icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pernikahan Kedua: Cinta Tidak Buta

Pernikahan Kedua: Cinta Tidak Buta

Penulis: COLEMAN
icon
Bab 1
Percobaan Pembunuhan
Jumlah Kata:886    |    Dirilis Pada:01/11/2022

"Bagaimana kalau kamu menceraikannya dengan alasan bahwa dia mandul?"

Berdiri di luar pintu, Raisa Diandra merasa kedinginan. Dia tidak pernah bermimpi bahwa dia akan mendengar ibu mertuanya mengucapkan kata-kata seperti itu. Dia kira ibu mertuanya menyukainya.

Dia mandul?

Dia dan Yusuf Suherman menikah demi keuntungan bisnis. Sebulan sebelum pernikahan mereka, Yusuf mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan cedera kaki serius sehingga hampir harus diamputasi. Semua orang memperingatkan Raisa untuk tidak menikah dengannya, tetapi dia berpikir bahwa dia harus menepati janjinya dan menikahi pria itu, terlepas dari semua keberatan orang-orang.

Mereka telah menikah selama lebih dari setahun, dan Yusuf telah menjalani terapi fisik. Mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan suami istri, tetapi sekarang Yusuf akan menceraikannya dengan alasan bahwa dirinya mandul.

"Grup Diandra sedang dalam masalah besar. Mereka mengalami defisit lebih dari satu triliun rupiah. Tadius Diandra meninggal dalam kecelakaan ketika dia pergi untuk menangani masalah tersebut. Aku khawatir Raisa harus mewarisi semua masalah perusahaan ini. Jika kamu tidak segera menceraikannya, hal itu pasti akan memengaruhi keluarga kita. Kami membiarkanmu menikahi Raisa karena kami ingin Keluarga Diandra dan Keluarga Suherman saling mendukung dan melangkah lebih jauh, bukan untuk menyeret keluarga kita ke dalam masalah. Bagaimana menurutmu, Yusuf?"

Raisa mengatupkan giginya dan gemetar. Yusuf akan menolaknya, bukan? Dia sudah melakukan yang terbaik untuk merawat dan membantunya dalam pemulihannya. Dia telah menjadi seorang istri yang baik untuknya.

"Tidak perlu terburu-buru."

Sementara Raisa berpikir, dia mendengar Yusuf menolak saran ibunya. Sebelum dia bisa bernapas lega, Yusuf sudah melanjutkan, "Meskipun Keluarga Diandra sedang dilanda masalah, Tadius masih meninggalkan banyak harta untuk Raisa. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuknya agar memberikan semuanya padaku. Aku akan menceraikannya setelah aku mendapatkannya."

'Yusuf! Betapa kejamnya kamu dan ibumu!' ucapnya dalam hati.

Otak Raisa menjadi kosong, lalu dia mundur selangkah dengan linglung, lupa bahwa di belakangnya ada anak tangga. Dia melewatkan satu anak tangga dan terjatuh ke lantai.

"Siapa?"

Raisa berdiri dengan tergesa-gesa dan melarikan diri.

"Itu Raisa, dia mendengar percakapan kita. Kita tidak bisa membiarkannya lari."

Malam semakin gelap dan hujan turun semakin deras.

Biasanya lalu lintas di jalanan begitu padat, tetapi pada malam yang hujan ini, jalanan tampak kosong. Tidak terlihat kendaraan sama sekali.

Hujan mengaburkan penglihatan Raisa, tetapi dia terus berlari, bahkan ketika kaki dan paru-parunya seakan mulai terbakar.

Tiba-tiba, lampu menyala di depannya, membuatnya berhenti berlari. Dia mengangkat tangannya untuk menghalangi lampu yang menyilaukan.

Kemudian, lampu itu mulai melaju ke arah Raisa. Baru pada saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah lampu mobil.

Raisa tidak sempat bereaksi. Mobil itu menabraknya dengan kencang dan dia terpelanting ke belakang. Dia merasa seakan tubuhnya hancur berkeping-keping, dan rasa sakitnya begitu luar biasa sehingga dia bahkan tidak bisa berteriak.

Mobil itu berhenti dan seseorang keluar darinya. Orang itu berjalan mendekatinya untuk memeriksanya.

"Dia masih hidup, Tuan Suherman. Apa Anda ingin menabraknya lagi?"

Kemudian terdengar suara dingin Yusuf, "Ya."

Selangkah demi selangkah, Yusuf mendekati Raisa.

Kedua mata Raisa terbuka lebar. Dia tidak tahu bahwa Yusuf sudah bisa berjalan lagi.

"Aku tidak berniat untuk membunuhmu, tapi kamu sudah mendengar semuanya. Aku berencana untuk menceraikanmu, tapi sekarang menurutku lebih baik aku menjadi duda yang ditinggal meninggal. Dengan begitu, aku akan memiliki semua harta atas namamu. Aku bisa melikuidasi Grup Diandra dan membiarkannya bangkrut. Aku tidak akan bertanggung jawab atas defisit perusahaan, dan aku akan menghasilkan banyak uang."

Yusuf tersenyum, "Ngomong-ngomong, sebentar lagi kamu akan mati, jadi aku akan memberitahumu suatu rahasia kecil. Setelah Keluarga Diandra mengalami masalah besar, aku menemukan seseorang untuk menggantikanmu. Itu adalah sahabatmu, Paula. Dia sudah merayuku sebelum kita menikah. Dia datang ke rumah kita baru-baru ini untuk menghiburmu, dan dia juga sudah menghiburku, jika kamu paham maksudku. Sekarang dia sedang hamil. Aku akan menikahinya setelah aku menguburmu."

Yusuf membungkuk dan menatap wajah Raisa. Dia menjilat bibirnya sendiri dan berkata, "Kamu sangat cantik, Raisa. Sayang sekali keluargamu hancur di waktu yang salah. Aku bahkan tidak sempat tidur denganmu sekali pun."

Ketika Yusuf berbicara, sedikit hasrat muncul di dalam dirinya. Dia mengulurkan tangannya dan mencubit dagu Raisa. "Bagaimana kalau aku mengambil kesucianmu sebelum kamu pergi selamanya? Jika tidak, kamu akan mati begitu saja dan tidak akan tahu bagaimana rasanya tidur dengan seorang pria."

Dasar binatang!

Mata Raisa memerah sementara hatinya dipenuhi dengan rasa sakit dan kebencian.

Yusuf terus menyentuhnya bagian pribadi tubuhnya. Terlepas dari rasa sakit yang luar biasa, Raisa masih melawan pria itu. Dari sudut matanya, dia melihat mobil lain datang.

Dia berusaha untuk menyundul kepala Yusuf, tetapi pria itu berhasil mengelak.

Raisa mengambil kesempatan ini untuk bangkit dan bergegas ke mobil yang datang.

Mobil itu berhenti dengan suara decit. Raisa berlari mendekat, membuka pintu, dan masuk.

"Tolong aku! Tolong bawa aku pergi dari sini! Mereka ingin membunuhku! Mereka telah menabrakku!"

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Baru kemudian Raisa berbalik.

Partisi antara kursi belakang dan kursi depan mobil dinaikkan. Dia memperhatikan pria yang sedang duduk di sebelahnya.

Pria itu menundukkan kepalanya. Di dalam mobil gelap, tetapi ada cukup cahaya dari luar yang dapat menerangi sosok pria itu. Raisa tidak bisa melihat wajahnya sepenuhnya, tetapi dia bisa melihat ada pembuluh darah yang menonjol di dahi pria itu sementara tangannya bertumpu pada lututnya. Sepertinya pria itu sedang menahan semacam penderitaan.

"Tuan? Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?"

Kemudian, pria itu berbicara dengan suara yang menunjukkan bahwa dia sedang menahan penderitaan yang luar biasa. "Awalnya aku tidak ingin menyakiti siapa pun, tapi kamu sendiri yang masuk ke mobil."

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Percobaan Pembunuhan2 Bab 2 Hasrat di Mobil3 Bab 3 Saran Ibu4 Bab 4 Apa Kamu Masih Suci 5 Bab 5 Pulang Bersamanya6 Bab 6 Dia Tidak Punya Kerabat7 Bab 7 Wanita Murahan8 Bab 8 Parfum9 Bab 9 Kamu Tidak Bisa Melakukan Ini!10 Bab 10 Tinggal Bersama11 Bab 11 Fitnah Murni12 Bab 12 Menguping13 Bab 13 Kecelakaan14 Bab 14 Kesepakatan yang Bagus15 Bab 15 Ukurannya16 Bab 16 Kamu sudah Menjadi Istriku17 Bab 17 Dia Sendirian18 Bab 18 Berhubungan Seks denganku19 Bab 19 Apa Kamu Menyetujuinya 20 Bab 20 Bagaimana Jika itu Aku 21 Bab 21 Tidak Ada Keluhan22 Bab 22 Terlalu Malu untuk Melihat Marcel23 Bab 23 Kesepakatan yang Bagus24 Bab 24 Mengikuti Naskahku25 Bab 25 Apa Dia Mengatakan Sesuatu yang Salah 26 Bab 26 Rasa Penindasan27 Bab 27 Adik Ipar yang Berniat Buruk28 Bab 28 Dikasih Hati Minta Jantung29 Bab 29 Apa yang Mereka Cari 30 Bab 30 Sebuah Kutukan31 Bab 31 Ayo Pulang32 Bab 32 Menduakan Dirinya Sendiri33 Bab 33 Hamil Secepat Mungkin34 Bab 34 Mengambil Kesempatan35 Bab 35 Pengalaman Pertamanya36 Bab 36 Sebuah Ciuman37 Bab 37 Apakah Kamu Tidak Suka 38 Bab 38 Fitnah Murni39 Bab 39 Merusak Reputasinya40 Bab 40 Melawan Balik41 Bab 41 Perawatan Wajah42 Bab 42 Kamera Pengintai di Kantor43 Bab 43 Mengapa Aku Harus Membantumu 44 Bab 44 Kabur Setelah Menggoda45 Bab 45 Hasrat yang Tak Dapat Disangkal46 Bab 46 Membunuh Marcel47 Bab 47 Provokasi48 Bab 48 Tren Opini Publik49 Bab 49 Tes50 Bab 50 Apa yang Kalian Lakukan 51 Bab 51 Siapa Wanita itu 52 Bab 52 Lebih Berkuasa dari yang Dia Kira53 Bab 53 Rekaman itu Dirusak54 Bab 54 Membiarkannya Pergi untuk Saat Ini55 Bab 55 Bertemu dengan Badrun56 Bab 56 Kakek Marcel57 Bab 57 Keluarga Orang Kaya Benar-Benar Rumit58 Bab 58 Kebutaan Dapat Diturunkan59 Bab 59 Mata-Mata Tak Dikenal60 Bab 60 Ancaman Keluarganya61 Bab 61 Perubahan Rencana62 Bab 62 Muntah63 Bab 63 Bayi itu Bukan Milik Marcel64 Bab 64 Aku Tidak Bisa Menceraikannya65 Bab 65 Konyol66 Bab 66 Aku Berjanji padamu67 Bab 67 Dia Memberiku Pil68 Bab 68 Dibius69 Bab 69 Tolong Bantu Aku70 Bab 70 Memang Hamil71 Bab 71 Berita Mengejutkan72 Bab 72 Mengamuk73 Bab 73 Punya Senjata Rahasia74 Bab 74 Apa Kamu Terluka 75 Bab 75 Apa Kamu akan Tetap Mengandung Bayi ini 76 Bab 76 Aku Memiliki Laporan Pemeriksaanmu77 Bab 77 Menyembunyikan78 Bab 78 Tidak Ada yang Perlu Dikhawatirkan79 Bab 79 Menyalin Video Pengawasan80 Bab 80 Ayah Bayinya81 Bab 81 Aku Punya Buktinya82 Bab 82 Berbicara denganku secara Langsung83 Bab 83 Aku Sangat Merindukannya84 Bab 84 Rahasia Kecil Kita85 Bab 85 Video-Video itu Telah Diubah86 Bab 86 Dia Tidak Bisa Mempertahankan Anak ini87 Bab 87 Pengumuman Orang Hilang88 Bab 88 Aku Juga Putrimu89 Bab 89 Kamu Harus Melakukannya lagi90 Bab 90 Diciptakan untukku91 Bab 91 Membuatnya Jatuh Cinta padanya92 Bab 92 Menanggung Siksaan Selama Dua Bulan lagi93 Bab 93 Gracelia Datang Memeriksa94 Bab 94 Menciptakan Beberapa Situasi95 Bab 95 Apa Untungnya Bagiku 96 Bab 96 Jauh dari Cukup97 Bab 97 Yang Wanita ini Inginkan hanyalah Uang98 Bab 98 Berselingkuh99 Bab 99 Di mana Laptop itu 100 Bab 100 Mendapatkan Jawaban