5.0
Komentar
2.9K
Penayangan
24
Bab

Demi menutup aibku, aku menikah dengan salah seorang karyawan Papa. Awalnya aku tidak bisa menerima, karena kami beda kasta. Tapi sikap dinginnya justru membuatku tertantang, sulit memang, karena dia laki-laki setia yang tidak mudah berpaling dari wanitanya. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan melakukan segala cara untuk menaklukannya. Karena aku jatuh cinta.

Bab 1 Malam Pertama Hampa

#SUAMI_BONEKA

"Maaf, aku tidak bisa menyentuhmu, pernikahan kita tidak sah, wanita hamil haram untuk dinikahi," ucap laki-laki yang baru saja resmi menjadi suamiku beberapa jam yang lalu.

Aku terhenyak mendengar ucapannya. Jangan ditanya bagaimana rasanya hatiku, sudah pasti kecewa dan terhina.

Sejak acara akad nikah dan resepsi digelar dia bersikap dingin, tersenyum pada semua orang, tapi tidak padaku. Dia bahkan lebih memilih untuk mengobrol dengan tamu, dari pada masuk kamar pengantin bersamaku.

Setelah lama menunggu, berusaha tampil cantik dan menggoda. Aku pikir akan menjalani ritual malam pengantin yang indah, yang terjadi justru sebaliknya, dia menolakku. Harga diriku terkoyak, aku wanita yang dipuja banyak pria, tapi diabaikan oleh suami sendiri dimalam pertama.

Memang kami menikah tanpa cinta, dia terpaksa menikahi aku yang hamil tiga bulan atas permintaan ayahku.

Namaku Adelia Soemantri, putri tunggal pemilik perusahaan properti besar. Aset ayahku trilyunan, semua model lelaki bisa dibeli kalau hanya untuk menutupi aibku. Tapi entah mengapa Papa justru memilih Abdi Negara sebagai menantunya.

"Apa nggak ada laki-laki yang lebih berkelas dari dia, Pa?" protesku, ketika Papa menunjukkan siapa laki-laki yang akan menjadi suami pura-puraku ini.

"Hhh!" Papa membuang nafas kasar. "Banyak, tapi yang tulus hanya dia. Bibit bobot dan bebetnya jelas, meski tak sepadan dengan kita, tapi dia berasal dari keluarga baik-baik," ucap Ayah datar.

"Kamu boleh menolak menikah dengan Abdi Negara, asal kamu bisa menunjukkan siapa laki-laki yang sudah menghamilimu." imbuh Ayah.

Kalau Ayah sudah berkata begitu, aku tidak bisa berkutik lagi. Aku sendiri tak tahu siapa laki-laki yang sudah menanam benihnya di rahimku. Masih untung Papa tidak melemparku ke jalan, masih mau menerima dan berusaha menutup aibku.

"Tapi dia kelihatan nggak asik kalau diajak hangout," ucapku kesal.

"Hangout? Justru Papa menikahkanmu dengan dia, karena ingin kamu menghentikan kebiasaan burukmu itu. Nongkrong-nongkrong nggak jelas, lihat hasilnya! Hamil tanpa tahu siapa ayahnya!" Suara Papa mulai meninggi.

"Huh! Kenapa Ayah malah mengungkit kesalahanku, ini kecelakaan Papa. Aku nggak sadar ketika melakukannya," sergahku tidak terima.

Aku memang penganut faham free se*, biasa melakukan HB tanpa ikatan yang sah. Tapi aku hanya melakukannya dengan pasangan, bukan dengan laki-laki sembarangan. Dan orang tuaku tidak tahu itu.

Malam itu aku sedang sial aja, ketika di club malam aku mabuk berat, entah siapa yang membawaku, tahu-tahu aku terbangun di kamar hotel. Dan sialnya laki-laki itu menggunakan KTPku untuk cek in, hingga aku tidak bisa melacak indentitasnya.

Aku sudah mencari tahu lewat CCTV, tapi sayang wajah pria itu menggunakan masker. Dan aku tak mengenali ciri pria itu, sial memang! Mana dia tidak sendirian, jadi kemungkinan malam itu aku digilir oleh mereka.

Aku benar-benar tidak tahu siapa laki-laki yang meniduriku, aku tidak ingat sama sekali. Yang ku tahu, ada bekas spe*ma di sprei, dan pakaianku sudah berhamburan di mana-mana.

Aku bisa saja melapor kepolisi, bahwa aku sudah diperkosa, tapi nama baik dan harga diri Papa dipertaruhkan. Bisa saja pelaku memutar balik fakta, kami melakukan atas dasar suka sama suka, tak ada paksaan. Lagi pula bukti yang ada kurang meyakinkan, terlihat dalam rekaman CCTV. kami jalan berpelukan, apa itu bisa disebut perkosaan?

Andai di dalam kamar ada CCTVnya, aku bisa menyeret mereka ke penjara. Tapi aku tidak tahu siapa mereka. Bagaimana aku bisa menunjuk salah seorang dari mereka, sebagai orang yang sudah menghamili ku?

Kalau saat itu aku punya pacar, atau sedang dekat dengan seseorang, aku bisa memintanya untuk menikahiku. Sayangnya aku baru saja putus dari Adrian, dan aku ke club untuk melupakan sakit hatiku.

"Adelia, kelakuanmu sudah mencoreng muka Papa. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus menikah dengan Abdi Negara. Meski dia bukan putra konglomerat, dia pria terhormat.

Terima dia, hargai dia sebagai suami, hanya satu tahun. Setelah itu terserah kalian kalau mau bercerai. Syukur-syukur kalau pernikahan kalian bertahan selamanya.

Papa bisa bernafas lega, karena kamu sudah mendapat suami yang baik dan bertanggung jawab," ucap Papa memuji calon menantunya itu.

Setelah berdamai dengan kenyataan, dan berusaha memenuhi permintaan Papa, untuk menerima dia sebagai suami, dia menolakku? Kurang ajar sekali dia? Dia pikir dia itu siapa?

"Kenapa? Apa ada wanita lain? Hingga kamu tidak tertarik padaku?"

Kutatap laki-laki berkulit sawo matang khas pria Indonesia ini, wajahnya memang tidak setampan Opa-Opa Korea, atau aktor Hollywood. Tapi wajahnya laki-laki banget, dan karismatik. Tatap matanya teduh, bisa membuat perempuan yang menatapnya meleleh seketika.

"Kamu lupa pernikahan kita ini hanya sandiwara?" tanyanya datar.

"Tentu saja aku ingat, Tuan Abdi negara. Tapi apa salahnya kita berusaha saling menerima?"

"Berfikir lah logis Adelia, jangan pakai perasaan," ucapnya, tanpa mau menatapku.

Teringat ucapan Papa, "Papa memilih Abdi Negara, karena dia sosok menantu yang Papa idamkan. Andai kamu tidak hamil duluan, Papa akan membujuknya untuk menjadi suamimu selamanya."

"Apa salahnya kita benar-benar menjalani pernikahan ini? Lupakan sandiwara itu, mari kita mencoba saling menerima satu sama lain," bujukku.

Aku mendekat ke arah Abdi yang berdiri terpaku, kubelai wajahnya dengan ujung jariku. Tapi tangan kekarnya menangkap pergelangan tanganku.

"Kenapa? Apa aku kurang cantik?" Abdi Negara membuang pandangannya ke arah lain.

"Apa ada wanita lain?"

"Adelia, pernikahan ini hanya sandiwara hanya pura-pura. Satu tahun lagi kita bercerai, aku tidak mau ada masalah dikemudian hari.

Sebaiknya kita hidup masing-masing, aku tidak akan mencampuri urusanmu, begitu juga sebaliknya. Harap kamu ingat itu?" ucapnya dingin membuatku semakin terhina, dan ingin membalas perlakuannya.

"Dasar munafik! Aku tahu kamu tidak tulus ingin membantu, tapi kamu melakukannya karena mendapat imbalan dari Papaku, jangan kamu pikir aku tidak tahu," tandasku.

Meski Papa tidak cerita padaku, aku mendengar sendiri percakapan mereka di ruang kerja Ayah.

"Saya akan mengangkat kamu, menjadi direktur PT Elok Building. Agar kamu punya posisi yang prestis, dan tidak dipandang sebelah mata oleh keluarga besar, dan para kolegaku.

Bagaimanapun juga kamu calon menantu keluarga Soemantri. Kamu harus punya jabatan yang membanggakan." ucap Ayah kala itu.

"Kalau kamu keberatan, aku akan mengundurkan diri dari perusahaan itu. Kita akhiri sandiwara ini sekarang juga," tantangnya.

Si*lan! Berani sekali dia. Jelas Papa akan marah padaku, kalau pernikahan ini berakhir sekarang. Mau ditaruh di mana muka Papa?

Tapi aku Adelia, aku tidak Terima dihina oleh seorang laki-laki bernama Abdi Negara. Baiklah, kamu menang sekarang. Tapi nanti aku akan membuatmu tergila-gila padaku, dan saat itu giliran aku mencampakkanmu.

Next gak ya?

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Muzdalifah Muthohar

Selebihnya

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku