Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Suami Misterius Yang Perkasa

Suami Misterius Yang Perkasa

Bulan

5.0
Komentar
195K
Penayangan
247
Bab

Tiga tahun pernikahan, infertilitas berakhir, ketika tiga kecil memegang pintu perut besar memaksa istana, bersih keluar dari rumah ...

Bab 1 Pelakor Keguguran

Di rumah sakit, tercium bau disinfektan.

Ariyani Yazid mengambil lembar tes dan bergegas keluar dari ruangan dokter, ketika hendak menelepon, ponselnya berdering lebih dulu, dia mengangkat telepon, dan suara pamannya terdengar, "Ariyani, apa kamu dan Syarifudin Muhasir baik-baik saja?"

"Ya, dia baik-baik saja, kenapa menanyakan hal ini?"

"Aku baru mendengar dua hari lalu Syarifudin membawa seorang ibu hamil memeriksakan kandungan....."

Ariyani tiba-tiba tertawa, "Apakah kamu berpikir Syarifudin mempunyai selingkuhan di luar sana?"

"Iya!"

"Jangan khawatir, walaupun seluruh pria di dunia ini selingkuh, Syarifudin tidak akan melakukannya!"

Setelah menutup telepon, Ariyani langsung menelpon Syarifudin, telepon berdering lama sebelum tersambung: "Aku sangat sibuk, jika tidak ada yang penting jangan menggangguku! Tutup dulu!"

Suara dingin dan tanpa emosi, Ariyani bahkan belum sempat mengatakan apapun, telepon sudah terputus, dia memegang lembar hasil tes, antusiasmenya telah lenyap seketika.

Selama tiga tahun menikah, Syarifudin selalu bersikap lembut padanya, tetapi belakangan ini sikapnya berubah sangat cepat, tidak hanya dingin, bahkan sangat tidak sabaran saat berbicara di telpon, sebenarnya apa yang membuat Syarifudin begitu berubah?

Dia berbalik sambil memikirkan hal ini, wajahnya syok, tiba-tiba terdengar suara lembut di telinganya: "Kakak!"

Ariyani menoleh dan melihat Farida Samdiyo dan seorang wanita paruh baya muncul di sampingnya.

Melihat Farida yang merupakan putri pelakor, Ariyani mengerutkan kening, dengan ekspresi jijik di wajahnya, dia berkata dengan sangat dingin, "Jangan sembarangan memanggilku kakak, ibuku hanya melahirkanku!"

Farida tidak ambil pusing, dia tersenyum dan berkata dengan suara yang sangat lembut, "Kak, apa kamu datang lagi ke sini untuk mengobati kemandulanmu?"

"Apa urusannya denganmu?"

“Apa kamu tidak mau bertanya mengapa aku bisa ada di departemen Obgyn?” Farida memandang Ariyani dengan provokatif dan tersenyum, “Aku hamil! Anak kakak ipar!”

Setelah kata-kata ini keluar, Ariyani baru menyadari perut Farida agak besar, apa yang dipikirkan Farida tentang Syarifudin sangat jelas, sebelum mereka menikah, setiap hari Farida mencoba segala cara untuk menggodanya, Ariyani mencibir: "Apakah otakmu bermasalah?"

"Tidak percaya padaku? Lihat ini!"

Farida memperlihatkan kartu pemeriksaan pada Ariyani, di sana dia melihat dengan jelas goresan tangan indah yang sudah sangat dikenalnya. Ekspresi Ariyani tiba-tiba berubah, tanda tangan Syarifudin mengapa ada disini?

“Empat bulan lalu aku sudah bersama dengan Kakak Ipar, Kakak Ipar sangat hebat, semalaman bermain denganku, setelah kejadian malam itu aku pun hamil!” Farida tersenyum penuh kemenangan: “Kakak Ipar sangat menyukai anak ini, dia menyuruhku untuk melahirkannya, tunggu sampai aku selesai melahirkan, kamu bisa memberikan posisimu padaku!"

"Wanita J*lang!" Ariyani gemetar karena marah, dan menamparnya, seperti sudah diperkirakan, Farida tiba-tiba jatuh ke lantai, "Aduh, perutku!"

Dia jelas-jelas menamparnya, tetapi saat Farida jatuh ke lantai, darah segar mengalir dari celananya, Ariyani terkejut, bagaimana ini bisa terjadi?

Farida dikirim ke UGD oleh staf medis, Ariyani tidak berani pergi, dan mengikuti ke UGD.

Setelah menunggu beberapa saat di pintu, terdengar suara langkah kaki, ibu mertuanya, Yuliana Lukman datang melihatnya dengan tatapan galak, "Apa yang terjadi? Farida tadi masih baik-baik saja mengapa tiba-tiba masuk UGD?"

“Nona Ariyani….. Nona Ariyani yang mendorongnya!” Jawab wanita paruh baya yang menemani Farida.

"Wanita j*lang, kamu hanya wanita mandul! Kamu tidak bisa melahirkan, kamu juga tidak suka melihat orang lain melahirkan?" Yuliana menamparnya, dari awal Yuliana tidak pernah menyukainya, tamparan itu sangat keras, dan wajah Ariyani menjadi bengkak.

Sebelumnya dia masih mengira Farida membohonginya, tapi sikap ibu mertuanya telah menjelaskan segalanya.

Rasa putus asa timbul dalam hatinya, dia merasa sulit bernafas sampai hampir pingsan, tetapi saat itu pintu ruang operasi terbuka, perawat berjalan keluar dan mengatakan bahwa anak di perut Farida tidak dapat diselamatkan.

Berita ini membuat Yuliana sangat marah, dia bergegas menjambak rambut Ariyani, memukul serta menendangnya.

Ariyani dipukuli dengan brutal, tidak lama kemudian dia pingsan.

Ketika dia sadar, pandangannya penuh dengan warna putih, dia mencoba untuk duduk, seluruh tubuhnya sangat sakit, baru saja bersandar dan menarik nafas, pintu didorong terbuka, dan seorang pria berkacamata emas masuk.

"Halo Nona Ariyani, saya pengacara Pak Syarifudin!"

"Pengacara?" Ariyani memandang pria di depannya dengan heran.

"Ya, saya pengacara pribadi Pak Syarifudin, beliau mempercayakan saya untuk membicarakan masalah perceraian dengan Nona Ariyani."

"Perceraian? Syarifudin akan menceraikan saya?" Ariyani mengira ada masalah dengan pendengarannya.

Pengacara berjalan ke tempat tidur dan menyerahkan sebuah dokumen, "Ini surat perceraian, silakan Anda lihat."

Tangan Ariyani gemetar, dia tidak pernah berpikir suatu hari Syarifudin akan memberikan surat cerai untuk dirinya, dia tidak membaca surat perceraian itu, tetapi menatap pengacara: "Suruh Syarifudin datang menemui saya! Suruh dia memberitahu saya sendiri!"

"Pak Syarifudin sangat sibuk, beliau tidak punya waktu!"

“Sangat sibuk, tidak punya waktu?” Ariyani tertawa, sejak kapan hubungannya dengan Syarifudin menjadi begitu dingin, sampai tidak bisa bertemu dengannya?

Dia memejamkan mata, meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan menelpon, tetapi telepon tidak dijawab.

Sejak kapan hubungannya dengan Syarifudin sampai pada titik ini? Selingkuh, perceraian...

Pengacara masih menunggunya, "Nona Ariyani, silakan lihat surat perceraiannya, saya sangat sibuk!"

Dengan sikap pengacara yang seperti ini tidak perlu dipertanyakan lagi, selama tiga tahun menikah dengan Syarifudin, semua orang di sekitarnya memperlakukannya dengan hormat, sekarang sikap pengacara itu sangat dingin, sudah jelas ini adalah keinginan Syarifudin sendiri.

Ariyani mengambil surat cerai, dia melihat bagian pembagian property, di situ tertulis semua properti milik Syarifudin yang telah dimiliki sebelum menikah, maka tidak akan dibagi, matanya langsung terasa perih.

Syarifudin pernah berkata bahwa dia adalah segalanya baginya dan semua yang dia miliki adalah miliknya, tetapi hanya dalam tiga tahun yang singkat, cinta itu telah hilang, apakah Syarifudin akhirnya mengungkapkan wajah aslinya?

Di belakangnya dia memiliki selingkuhan, bahkan sampai hamil!

Jadi wanita mandul sepertinya harus menyerahkan posisinya, bukan? Hatinya terasa sangat sakit, Ariyani tidak melihat lebih jauh, mengangkat kepalanya untuk melihat pengacara yang sedang menatapnya, "Beri aku pulpen!"

Pengacara membuka koper dan mengeluarkan pulpen dan menyerahkannya kepada Ariyani, setelah Ariyani mengambil pulpen, dia menambahkan kalimat lain, "Kata Pak Syarifudin, semua perhiasan yang beliau beli untuk Anda tidak boleh dibawa satupun!"

Ariyani menatap kosong ke depan, tidak bergerak untuk waktu yang lama, ketika pengacara mengira dia akan menolak, dengan perlahan dia berkata, "Oke!"

Setelah mengatakan itu, dia dengan cepat mengambil pulpen dan menandatangani surat perceraian.

Pengacara melihat perjanjian itu dan berbalik untuk pergi.

Di tempat parkir rumah sakit itu terdapat Aston Martin mewah dan saat jendelanya dibuka, nampaklah wajah tampan yang penuh pesona, pengacara itu berjalan beberapa langkah ke depan mobil dan berkata dengan hormat: "Pak Syarifudin, Nyonya telah menandatanganinya!"

“Sudah ditandatangani?” Pria itu perlahan mengucapkan dua kata, menatap wajah pengacara itu dengan tatapan yang dalam.

Pengacara itu melihat ekspresi wajahnya yang tidak pasti, hatinya sedikit berdebar, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun, pria itu mengalihkan pandangannya yang dalam ke langit malam yang gelap kemudian mengucapkan dua kata, "Ayo pergi!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Bulan

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku