Gairah yang Tertahan

Gairah yang Tertahan

Pritca Ruby

5.0
Komentar
21.7K
Penayangan
125
Bab

Tiga tahun menikah, tiga tahun pula aku dituntut untuk segera memberikan seorang cucu oleh Ibu Mertuaku. Mau pecah rasanya kepalaku karena selalu hal itu yang dibahas disetiap pertemuan kami. Aku selalu diam saja, begitu juga dengan suamiku yang tidak pernah membelaku. Aku sudah memeriksakan rahimku dan nyatanya memang tidak ada masalah. Aku rasa hanya perihal waktu saja, Tuhan mungkin belum memberikan kepercayaannya pada kami. Tidak mungkin juga aku mengatakan pada Ibu Mertua jika kemungkinan besar anaknya yang bermasalah. Jujur saja, selama tiga tahun, aku tidak pernah merasa terpuaskan. Satu kali pun tidak pernah. Bahkan aktivitas bercinta kami bisa dihitung dengan jari dalam satu bulan, itu pun tidak pernah lama. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk kembali bekerja daripada di rumah dan stres sendiri. Apalagi keuangan rumah tangga kami memang sedang tidak baik-baik saja, karena harus berbagi dengan Ibu Mertuaku yang sudah tidak ada yang menafkahi sejak Ayah Mertua meninggal. Aku pun melamar ke sebuah perusahaan yang sedang mencari sekretaris. Kebetulan pula, aku memang mantan sekretaris sebelum menikah dan resign. Semua bermula dari sana. Awal mula aku bermain di belakang suamiku ....

Gairah yang Tertahan Bab 1 Menahan Diri

"Coba kamu periksa ke dokter, mana tau ada yang salah sama rahim kamu. Masa udah rumah tangga tiga tahun tapi belum juga punya anak," ucap Ibu Mertuaku yang katanya hanya sekedar mampir, padahal hal itulah yang selalu ia bahas ketika berkunjung ke rumah.

"Sudah kok, Bu. Dan kata dokter rahimku sehat. Siklus menstruasinya juga teratur. Aku juga sebisa mungkin menghindari stres walaupun selalu dihujani banyak pertanyaan 'kenapa belum hamil?'."

"Jadi, kamu mau bilang Ibu bikin kamu stres?" Nada bicara Ibu Mertuaku terdengar tidak baik-baik saja.

"Aku tidak menuduh Ibu, apa memang Ibu merasa?"

"Ini nih, yang buat kamu susah hamil. Ngeyel jadi orang!"

Ditengah perbincangan dengan Ibu Mertuaku yang terdengar semakin tidak baik, Suamiku malah asyik main game dengan ponselnya. Begitulah kebiasaannya setiap pulang kerja. Bukannya membelai istri, malah sibuk dengan game. Bagaimana bisa aku hamil kalau seperti ini?

Aku menarik napas dalam-dalam. "Bu, coba deh Ibu tanya sama anak Ibu sendiri. Mungkin saja Mas Rendi yang bermasalah. Dokter juga nyaranin supaya kita diperiksa berdua, tapi Mas Rendi selalu nolak," ucapku akhirnya dengan berani.

Selama ini aku diam bukan karena aku tidak punya nyali untuk membela diriku sendiri, hanya saja aku menghormati Ibu Mertuaku yang sudah menjadi Ibu kedua bagiku. Namun, aku sudah tidak tahan lagi jika pembahasan setiap hari hanya seputar anak saja.

"Kok kamu jadi nuduh suami kamu sendiri? Kamu lupa, Rendi sudah punya anak dari istrinya yang dulu. Kamu mau membela diri tapi menuduh Rendi yang bermasalah? Apakah kamu harus diperiksa kejiwaannya juga?"

"Bu, cukup, ya!" Aku sudah benar merasa hilang kesabaran. "Mas Rendi! Ngomong sesuatu dong!"

Tanpa berpikir panjang, aku secara tidak sadar merebut ponsel Mas Rendi.

"Bu, udah. Malu sama tetangga. Ibu pulang aja udah mau malem juga," ucap Mas Rendi yang akhirnya bersuara disaat aktivitasnya aku hentikan secara paksa.

"Dasar, Menantu yang gak tau sopan santun!" ucap Ibu Mertuaku yang langsung keluar dari rumah untuk pulang.

Setelah Ibu pulang, aku pikir Mas Rendi akan meminta maaf atas perbuatan Ibunya padaku. Namun, salah. Aku terlalu berharap saja dibela oleh Suamiku sendiri.

"Sayang, jangan begitulah sama Ibu. Kasihan. Wajar kalau Ibu minta cucu sama kita. Anak Ibu itu cuma Mas. Dan anak Mas kan ikut sama mantan istri Mas, jadi jarang main dan bertemu sama Ibu."

"Aku cape aja, Mas. Selalu itu terus yang dibahas. Bukannya nanya kabar dulu, atau apalah. Ibu pikir aku nggak mau punya anak apa? Umur aku juga udah mau 28 tahun, jelas aku juga mau punya anak kaya orang lain. Makanya ayo kita periksa ke dokter sama-sama."

Suamiku langsung memelukku. "Sabar, ya. Mas nggak pernah maksa kamu buat cepet hamil. Hidup bersama kamu saja Mas sudah sangat senang. Mas juga gak pernah minta kamu buat periksa ke dokter."

"Ya kalau begitu, Mas bicara dong sama Ibu tadi."

"Sttt! Udah pokoknya jangan dibahas lagi hal itu."

Aku pun balas memeluk suamiku, karena aku orang yang mudah luluh.

Jujur saja, aku adalah orang yang gampang bergairah. Selama pernikahan kami, akulah yang selalu meminta jatah terlebih dahulu.

"Mas ...."

Aku mulai menciumi leher suamiku, untuk membangkitkan gairahnya.

"Sayang, Mas lagi cape banget hari ini. Besok lagi, ya."

Lagi?

Lagi-lagi aku ditolak!

Malam kemarin karena pulang lembur. Sekarang karena capek.

"Tapi, Mas ...."

Namun Mas Rendi benar-benar tidak mempedulikan keinginan sederhanaku itu. Ia masuk ke dalam kamar sambil membawa ponselnya yang aku rampas tadi dan meninggalkanku sendirian.

Pada akhirnya, aku yang harus mengurusnya sendiri. Bermain dengan jariku sampai aku merasa puas. Selalu begini, kapan aku hamilnya?

***

Sebagai seorang Ibu rumah tangga, terkadang bosan juga hampir setiap hari di rumah apalagi aku belum mempunyai anak yang harus aku jaga.

Kadang aku berpikir lebih baik stres karena pekerjaan tetapi tetap menghasilkan uang. Daripada stres di rumah, uang pun menunggu pemberian dari suami ketika gajian.

Sekarang jadwalku untuk belanja bulanan. Ya, aku berangkat sendiri. Tidak pernah mengandalkan Suamiku yang selalu ogah-ogahan jika aku memintanya untuk antar ke supermarket. Suamiku terlalu gila pekerjaan, sekalinya pulang lupa istri karena sibuk bermain game.

Waktunya aku mengantre di kasir, memang bukan akhir pekan tetapi cukup ramai karena aku belanja sore hari dimana bertepatan dengan jam pulang kantor.

Sekarang tiba untuk menghitung berapa total belanjaanku yang hanya satu troli kecil saja. Sebagai seorang istri, aku sudah pandai me-manage uang. Walaupun belum punya anak, tetapi aku selalu menyisihkan penghasilan Suamiku untuk dana pendidikan anak kami nanti.

"Totalnya jadi 564.300 rupiah, Mbak."

Aku yang sedari tadi tengah sibuk mencari dompet, mulai merasa panas dingin setelah kasir itu selesai men-scan barang belanjaanku.

Astaga! Di mana dompetku? Apa aku lupa membawanya?

Saat berangkat ke supermarket, aku memesan ojek online dan membayar lewat e-wallet, sehingga aku tidak menyadari kalau aku lupa membawa dompet. Dan sayangnya saldo e-wallet-ku kurang dari nominal yang disebutkan oleh kasir. Sedangkan m-banking ada di ponsel Mas Rendi.

"Mbak? Total belanjaannya 564.300 rupiah. Kalau tidak ada cash, bisa scan barcode."

"Mbak, maaf. Sepertinya dompet saya tertinggal. E-wallet saya juga tidak cukup saldo. Boleh saya telepon suami saya dulu?" tanyaku berharap Mbak kasir itu mengiyakan dan aku akan meminta Mas Rendi untuk top up saldo e-wallet-ku saja.

"Cepat, Mbak. Antrean panjang."

Aku segera menelpon Mas Rendi dengan gugup karena orang-orang di belakang melihatku.

Beberapa kali, Mas Rendi tetap tidak menjawab.

"Mbak biar saya yang bayar," ucap seseorang yang memberikan blackcard pada kasir. Sontak membuatku menoleh.

"Tidak usah, Mas."

"Kamu tidak lihat antrean di belakang? Saya hanya meminjamkannya, nanti kamu harus kembalikan uang saya," ucapnya.

Meski sedikit malu, tetapi setidaknya pria yang ada di belakangku telah menyelamatkanku.

Aku pun menunggu dia setelah beres dengan belanjaannya. "Mas, karena suami saya masih belum bisa dihubungi, boleh saya minta nomor rekening dan nomor ponselnya. Saya akan pastikan bayar setelah saya sampai ke rumah."

"Kamu tidak akan kabur?"

Dengan cepat aku menggelengkan kepala. "Tidak, Mas."

"Saya butuh jaminan."

"Tapi saya tidak membawa barang berharga, saya juga tidak bawa kartu pengenal."

"Kalau begitu, saya antar ke rumah. Dan kamu bisa langsung membayarnya."

"Ke rumah?"

"Iya, dengan begitu kamu tidak akan kabur."

"Tapi, sepertinya itu merepotkan," ucapku yang keberatan jika harus mengajaknya ke rumahku.

"Saya bukan berniat mengantarkan kamu pulang, tapi menjemput uang saya."

Aku tidak punya pilihan lain, selain mengiyakannya. Aku juga tidak mau jika harus berhutang pada orang lain.

Sepanjang perjalanan, kami saling diam saja. Karena memang tidak ada topik obrolan yang perlu kami bahas.

"Ini rumahmu?" tanya pria itu saat mobil berhenti tepat di depan rumah.

"Iya, betul. Mas tunggu sebentar di sini, saya ke dalam ambil dompet," ucapku sambil membuka pintu mobil.

"Kamu tidak menyuruhku untuk menunggu di dalam?" tanya pria itu membuatku merasa curiga saja jika dia bukan orang baik-baik.

"Suami saya belum pulang kerja, Mas. Saya tidak bisa asal memasukkan orang ke dalam rumah. Mohon maaf ya, Mas."

Saat aku keluar dari kamar, ternyata pria yang aku suruh untuk menunggu di mobil, malah sudah duduk di ruang tamuku. Membuatku takut dan was-was.

"Mas kenapa masuk ke dalam tanpa seizin saya? Saya kan sudah bilang Mas tunggu di mobil, karena saya pasti akan membayarnya. Ini ...."

Aku menyerahkan uangku untuk menggantikan uangnya. Aku genapkan saja jadi 600 ribu, hitung-hitung sebagai rasa terima kasih.

"Oke, saya terima uangnya." Pria itu bangkit. Bukannya keluar dari rumah, ia malah berjalan mendekati foto pernikahanku dengan suami yang aku cetak dengan ukuran besar dan aku pajang di ruang tamu.

"Ini foto pernikahanmu dengan suami?" tanya pria itu benar-benar melenceng dari tujuan dia ke sini.

Meskipun itu basa-basi yang tidak terlalu mengganggu, tetapi bagiku rasanya sedikit tidak sopan saja karena pria itu dengan lancang masuk ke dalam.

"Betul. Mas sebaiknya pulang, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."

"Sepertinya saya diusir secara halus. Baiklah, saya permisi."

Disaat pria itu hendak keluar, ternyata suamiku pun pulang bersama dengan Ibu Mertuaku.

Habis sudah! Mereka pasti akan salah paham padaku karena pria ini keluar dari rumah disaat tidak ada orang.

"Apa-apaan ini, Tiana?" Nada bicara Ibu Mertuaku terdengar tidak baik-baik saja. "Keterlaluan! Suami sibuk kerja, eh ini istri tidak tahu malu malah masukin laki-laki ke rumah. Gak tahu malu!"

"Tiana ...."

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Pritca Ruby

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Gairah yang Tertahan Gairah yang Tertahan Pritca Ruby Romantis
“Tiga tahun menikah, tiga tahun pula aku dituntut untuk segera memberikan seorang cucu oleh Ibu Mertuaku. Mau pecah rasanya kepalaku karena selalu hal itu yang dibahas disetiap pertemuan kami. Aku selalu diam saja, begitu juga dengan suamiku yang tidak pernah membelaku. Aku sudah memeriksakan rahimku dan nyatanya memang tidak ada masalah. Aku rasa hanya perihal waktu saja, Tuhan mungkin belum memberikan kepercayaannya pada kami. Tidak mungkin juga aku mengatakan pada Ibu Mertua jika kemungkinan besar anaknya yang bermasalah. Jujur saja, selama tiga tahun, aku tidak pernah merasa terpuaskan. Satu kali pun tidak pernah. Bahkan aktivitas bercinta kami bisa dihitung dengan jari dalam satu bulan, itu pun tidak pernah lama. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk kembali bekerja daripada di rumah dan stres sendiri. Apalagi keuangan rumah tangga kami memang sedang tidak baik-baik saja, karena harus berbagi dengan Ibu Mertuaku yang sudah tidak ada yang menafkahi sejak Ayah Mertua meninggal. Aku pun melamar ke sebuah perusahaan yang sedang mencari sekretaris. Kebetulan pula, aku memang mantan sekretaris sebelum menikah dan resign. Semua bermula dari sana. Awal mula aku bermain di belakang suamiku ....”
1

Bab 1 Menahan Diri

20/11/2023

2

Bab 2 Ujian Rumah Tangga

20/11/2023

3

Bab 3 Pria Asing

20/11/2023

4

Bab 4 Bertemu Mantan Istri Suamiku

20/11/2023

5

Bab 5 Wajah Tak Asing

20/11/2023

6

Bab 6 Tak Tersentuh

20/11/2023

7

Bab 7 Makan Siang Berdua

20/11/2023

8

Bab 8 Kali Pertama

20/11/2023

9

Bab 9 Bonus Suka Hati

20/11/2023

10

Bab 10 Semua Untukku

20/11/2023

11

Bab 11 Bersitegang

23/11/2023

12

Bab 12 Profesionalitas

23/11/2023

13

Bab 13 Pelepas Hormon Endorfin

24/11/2023

14

Bab 14 Tempat Apakah Itu

24/11/2023

15

Bab 15 Hasrat Terbangun

25/11/2023

16

Bab 16 Tergoda

25/11/2023

17

Bab 17 Suamiku dan Mantan Istrinya

26/11/2023

18

Bab 18 Sadarkan Diri

26/11/2023

19

Bab 19 Tak Ingin Kalah Saing

27/11/2023

20

Bab 20 Kesengajaan Berulang

27/11/2023

21

Bab 21 Penuh Sesak

28/11/2023

22

Bab 22 Villa Keluarga

28/11/2023

23

Bab 23 Terkagum

29/11/2023

24

Bab 24 Hangat dalam Perapian

29/11/2023

25

Bab 25 Malam Panas

30/11/2023

26

Bab 26 Meminta Lebih

30/11/2023

27

Bab 27 Sama-sama Pemain

03/12/2023

28

Bab 28 Aku Wanita, Kamu juga

04/12/2023

29

Bab 29 Tidak Baik Saja

04/12/2023

30

Bab 30 Menurunkan Ego

05/12/2023

31

Bab 31 Terus Memberi Pengertian

06/12/2023

32

Bab 32 Seri

06/12/2023

33

Bab 33 Fair or Affair

08/12/2023

34

Bab 34 Seratus Juta Semalam

09/12/2023

35

Bab 35 Akan Berlangsung Lama

10/12/2023

36

Bab 36 Memergoki Suami

12/12/2023

37

Bab 37 Situasi yang Gila

13/12/2023

38

Bab 38 Masalah Anak

15/12/2023

39

Bab 39 Membangkitkan Sesuatu

15/12/2023

40

Bab 40 Kiss Bye

15/12/2023