icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta

Bab 3 

Jumlah Kata:409    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

yil

asa kering. Aku m

lku. Air dingin itu terasa menenang

tersadar. Aku haru

inya. Dia membiarkan lut

etak sesaat. Lalu berdetak k

erbelok tajam. Lyd

elan dong!" Lydia memuku

g," kata Fredi, tersenyum bangga. "T

redi. "Kamu memang y

ada Arsyila di depan. Bisa-bisa dia pingsan,"

berbinar. "Arsyila, kamu

enarik selimutku, menutup tubuh

hkan tidak tahu bagaimana aku bisa berbica

mengernyit. "Arsyila, kau ken

" Aku merasa sangat lela

Fredi juga akan merasakan hal yang sa

pel erat pada paha Hendra. Mobil kembal

merayap naik ke pahaku. J

lapak tangannya terasa panas. P

begitu nyata. Aku bisa merasakan kapalan tipis di jari

us kulitku. Aku menoleh

ya. Dia duduk tegak, kerah kemeja

elihat jakunnya bergerak naik turun.

ku sejak kuliah. Dia adalah arsitek terkenal, kakak

as sapaan formal. Dia selalu menyendi

perti biksu, Arsyila. Tidak pernah dekat dengan wanita," kata

ari jauh. Dia seperti bi

kit. Saat itu aku sedang sakit. Aku sang

embuatku sedikit tenang. Aku pikir

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
“Perjalanan romantisku ke Bali berubah menjadi neraka saat tunanganku, Fredi, mengajak serta sepupuku, Lydia. Aku dipaksa duduk di kursi belakang, menjadi penonton kemesraan mereka yang tak tahu malu. Puncaknya, saat Fredi melihat gaun seksiku, dia murka dan memutuskan hubungan kami di depan semua orang. "Kalau begitu kita putus!" teriaknya, seolah aku yang bersalah. Aku pergi, tapi penghinaan tak berhenti. Ibunya menamparku di lobi rumah sakit, memakiku sebagai perempuan murahan. Fredi bahkan menghancurkan karierku, membuatku kehilangan segalanya. Aku hancur, sakit, dan sendirian. Mengapa mereka begitu kejam? Mengapa aku harus menanggung semua ini? Namun, di tengah keputusasaan, Hendra, kakak sepupu Fredi, muncul. Ciuman panasnya di mobil dan perlindungannya yang tanpa syarat menjadi satu-satunya cahayaku. Di sebuah pesta, saat Fredi kembali menghinaku, aku tak lagi diam. Sambil menggandeng Hendra, aku menatapnya dingin dan berkata, "Cintaku sudah mati. Kau sendiri yang membunuhnya."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 15