icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bulan di Darah Awan

Bab 9 Kuliah

Jumlah Kata:1717    |    Dirilis Pada: 08/04/2022

siswa dengan pakaian lab X-206 masuk menyusul dan berdiri di samping beliau. Semua mahasiswa, termasuk aku,

osen sepuh itu. Dalam ke

atap dosen sepuh itu dengan tatapan heran, a

tiga minggu karena pelatihan dari kampus. Saya telah secara pribadi menunjuk Mas Fauzan untuk mengajar di ke

terganggu lagi jadwalnya di pagi senin," pesan laki-laki sepuh itu kepada laki-laki berpakaian lab yang ka

begitu saya izin dulu," ucap Mas Fauzan. Lelaki sep

a Pak Dhani. Saya saat ini sudah 68 tahun, dan menjadi tenaga honorer di jurusan i

m, tapi saya sampaikan saja sekarang," ucap belia

persen dari nilai mata kuliah saya, jadi kalian lulus atau gak di matkul ini tetap ditangan

ersen demo program dan dua puluh persen ujian akhir. TIDAK ADA

24 dari 40 anak yang mengulang kelas saya, jadi saya harap

ana Mas Fauzan menjelaskan

" jawab komandan kelas kami, Haris. Y

liau yang membuat satu kelas geger. Beliau lal

pul kertas. Selesai saya nilai saya buang!" ucap b

kuis!" tegur beliau lagi. Aku seger

nya 5 menit! Soalnya satu!" lanjut

u jika jawabanku benar. Saat beliau melihat setiap jawaban, beliau

aja masih kacau!" tegur beliau. Beliau pun memberi kuis selanjutnya. Itu berlangsung

tan tanya-tanya gak?" tanya Pak

anya beliau lagi. Satu k

gi! Kasian si Fauzan tiga minggu nga

kan tiap minggu?"

i serentak. Beliau m

jawabannya?" ta

u ini memang tidak jauh dari Mas Fauza

itan?" tanya beliau lagi.

," ucap beliau seraya menggelengkan ke

i awal lagi," k

is selama pembelajaran. Jumlah kuis beliau lebih banyak daripa

semester. Kita akan demo permainan yang dibuat dengan program C. Kerjakan se

ima kasih. S

ia

as. Aku segera bergegas ke kelas

si 30 menit. Spasi itu harus cukup untuk makan siang dan salat zuhur. Setelah kelas ma

ya aku bisa melaluinya dengan semangat. Jujur, aku sudah mulai lelah menjelang praktikum

hat teman-temanku ada yang masih gupuh menuntaskan laporan praktikum mereka. Aku b

. Aku melihat beberapa teman-temanku sudah datang. Anggota

lima menit lagi sebelum praktikum dimulai. Kami mulai khawatir, karena tinggal kelompo

selesai kelas,"

Kak Chen berlari ke arah labora

rer keeps speaking like n

tar Kak Daniel. Kak Chen dan Kak

Kami pun mempersiapkan laporan kami dan me

b X-206 juga ikut menjaga? Aku kira hanya lab X-106 saja. Waktu penjelasan di ruangan aku tidak

an Mas Fauzan, namun Mas F

uran, Karim," uca

h benar," pesan Mas Fauzan. Kak Karim pun dengan berat hati keluar ruang

udah, bahkan hanya tiga puluh menit semua anggota telah selesai praktikum. Ayolah, mengguna

memulai sesi evaluasi," ucap Mas Fauzan

ke asisten," ucap beliau

s Fauzan. Kami semua

t seorang asisten dari meja belakang maju ke depan dengan laporan kami. Asisten i

tidak pernah memakai word?" tanya laki-laki itu dengan nada te

salah. Margin, atau jarak dari tepi, yang ditetapkan adalah 4-3-3-3 untuk halaman depan,

ajahku langsung pucat, begitu pula teman-temanku. Laki-laki itu lalu mengambil la

g gak tau?" tanya S

tanyanya lagi dengan nada yang

g lain, "warna tintanya apa?" tanya Shadox ser

ab kami nya

Kami menggelengkan kepal

ami harus buang laporan akhir kalian di tong sampah!" te

ngan. Aku melihat Mas Fauzan dan asisten lainnya menghembuskan nafas

gin menambahkan?" tanya Mas Fauz

sa dipertahankan. Semoga kesalahannya tidak terulang. Saya cukupkan, selamat sore," u

oranku, ada sebuah pe

los hari ini dari coretan evaluator dari

ha

ahuluan," keluh Alsya. Dia agak keb

nya. Aku hanya diam mendengarkan keluhan mereka. Aku mendengar teman-temanku yang lain juga m

Apa artinya dia memeriksa setiap laporan dengan teliti? Padahal praktikum h

riting mistake,

my margin was offset by like half

umamku. Aku menyembuny

u, Zih?" tanya Als

u masih diam. Riris mengambil

terkejut. Mereka langsung mengerumuni laporanku seperti pelikan

" belaku setelah mendapatkan laporank

eperempat halaman wikped di bagian akhir

sumber suara, yang tidak lain adalah Legendaria, asisten yang sering dibah

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bulan di Darah Awan
Bulan di Darah Awan
“Bulan dipenuhi dengan kesedihan dengan derita darah. Cahaya merahnya membias di muka bumi untuk satu abadi. Kapankah tangis suaraku terdengar di malam ini terdengar olehmu, sementara aku berjuang untuk bertarung dan mempertahankan kewarasanku? *** "Aku masih membenci setiap jejak yang tertinggal dari masa laluku, dan sekarang kamu mau menjadi bagian dari kebencianku?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam. Tidak satu patah kata bisa keluar. Atmosfer yang dia ciptakan mencekikku. "Kala pertemuan pertama kita tempo kemarin, hatiku berkata ada sesuatu yang beda. Kini, bagiku, satu suatu itu seakan porak poranda masa lalu," ucapnya lemah. Dia menggelengkan kepala. "Tapi, dikau tak berkata apapun kala itu, hanya anggukan yang memancing murka diri. Namun, dikau telah merahasiakan paduka. Sekali ini, aku perkenan semua kembali dalam bayangan," komentarnya, "terima kasih." "Terima kasih," balasku pula. Rasanya sesak. Hanya itu yang bisa terucap dari lidahku. Entah kenapa, hubungan kami yang baru dimulai, perkenalan singkat yang berbeda ini, sudah diambang kehancuran.”
1 Bab 1 Tim2 Bab 2 Mematikan3 Bab 3 Perkenalan4 Bab 4 Beasiswa5 Bab 5 Retak6 Bab 6 Kebermanfaatan7 Bab 7 Rapuh8 Bab 8 Mie Instan9 Bab 9 Kuliah10 Bab 10 Aspek11 Bab 11 Relevansi12 Bab 12 Membangun Negeri13 Bab 13 Tanpa Emosi14 Bab 14 Dikenal15 Bab 15 Memuji16 Bab 16 Bumi untuk Zizih17 Bab 17 Permainan Sederhana18 Bab 18 Pendamping19 Bab 19 Pendahulu20 Bab 20 Penampilan Menipu21 Bab 21 Tuduhan22 Bab 22 Maba Cantik23 Bab 23 Iblis Kedua24 Bab 24 Masa Depan25 Bab 25 Titik Mula26 Bab 26 Jawaban27 Bab 27 Anak Iblis28 Bab 28 Kembali29 Bab 29 Dosa Desa30 Bab 30 Kebenaran31 Bab 31 Terima Kasih32 Bab 32 Epilog