5.0
Komentar
2
Penayangan
32
Bab

Reyna Mahesa, seorang wanita dari zaman modern, terbangun di dunia yang tak ia kenal, dunia para bangsawan, istana megah, dan aturan yang tak bisa ditawar. Ia terperangkap dalam tubuh seorang permaisuri, wanita yang dihormati sekaligus dibenci. Yang membuatnya terkejut, wajah permaisuri itu nyaris identik dengan dirinya. Namun kehormatan itu hanyalah semu, Reyna segera menyadari bahwa ia hidup di tengah istana yang penuh dengan kebencian dan pengkhianatan. Ia tak tahu mengapa atau bagaimana ruhnya bisa terlempar ke masa silam, tapi satu hal pasti, permaisuri yang tubuhnya kini ia tempati pernah dijatuhi hukuman mati oleh raja yang mengaku sebagai suaminya sendiri. Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang bukan miliknya, Reyna dihadapkan pada pilihan; mencari jalan kembali ke dunia asalnya, atau bertahan untuk mengungkap kebenaran dan membersihkan nama permaisuri yang semua orang inginkan lenyap. "Sangkawan" adalah kisah tentang ruh yang tersesat di waktu, luka yang diwariskan, dan takdir yang tak bisa dihindari. Di balik tirai istana, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya atau justru menyelamatkan satu jiwa yang terlupakan.

Sangkawang Bab 1 Bukan sekedar Mimpi

Aku terbangun dengan napas memburu, dada naik turun seperti baru saja melarikan diri dari sesuatu yang tak kasatmata. Tubuhku basah oleh keringat dingin, tapi udara di dalam kamar justru menusuk seperti embusan musim dingin yang membekukan tulang. Rasanya nyata. Terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Jantungku masih berdegup kencang, liar dan tak beraturan. Tenggorokanku kering, seolah segala kata yang ingin kuucapkan tertahan di sana.

Semuanya masih jelas dalam benakku, seperti lukisan yang belum sempat memudar. Saat mataku terpejam, dunia lain menyambutku.

Aku berdiri di halaman luas yang asing, sunyi, dan hampa. Tak ada bangunan, tak ada tanda kehidupan. Hanya hamparan tanah kering dan padat yang terasa pernah menjadi saksi dari sesuatu yang besar pernah terjadi.

Di atas kepalaku, langit malam terbentang seperti lukisan tua. Gelap pekat dengan bintang-bintang yang bertabur sepi. Tak ada suara lain selain detak jantungku sendiri dan desir angin tipis yang mengelus dedaunan entah dari mana.

Aku memutar tubuh, menatap sekeliling dengan dada yang menegang dan napas tertahan. Lalu aku melihatnya, seseorang berdiri di tengah halaman yang sunyi. Diam. Tanpa suara. Namun kehadirannya terasa nyata, begitu nyata, seolah seluruh semesta telah menantikan detik ini.

Ia berdiri membelakangiku, tubuhnya tegap dibalut jubah gelap yang menjulur ke tanah. Namun anehnya, cahaya bintang enggan menyentuh wajahnya, seakan alam pun tak ingin mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Semakin kupandangi, sosoknya justru makin kabur.

Di hadapan pria itu, ada seorang wanita. Ia bersimpuh di tanah, tepat di bawah cahaya bulan yang pucat. Rambutnya tergerai panjang, terombang pelan ditiup angin malam. Gaun panjang bergaya kerajaan mengalir di sekeliling tubuhnya, seperti sisa masa lalu yang masih hidup.

Bahunya berguncang pelan. Ia tak bersuara, namun wajahnya menyuarakan segalanya sebuah penderitaan dan luka yang tak pernah sembuh.

Lalu aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku. Wajah wanita itu... adalah wajahku. Sama persis. Namun lebih tirus. Tatapannya kosong, seperti cermin dari jiwa yang telah retak dan kehilangan harapan.

Saat mata kami bertemu, aku bisa merasakannya sebuah duka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata. Rasa kehilangan. Duka yang sudah terlalu lama ia tanggung sendiri.

Dengan seulas senyum tipis, wanita itu berbisik di tengah desiran angin malam, "Tolong aku..." Bukan, itu bukan suara yang keluar dari bibirnya melainkan gema halus yang menyelinap langsung ke dalam benakku. Seperti bisikan angin yang merayap di antara sela-sela waktu.

"Aku sudah tidak kuat..."

Keningku berkerut. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kuucapkan. Siapa dia? Apa maksud ucapannya? Dan siapa pria yang berdiri di hadapannya?

Namun tubuhku membeku. Lidahku kelu. Seolah dunia enggan memberiku celah untuk bergerak. Lalu semuanya berubah.

Tanah di bawah wanita itu mulai retak. Cahaya bintang satu per satu redup, padam seperti lilin kehabisan harapan. Langit malam menghitam, kelam seolah hendak menelan segalanya.

Dan tepat sebelum semuanya runtuh, aku mendengar suara lain, terdengar begitu dekat, begitu dingin, seolah dibisikkan tepat di belakang telingaku.

"Aku adalah bagian darimu, Reyna."

Saat itu aku langsung terbangun. Istighfar meluncur dari bibirku berkali-kali. Jantungku berpacu liar, seolah ingin lepas dari dadaku. Napasku tercekat, gemetar. Tapi mataku, tanpa sadar, langsung menatap ke arah jendela kamar.

Malam telah berganti pagi. Cahaya lembut merambat masuk menembus celah tirai, menyapu sudut kamar dengan sinar keemasan. Dengan tangan gemetar, aku memijat pelipis, mencoba menghapus jejak mimpi yang terasa begitu nyata terlalu nyata.

Baiklah, lupakan. Aku harus fokus pada hari ini. Ada seseorang yang harus kutemui. Bergegas, aku berdiri, masuk ke kamar mandi, lalu berpakaian dengan tergesa. Setelah berpamitan singkat pada ibu, aku melangkah menuju suatu tempat.

Begitu sampai, aku langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dari kejauhan, suara itu menyambutku. Ia sedang duduk di tengah-tengah anak-anak didiknya, seperti biasa, dengan mata penuh cerita dan bibir yang tak lelah mengisahkan dongeng masa lalunya itu.

"Itu hanya sedikit dari 112 kesultanan dan kerajaan yang pernah ada di Indonesia."

"Apa sebanyak itu?" tanya salah satu anak, suaranya mengambang di udara, setengah tak percaya.

Pria itu-Zayden-mengangguk pelan. "Konon, ada satu kerajaan yang hingga kini keberadaannya masih menjadi misteri. Para arkeolog telah mencoba mencarinya, menelusuri catatan-catatan kuno, namun hasilnya selalu nihil. Seolah kerajaan itu hanya hidup dalam bayang-bayang sejarah."

"Apakah kerajaan itu ada di Indonesia juga?"

Zayden tersenyum samar. "Itu-"

"Bisakah kau berhenti dengan cerita tidak masuk akalmu itu?" Potongku tajam, suaraku menggema di ruangan.

Zayden menoleh cepat, napasnya terdengar berat. "Dan bisakah kau berhenti menyela ceritaku?" balasnya, nada suaranya menusuk balik.

Aku melangkah maju, menatap matanya dalam-dalam. "Aku ke sini untuk menagih janji."

Dengan helaan napas jengkel, Zayden berdiri dan menarik lenganku, menyeretku keluar dari ruangan. Tatapannya tajam, gerakannya cepat.

"Reyna, aku tahu kamu cinta mati sama hobimu itu, tapi tolong jangan seret-seret aku terus ke dalam urusanmu. Kalau begini terus, aku bisa mati muda, tahu nggak?"

Aku mengangkat tangan, tak peduli pada keluhannya. "Kuncinya."

Ia menghela napas panjang, menyerah. Tangannya merogoh saku celana, lalu menyodorkan kunci motor itu ke tanganku dengan wajah pasrah.

"Mau sampai kapan kamu terus jadi pembangkang?"

Aku tersenyum lebar, nyaris congkak. "Kamu tahu, 'kan, apa yang harus kamu lakukan setelah ini?" ucapku sembari melenggang pergi tanpa menoleh.

"Reyna! Aku sudah sumpah, atas nama Ibumu, ini terakhir kalinya aku membantumu!" teriak Zayden dari belakang, nadanya frustrasi bercampur pasrah.

Tapi aku tidak peduli. Tidak sedikit pun.

Dengan semangat yang menggelegak, aku mengenakan racing suit hitamku, lalu berjalan mantap menuju Yamaha YZF-R6 kesayanganku. Motor yang kerap kali disita Ayah karena hobiku yang tidak akan pernah beliau sukai.

"Kamu itu perempuan, Re. Berperilakulah seperti perempuan!"

"Mau sampai kapan kamu terus menyusahkan Ayah dan Ibumu seperti ini, hah?"

Bentakan Ayah dulu masih terpatri jelas di kepalaku. Beliau pernah menyusulku ke kantor polisi, wajahnya merah padam, suaranya bergemuruh. Semua itu karena satu hal yang sama. Balapan liar.

Tapi apa daya? Kata-katanya hanya lewat begitu saja. Tidak membekas. Tidak mengubahku. Mungkin aku memang keras kepala. Atau mungkin aku hanya sedang mencari versi diriku sendiri dengan cara yang tak mereka mengerti.

"Alright! Kau siap, junior?" gumamku pada motor kesayanganku, lalu mengenakan helm dengan satu tarikan napas panjang.

Gudang tua itu menjadi saksi bisu saat aku kembali menyalakan mesin. Dentuman suara mesinnya membelah malam, dan aku melesat keluar tanpa ragu, meninggalkan bayang-bayang larangan yang selama ini mengungkungku.

Langit malam menggantung kelam, tapi semangatku menyala terang. Deru mesin, sorak-sorai liar, dan cahaya neon jalanan beradu dalam simfoni penuh gairah. Adrenalinku meledak.

Seperti biasa, aku melesat di antara batas kecepatan dan kegilaan. Dan, ya, seperti biasa pula, aku kembali menorehkan kemenangan.

Dari kerumunan, langkah kaki berat terdengar mendekat. Seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jaket kulit gelap dan celana jeans ketat, berdiri tepat di hadapanku.

"Aku akui kehebatanmu kali ini," katanya, suaranya dalam dan datar tapi ada sesuatu yang mengendap di balik nada itu.

"Itu artinya kau mengakui kekalahan, bukan?" godaku, melengkungkan senyum miring yang penuh tantangan.

Pria itu mengikis jarak di antara kami, langkahnya pasti, matanya tak lepas menatapku. Ia membungkuk sedikit, menyamakan tinggi wajahnya dengan wajahku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya menyapu lembut kulit pipiku. Detak jantungku sontak berdegup lebih cepat.

"Sayangnya, tidak, Nona Rey," balasnya dengan tersenyum tenang, namun sorot matanya bicara lain. "Bagiku ini bukanlah akhir. Melainkan awal dari segalanya."

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Wilda Puspita

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Sangkawang Sangkawang Wilda Puspita Fantasi
“Reyna Mahesa, seorang wanita dari zaman modern, terbangun di dunia yang tak ia kenal, dunia para bangsawan, istana megah, dan aturan yang tak bisa ditawar. Ia terperangkap dalam tubuh seorang permaisuri, wanita yang dihormati sekaligus dibenci. Yang membuatnya terkejut, wajah permaisuri itu nyaris identik dengan dirinya. Namun kehormatan itu hanyalah semu, Reyna segera menyadari bahwa ia hidup di tengah istana yang penuh dengan kebencian dan pengkhianatan. Ia tak tahu mengapa atau bagaimana ruhnya bisa terlempar ke masa silam, tapi satu hal pasti, permaisuri yang tubuhnya kini ia tempati pernah dijatuhi hukuman mati oleh raja yang mengaku sebagai suaminya sendiri. Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang bukan miliknya, Reyna dihadapkan pada pilihan; mencari jalan kembali ke dunia asalnya, atau bertahan untuk mengungkap kebenaran dan membersihkan nama permaisuri yang semua orang inginkan lenyap. "Sangkawan" adalah kisah tentang ruh yang tersesat di waktu, luka yang diwariskan, dan takdir yang tak bisa dihindari. Di balik tirai istana, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya atau justru menyelamatkan satu jiwa yang terlupakan.”
1

Bab 1 Bukan sekedar Mimpi

10/10/2025

2

Bab 2 Mimpi Itu Lagi

10/10/2025

3

Bab 3 Gundah

10/10/2025

4

Bab 4 Diantara Dua Pilihan

10/10/2025

5

Bab 5 Kecelakaan

10/10/2025

6

Bab 6 Siapa dia

10/10/2025

7

Bab 7 Kadipaten Rimba Aruna

10/10/2025

8

Bab 8 Sungguh Miris

10/10/2025

9

Bab 9 Menyayat Hati

10/10/2025

10

Bab 10 Usaha dan Doa

10/10/2025

11

Bab 11 Siapa dia sebenarnya

10/10/2025

12

Bab 12 Siapa yang mulia itu

10/10/2025

13

Bab 13 Jayapati

10/10/2025

14

Bab 14 Ruang tanpa suara

10/10/2025

15

Bab 15 Tempat macam apa ini

10/10/2025

16

Bab 16 Siapa sebenarnya dirimu, Arya

10/10/2025

17

Bab 17 Siapa kau sebenarnya

10/10/2025

18

Bab 18 Kesunyian Malam

10/10/2025

19

Bab 19 Kemana perginya dia

10/10/2025

20

Bab 20 Apakah Anda telah melupakan segalanya, Yang Mulia

10/10/2025

21

Bab 21 Ada apa sebenarnya

12/10/2025

22

Bab 22 Sebuah benda langka

13/10/2025

23

Bab 23 Pedagang Tua

14/10/2025

24

Bab 24 Apa yang terjadi sebenarnya

15/10/2025

25

Bab 25 Sebuah Penderitaan

16/10/2025

26

Bab 26 Menentang Titah

17/10/2025

27

Bab 27 Resah

18/10/2025

28

Bab 28 Sosok sang Raja

19/10/2025

29

Bab 29 Orang-orang sinting

20/10/2025

30

Bab 30 Penjara

21/10/2025

31

Bab 31 Siapa kau

22/10/2025

32

Bab 32 Dimana lagi ini

23/10/2025