icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bulan di Darah Awan

Bab 6 Kebermanfaatan

Jumlah Kata:1610    |    Dirilis Pada: 08/04/2022

apa berantakannya kala beradu dengan benakku kin

arang kamu mau menjadi bagian dari kebencianku?" tanyaku kepada gadis itu.

erkata ada sesuatu yang beda. Kini, bagiku, satu sua

akukan hal yang

kalau asisten lainnya memarahi kala berita ini masuk ke

t dahulu. Sa

ah satu asisten yang baru bangun tidur di la

tolong kabari beliau," ucap asisten itu. Aku menghembuskan nafas be

ab, Legendaria," komentarku. Asisten yang seteng

u menganggukkan kepala. Dia tampak berpikir, seakan

komentarnya lagi. Aku menganggukkan kepala sebagai persetujuan atas pilihannya.

lab, aku tidak masalah apa yang kamu

dimana? Satu jurusan bingung kenapa dia jadi susah dihubungi.' kata Kak Smile wakt

bimbingnya

as," jawab Legendaria, "itu

h," komentarku, "bukan ak

alu membalikkan wajahnya. Ada sebuah kekece

apnya seraya berjalan keluar lab. Sepertinya dia m

kontak yang aku kirim soal untuk praktikum pertama. Mulai aku mengetikkan satu pesan untuk mereka

ilahkan kalian cari salah satu praktik

ka tidak bisa menjelaskan, sia-sia mereka bisa menjawab nanti. Aku adalah satu-satunya asisten dengan 7 kelompok, sementara rata-rata han

, menanyakan berbagai hal berkaitan dengan kepenulisan. Dulu, sempat beberapa komunitas mengundang, tetapi aku menolak karena itu

raya mempublikasikan rilis terbaruku. Tawaran penerbitan sudah

ulu. Lu gak mau berakhir di pemakaman toh?

norma," jawabku datar. Fau

mu yang lulus duluan pada p

ke titik ini," jawabku tak pasti. Norma apa? Agama? Mungkin itu. Aku

junior. Faux langsung ber-oh ria. Aku hany

ini," komentarnya dengan tawa

tuh dosen-dosen ngeburu," sindirnya. Aku menatap laki-laki itu

k tuntas. Kan malu-maluin gak lulus gara-gara toefl kurang dari 470," sindirku bal

imu. Ini malah bersedia ngam

ng emosiku dengan mengangkat topik skripsi, yang je

ang rata-rata kebanyakan kelas semester ini," komentarku balik. Dia

si dirimu. Setauku, wanita paling memberikan em

ah yang ku tuliskan maupun yang ku baca, roman itu indah. Nyatanya, roman itu melemahkan, menyak

ke layar laptopku, dengan naskah yang baru selesai. Penerbit memintany

apku pelan. Aku melihat ke koleksi karyaku. Beberapa sedih

a," komentarku. Salah satu cerita lama aku buka kembali. Kisah yang hanya aku coret s

a saja yang membatasinya," komentar nar

a FTEI, saya akan meragukan kredibilitas

ercakapan ini selalu saya simpan," ucap beliau seraya

in, saya juga dapat informasi untuk desa-desa pengabdian dia, dan saya rasa cukup val

ih banyak,

apku pelan. Bagaimanapun, itu adalah kebenaran. Aku tidak bersemangat

ntarku lagi. Ya, aku hanya tidak ingin. Kalau

ahui situasimu. Jika perlu tempat kerja, saya selalu siap menerim

ku," keluh temannya yang duduk di sampingnya, "aku juga selalu terbuka

?" gumamku pelan. Aku kembali berpikir. Jam di la

melihat Legendaria masuk. Dia berjalan k

ksa mas untuk mengambil kos. Setiap melihat mas memaksakan diri selama ini, k

ng dengan kakakmu,

a dengan riset, dia dengan pengabdian," balasnya. Aku hanya menggelen

akukan dalam pengabdian massalnya. Skripsiku hanyalah mainan bela

a Legendaria. Dia sepertinya tidak

pa orang yang benar-benar tahu siapa aku," jawabku. Legend

n penulis?" tanyaku

dituliskannya bisa menjadi kenyataan kehidupanny

gnya. Kalau kakakmu masih memiliki kalian, aku tidak punya

rsiku, lalu memegang kerahku. Sor

g aku tahu dari kakakku. Seberapapun luka di hadapan

legenda sekarang," komentarku

u tinggal diam kala mas menyembunyikan luka. Kami berdua sudah terlalu banyak lu

galami semua yang ku hadapi. Masih leb

k riset maupun skripsi mas itu adalah satu tumpu masa depan teknologi. Kalau aku bisa teknologi itu, a

u berubah hambar setelah percakapan kami.

coba di perusahaan hari kamis ini ya. Bu K

k ib

u itu mempermal

er

. Apa mati

u sebentar, setidaknya. Toh, mereka tidak akan benar-benar kehilangan. Ke

terjadi kala pionir yang tak

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bulan di Darah Awan
Bulan di Darah Awan
“Bulan dipenuhi dengan kesedihan dengan derita darah. Cahaya merahnya membias di muka bumi untuk satu abadi. Kapankah tangis suaraku terdengar di malam ini terdengar olehmu, sementara aku berjuang untuk bertarung dan mempertahankan kewarasanku? *** "Aku masih membenci setiap jejak yang tertinggal dari masa laluku, dan sekarang kamu mau menjadi bagian dari kebencianku?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam. Tidak satu patah kata bisa keluar. Atmosfer yang dia ciptakan mencekikku. "Kala pertemuan pertama kita tempo kemarin, hatiku berkata ada sesuatu yang beda. Kini, bagiku, satu suatu itu seakan porak poranda masa lalu," ucapnya lemah. Dia menggelengkan kepala. "Tapi, dikau tak berkata apapun kala itu, hanya anggukan yang memancing murka diri. Namun, dikau telah merahasiakan paduka. Sekali ini, aku perkenan semua kembali dalam bayangan," komentarnya, "terima kasih." "Terima kasih," balasku pula. Rasanya sesak. Hanya itu yang bisa terucap dari lidahku. Entah kenapa, hubungan kami yang baru dimulai, perkenalan singkat yang berbeda ini, sudah diambang kehancuran.”
1 Bab 1 Tim2 Bab 2 Mematikan3 Bab 3 Perkenalan4 Bab 4 Beasiswa5 Bab 5 Retak6 Bab 6 Kebermanfaatan7 Bab 7 Rapuh8 Bab 8 Mie Instan9 Bab 9 Kuliah10 Bab 10 Aspek11 Bab 11 Relevansi12 Bab 12 Membangun Negeri13 Bab 13 Tanpa Emosi14 Bab 14 Dikenal15 Bab 15 Memuji16 Bab 16 Bumi untuk Zizih17 Bab 17 Permainan Sederhana18 Bab 18 Pendamping19 Bab 19 Pendahulu20 Bab 20 Penampilan Menipu21 Bab 21 Tuduhan22 Bab 22 Maba Cantik23 Bab 23 Iblis Kedua24 Bab 24 Masa Depan25 Bab 25 Titik Mula26 Bab 26 Jawaban27 Bab 27 Anak Iblis28 Bab 28 Kembali29 Bab 29 Dosa Desa30 Bab 30 Kebenaran31 Bab 31 Terima Kasih32 Bab 32 Epilog