icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bulan di Darah Awan

Bab 7 Rapuh

Jumlah Kata:1415    |    Dirilis Pada: 08/04/2022

kan oleh Shadox. Sekarang, tinggal merapikan berkas prakt

," ucapku menyeman

gga aku memutuskan untuk zuh

tkanku. Aku segera keluar kamar dan mendengar langka

u Kak Yahya. Namun, dia tampak sedih dan tidak fokus. Dia berlalu m

" ucapn

g menyaksikan ini? Aku tahu pemilik kos jarang di kos ini, tetapi t

ada gunanya!" kalimat

mati dulu!?"

ke arahku, matanya sembab. Tidak tega, aku

Aku tidak tahu kenapa laki-laki ini bisa seperti ini, dibalik se

i yang lain?" tanyanya parau. Aku menggel

n, menenangkannya. Hanya anggukan lemah d

lama ada cinta, maka ada harapan," lanjutku p

un, beberapa detik kemudian dia me

pnya. Kejadian itu sangat cepat sampai aku baru menyadari apa yang te

mori peristiwa tadi, sebelum wajahku memerah malu. Segera aku

Aku masih malu Ya Allah. Aku bisa merasakan betapa rapuhnya dia.

ari wajahku, dan melihat keduanya dengan saksama. Tidak ada apapun di sana,

ngalihkan perhatian dengan mengerjakan laporan praktikum fisika dasar. Namun, sepanjang aku men

u kerjakan dari laporan itu, tetapi kepalaku mulai pusing. Antara rumus dan memori menyatu. Bahkan, hitungan ya

nya memutuskan untuk meninggalkan meja belajarku dan berbaring di kasur. Jendela kamar yang terbuka mem

h menjadi suara keras yang menandakan air dalam jumlah besar menyerang atap tanpa amp

kanlah sesuatu yang ringan," gumamku. Suara pesan masuk

ua kelompok yang dibawah dia. Cek D

ot

ilahkan kalian cari salah satu praktik

, menyadari bahwasanya ak

tanya angkatan atas ga

dapat bagi-bagi don

kalian dapat link jaw

il sih, jadi bisa ku validas

riu

n peli

yang dapat.

kan? Aku menimang pilihanku. Jika aku langsung tunjukkan pesan d

berkenan atau tidak? Aku menyadari ada notifikasi di grup Trio B

ih, kamu ka

: Zih

atahari

a, yang ada d

indiran kepadaku. Aku mengetikkan pesan kepada mere

a. Aku ya

Fotoi

ku tulis

embagika

g dikasihny

n: K

a: K

punya kontak Zihan? Toh Zi

ri ironi situasi ini. Aku baru menyadari bahwa aku

sih, jadi bisa aja diti

: Eh

ikir. KOK KOS L

aripada asrama, trus aku kemarin

KOS CEWEK B

Sya. Ini kot

rnyata gitu ya,

lagi dia UKT benturan banget, sementara ortu di

, aku lupa so

n: N

rsama dengan pe

aafkan a

n: N

: Uda

aunya dikasih b

aku kasih bolu c

was ya k

nya aku yang

anya jaga

ya:

kena getah

kan senyuman kecil melihat sikap kekanakan kami itu. Aku biarka

lompok ya. Jangan bilang dari siapa di angkatan. Aku

au semua sih keliatannya. Cuman m

dua teman laki-laki seangkatanku, Alif dan Haris, tida

the link? Wh

en, don't act

't. I NEE

o wait. I have my fair sha

el:

Hey! That

engirim

nalanya ya kak

how you write it, was it? T

LY. THANKS

Guess my be

t, Anastasia. And yes, it'

ION FINALLY GUESS SOMETHI

Terim

kasih banyak

titip pranala ke

f:

e grup angkatan pranala itu. Tam

embagi

at orang dari kelompokku. Aku

pat dari

a tuh di kel

po

au jad

Shadox? Ciwi-ciwi cantik angkatan atas ya

mor mil

or, cari j

as juga pada

saran

apa

a yang dapat

khawatirkan. Bisa-bisa dalam bahaya kelompokku jika sampai ketahuan akulah orang yang mend

idak boleh berpikir buruk. Prasangk

Aku menyadari aku tidak menutup jendela dan sekitar j

gera mengambil pel di ujung kamar dan

ndai Zihan," tegurku kepada diriku sendiri.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bulan di Darah Awan
Bulan di Darah Awan
“Bulan dipenuhi dengan kesedihan dengan derita darah. Cahaya merahnya membias di muka bumi untuk satu abadi. Kapankah tangis suaraku terdengar di malam ini terdengar olehmu, sementara aku berjuang untuk bertarung dan mempertahankan kewarasanku? *** "Aku masih membenci setiap jejak yang tertinggal dari masa laluku, dan sekarang kamu mau menjadi bagian dari kebencianku?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam. Tidak satu patah kata bisa keluar. Atmosfer yang dia ciptakan mencekikku. "Kala pertemuan pertama kita tempo kemarin, hatiku berkata ada sesuatu yang beda. Kini, bagiku, satu suatu itu seakan porak poranda masa lalu," ucapnya lemah. Dia menggelengkan kepala. "Tapi, dikau tak berkata apapun kala itu, hanya anggukan yang memancing murka diri. Namun, dikau telah merahasiakan paduka. Sekali ini, aku perkenan semua kembali dalam bayangan," komentarnya, "terima kasih." "Terima kasih," balasku pula. Rasanya sesak. Hanya itu yang bisa terucap dari lidahku. Entah kenapa, hubungan kami yang baru dimulai, perkenalan singkat yang berbeda ini, sudah diambang kehancuran.”
1 Bab 1 Tim2 Bab 2 Mematikan3 Bab 3 Perkenalan4 Bab 4 Beasiswa5 Bab 5 Retak6 Bab 6 Kebermanfaatan7 Bab 7 Rapuh8 Bab 8 Mie Instan9 Bab 9 Kuliah10 Bab 10 Aspek11 Bab 11 Relevansi12 Bab 12 Membangun Negeri13 Bab 13 Tanpa Emosi14 Bab 14 Dikenal15 Bab 15 Memuji16 Bab 16 Bumi untuk Zizih17 Bab 17 Permainan Sederhana18 Bab 18 Pendamping19 Bab 19 Pendahulu20 Bab 20 Penampilan Menipu21 Bab 21 Tuduhan22 Bab 22 Maba Cantik23 Bab 23 Iblis Kedua24 Bab 24 Masa Depan25 Bab 25 Titik Mula26 Bab 26 Jawaban27 Bab 27 Anak Iblis28 Bab 28 Kembali29 Bab 29 Dosa Desa30 Bab 30 Kebenaran31 Bab 31 Terima Kasih32 Bab 32 Epilog