Sentuhan Memabukkan Shifa

Sentuhan Memabukkan Shifa

Affad DaffaMage

5.0
Komentar
19.5K
Penayangan
64
Bab

"Kenapa bengong, Mas Karim?" tanya Shifa dengan lekuk tubuhnya menyentuh tubuh Karim. Karim bisa gila menyaksikan tubuh Shifa di depannya seperti ini. Dia telah terperangkap dengan bidadari terlarang. Shifa Sakinah memutuskan untuk menutup masa lalunya, tetapi karena situasi menekannya hingga dia tidak memiliki pilihan, dia akhirnya menunjukkan sisi gelapnya ke hadapan asisten praktikumnya. Karim Zahid tidak menduga bahwasanya mahasiswi baru bernama Shifa Sakinah justru menjebak dirinya dalam sebuah permainan cinta dan nafsu yang memabukkan dan mengubah kehidupannya selama ini.

Sentuhan Memabukkan Shifa Bab 1 1 [+]

"Bagaimana, Mas Karim? Mas sungguh mau mempertimbangkan nilai akhir saya jika saya bisa melayani Mas 'kan?" tanya Shifa kepada pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Asisten senior yang notabene pelit dengan nilai untuk praktikum yang dihadapi oleh Shifa sebagai mahasiswa baru.

"Jangan aneh-aneh, Dik Shifa. Aku sudah punya kekasih dan dia sangat mahir di ranjang," komentar pria yang bernama Karim itu. Shifa merasa tertantang untuk mengetahui seberapa jauh eksplorasi Karim dengan kekasihnya itu. Gadis itu menaikkan pandangannya. Netra gadis itu, satu-satunya dari wajahnya yang terlihat di luar cadar yang dia kenakan, menyorot tajam ke arah Karim.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan, Mas Karim? Saya tidak masalah menjaga rahasia," komentar Shifa dengan santai. Karim tertawa merendahkan.

"Apa yang kamu tahu tentang bermain di ranjang? Aku hanya membuat kalimat itu karena kamu bilang akan melakukan apapun," tanya Karim dengan nada mengejek. Shifa benar-benar merasa dia harus membuktikan dia tidak semudah itu untuk direndahkan untuk keseriusannya.

Gadis itu langsung menurunkan cadarnya dengan cepat lalu mencium bibir Karim. Karim tampak terkejut dengan serangan Shifa hingga dia kesulitan untuk mengikuti permainan yang dibawa oleh mahasiswa baru yang berada di apartemennya ini. Shifa tidak peduli bahwa dia harus membuat Karim puas, karena nilai dari praktikum ini akan menentukan kelulusan satu mata kuliahnya.

"Kamu gila!" komentar Karim saat Shifa melepaskan ciuman dadakan itu.

"Mas tidak suka?" tanya Shifa datar. Karim terdiam. Ciuman Shifa lebih bersensasi dibandingkan ciuman yang selama ini dia dapatkan dari kekasihnya. Rasanya berbeda, seakan menantang Karim untuk meminta lebih.

"Kenapa Mas? Menikmatinya?" tanya Shifa dengan santai. Tangan mungil gadis itu sudah mulai menyentuh pusaka Karim yang sudah terlepas dari celana yang dia kenakan. Karim bingung, sejak kapan gadis itu melepasnya.

"Kalau Mas Karim benar-benar menginginkan saya, Mas Karim akan mendapatkannya selama rahasia ini di antara kita," bisik Shifa di telinga kanan Karim. Karim merasa dia telah menemukan seorang gadis gila.

"Kamu bercanda," komentar Karim datar. Sedatar yang dia bisa karena jelas Shifa benar-benar mencoba merangsangnya dengan sentuhan di pusakanya. Shifa menggelengkan kepalanya seraya menggunakan kedua tangannya untuk melepas kancing pakaian kemeja milik Karim.

"Saya bukan tipe bercanda, Mas Karim," jawab Shifa bersamaan dengan kancing terakhir dia lepas dari pakaian Karim. Sekarang, pakaian dalam Karim digeser oleh Shifa untuk menyentuh bagian dada bidang pria itu.

Karim menyadari bahwa gadis di depannya ini serius dengan kalimatnya.

"Atau Mas sekarang ragu, karena saya bersungguh-sungguh?" tanya Shifa dengan santai. Karim bingung ingin menjawab apa. Jika dia mundur, maka harga dirinya akan hancur. Jika dia maju, maka dia telah berkhianat pada kekasihnya. Pada akhirnya, dia memilih berkhianat demi nafsu yang terus dipicu oleh gadis muda di depannya itu.

"Kamu sendiri, bukannya dirugikan dengan bersamaku?" tanya Karim memastikan. Shifa tersenyum tipis sementara tangan mungilnya sibuk bermain dengan pusaka dan dada Karim.

"Saya tidak rugi apapun, Mas Karim. Orang hanya kenal saya sebagai Shifa Sakinah yang pendiam, lugu, dan tidak dipedulikan. Kalaupun Mas bocorkan, saya tidak masalah," jawab Shifa dengan tenang, "tetapi Mas Karim akan kehilangan Mba Cahaya," lanjutnya dengan tenang. Karim tidak percaya bahwa Shifa mengetahui nama kekasihnya itu. Selama ini, dia dan Cahaya tidak mencolok di kalangan mahasiswa baru sebagai seorang kekasih.

"Teman-teman saya di angkatan mungkin lugu Mas, tetapi saya tidak bodoh. Sorotan mata Mba Cahaya dan Mas Karim menjelaskan semuanya," jelas Shifa dengan tenang. Karim tidak percaya gadis ini sangat jeli dengan hal-hal seperti itu.

"Saya menduga ada ide licik di benak Mas Karim sewaktu mengatakan silakan bertemu saya di apartemen ini," komentar Shifa lagi dengan santai. Karim benar-benar kesulitan untuk berpikir jernih antara kalimat penjelasan Shifa dan sentuhan-sentuhan memabukkan yang gadis itu berikan. Dia tidak menduga bahwa gadis mungil tertutup di depannya ini sangat liar di kamar tertutup.

"Mas mau dengan risiko pembuahan atau ini menjadi pesta kita saja?" tanya Shifa lagi dengan tenang. Karim membelalak mendengar kalimat itu. Gadis di depannya jelas gila!

"Apa maksudmu 'pembuahan'!?" tanya Karim dengan intonasi tinggi. Shifa terkekeh.

"Masa Mas Karim bermain berkali-kali dengan Mba Cahaya tidak mengerti?" tanya Shifa dengan santai. Senyuman terlukis di wajah gadis itu, membuat Karim menyadari bahwa Shifa melontarkan pertanyaan serius.

"Kalau aku jawab tidak, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Karim dengan nada setenang mungkin. Shifa benar-benar mahasiswi tergila yang pernah dia hadapi.

"Saya bawa pil," jawab Shifa dengan datar, "jadi penentunya jawaban Mas," lanjutnya. Karim tidak habis pikir dengan mahasiswi ini.

"Kalau begitu, minumlah," jawab Karim datar. Shifa tersenyum. Gadis itu bergerak mengambil segelas air lalu meminum sebuah pil bersama dengan air itu. Selanjutnya, gadis itu kembali menyentuh Karim dengan menggoda.

Karim menyadari, dia telah mengambil buah terlarang. Hanya saja, dia tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah ada di hadapannya. Karena dia telah memetiknya, maka dia harus menikmatinya.

"Tunjukkan padaku kalau kamu benar-benar bisa menyaingi Cahaya," komentar Karim menantang Shifa. Shifa tersenyum menyeringai.

"Mas sungguh ingin menduakan Mba Cahaya? Mas tidak bisa kembali lagi setelah pergumulan kita nanti," komentar Shifa mengingatkan dengan santai. Karim merasa Shifa sedang memainkan emosinya.

"Jangan bermain-main denganku, Shifa Sakinah!" hardik Karim dengan nada tinggi. Shifa sempat mundur karena terkejut, tetapi gadis itu kemudian melukiskan sebuah senyuman setelah Karim menyadari dia telah berteriak.

"Kalau begitu, saya yang memimpin ya, Mas Karim," pinta Shifa dengan senyuman dan kedipan mata seksi di depan Karim. Karim menyadari, dia telah terperangkap dalam pesona seorang gadis muda. Mungkin, Shifa benar-benar tahu apa yang dia lakukan.

Shifa melepaskan pakaian miliknya hingga seluruh tubuhnya bisa disaksikan oleh Karim. Buah dada gadis itu mungkin tidak sebesar milik Cahaya, tetapi ukurannya pas di tangan Karim. Karim juga melihat betapa indahnya bagian kemaluan gadis itu, mengundang dirinya untuk tertawan penuh dalam pesona Shifa.

"Bidadari." Satu-satunya kalimat yang bisa dikatakan oleh Karim. Dia telah salah mengira tentang Shifa. Karim mengira Shifa menyembunyikan tubuh jelek dengan pakaian yang sangat menutupi dirinya.

Bahkan, teman-teman seangkatannya yang nakal, yang dimana mereka asistensi dengan Karim sebagai asisten mereka, pernah mengatakan kalau dari semua gadis di angkatan mereka, Shifa adalah orang terakhir ingin mereka sentuh. Mereka mengatakan Shifa terlalu culun, tertutup, dan tidak menarik.

"Kenapa bengong, Mas Karim?" tanya Shifa dengan lekuk tubuhnya menyentuh tubuh Karim. Karim bisa gila menyaksikan tubuh Shifa di depannya seperti ini. Dia telah terperangkap dengan bidadari.

"Apakah saya terlalu cantik untuk ekspektasi Mas?" tanya Shifa lagi seraya bermain dengan tubuh Karim. Karim menelan saliva yang mulai keluar di lidahnya.

"Ah, Mas tidak sabar menyentuh saya, 'kan?" tanya Shifa lagi dengan santai, masih bermain dengan tubuh Karim. Karim menahan diri untuk tidak gelap mata dan menerkam gadis di depannya itu.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Affad DaffaMage

Selebihnya

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Sentuhan Memabukkan Shifa Sentuhan Memabukkan Shifa Affad DaffaMage Romantis
“"Kenapa bengong, Mas Karim?" tanya Shifa dengan lekuk tubuhnya menyentuh tubuh Karim. Karim bisa gila menyaksikan tubuh Shifa di depannya seperti ini. Dia telah terperangkap dengan bidadari terlarang. Shifa Sakinah memutuskan untuk menutup masa lalunya, tetapi karena situasi menekannya hingga dia tidak memiliki pilihan, dia akhirnya menunjukkan sisi gelapnya ke hadapan asisten praktikumnya. Karim Zahid tidak menduga bahwasanya mahasiswi baru bernama Shifa Sakinah justru menjebak dirinya dalam sebuah permainan cinta dan nafsu yang memabukkan dan mengubah kehidupannya selama ini.”
1

Bab 1 1 [+]

09/06/2023

2

Bab 2 2 [++]

09/06/2023

3

Bab 3 3 [++]

09/06/2023

4

Bab 4 4 [+]

09/06/2023

5

Bab 5 5

09/06/2023

6

Bab 6 6 [+]

09/06/2023

7

Bab 7 7 [+]

09/06/2023

8

Bab 8 8 [++]

09/06/2023

9

Bab 9 9 [+]

09/06/2023

10

Bab 10 10

09/06/2023

11

Bab 11 11

23/06/2023

12

Bab 12 12 [+]

24/06/2023

13

Bab 13 13 [++]

25/06/2023

14

Bab 14 14 [++]

26/06/2023

15

Bab 15 15

27/06/2023

16

Bab 16 16

28/06/2023

17

Bab 17 17

29/06/2023

18

Bab 18 18 [++]

29/06/2023

19

Bab 19 19 [+]

30/06/2023

20

Bab 20 20

30/06/2023

21

Bab 21 21 [++]

01/07/2023

22

Bab 22 22 [++]

02/07/2023

23

Bab 23 23 [+]

03/07/2023

24

Bab 24 24 [++]

04/07/2023

25

Bab 25 25

05/07/2023

26

Bab 26 26

06/07/2023

27

Bab 27 27 [+]

07/07/2023

28

Bab 28 28

26/08/2023

29

Bab 29 29 [+]

26/08/2023

30

Bab 30 30

26/08/2023

31

Bab 31 31 [+]

26/08/2023

32

Bab 32 32 [+]

26/08/2023

33

Bab 33 33 [+]

26/08/2023

34

Bab 34 34

26/08/2023

35

Bab 35 35 [++]

26/08/2023

36

Bab 36 36 [+]

26/08/2023

37

Bab 37 37 [+]

26/08/2023

38

Bab 38 38 [++]

26/08/2023

39

Bab 39 39 [++]

26/08/2023

40

Bab 40 40 [+]

26/08/2023