggalkan Ibu sendiri." Entah sudah dah berapa kali Mas Irsan berkata seperti ini. Sampai kapan dia terus bersembunyi dibalik ketiak ibunya.

"Aku tunggu di rumah Papa, jika dalam waktu satu bulan kamu tidak menyusulku, aku anggap kamu sudah menceraikanku, dan aku akan menggugatmu kepengadilan," ucapku.

kemudian berlalu meninggalkan kamar ini, kamar yang menjadi tempat kami memadu kasih sepuluh bulan terakhir ini.

Meskipun terasa berat mengambil keputusan ini, Aku yakin ini yang terbaik, lelah hati, terus-menerus di sakiti, walau masih ada cinta di dada, biarlah untuk sementara kita berpisah.

Semoga Mas Irsan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depan, pernikahan kami berdua.

Bersambung.....

Yuk di krisan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Muzdalifah Muthohar

Selebihnya

Buku serupa

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Menantu Menjadi Madu Menantu Menjadi Madu Muzdalifah Muthohar Romantis
“Chika berharap pernikahannya akan bertahan seumur hidup, nyatanya Irsan tega menceraikan Chika, atas permintaan ibunya. Sakit hati dan terluka, berniat balas dendam justru Chika kecantol ayah tiri mantan suaminya. Bagaimana perjalanan cinta mereka?”
1

Bab 1 Mertua Zolim

04/12/2021

2

Bab 2 Berpisah Sementara

04/12/2021

3

Bab 3 Menunggu Irsan

04/12/2021

4

Bab 4 Pulang Yang

04/12/2021

5

Bab 5 Disidang Papa

04/12/2021

6

Bab 6 Surat Merah

07/12/2021

7

Bab 7 Luka Papa

07/12/2021

8

Bab 8 Menyambut Hari Baru

08/12/2021

9

Bab 9 Waktunya beraksi

08/12/2021

10

Bab 10 Ketemu Wewe Gombel

10/12/2021

11

Bab 11 Bimbang

11/12/2021

12

Bab 12 Dilabrak Wewe Gombel

12/12/2021

13

Bab 13 Tentang Wewe Gombel

13/01/2022

14

Bab 14 Pak Bos Mulai Posesif

13/01/2022

15

Bab 15 Cemburu

13/01/2022

16

Bab 16 Berita Duka

13/01/2022

17

Bab 17 Pengganti Pak Hendro

13/01/2022

18

Bab 18 Pak Bos Cemburu

13/01/2022

19

Bab 19 Apa Rasaku Salah

13/01/2022

20

Bab 20 Cemburu Pada Panji

13/01/2022

21

Bab 21 Lamaran

13/01/2022

22

Bab 22 Bercerai

13/01/2022

23

Bab 23 Diteror

13/01/2022

24

Bab 24 Rujuk

13/01/2022

25

Bab 25 Merayu Papa

13/01/2022

26

Bab 26 Jalan Terbuka.

13/01/2022

27

Bab 27 Kerja Lagi

13/01/2022

28

Bab 28 Gugatan Cerai

13/01/2022

29

Bab 29 Adu Strategi

13/01/2022

30

Bab 30 Uang Kompensasi

13/01/2022

31

Bab 31 Dendam Yang Membara

13/01/2022

32

Bab 32 Mediasi Yang Gagal.

14/01/2022

33

Bab 33 Salam Perpisahan.

14/01/2022

34

Bab 34 Sah

15/01/2022

35

Bab 35 Malam Pertama

16/01/2022

36

Bab 36 Ronde kedua

17/01/2022

37

Bab 37 Flash Back

18/01/2022

38

Bab 38 Flashback 2

19/01/2022

39

Bab 39 Wewe Gombel Sakit

22/01/2022

40

Bab 40 Setelah Bulan Madu.

25/01/2022