Istri kecil tuan mafia

Istri kecil tuan mafia

Eka Budi

5.0
Komentar
3.1K
Penayangan
20
Bab

Jalan kehidupan seseorang, tak lebih dari skenario tanpa urutan. Terkadang serasa di atas, padahal posisi masih jauh di bawah. Alam bawah sadar setiap manusia hanya disesaki keserakahan yang sering dilihat seperti kebaikan. Yui misalnya, setelah memutuskan untuk melepas kegadisannya lewat prostitusi online, ia malah bertemu dengan pria kejam. Seorang pemimpin Yakuza yang rela merenggut kebahagian orang lain untuk kepuasannya. "Aku hanya butuh budak, bukan seorang istri. Kau, memenuhi setiap syaratnya. Ayahmu, Matsumoto Miura, berhutang nyawa dan berjanji memberikan anak gadisnya pada ayahku." Seperti kaca yang pecah dan berserakan, Yui Miura tidak bisa berkata apapun selain mencari keuntungan dari semua itu. "Berikan aku tarif yang cukup. Maka aku akan bersedia mengandung anakmu." Yakuza itu tertawa, persis orang sakit. Malam yang mereka habiskan berdua, adalah awal dari penyesalan pertama.

Istri kecil tuan mafia Bab 1 Tentang Yui

Yui melangkah masuk ke sebuah pub di sudut kota Tokyo. Riasan tebal dengan gincu menyala terang, menjelaskan apa yang tengah ia cari. Uang dan laki-laki.

Ini bukan kali pertama. Biasanya ia akan memakai setelan seragam anak SMA. Kepunyaan sendiri dan belum dicuci. Tapi, hari ini berbeda. Ia butuh uang banyak. Menuangkan minuman sambil membiarkan tubuhnya diraba-raba tidak akan cukup. Ibunya butuh lebih untuk kemoterapi.

"Bersihkan makeup mu!" teriak seorang wanita yang sepertinya mucikari. Ia menyeret lengan ketat Yui tepat ketika gadis itu berencana duduk, menemani laki-laki tua berperut buncit.

"Kenapa? Aku akan mengikuti aturannya. Berapa pembagiannya?" Yui mengeluh, sedikit geram, ia mengeluarkan isi tas. Seingatnya, ada dua lembar dollar terakhir.

"Dasar! Kau bodoh? Idiot? Bagaimana bisa kau datang dengan dandanan kacau? Kalau niat cari uang banyak, katakan dulu padaku!" Mae, si wanita mucikari menampar tangan Yui emosi. Di bagian belakang, para bartender pura-pura tidak mendengar. Di pub miliknya, ada aturan dari pihak kepolisian tentang prostitusi.

Menjual virginitas itu kejahatan. Sedang, yang lain tidak. Anak di bawah umur juga dipastikan mendapat perlindungan. Tapi itu hanya prosedur omong kosong. Buktinya selama sepuluh tahun terakhir, Mae menjalankan bisnisnya tanpa ada kendala apapun. Para remaja penggila barang bermerk, banyak yang secara sukarela menukar virginitasnya senilai gaji setahun ayah mereka. hal itu tentu saja menjadi ladang uang untuk Mae. Semakin banyak remaja putus asa, ia semakin kaya raya.

"Kau bisa menemukan pelanggan pertamamu besok minggu. Ini tentu saja akan menjadi penawaran terbaik dariku. Kau masih perawan, kan?" bisik Mae menekan pertanyaannya dengan tatapan serius dan mengancam.

Yui terdiam. Untuk sesaat ia ingat tidak pernah punya pacar sepanjang hidupnya. Bahkan membayangkan berciuman dengan orang asing sering berujung mual. Tapi itu adalah pekerjaan part time yang sudah ia pilih. Ibunya telah lama lumpuh karena stroke. Sedang ayah Yui sudah meninggal sepuluh tahun silam. Keadaannya cukup menyedihkan hingga ia tidak perlu alasan lain untuk bertahan hidup.

"Kalau ragu, aku siap dites." Yui menghela napasnya, kasar. Selama ini Mae cukup baik. Ia sering diberi kelonggaran hutang saat masih membutuhkan uang. Karena itu Yui tahu benar resiko apa yang harus Mae ambil kalau ia ketahuan berbohong.

Mae menatapnya cukup lama. Wanita paruh baya itu kemudian mengambil foto Yui dalam beberapa sudut lalu menyuruh pulang agar bisa beristirahat.

"Besok pagi, datanglah ke apartementku. Ada sesuatu yang harus aku berikan." Mae mengibaskan jemarinya yang dipenuhi kutek warna hitam. Mengarahkan pandangan Yui ke pintu ke luar.

Sebelum kalimat protes keluar dari mulutnya, sepuluh lembar dollar dikibaskan oleh Mae, tepat di depan wajah Yui. Ia tahu benar saat akhir bulan seperti sekarang, Yui pasti kehabisan uang untuk biaya rumah sakit dan tagihan rumah sewa.

"Pastikan juga, tamu pertamaku sehat. Aku tidak mau terkena AIDS di usia produktif," kata Yui menyambar uang itu sembari berlalu. Deretan hiasan pintu berbunyi saat ia menarik mereka dengan gerakan kasar.

Mae menghela napas pelan. Waktu ini akhirnya datang. Miura Yui gadis yang awalnya polos dan malu-malu kini mulai terbiasa memperlakukan tubuhnya dengan murahan. Mae berjalan tenang menuju ruangannya yang jauh dari hingar bingar. Di sebuah lorong menuju ruangan VIP, beberapa gadis menyapa, namun berakhir tidak peduli ketika ia menghilang dari pandangan mata mereka.

---

Yui pulang dengan sebungkus panekuk daging sapi. Ia masuk begitu saja dan mendapati ibunya tengah menyiram bunga mawar malam-malam.

Kursi roda yang dibelikan Yui sangat membantunya beraktivitas. Jika awalnya ny. Miura hanya duduk saja, sekarang ia bisa melakukan banyak hal.

Yui tidak menyesal menghabiskan banyak uang untuk operasi syaraf ibunya. Tapi, ceritanya akan lain kalau pekerjaannya sampai ketahuan. Walaupun sekarang mereka miskin, dulu ayah Yui, Sakamoto Miura pernah menjadi salah satu pimpinan Yakuza paling disegani. Di daerah Kanto, bahkan namanya masih dikenal meski sudah mati. Yui dan ibunya berakhir hidup sederhana karena lilitan hutang.

Tak lama, setelah memastikan ibunya makan, Yui menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia harus mencuci futon sebelum tidur. Kemarin, untuk sekian kalinya ny. Miura menumpahkan sesuatu. Memang, nodanya tidak bisa dihilangkan dengan mudah, tapi kesal di depan sang ibu, membuat suasana hatinya bertambah buruk. Ia harus bersyukur tak ada lagi piring pecah atau benda jatuh lainnya. Sistem syaraf ibunya memang harus secepatnya diterapi.

"Ibu, sekarang ibu tidur, ya? Sudah malam," kata Yui mendorong kursi roda ny. Miura ke arah ruangan di sebelah kamarnya. Di sana, ada sebuah ranjang untuk berbaring. Yui pernah memakai futon, tapi tidak berhasil. Mengangkat tubuh wanita dewasa yang bahkan tidak bisa bergerak, membuat tulangnya sakit.

Segera setelah mencuci dan membereskan beberapa perabot, Yui menyiapkan buku sekolah dan PR yang belum sempat ia kerjakan. Menjelang kelulusannya, Yui tidak mengharapkan apapun. Ia hanya ingin cepat-cepat mendapat KTP lalu menanggalkan label 'anak di bawah umur.'

--

Alarm ponsel Yui berbunyi tepat jam 7 pagi. Di luar masih gelap dan angin di penghujung musim gugur mampu membuat kebas kulit telanjang. Untung saja, syal milik gadis itu masih cukup layak untuk menutupi leher hingga dagu ke atas.

"Ibu, aku berangkat. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan sebelum pergi. Pemanas ruangan sudah kunyalakan. Hari ini ada acara tv menarik dan untuk makan siang, maaf aku hanya meninggalkan roti lapis." Yui membungkuk, mengecup pipi ny. Miura. Meski tak bicara, sorot matanya menyiratkan terima kasih sekaligus rasa bersalah.

Halte bus pertama berada cukup jauh dari kompleks sewaan. Yui berulang kali menatap jam di layar ponselnya. Memastikan ia punya cukup waktu untuk ke apartemen Mae.

"Yui san? Ada titipan untukmu." Seorang pengendara motor tiba-tiba saja berhenti tepat di persimpangan jalan. Sekilas dari balik jaketnya, ia adalah seorang pria tinggi dan berkulit pucat. Kakinya cukup panjang karena tidak kepayahan menyangga body motor yang lumayan besar.

"Aku?"

"Yui Miura, kan? Mae san memintaku untuk mengantarnya." Ia mematikan mesin motor, menepi lalu mengambil bungkusan kecil dari dalam tasnya.

"Baiklah, terima kasih. Aku berencana ke sana tapi sepertinya waktunya tidak akan cukup." Yui mengambil barang dari tangan pria itu sembari membungkuk.

Si pria terdiam, menggeser kaca helm full facenya ke atas. Matanya menelisik, mengamati wajah Yui dengan pandangan aneh.

"Lumayan juga, apa kau masih SMA?" gumamnya menurunkan tatapannya hingga ke ujung kaki. Seragam sekolah Yui memang tidak mencolok, bahkan terkesan kampungan. Tapi, kaki jenjang milik gadis seusianya, selalu menarik perhatian.

Yui langsung memasang wajah kesal, merasa dilecehkan secara verbal. Walaupun tanpa sentuhan, tatapan pria asing itu, mampu membuat hatinya panas. Ia membayangkan ada seringai mesum di balik maskernya.

"Sampai jumpa minggu depan. Pakai seluruh perawatan juga wewangian itu. Kau tahu, kan? Pelanggan pertama harus dibuat terkesan?" ucapnya memutar kunci lalu menghidupkan mesin.

Apa-apaan dia? Yui meremas ujung roknya gelisah. Suara motor pria itu mulai menghilang bersama kendaraan lain di jalur utama. Tapi, kesannya justru tertinggal dan sulit dihapuskan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Eka Budi

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Istri kecil tuan mafia Istri kecil tuan mafia Eka Budi Modern
“Jalan kehidupan seseorang, tak lebih dari skenario tanpa urutan. Terkadang serasa di atas, padahal posisi masih jauh di bawah. Alam bawah sadar setiap manusia hanya disesaki keserakahan yang sering dilihat seperti kebaikan. Yui misalnya, setelah memutuskan untuk melepas kegadisannya lewat prostitusi online, ia malah bertemu dengan pria kejam. Seorang pemimpin Yakuza yang rela merenggut kebahagian orang lain untuk kepuasannya. "Aku hanya butuh budak, bukan seorang istri. Kau, memenuhi setiap syaratnya. Ayahmu, Matsumoto Miura, berhutang nyawa dan berjanji memberikan anak gadisnya pada ayahku." Seperti kaca yang pecah dan berserakan, Yui Miura tidak bisa berkata apapun selain mencari keuntungan dari semua itu. "Berikan aku tarif yang cukup. Maka aku akan bersedia mengandung anakmu." Yakuza itu tertawa, persis orang sakit. Malam yang mereka habiskan berdua, adalah awal dari penyesalan pertama.”
1

Bab 1 Tentang Yui

20/08/2024

2

Bab 2 Calon pelanggan

20/08/2024

3

Bab 3 Pangeran mafia Jepang

20/08/2024

4

Bab 4 Pilihan yang rumit

20/08/2024

5

Bab 5 Jatuh cinta dengan monster

20/08/2024

6

Bab 6 Hunian baru

20/08/2024

7

Bab 7 Perjamuan makan

20/08/2024

8

Bab 8 Warna senja

20/08/2024

9

Bab 9 Wangi parfume Kazuo

20/08/2024

10

Bab 10 Wajar nyalang pangeran Mafia

20/08/2024

11

Bab 11 Mustahil

20/08/2024

12

Bab 12 Keyakinan Yui

22/09/2024

13

Bab 13 Musim gugur

22/09/2024

14

Bab 14 Moral seorang pemimpin

22/09/2024

15

Bab 15 Menjangkau bibir

22/09/2024

16

Bab 16 Memutuskan menyingkir

22/09/2024

17

Bab 17 Ujung jarinya

23/09/2024

18

Bab 18 Setumpuk uang

23/09/2024

19

Bab 19 Melalui hati

24/09/2024

20

Bab 20 Di balik selimut

24/09/2024