icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

Bab 3 

Jumlah Kata:577    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

h (

embuat Bara terpana sesaat. Dia mendekat, tangannya refleks merengkuh pin

di telingaku, suaranya sarat akan hasrat. "Ad

terkejut dengan kemampuan aktingku. "Aku hanya berpikir, betapa beruntun

sentuhan, setiap kata, harus meyakinkannya. Ini adalah

mbiarkannya mencari. Tidak ada yang akan dia tem

a mencium keningku, lalu turun ke bibir. Aku memejamkan mata, mencoba

yang bisa menyakitimu, Diah," bisiknya di

yang dihujamkan ke jantungku. Sebuah kebo

dalam, membalas ciumannya singka

dia telah memanipulasiku sepenuhnya, bahwa aku adalah miliknya

aimana jika suatu hari, ada orang lain yang datang, dan

sedikit kekhawatiran di matanya, tapi cep

pernah tidur dengan wanita lain selain dirimu," katanya, suaranya

nyaku, nadaku

u. "Aku bersumpah. Demi nama baik keluargaku, demi semua yang kita miliki, aku ti

a. Dia tidak tahu bahwa aku telah mendengar Fa

ang, pura-pura lega. "A

bali ke pelukannya, memelukku erat, tangannya mengunci p

akan pernah pergi. Terlalu

kejamnya takdir yang akan menanti ora

Diah. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau ad

ni terasa seperti sampah. Aku berusaha keras untuk tidak

ku lirih. Kata-kata yang keluar dari mulutku te

ngku, mencoba menyeretku lebih dekat. Aku

kita nanti. Kau pasti suka," kataku, sedikit me

tapi mengangguk. "Baiklah, sayang. Tapi j

isa merasakan tatapannya di punggungku. Terakhir kali. Mung

lam. Pertunjukan harus terus berjala

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
“Di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku berdiri gemetar memegang test pack positif, siap memberikan kejutan terindah untuk suamiku. Namun, kejutan itu berbalik menamparku saat aku melihat Bara justru sedang memeluk mesra sepupuku sendiri, Fathia, di ruang kerjanya. "Diah itu membosankan, sayang. Dia cuma pajangan rumah yang patuh, tidak ada gairah," kata Bara dengan nada meremehkan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Saat Fathia khawatir aku akan hamil, Bara tertawa dan berkata, "Tenang saja, dia tidak hamil. Lagipula, dia terlalu sibuk dengan hal tidak penting." Darahku mendidih, tapi aku menahan diri untuk tidak melabrak mereka saat itu juga. Aku menyimpan kembali alat tes kehamilan itu ke dalam kotak beludru. Bara tidak pantas tahu bahwa dia akan menjadi ayah. Aku menghapus air mataku dan memasang topeng senyum terbaikku. Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari terakhir ini, lalu menghilang selamanya dari hidup mereka dengan membawa serta anakku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10