Hati Biru Affa

Hati Biru Affa

Affad DaffaMage

5.0
Komentar
91
Penayangan
26
Bab

"Kenapa Kakak justru mengkhianatiku!" Air itu jatuh dari mata perempuan berusia 17 tahun itu. Kakak yang dia percayai tentang semua isi hatinya, justru pergi jalan-jalan bersama laki-laki yang dia sukai. "Ini tidak seperti yang kamu lihat!" bantah perempuan berusia 21 tahun itu. Laki-laki berusia 21 tahun yang menyaksikan keributan yang menyaksikan dua temannya ribut itu hanya bisa menepuk kepalanya. Dia tidak berpikir masalah ini akan sampai pada tahap ribut seperti sekarang. "Kenapa!? Aku kira Kakak tulus!" bentak perempuan 17 tahun itu kepada figur yang telah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Seorang perempuan 18 tahun menahan temannya sebelum sebuah pukulan lepas dari tangan temannya itu mendarat pada figur kakaknya sendiri.

Hati Biru Affa Bab 1 Legend

Kedisiplinan adalah sebuah standar yang susah dimiliki.

"Jadi, tidak ada lagi yang ingin ditanyakan?" tanya Yusuf kepada semua asisten yang hadir saat itu. Sebenarnya ada topik wisuda, namun mengingat dua wisudawan sedang hadir di lab, akan merusak kejutan jika dibocorkan sekarang.

"Aku rasa itu cukup, Yusuf," komentarku. Asisten lainnya tidak ada yang membantahku, dan sebagai moderator, Yusuf mengakhiri rapat malam itu.

"Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita akhiri dengan do'a," ucap Yusuf. Do'a kafaratul majelis menutup rapat malam itu. Para asisten pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Aku sendiri masih berkutat dengan skripsi milikku yang berhubungan dengan perekaman data besar untuk permainan dan melakukan adjustment dari data tersebut.

"Skripsimu masih lanjut?" tanya Yusuf tidak percaya melihatku yang sibuk dengan angka-angka itu. Oke. Kalau aku mengetahui bahwasanya mengembangkan sistem perekapan seperti ini hingga selesai adalah satu semester, aku sudah mencicil ini dari semester 6.

"Iya. Prof Hari bilang minggu depan kalau bisa sudah mulai pengambilan datanya. Ini sudah semester kedua soalnya. Kalau telat, bakal hangus," jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. Yusuf memang cukup menyebalkan karena suka bertanya terus-menerus. Tapi, itu masih tidak seberapa dengan Mas Arrow, seorang senior sekitar 7 tahun di atasku, kala aku masih numpang di lab ini sebagai freeloader.

"Semangat ya. Aku juga mulai kerjakan milikku. Baru tahu kalo data bisa ngeselin seperti ini," komentarnya. Aku berdecih, siapa suruh mengambil pengumpulan data hasil wabah untuk analisis dan simulasi prediksi penyebaran wabah serupa usulan Prof Murfid. Topik Prof Murfid notabene menyusahkan semua siswanya, dan aku pastikan bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu semester dengan mudah. Lagipula, topikku ini usulan beliau juga.

"Kamu kan ahlinya sekarang di bidang analisis data. Jadi ya kalau struggle kamu bakal kesulitan. Mulai dikerjakan aja. Fauzan di 206 mungkin bisa bantu dikit-dikit," balasku.

"Makasih," komentarnya, "aku ngurus skripsiku dulu," lanjutnya. Akhirnya, dia berhenti menggangguku. Aku memegang kembali laptopku dan mengerjakan sisa komponen skripsiku yang belum tuntas.

"Kakak yakin ambil penelitian itu?" tanya Rahima.

"Dilihat dari kebermanfaatannya kelak, aku yakin," jawabku.

Kalau tahu bakal sesusah ini- lupakan. Sudah terjadi. Aku hanya melanjutkan pekerjaanku. Salah satu calon wisuda, Mas Yahya, mendekati tempat aku duduk.

"Pak Ketua, saya pulang dulu," pesannya. Aku menganggukkan kepalaku, tanpa memberikan pesan maupun balasan. Jam menunjukkan angka 10 malam. Rapat yang mulai semenjak jam 8 itu sudah memakan total 2 jam penuh.

"Mas Faux gak pulang?" tanyaku melihat ke senior calon wisudawan yang lain. Dia menggelengkan kepala.

"Lagi mau nyolong wifi. Kosan gak wifi ya gini. Gak kek Shad yang udah nikah," komentar sang calong wisudawan. Aku terkekeh kecil sebelum kembali mengerjakan tugas akhirku.

"Rahima gak datang?" tanya Mas Faux lagi. Aku menggelengkan kepala. Perempuan itu pasti menghindari senior bernama Mas Yahya tadi, apalagi setelah pernikahan Mas Yahya dengan maba tahun ini, Zihan Azizah.

"Kenapa emangnya Mas?" tanyaku. Mas Faux tidak memberikan penjelasan. Dia mengalihkan pembicaraan. Sayang, aku menangkap jernih apa alasannya.

"Kurang apa lagi penelitianmu?" tanya Mas Faux. Aku menghela nafas.

"Tinggal sedikit sih. Kalau sudah selesai, bisa sidang semester ini," jawabku seraya melihat ke laptopku. Sebuah notifikasi dari klien proyekan muncul di laptop.

Aristy: Mohon maaf Kak, untuk aplikasinya kira-kira bagaimana ya kak? Kami perlu buat demonstrasi kepada dosen minggu depan.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Belum tugas akhir, mana proyekan juga dikejar. Seharusnya aku lempar saja ke si Dekker ini proyek. Ah sudahlah, terlanjur basah.

Affa: Bisa selesai senin depan.

Ya. Artinya hanya tiga hari untuk menyelesaikan sisa tetek bengek kemarin. Mungkin aku harus benar-benar menawarkan Dekker.

Aristy: Terima kasih Kak. Bayaran dari kelompok kami akan seperti kesepakatan kemarin.

Affa: Oke. 400 ribu.

Aristy: Benar Kak.

400 ribu untuk pekerjaan seperti ini? Kepala perusahaan dimana Rahima bekerja akan tertawa mendengarnya. Kalau pekerjaannya untuk sistem data seperti sistem wabah atau analisis, mungkin lebih mudah bagiku.

"Ah sudahlah," keluhku kesal. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. Ini semua menyebalkan.

"Kalau Kak Hamid bakal gimana ya?" gumamku seraya terus mengetik. Malam ini akan panjang, sangat panjang. Sebuah notifikasi masuk ke laptopku.

Aini: Kak Affa!

Aku menghembuskan nafas berat.

"Bocah ini lagi," celetukku kesal. Aku menutup notifikasi itu.

"Legend, kamu kapan bimbingan?" tanya salah satu asisten dengan nama laboratorium Life_Bond. Aku menoleh ke arah laki-laki itu.

"Dengan Prof Hari atau Prof Murfid, Zul?" tanyaku balik.

"Prof Hari. Kan gue ogah sama Prof Murfid. Susahnya kek cari bola sakti," jawabnya seraya menggibahkan professor legendaris di kampus kami. Sudah rahasia umum mahasiswa bimbingan Prof Murfid bahwa harus ada 'anak ajaib' supaya beliau mudah ditemui.

"Kalau Prof Hari rencananya selasa ini," balasku. Dia melanjutkan pertanyaannya.

"Sudah janjian?" tanyanya.

"Sudah. Bukannya Prof Hari gak susah toh diajak janjian?" tanyaku balik. Zul menggelengkan kepala. Eh?

"Kalau kamu atau Rahima, gampang. Kalau yang lain, centang biru gan. CENTANG BIRU!" teriak Zul tidak terima. Itu mengejutkanku. Mungkin karena selama ini selalu aku yang menjadi komting kelas Prof Hari, aku tidak terpikir itu yang sebenarnya terjadi. Rumor soal Prof Hari saja tidak pernah masuk telingaku.

"Kok aku baru tahu?" tanyaku heran.

"Anak-anak biasanya pasti nunggu depan ruangan beliau. Cuma lama-lama ogah juga sekarang, apalagi Prof Hari makin sering keluar kota dadakan. Itu medsos update bilang lagi di luar negeri pas hari rencana bimbingan tiba-tiba njir," jawab Zul kesal. Oke, ini sepenuhnya baru. Mungkin aku harus lebih aware dengan sekitarku. Aku kira, hanya Prof Murfid yang susah, karena rumornya sudah mendarah daging dari tujuh tahun lalu. Aku meletakkan tanganku di atas dagu.

"Begitu ya... anyway, sudah aku pinta ke beliau. Jadi, bilang ke yang lain," komentarku. Zul menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai berbalik namun berhenti.

"Oh ya," ucapnya seraya kebali menghadap ke arahku, "kamu harusnya di grup anak bimbingan Prof Hari," lanjutnya. Aku menganggukkan kepala.

"Undang saja. Aku tidak terlalu peduli dengan grup-grup. Kamu tahu sendiri semenjak maba aku dan Rahima sangat terisolir?" tanyaku balik. Zul hanya menganggukkan kepala. Dua orang yang dikecualikan dari sistem regenerasi kampus. Itu pun atas permintaan dosen laboratorium, karena waktu itu aku dan Rahima memegang beberapa proyek krusial di kampus. Bahkan, angkatanku sendiri banyak yang memusuhiku, seperti contohnya-

"Oh ya, Legend!" teriak Yusuf. Baru akan disebut namanya, dasar. Yusuf termasuk yang paling vokal tidak suka dengan special privilege yang aku dan Rahima miliki, terutama kepadaku. Oh ayolah, itu privilege lebih seperti penderitaan. Situ mending diteriakin ama senior, aku gagal bisa kena puluhan juta pertanggungjawaban.

"Kamu ada rencana konsul sama Prof Murfid?" tanya Yusuf. Zul tampak terganggu Yusuf tiba-tiba nyemplung masuk.

"Rabu," jawabku datar. Aku kembali melihat ke laptop. Sebuah notifikasi masuk, bahwa aku diundang ke grup bimbingan Prof Hari. Undangan itu diterima otomatis.

"Oh ya, kamu sudah masuk grup anak Prof Murfid?" tanya Yusuf. Aku menggelengkan kepala.

"Pantesan selama ini kek neraka. Gak kepikir selama ini loe belum ada," jawab Yusuf seakan menyadari kebodohannya. Ya. Pada akhirnya, aku juga diundang.

Mungkin bukan hanya Mas Yahya yang merasa dimanfaatkan dulu. Mungkin, itu yang juga Rahima rasakan. Dan tentunya, itu adalah yang aku rasakan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Affad DaffaMage

Selebihnya

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Hati Biru Affa Hati Biru Affa Affad DaffaMage Adventure
“"Kenapa Kakak justru mengkhianatiku!" Air itu jatuh dari mata perempuan berusia 17 tahun itu. Kakak yang dia percayai tentang semua isi hatinya, justru pergi jalan-jalan bersama laki-laki yang dia sukai. "Ini tidak seperti yang kamu lihat!" bantah perempuan berusia 21 tahun itu. Laki-laki berusia 21 tahun yang menyaksikan keributan yang menyaksikan dua temannya ribut itu hanya bisa menepuk kepalanya. Dia tidak berpikir masalah ini akan sampai pada tahap ribut seperti sekarang. "Kenapa!? Aku kira Kakak tulus!" bentak perempuan 17 tahun itu kepada figur yang telah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Seorang perempuan 18 tahun menahan temannya sebelum sebuah pukulan lepas dari tangan temannya itu mendarat pada figur kakaknya sendiri.”
1

Bab 1 Legend

30/03/2022

2

Bab 2 Perisai

30/03/2022

3

Bab 3 Kerja Sama

30/03/2022

4

Bab 4 Kesempatan

30/03/2022

5

Bab 5 Sakral

30/03/2022

6

Bab 6 Terlupakan

30/03/2022

7

Bab 7 Logo

30/03/2022

8

Bab 8 Tangan Penggenggam Negeri

30/03/2022

9

Bab 9 Disalahkan

30/03/2022

10

Bab 10 Seandainya Dia Masih Di Sini

30/03/2022

11

Bab 11 Cemburu

10/04/2022

12

Bab 12 Perasaan tanpa Arti

10/04/2022

13

Bab 13 Memancing Takdir

10/04/2022

14

Bab 14 Doa

10/04/2022

15

Bab 15 Waktu

10/04/2022

16

Bab 16 Sahabat dan Cinta

10/04/2022

17

Bab 17 Kepercayaan

10/04/2022

18

Bab 18 Hati

10/04/2022

19

Bab 19 Harapan

10/04/2022

20

Bab 20 Kepala Dingin

10/04/2022

21

Bab 21 Poker Face

10/04/2022

22

Bab 22 Konsekuensi

10/04/2022

23

Bab 23 Tanpa Hati

10/04/2022

24

Bab 24 Silver Suite

10/04/2022

25

Bab 25 Luka

10/04/2022

26

Bab 26 Tidak Ditemukan

10/04/2022