icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bulan di Darah Awan

Bab 8 Mie Instan

Jumlah Kata:1428    |    Dirilis Pada: 08/04/2022

jika aku lapar. Saat ini, yang ada di kamarku hanyalah camilan dan beberapa bungkus mie instan.

angan sampah. Ketiganya terdapat tempat khusus di lantai satu. Satu untuk dapur dan mesin c

tuk berkata bahwa 'aku miskin' dengan isinya yang berisi warna abu-abu dan krim. Mengh

dan menyadari suara kompor menyala. Apakah ada penghuni selain Kak Yahya? Aku pun berjalan k

u. Tidak ada kata-kata puitis keluar dari mulutnya. Hanya dialog formal yang hambar

eter terbentuk di antara kami menjadi tanda nyata

ku lagi. Dia pun mematikan kompor dan meniriskan air di dalam panci itu. Aku melihat apa yang dia buat. Pas

juk ke rak yang di maksud. Aku pun memutuskan mengambil panci kecil sementara dia mencuci panci

enawarkan tangannya untuk menerima panci ke

dengan air. Aku lihat tidak terlalu banyak

sa makan mie instan demi keberlangsungan mereka," komentarnya, "dan t

g canggung seperti ini, aku mengalihkan mataku ke kompor dan menyalakannya. Selanjutn

menunggu air di panci panas. Dia pu

lega. Aku mengambil piring dari rak piring. Aku buka bung

masukkan mie instan ke dalam panci kecil itu. Aku menunggu mie ins

ntuk mengikuti?" tanya laki-laki itu begitu batang hidungny

u pertama aku saku bulanan," jawabk

iap hari itu tidak sehat," komentarnya seraya memperlih

perlu kamu masak lagi," ucapnya seraya

hem, tanda mendengarkan. Diapun melangkah pergi

refleks tanpa memandang kepada laki-la

ana kita," jawabnya datar. Diapun be

?" tanyaku lagi sera

rti ini, Zihan Azizah," jawabnya. Aku tidak tahu

capnya lagi sebelum d

a di luar dapur, sebelum tubuhnya menghilang. Aku melihat k

h atas kepedulianmu, tetapi kamu tidak perlu tahu

an memaksamu,

u meniriskan air di panciku, lalu memasukkan mie ke piringku. Selanjutnya, aku masukkan semua bumbu mie.

amku. Aku sedikit ragu, tetapi entah kenapa rasanya aku yaki

u pun beranjak pergi dari dapur kembali ke k

terus menerus. Apakah dari Trio Bebek, prakt

tuk mengabaikannya. Lebih baik aku menikmati mie telurku. Dan tentu, memang lebih nikmat

ra aku membawa piring itu kembali ke dapur untuk ku cuci. Tidak ada aku melihat keberadaan Kak Y

ya: iya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pemilik kos ini. Sebenarnya, aku bisa

laporan itu. Apalagi, pikiranku masih retak. Percakapan kala menunggu dia selesai memasak, dan kala dia

an seraya meninggalkan dapur. Sambil berjalan ke tangga,

m," sapaku kepad

Dia pun berlalu begitu saja, tanpa berbicara apapun

nyaku. Laki-laki itu berhenti sejen

orang-orang di sekitarmu?" tanyaku lagi

Paduka adalah kutukan bermanifestasi,"

!?" tanyaku dengan nada keras. Aku yakin, kalau

Cukup menjauh saja," jawabnya

k retak! Apapun yang kakak sembunyikan, itu bukan suatu hal yang seder

g berubah, Zihan," balasnya datar, namun kali ini aku merasa

ikan semuanya!?" balasku. D

g emosi mereka dengan tulisan kakak, tetapi kakak mengabaika

ak Yahya. Dia mem

unya orang yang peduli kepadamu?" tany

u," jawabku. Dia tertawa, namu

ya. Ada mereka yang sungguh-sungguh peduli

aku hati-hati. Dia m

a semua yang dikau sebut. Semua peduli diriku karena keuntungan bagi me

ari ini, tapi melihat kakak retak siang tadi, aku tahu kakak punya sebuah lu

daku, dikau untung dalam praktikum?" t

ti dibanding melihat orang

.. in time," komentarnya.

baik saja," ucapku yang tidak dia balas, namun ku yakini dia denga

mamku. Aku pun kembali ke kama

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bulan di Darah Awan
Bulan di Darah Awan
“Bulan dipenuhi dengan kesedihan dengan derita darah. Cahaya merahnya membias di muka bumi untuk satu abadi. Kapankah tangis suaraku terdengar di malam ini terdengar olehmu, sementara aku berjuang untuk bertarung dan mempertahankan kewarasanku? *** "Aku masih membenci setiap jejak yang tertinggal dari masa laluku, dan sekarang kamu mau menjadi bagian dari kebencianku?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam. Tidak satu patah kata bisa keluar. Atmosfer yang dia ciptakan mencekikku. "Kala pertemuan pertama kita tempo kemarin, hatiku berkata ada sesuatu yang beda. Kini, bagiku, satu suatu itu seakan porak poranda masa lalu," ucapnya lemah. Dia menggelengkan kepala. "Tapi, dikau tak berkata apapun kala itu, hanya anggukan yang memancing murka diri. Namun, dikau telah merahasiakan paduka. Sekali ini, aku perkenan semua kembali dalam bayangan," komentarnya, "terima kasih." "Terima kasih," balasku pula. Rasanya sesak. Hanya itu yang bisa terucap dari lidahku. Entah kenapa, hubungan kami yang baru dimulai, perkenalan singkat yang berbeda ini, sudah diambang kehancuran.”
1 Bab 1 Tim2 Bab 2 Mematikan3 Bab 3 Perkenalan4 Bab 4 Beasiswa5 Bab 5 Retak6 Bab 6 Kebermanfaatan7 Bab 7 Rapuh8 Bab 8 Mie Instan9 Bab 9 Kuliah10 Bab 10 Aspek11 Bab 11 Relevansi12 Bab 12 Membangun Negeri13 Bab 13 Tanpa Emosi14 Bab 14 Dikenal15 Bab 15 Memuji16 Bab 16 Bumi untuk Zizih17 Bab 17 Permainan Sederhana18 Bab 18 Pendamping19 Bab 19 Pendahulu20 Bab 20 Penampilan Menipu21 Bab 21 Tuduhan22 Bab 22 Maba Cantik23 Bab 23 Iblis Kedua24 Bab 24 Masa Depan25 Bab 25 Titik Mula26 Bab 26 Jawaban27 Bab 27 Anak Iblis28 Bab 28 Kembali29 Bab 29 Dosa Desa30 Bab 30 Kebenaran31 Bab 31 Terima Kasih32 Bab 32 Epilog