icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 5
Pulang Bersamanya
Jumlah Kata:642    |    Dirilis Pada:01/11/2022

Setelah ketiganya pergi, Marcel berdiri sambil memegang tongkat dan berjalan perlahan menuju Raisa. "Apa kita bisa pergi sekarang? Ayo kunjungi Yusuf."

Raisa menarik napas dalam-dalam dan berdiri. Dia merasa seakan jiwanya telah hilang. Dia tidak punya pilihan sekarang.

Raisa menggertakkan giginya dan mulai berjalan keluar, tetapi dia tidak menyadari bahwa tongkat di tangan Marcel, yang sepertinya kebetulan menghalangi jalannya. Dia tersandung dan menerjang ke depan.

Dia jatuh di depan Marcel, dan secara refleks meraih celananya, lalu mendapati wajahnya menekan bagian pribadi pria itu.

"Wah, kamu sangat antusias!" Marcel tertawa. "Apa kamu berniat untuk mencobanya? Jangan khawatir, kurasa kamu akan puas." Ucapan Marcel sepertinya bermaksud sesuatu. "Mataku tidak berfungsi, tapi bagian bawahku masih berfungsi sepenuhnya."

Wajah Raisa bersemu merah cerah. Dia panik, dan berdiri dengan tergesa-gesa, lalu berlari keluar ruangan. Di luar, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahnya. Pipinya terasa seperti baru saja terkena demam.

Sepertinya satu-satunya yang merasa malu adalah Raisa. Bagi Marcel, tadi itu biasa-biasa saja. Dia baru berbicara ketika mereka masuk mobil. "Anak buahku sudah mengetahui keberadaan Yusuf. Dia berada di Menara Palem, No. 107, Jalan Bening. Apa kamu tahu di mana itu?"

Raisa mengangguk, tetapi segera menyadari bahwa Marcel tidak dapat melihatnya, jadi dia segera berkata, "Ya, aku tahu."

Itu adalah apartemennya dan Yusuf. Mereka pindah ke sana setelah mereka menikah, dan hanya sesekali mengunjungi rumah Keluarga Suherman.

"Oke, ayo kita pergi ke sana."

Itu adalah sebuah apartemen besar yang memiliki akses lift langsung.

Sidik jari Raisa belum dihapus dari kunci biometrik lift itu. Dia memasuki lift bersama Marcel dan pengawalnya. Mereka langsung menuju apartemen yang terletak di lantai tiga puluh enam.

Melangkah keluar dari lift, Raisa dan Marcel berjalan ke pintu masuk. Kemudian, mereka mendengar suara seorang wanita dari dalam. "Ah! Kamu besar sekali ... tapi sangat nyaman ... lebih cepat lagi. Aku mau lagi ...."

Tubuh Raisa menegang. Melalui layar berukir yang berlubang di pintu masuk, dia bisa melihat seorang pria dan seorang wanita. Tubuh mereka yang tanpa pakaian menjadi satu di sofa ruang tamu.

Sahabatnya, Paula Purnama, sedang naik turun di atas tubuh Yusuf, bibir merahnya yang halus mengeluarkan erangan setiap kali pria itu mendorong ke atas. Tangannya menempel di dada Yusuf, wajahnya memerah, tubuhnya menggeliat dengan rasa sakit yang manis.

"Sayang, kamu sempit sekali."

Yusuf memegang pinggang Paula, dan saat dia bergerak, dia mengangkat dan menurunkan tubuh wanita itu ke arahnya. Bersamaan dengan jeritan dan erangan mereka yang bercampur, suara basah dari tubuh mereka yang saling beradu memenuhi ruangan, yang sepertinya membuat mereka gila karena rasa nikmat.

"Dasar nakal!"

"Ah! Yusuf!" jerit Paula. "Pelan-pelan ... kamu membuatku gila! Aku memang nakal. Apa kamu tidak menyukainya? Apa kamu suka wanita pemalu dan polos seperti Raisa? Ah ... iya di situ. Lebih cepat lagi, Yusuf!"

"Tentu saja tidak. Di atas ranjang, wanita seperti Raisa sama seperti mayat yang masih hangat. Dia tidak bisa membangkitkan hasratku seperti kamu, Sayang. Aku lebih suka melakukannya denganmu yang manja dan tidak menahan diri."

Mendengar suara-suara di dalam, Raisa merasakan kulit kepalanya seakan tergelitik. Dia mengatupkan giginya sementara emosinya bercampur aduk di seluruh tubuhnya.

Yah, luar biasa!

Tepat pada saat itu, tiba-tiba di telinganya terdengar suara yang sengaja dipelankan. "Menurutku dia salah."

Raisa terkejut dan hampir berteriak, tetapi dia menutup mulutnya dengan tergesa-gesa.

Dia lupa bahwa Marcel sedang berdiri di sampingnya.

"Jika seorang wanita tidak merespons ketika dia melakukan hal itu dengannya, dialah yang bermasalah."

Begitu Marcel menyelesaikan kata-katanya, kedua orang di sofa itu menjadi semakin lebih berisik.

"Ah ... aku sudah hampir mau keluar nih!"

"Ah! Berikan padaku ... berikan padaku!"

Yusuf mengejang selama beberapa detik. Kemudian, dia dan Paula perlahan menjadi tenang.

Yusuf yang kelelahan perlahan menarik dirinya dari tubuh Paula dan melihat cairan kental mengalir keluar dari tubuh wanita itu. Wajahnya tampak berseri-seri dan dia meraih kotak tisu di atas meja kopi. Dia mengambil beberapa lembar tisu, dan menyeka dirinya sendiri, lalu membuang tisu bekas itu ke tempat sampah.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Percobaan Pembunuhan2 Bab 2 Hasrat di Mobil3 Bab 3 Saran Ibu4 Bab 4 Apa Kamu Masih Suci 5 Bab 5 Pulang Bersamanya6 Bab 6 Dia Tidak Punya Kerabat7 Bab 7 Wanita Murahan8 Bab 8 Parfum9 Bab 9 Kamu Tidak Bisa Melakukan Ini!10 Bab 10 Tinggal Bersama11 Bab 11 Fitnah Murni12 Bab 12 Menguping13 Bab 13 Kecelakaan14 Bab 14 Kesepakatan yang Bagus15 Bab 15 Ukurannya16 Bab 16 Kamu sudah Menjadi Istriku17 Bab 17 Dia Sendirian18 Bab 18 Berhubungan Seks denganku19 Bab 19 Apa Kamu Menyetujuinya 20 Bab 20 Bagaimana Jika itu Aku 21 Bab 21 Tidak Ada Keluhan22 Bab 22 Terlalu Malu untuk Melihat Marcel23 Bab 23 Kesepakatan yang Bagus24 Bab 24 Mengikuti Naskahku25 Bab 25 Apa Dia Mengatakan Sesuatu yang Salah 26 Bab 26 Rasa Penindasan27 Bab 27 Adik Ipar yang Berniat Buruk28 Bab 28 Dikasih Hati Minta Jantung29 Bab 29 Apa yang Mereka Cari 30 Bab 30 Sebuah Kutukan31 Bab 31 Ayo Pulang32 Bab 32 Menduakan Dirinya Sendiri33 Bab 33 Hamil Secepat Mungkin34 Bab 34 Mengambil Kesempatan35 Bab 35 Pengalaman Pertamanya36 Bab 36 Sebuah Ciuman37 Bab 37 Apakah Kamu Tidak Suka 38 Bab 38 Fitnah Murni39 Bab 39 Merusak Reputasinya40 Bab 40 Melawan Balik41 Bab 41 Perawatan Wajah42 Bab 42 Kamera Pengintai di Kantor43 Bab 43 Mengapa Aku Harus Membantumu 44 Bab 44 Kabur Setelah Menggoda45 Bab 45 Hasrat yang Tak Dapat Disangkal46 Bab 46 Membunuh Marcel47 Bab 47 Provokasi48 Bab 48 Tren Opini Publik49 Bab 49 Tes50 Bab 50 Apa yang Kalian Lakukan 51 Bab 51 Siapa Wanita itu 52 Bab 52 Lebih Berkuasa dari yang Dia Kira53 Bab 53 Rekaman itu Dirusak54 Bab 54 Membiarkannya Pergi untuk Saat Ini55 Bab 55 Bertemu dengan Badrun56 Bab 56 Kakek Marcel57 Bab 57 Keluarga Orang Kaya Benar-Benar Rumit58 Bab 58 Kebutaan Dapat Diturunkan59 Bab 59 Mata-Mata Tak Dikenal60 Bab 60 Ancaman Keluarganya61 Bab 61 Perubahan Rencana62 Bab 62 Muntah63 Bab 63 Bayi itu Bukan Milik Marcel64 Bab 64 Aku Tidak Bisa Menceraikannya65 Bab 65 Konyol66 Bab 66 Aku Berjanji padamu67 Bab 67 Dia Memberiku Pil68 Bab 68 Dibius69 Bab 69 Tolong Bantu Aku70 Bab 70 Memang Hamil71 Bab 71 Berita Mengejutkan72 Bab 72 Mengamuk73 Bab 73 Punya Senjata Rahasia74 Bab 74 Apa Kamu Terluka 75 Bab 75 Apa Kamu akan Tetap Mengandung Bayi ini 76 Bab 76 Aku Memiliki Laporan Pemeriksaanmu77 Bab 77 Menyembunyikan78 Bab 78 Tidak Ada yang Perlu Dikhawatirkan79 Bab 79 Menyalin Video Pengawasan80 Bab 80 Ayah Bayinya81 Bab 81 Aku Punya Buktinya82 Bab 82 Berbicara denganku secara Langsung83 Bab 83 Aku Sangat Merindukannya84 Bab 84 Rahasia Kecil Kita85 Bab 85 Video-Video itu Telah Diubah86 Bab 86 Dia Tidak Bisa Mempertahankan Anak ini87 Bab 87 Pengumuman Orang Hilang88 Bab 88 Aku Juga Putrimu89 Bab 89 Kamu Harus Melakukannya lagi90 Bab 90 Diciptakan untukku91 Bab 91 Membuatnya Jatuh Cinta padanya92 Bab 92 Menanggung Siksaan Selama Dua Bulan lagi93 Bab 93 Gracelia Datang Memeriksa94 Bab 94 Menciptakan Beberapa Situasi95 Bab 95 Apa Untungnya Bagiku 96 Bab 96 Jauh dari Cukup97 Bab 97 Yang Wanita ini Inginkan hanyalah Uang98 Bab 98 Berselingkuh99 Bab 99 Di mana Laptop itu 100 Bab 100 Mendapatkan Jawaban