icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

Bab 6 

Jumlah Kata:710    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

h (

terasa seperti neraka yang dingin dan kosong. Aku tidak ingin bertemu Bara

idak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya bulan menyusup lewat

. Lalu suara langkah kakinya yang berat di aula. Ia p

di mana?" Suarany

iak pada para pelayan. "Di mana Diah

ih dulu. Dia bilang merasa tidak enak badan,"

?! Cari dia! Cari dia sekarang!" t

angan, memanggil namaku berulang kali. Aku bisa mendengarnya membuka pintu

i depan pintu kamar ta

ebih lembut, tapi masih ada nada panik. "S

. Aku hanya duduk

uatku khawatir," katanya, m

k-acakan, matanya dipenuhi kekhawatiran yang nyata. Untuk sesa

a, langsung memelukku erat. Pelukannya terla

lah, Bara. Aku pulang lebih

na-mana," katanya, melepaskan pelukannya, menatapku

kut kehilangan pro

anggumu. Aku pikir kau sibuk dengan urusa

epenting dirimu." Dia membelai pipiku. "Kau tahu, Diah, kau

is. Sebuah senyum yang

bisik hatiku. 'Dan aku sudah terla

Aku hanya ingin pulang," kataku, berbohong. Aku pulang, t

ng. Betapa mudahnya aku berakting. Seolah-olah ak

ini lebih lembut. "Aku tahu, sayang. Aku ta

,' pikirku, senyum sinis tersungging di bi

untukmu, Bara," kataku, mel

kan tes kehamilan positif lagi. Tapi sebuah cincin pernikahan kami, yang

kan kotak it

tanya dipenuhi rasa ingin tahu. "Apa ini,

araku mantap. "H

it terkejut. "Hadiah perpisaha

sa membukanya nanti, B

ning. "Pergi? Kau

menatap matany

. "Baiklah. Aku akan menyimpannya.

op putih itu ada surat cerai yang sudah kutandatangani, dan sebuah pesan s

dupmu, Bara,' pikirku. 'Hadi

dan berulang kali. Bara dan aku saling

tu utama, aku mengik

asi, matanya bengkak karena menangis. Gaun tidurnya yang tipis basah kuyup, men

uaranya serak dan pu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
“Di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku berdiri gemetar memegang test pack positif, siap memberikan kejutan terindah untuk suamiku. Namun, kejutan itu berbalik menamparku saat aku melihat Bara justru sedang memeluk mesra sepupuku sendiri, Fathia, di ruang kerjanya. "Diah itu membosankan, sayang. Dia cuma pajangan rumah yang patuh, tidak ada gairah," kata Bara dengan nada meremehkan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Saat Fathia khawatir aku akan hamil, Bara tertawa dan berkata, "Tenang saja, dia tidak hamil. Lagipula, dia terlalu sibuk dengan hal tidak penting." Darahku mendidih, tapi aku menahan diri untuk tidak melabrak mereka saat itu juga. Aku menyimpan kembali alat tes kehamilan itu ke dalam kotak beludru. Bara tidak pantas tahu bahwa dia akan menjadi ayah. Aku menghapus air mataku dan memasang topeng senyum terbaikku. Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari terakhir ini, lalu menghilang selamanya dari hidup mereka dengan membawa serta anakku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10